
Hari-hari Mika di sibukkan dengan kehadiran sang buah hati, Kina. Kehidupan yang dijalani Ali maupun Mika semakin bewarna dengan kehadiran buah hati mereka. Bukan hanya mereka yang bahagia namun juga Andi, Aileen dan juga Azlan. Kehadiran Kina di dalam rumah mereka menambah rasa bahagia di dalam hidup mereka. Jika dulu warna suram yang terbit dikala kehilangan Yumna namun, kini wanita itu di ganti cahaya yang amat terang dengan kehadiran si kecil Kina.
"Mommy, apa Kina sudah tidur?" tanya Ali saat melihat istrinya yang tengah duduk santai di atas ranjang. Usia putri mereka baru menginjak 2 Minggu.
"Sudah Daddy, apa Daddy perlu sesuatu?" Mika mengalihkan penglihatannya pada suaminya yang berjalan menuju dirinya.
Ali menggelengkan kepalanya. "Tidak Mommy, Daddy hanya rindu dengan Mommy karena selama dua Minggu ini waktu Mommy hanya habis untuk putri kecil kita. Seakan Mommy lupa dengan kehadrian Daddy," Ali menatap istrinya sendu. Dia cemburu istrinya lebih banyak menghabiskan waktu dengan putri kecil mereka. Padahal dirinya juga menginginkan waktu bersama sang istri.
"Jadi ceritanya sekarang Daddy ngambek karena mommy banyak menghabiskan waktu dan Kina nih?" Mika menggoda suaminya yang tampak cemberut.
"Nggak! Daddy nggak ngambek kok. Mommy saja yang berfikir seperti itu." ujarnya merajuk.
"Terus kalau Daddy tidak merajuk apa namanya, hmm? Daddy cemburu ya?" Lagi-lagi Mika menggoda suaminya.
"Nggak juga tuh," Ali mengalihkan penglihatannya yang tadi bersirobok dengan sang istri.
"Yang bener nih Daddy nggak cemburu?"
"Tahulah,"
"Masa Daddy cemburu sama Kina?padahal Kina itu masih kecil loh? Daddy cemburunya nggak masuk akal, sama anak sendiri malah cemburu. Ntar kalau Kina nangis memang Daddy mau mimikin Kina?"
Ali tak menjawab ucapan istrinya. Ali memilih untuk menidurkan kepalanya diatas pangkuan sang istri. Mika dengan spontan mengelus lembut rambut hitam sang suami dengan tangannya yang lentik.
"Daddy itu nggak boleh cemburu sama anak sendiri. Masa cemburunya sama yang masih bayi, kecuali Mommy menghabiskan waktu sama Azlan misalnya, boleh lah Daddy itu cemburu. Lagian Daddy kan tahu kalau Mommy itu menyusui. Nggak mungkin Mommy akan membiarkan Kina sendiri dan asik sama Daddy," Mika mendaratkan ciuman pada pipi suaminya dengan lembut.
"Tapi Daddy kan juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan Mommy,"
"Waktu kita berdua itu masih panjang Daddy, lagian sekarang Kina masih sangat kecil dan masih sangat membutuhkan Mommy. Lagian setiap hari Mommy kan juga meluangkan waktu untuk Daddy,"
"Iya tapi, Mommy hanya memberi Daddy hanya sebentar saja. selebihnya Mommy habiskan untuk Kina,"
"Daddy harus sabar untuk beberapa waktu lagi, nanti kalau Kina sudah mulai besar pasti waktu kita untuk berdua juga akan banyak,"
__ADS_1
"Baiklah Mommy, Daddy paham."
*****
Waktu terus berlalu, tak terasa tiga tahun sudah berlalu. Gadis kecil Mika dan Ali sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, imut dan lucu. Tak jarang putri kecilnya bermain dengan Aileen. Mulai dari main boneka bahkan sampai main rumah-rumahan. Canda tawa terus hadir di dalam kediaman mereka. Bahkan Andi tampak lebih bahagia melihat putrinya yang sudah mulai memasuki usia remaja.
Kecantikan Aileen sama persis dengan Yumna. Terlihat jelas dari pahatan wajah putrinya yang tak ada ubahnya dari Yumna. Jika rindu dengan sang istri Andi yang meminta Aileen untuk mengobrol banyak hal dengan dirinya. menikmati wajah cantik putrinya yang bak pinang di belah dua.
"Abi beneran tidak ikut kita ke pusara Bunda?" Sekali lagi Ali menghampiri Abinya yang tengah berbaring di atas ranjang.
"Tidak Al, kamu saja yang pergi sama yang lainnya. Abi merasa tidak enak badan. Sejak semalam kepala Abi sakit mungkin saja kerena hujan gerimis kemaren," Bukan Andi tak ingin mengunjungi istrinya. Hanya saja kemaren Andi terkena hujan gerimis saat berjalan santai untuk menghilangkan rasa suntuk di rumah. Tapi gerimis datang secara mendadak membuat Andi tidak membawa mantel.
"Apa kita undur saja waktu ke makam Bunda, Abi?"
Andi menggeleng. "Tidak usah Al, lagian satu minggu yang lalu Abi sudah dari makam Bunda. Sekarang kamu pergilah dengan yang lain. Apalagi ini sudah terlalu lama kalian tidak mengunjungi Bunda. Bunda pasti sudah sangat rindu dengan kalian semua apalagi selama ini kalian tidak pernah memperkenalkan Bunda dengan Kina, putri kalian."
"Tapi Abi bagaimana? Apa Abi sudah minum obat? Atau kita ke rumah sakit saja untuk memeriksa kondisi Abi?"
"Tidak usah Al, semalam Abi sudah meminum obat. Kamu tidak perlu risau nanti Abi pasti juga akan sembuh. Nanti setelah makan Abi akan kembali meminum obat. Pergilah Al, ke-dua adikmu pasti sudah merindukan Bunda."
"Tidak apa Al, lagian masih ada Mbok jika Abi butuh sesuatu. Jangan lupa sampaikan salam Abi untuk Bunda ya Al,"
"Baiklah Abi, aku berangkat dulu. Abi jangan terlalu banyak gerak dulu. Semoga Abi cepat sembuh."
Ali meninggalkan kamar Andi dengan berat. Padahal dalam rencana kali ini mereka akan mengunjungi Yumna bersama namun, musibah malah menghampiri Andi yang membuat mereka datang tanpa kehadiran Andi.
Ali, Mika, Aileen, Azlan dan Kina sudah berada di makan Yumna yang tampak bersih yang dibagian tengahnya terdapat bunga yang mekar begitu cantik. Lima batang bunga mawar serta melati menghiasi makan Yumna. Ali serta yang lainnya jongkok di sekitaran makan Yumna.
"Assalamu'alaikum Bunda. Maafkan Al yang baru bisa berkunjung ke sini Bunda. Pekerjaan Al yang terlalu padat membuat waktu Al untuk kesini sangat sulit. Apa Bunda di dalam sana baik-baik saja? Apa Bunda di dalam sana bahagia? Aku berharap Bunda di dalam sana bahagia seperti Al yang bahagia disini. Hari ini untuk pertama kalinya Al datang bersama putri kecil Al, Bunda. Putri kecil yang dulu sangat Bunda impikan hadir didalam rumah kita, putri kecil yang Bunda inginkan lahir dari menantu Bunda. Kini itu semua sudah terwujud Bunda. Putri Al kini sudah berusia tiga tahun Bunda, apa Bunda bahagia seperti Al dan yang lainnya? Bunda, Al disini sudah sangat bahagia sesuai dengan permintaan Bunda dikala Bunda masih bersama kami. Terima kasih untuk semua nasehat yang selalu bunda berikan untuk Al. Bunda, Al disini sudah menjalani semua nasehat dari Bunda. Baik itu tentang sebuah keikhlasan serta rasa sabar yang tidak akan pernah sirna. Terima kasih Bunda, terima kasih untuk semuanya. Al berharap disana Bunda dengar ucapan Al dan Bunda juga ikut bahagia," Air mata Ali menetes dengan seiring berjalannya kata-kata yang meluncur indah dari bibirnya. "ahhh, iya Bunda, Al sampai lupa. Abi nitip salam untuk Bunda, karena saat ini Abi tengah deman. Do'ain Abi agar lekas sembuh ya Bunda," Lanjut Ali yang mengingat amanah Andi yang hampir saja di lupakannya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Bunda, Bunda apa kabar di dalam sana? Aku hanya berharap Bunda tetap baik-baik saja. Bunda terima kasih sudah melahirkan putra seperti Abang, aku bahagia memiliki suami seperti Abang, anak Bunda. Bunda tahu, aku selalu bersyukur memiliki ibu mertua yang penuh dengan rasa sabar, kasih sayang serta keikhlasan yang termakan sangat. Aku sangat bersyukur Bunda yang menjadi Ibu mertuaku. Bunda, maafkan Mika jika selama ini Mika ada salah sama Bunda."
"Assalamu'alaikum Bunda. Apa Bunda ingat dengan aku putri kecil Bunda? Putri kecil yang sekarang sudah beranjak remaja. Bunda, Ai sudah tumbuh menjadi putri Bunda yang sangat cantik. Bunda, Abi bilang wajah Ai sangat mirip sama Bunda bahkan setiap inci wajah Ai kata Abi, Abang l, Kakak Mimi dan Az itu nggak ada bedanya sama Bunda. Bunda, kita bak pinang di belah dua kata Abi. Bunda, Ai rundu. Ai rindu dengan pelukan Bunda, Ai rindu dengan segala ucapan yang Bunda lontarkan untuk Ai. Bunda tahu? Hampir setiap malam Ai selalu melihat bintang, Ai hanya bisa melepaskan rindu Ai dengan melihat bintang yang berkedip dengan terangnya Bunda. Bunda, Ai selalu ingin Bunda hadir di dalam mimpi Ai, tapi hingga kini Bunda tidak pernah mampir di mimpi Ai. Bunda, Ai mohon datanglah sekali saja ke dalam mimpi Ai. Peluk Ai di dalam mimpi Bunda, Ai sungguh sangat merindukan Bunda." Aileen mengusap air matanya yang merembes keluar dari matanya. "Bunda, Ai berharap Bunda bahagia didalam sana seperti Ai yang selalu bahagia disini. Maafkan Ai yang lagi-lagi lemah di hadapan Bunda. Maafkan Ai sekali lagi menangis di depan Bunda, maafkan Ai Bunda. Bunda Ai sayang Bunda." Aileen menutup mulutnya saat tak lagi kuat berbicara .
"Assalamu'alaikum Bunda, Bunda ini Azlan, Bunda. Putra, Bunda yang kini semakin tampan kata Abi. Putra yang Bunda lahirkan belasan tahun lalu kini sudah tumbuh besar. Bunda, Az rindu sama Bunda. Bunda, bisakah Bunda hadir di dalam mimpi Az? Bisakah Bunda menwujudkan keinginan Az? Az sungguh rindu dengan Bunda. Bunda apa Bunda tahu Az selalu berdo'a di setiap ingin tidur agar Bunda datang ke mimpi Az meski hanya sekali saja. Bunda Az mohon datanglah sekali saja. Bunda, Bunda yang bahagia ya di dalam sana. Bunda harus tetap tersenyum ya di sana. Az tidak minta banyak kok Bunda, Az berharap Bunda tetap tenang di sisi-Nya."
Dua jam kurang mereka di sana, akhirnya mereka meninggalkan makan Yumna dengan berat hati. Namun tidak mungkin mereka akan tetap disana apalagi sekarang matahari semakin terik. Sebelum pergi mereka juga menaburkan kelopak bunga pada makan sang Bunda.
(Kehidupan itu tidak bisa kita tebak. Kadang kala berkahir dengan air mata bahagia namun juga bisa dengan air mata kesedihan.)
**TAMAT**
Assalamu'alaikum semuanya, Alhamdulillah cerita ini akhirnya tamat juga. Maaf jika akhirnya tidak sesuai dengan keinginan kalian semua. Karena segala sesuatu tidak melulu berakhir dengan kebahagiaan.
Setelah ini jangan lupa mampir kekarnya aku yang lainnya ya. Yang tak kalah serunya dengan cerita ini. Aku nungguin kalian mampir disana loh😁
__ADS_1
Babay, see you all,,😊😊😊