Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Ali Semakin Cemburu


__ADS_3

Kembali Mika memasukkan benda pilih itu ke dalam sakunnya. "Maaf ya Bang, tadi teman aku nelpon," ujar Mika tak enak karena, obrolan mereka harus terjeda karena telpon dari Yanda.


"Pacar kamu, Dek?" Bukannya menjawab ucapan Mika, Ali malah tanya balik kepadanya.


"Kenapa Abang nanya gitu?" Mika heran dengan ucapan Ali. Bahkan nadanya tampak marah.


"Tidak ada, Abang hanya nanya saja," jawabnya. "ya sudah Abang ke kamar dulu, Abang sudah ngantuk." alasan Ali. Sungguh hatinya saat ini tengah terbakar. Laki-laki itu tidak suka Mika berbicara dengan laki-laki lain dengan senyum mengambang penuh di bibirnya.


"Abang kenapa sih? Kok jadi aneh gini?" tanya Mika saat Ali sudah berdiri dari duduknya. Laki-laki itu sudah berjalan beberapa langkah dari Mika.


"Abang tidak apa-apa. Abang hanya mengantuk." jawabnya yang langsung melangkah lebar menuju kamar.


Mika mengedikkan bahunya. Heran dengan tingkah Ali yang tiba-tiba marah bahkan terkesan dingin saat membalas perkataannya.


"Huhhh, ngantuk." Mika meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Mata Mika juga tidak bisa lagi untuk diajak begadang.


Merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah meletakkan benda pipih di dalam sakunya di atas nakas. Memejamkan matanya untuk mengarungi dunia mimpi.


****


Pagi telah menyambut. Mika melaksanakan tugasnya sebagai seorang hamba. Setelahnya baru menuju dapur untuk membantu Yumna membuat sarapan pagi seperti dulu.


"Pagi Tante," sapa Mika saat melihat wanita itu tengah membersihkan ayam.


"Pagi Mika. Gimana tidurnya semalam? Nyaman?" Yumna melirik sekilas ke arah Mika lalu kembali melanjutkan mencuci ayam tersebut.


"Nyaman Tan. Apa yang bisa aku bantu Tante?"


"Tolong kupas bawang merah sama bawang putih itu Mika. Setelah itu di iris," pinta Yumna yang di angguki Mika.


Gadis itu mengambil beberapa siung bawang putih dan bawang merah. Mengupas kulit lalu baru di cuci bersih sebelum di iris tipis.


40 menit berlalu masakan mereka akhirnya selesai. Ayam kecap di tambah ayam cabe merah sudah terhilang di atas meja. Tak lupa piring yang terletak pada setiap barisan kursi.


"Mika tolong panggil Abang, katanya kemaren dia masuk pagi." pinta Yumna.


"Baik Tante,"


Mika mengetuk beberapa kali pintu kamar Ali. Namun tak ada jawaban dari laki-laki itu.


"Abang, apa Abang sudah bangun?" Mika masih terus mengetuk pintu kamar laki-laki yang masih mengisi hatinya.


"Abang ap--"


"Berisik!!" Ali membuka pintu kamarnya sebelum Mika menyelesaikan ucapannya.


"Abang kenapa sih? Aneh banget. Padahal aku cuman manggil Abang, itupun di suruh sama Tante. Kalau gini tanggapan Abang mendingan nggak aku panggil tadi. Nyesel aku," Mika mendahulukan langkah Ali. Dia sangat kesal dengan sifat Ali yang berubah tanpa alasan.


Ali menatap punggung gadis itu dengan seksama. Dirinya bahkan tidak tahu kenapa bisa berubah seperti ini. Saat melihat Mika menelpon dengan teman lelakinya hatinya sudah sangat panas, sehingga membuat dirinya kesal juga dengan Mika.


Mika memakan sarapan paginya dengan tenang. Bahkan tak menghiraukan Ali yang beberapa kali menatap dirinya.

__ADS_1


"Tan aku setelah ini langsung ke kontrakan," ujar Mika saat gadis itu telah selesai sarapan.


"Kenapa cepat sekali Mika? Bukankah kamu hari ini libur? Kenapa tidak nanti sore saja kembali ke kontrakan?" Yumna memberi berbagi pertanyaan kepada gadis itu.


"Maaf Tante, kemaren aku berencana memang nanti sore akan kembali. Namun ada kendala yang membuat aku harus kembali lagi ke kontrakan." jawab Mika menampilkan senyum manisnya. berharap wanita paruh baya itu percaya dengan ucapannya.


"Yahhh, padahal tante masih ingin kamu di sini Mika. Ya sudah tidak apa, kamu pulang naik taksi atau di antar Abang?" Yumna menatap gadis cantik itu dengan mengernyitkan dahinya.


"Tidak Tante, aku bawa motor kesini," jawab Mika. Menang kemaren gadis itu tidak mengatakan dia datang naik apa ke rumah ini.


"Ohh iya tidak apa-apa. Hati-hati nanti perginya ya. Tante mau pergi ke toko bareng Om sekarang."


"Iya Tante, hati-hati."


Kini tinggal Ali dan Mika yang masih berada di meja makan. Mika mengambil piring kotornya lalu mencucinya di wastafel sebelum di letakkan di rak piring.


("Iya Kak, wa'alaikumsalam,") Mika meletakkan benda pipih itu di samping telinganya. Saat ini gadis itu tengah berdiri di teras rumah hendak melangkah menuju motornya yang terparkir. Namun, karena HPnya berbunyi gadis itu lebih dulu mengangkat panggilan.


("Kamu di kontrakan sekarang Mika?")


("Tidak Kak, semalam aku menginap di rumah Tante Yumna. Sekarang aku mau berangkat ke kontrakan Kak. Emang ada apa?")


("Bisa ketemuan nggak Mika, kakak sudah rindu banget sama kamu,")


("Ini masih pagi Kak, kan besok kita bisa ketemuan lagi,") jawab Mika.


("Beneran kok Mika, kakak sangat rindu sama kamu, atau gini saja kakak datang ke kontrakan kamu gimana?")


("Baiklah, kita ketemuan di tempat bisa kita ngumpul,")


("Baiklah Kak,")


Mika mematikan teleponnya. Memasukkan benda itu ke dalam tas selempangnya.


Sedangkan di balik pintu, Ali menguping pembicara Mika dengan teman lelaki yang diyakini Ali sama dengan semalam. Tangannya terkepal dengan erat saat Mika akan bertemu dengan teman lelakinya itu. Sungguh panas di dadanya kian membara. Dia tak terima miliknya harus bertemu dengan orang lain. Miliknya? Benarkah Mika miliknya? Bukankah gadis itu tak memiliki hubungan apa-apa dengannya, lantas kenapa dia harus mengklaim Mika menjadi miliknya.


Deru mesin motor membuyarkan lamunan Ali. Bergegas laki-laki itu menghidupkan mesin mobilnya. laki-laki itu akan mengikuti kemana Mika akan membawa sepeda motor itu. Kemana tujuan gadis itu untuk bertemu dengan teman lelakinya.




"Sudah lama Kak?" Mika menghampiri Yanda yang tengah menyesap kopi susu di depannya.



"Belum kok Mika, baru saja. Kamu mau pesan apa?"



"Capucinno late saja Kak,"

__ADS_1



"Seriusan kamu, Mika? Dingin loh, apalagi sekarang masih pagi,"



"Iya serius lah Kak, biar otak aku juga dingin heheh," jawab Mika dengan sedikit cengengesan.



"Emangnya otak kamu sedang panas Mika?" Yanda menatap Mika dengan bingung. Ada-ada saja ucapan gadis itu pagi-pagi gini.



"Hahah ya nggak lah Kak, lagian aku juga bercanda doang. Kakak saja sih yang menganggap aku serius,"



"Ya biasanya mana pernah kamu bercanda kalau ngomong Mika. omongannya serius terus tapi hanya satu yang nggak kamu seriusin," ungkap Yanda memberi teka-teki kepada gadis itu.



"Apa emang Kak?" Jelas guratan pada kening gadis itu karena dia tak mengerti dengan ucapan Yanda.



"Kamu nggak mau nyeriusin ucapan Kakak, padahal jika kamu mau nikah sama Kakak alangkah bahagianya Kakak, Mika," Wajah Yanda sendu saat megatakan itu. Cintanya tak pernah terbalaskan hingga kini. Gadis di depannya itu hanya menganggapnya tak lebih dari seorang Kakak atau teman.



"Maaf Kak, aku juga nggak bisa maksain hati aku untuk Kakak. Aku nggak mau Kakak nanti malah kecewa sama aku,"



"Iya tidak apa-apa Mika. Semoga suatu saat kamu bisa membuka hati kamu untuk Kakak," ucapnya penuh harap.



"Semoga saja itu berhasil Kak," balas Mika dengan tersenyum manis.



Di sudut ruangan itu, Ali tengah menatap ke arah sepasang anak mnusia itu. Tangannya semakin terkepal saatel melihat Mika tersenyum dengan manisnya kepada laki-laki itu. Rasanya ingin sekali Ali menghampiri Mika, menarik paksa tangan gadis itu dan mengurungnya di dalam kamarnya yang ada di rumah.



Beberapa kali Ali menarik nafas sebelum akhirnya dia memilih ke rumah sakit dengan hati yang panas. Bahkan beberapa kali dia memukul setir mobil dengan kuat. Hatinya teramat sakit melihat gadis itu bercerita dengan santainya kepada laki-laki lain. Meski tak tau apa yang tengah mereka bicarakan, Ali merasa jika gadis itu sangat bahagia dengan laki-laki itu.



TBC

__ADS_1


__ADS_2