Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Berakhir


__ADS_3

Ali sudah membuat janji dengan kekasihnya saat jam istirahat. Kebetulan di dekat tempat kerjanya ada restoran dan juga cafe. Karena biasanya laki-laki itu sering ke cafe maka, dari itu Ali mengajak Yola untuk ke sana.


Mereka berjalan beriringan memasuki cafe yang tampak ramai dengan pengunjung. Duduk dengan hanya memesan cappucino late, tanpa membeli makanan. Itupun atas permintaan Yola kekasihnya karena, waktu Yola yang tak bisa lama. Cukup lama kedua orang itu di sana. Menikmati capunino late yang sudah mereka pesan.


"Kamu mau ngomong apa Yol? Tumbenan kamu ngajakin aku ketemuan di saat kita bekerja. Biasnya pun pada hari minggu?" Ali menatap kekasihnya itu dengan alis terangkat.


"Iya Mas, soalnya hari ini aku yang tidak terlalu sibuk. Mungkin untuk beberapa hari ke depan aku sudah sangat sibuk." balas Yola yang juga membalas tatapan kekasihnya.


"Sibuk? Sibuk apa? Tumbenan kamu ngomong kek gitu Yol. Seperti ada sesuatu saja." Ali sungguh bingung dengan ucapan kekasihnya itu.


"Aku mau minta maaf sama kamu, Mas," Yola menunduk setelah mengatakan itu. Rasanya agak sulit untuk mengatakan sesuatu yang akan membuat Ali maupun dirinya sakit hati. Jujur saja dia sangat mencintai laki-laki itu.


"Minta maaf untuk apa Yola? Kamu nggak punya salah sama aku kok, dan juga sekarang belum hari raya," Ali semakin bingung dengan apa yang dikatakan Yola. Menatap wanita itu dengan intens untuk mencari ada apa dengan kekasihnya itu. Tak seperti biasanya.


"Ya aku minta maaf sama kamu, Mas. Kita sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Hubungan kita berakhir sampai disini Mas," Yola tak sanggup menatap laki-laki itu, tak sanggup melihat tatapan kesedihan serta terkejut yang keluar dari netra terangnya.


Deg...


Jantung Ali berdetak dengan kencang. Tak salahkah telinga mendengar jika kekasihnya itu tak ingin melanjutkan hubungan mereka. Tapi kenapa? Kenapa terasa terburu-buru. Tak ada angin dan tak ada hujan. Hubungan yang terlihat baik-baik saja kenapa sekarang malah akan berakhir tak jelas seperti ini.


"Ke-kenapa? Bukankah hubungan kita selama ini tidak ada masalah. Lalu kenapa sekarang kamu mau mengakhiri hubungan kita? Bukankah tak lama lagi kita ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan?"

__ADS_1


Yola mengambil sesuatu di dalam tasnya. Meletakkan di atas meja di depan Ali. Sedangkan Ali melihat apa yang berada di depannya dengan tajam. Undangan? Jelas Ali tahu itu undangan apa. Undangan pernikahan, yang jelas tertulis nama Yola pada bagian atasnya.


"Apa maksudnya ini, Yola?"


"Minggu depan aku nikah Mas. Maaf aku bikin kamu kecewa. Maaf aku yang tak memberitahu kamu terlebih dahulu tentang pernikahan aku. Maafkan aku yang berkhianat sebelum hubungan kita berakhir. Aku tidak bisa memilih Mas. Keputusan yang sangat sulit untuk aku. Aku terpaksa menerima pernikahan ini atas desakan orangtuaku, Mas. Maafkan aku yang membuat kamu sakit hati dan kecewa. Sungguh aku sangat mencintai kamu, Mas." Air mata Yola merembes keluar dari netra indah itu. Dadanya juga ikut sakit saat mengatakan itu. Sungguh ini bukan inginnya. Hanya sebuah keterpaksaan yang tidak bisa di bantah.


"Kenapa kamu tidak memilih untuk mempertahankan hubungan kita? Kenapa kamu malah memilih dia ketimbang aku yang kamu cintai? Kenapa kamu tak lakukan perjuangan demi cinta kita. Tak tahu kan kamu jika aku serius akan hubungan kita? Tak tahukan kamu jika tak berapa lama lagi aku berencana melamar kamu, Yola?"


Kecewa? Sunggu Ali sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Yola. Hubungan mereka yang sudah terjalin beberapa tahun, nyatanya berakhir seperti ini. Rasanya sungguh sangat menyakitkan.


"Aku tidak punya pilihan untuk itu Mas. Aku tidak di beri waktu memilih barang sedetikpun. Aku harus menerimanya, aku tak memiliki hak untuk tidak menerima. Orang-tuaku tak memeberikan aku waktu untuk berfikir Mas. Mereka hanya ingin aku menerima pernikahan itu." jelas Yoka yang masih tampak menangis dan sesegukan.


"Maafkan aku Mas. Maafkan aku karena hubungan kita harus berakhir sekarang Mas."


"Tak apa Yola, mungkin hubungan kita memang harus sampai di sini. Semoga kamu bahagia dalam pernikahanmu nanti. Aku juga tidak akan bisa maksa kamu untuk melanjutkan hubungan kita lantaran, kamu sudah mau menikah minggu depan." Putus Ali akhirnya. Percuma jika Ali akan memaksakan kehendaknya atas hubungan yang mereka jalani.


"Sekali lagi maafkan aku, Mas,"


"Tidak apa-apa Yola. Ini sudah keputusan akhir yang kamu ambil. Kita memang bukan berjodoh makanya kamu menikah minggu depan. Selamat."


"Maafkan aku, Mas," ucap Yola sekali lagi.

__ADS_1


"Iya Yol, tidak apa-apa aku sudah memaafkan kamu," Ali memaksakan senyumnya. Senyum yang sebenarnya sangat menyakitkan di hatinya. Bertindak seperti baik-baik saja, namun tidak dengan hatinya yang sudah hancur.


Suara langkah kaki membuat Ali mengalihkan penglihatannya. Tampak dua orang gadis yang kini tengah berjalan keluar dari cafe. Mata Ali menangkap salah atu gadis itu menatap dirinya begitupun dengannya.


Deg...


Lagi-lagi jantung Ali berdetak melihat wanita yang kini sudah keluar dari cafe. Gadis yang sudah dua minggu ini tak dia lihat. Awalnya Ali mengira gadis itu memang belum kembali ke kota, namun apa yang dia lihat hari ini sungguh mengejutkan. Gadis itu bahkan tak menampakkan batang hidungnya ke rumah.


"Ya sudah aku kembali ke rumah sakit dulu Yola. Waktu istirahat sudah mau habis. Semoga pernikahan kamu lancar."


"Terimakasih Mas,"


Ali meninggalkan Yola yang masih duduk di meja cafe. Dengan perasaan sedih, kesal dan marah Ali menuju rumah sakit. Bahkan perutnya yang tadi lapar, kini hilang dalam seketika.


Pekerjaan yang dilakukan Ali tak lagi lancar. Pikirannya saat ini tengah kalut dengan hancurnya hubungannya dengan Yola. Kebahagiaan yang mereka jalan-jalan beberapa tahun ini, nyatanya hancur dalam seketika.


Ali memijit dahinya yang terasa sakit. Kepalanya sungguh tengah nyut-nyutan. Belum lagi laki-laki itu belum mengisi perutnya, karena kelingan selera.


"Huhhh, semangat Al, kamu tak perlu memikirkan hal itu untuk sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan sebelum pulang." Ali menyemangati dirinya sendiri. Meski sedikit susah, namun laki-laki itu tetap berusaha.


Jika tak demikian, yang ada pekerjaannya jdi terbengkalai. Bisa-bisa dia akan di tegur sama pihak rumah sakit karena, tidak profesional dalam menjalani tugas.

__ADS_1


TBC


__ADS_2