
Ali lebih dulu bangun dari istrinya. Senyum manis menghiasi bibir laki-laki itu. Menatap wajah cantik istrinya yang damai dalam tidurnya, dengkuran halus terdengar begitu syahdu di telinga Ali. Sesekali tangan besar itu mengelus lembut pipi mulus milik Mika.
"Hmmm," Mika bergumam dalam tidurnya, membuat Ali tersenyum. "Bang," Mata Mika terbuka perlahan, menyamakan pencahayaan di dalam kamar.
"Hmmm, apa Dek? Apa Adek masih capek?"
"Tubuh aku sakit semua," keluhnya.
"Maafkan Abang, Dek. Maafkan Abang membuat kamu terlalu lelah dan mengakibatkan tubuh kamu sakit Dek. Mungkin Abang terlalu bersemangat sehingga tidak memberi kamu jeda untuk istirahat." sesalnya.
Mika tersenyum manis. "Kenapa Abang minta maaf? Lagian ini sudah tugas aku sebagai istri Abang untuk memenuhi kebutuhan batin Abang bukan?" Mika mengulurkan tangannya pada wajah tegas suaminya yang di penuhin bulu-bulu kasar yang membingkai pahatan wajah bak raja.
"Abang minta maaf ya Dek, gara-gara Abang kamu jadi kek gini, gara-gara Abang kamu jadi lelah. Apa bagian itu masih terasa sakit?"
"Masih Bang mungkin nanti juga sehat sendiri," jawab Mika dengan wajah memerah. Terbayang sudah kegiatan yang mereka lakukan semalam yang tiada hentinya.
Mika bahagia akhirnya apa yang dia jaga selama ini sudah di berikannya kepada laki-laki yang sudah menjadi suaminya.
"Jam berapa sekarang Bang?"
"Jan 4 subuh dek, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Ali menatap istrinya dengan lembut.
"Tidak Bang, aku nggak butuh apa-apa. Aku hanya tanya saja mana tahu aku melewatkan waktu subuh," jawab Mika sambil menampilkan deretan gigi putihnya. "Abang..., mau lagi?" Mika menutup wajahnya dengan ke-dua tangannya karena merasa malu atas ucapannya.
"Tapi itunya masih sakit Dek," Ali bukan menolak, hanya saja Ali khawatir jika punya istrinya akan semakin sakit nantinya.
"Tidak apa kok Bang, mau ya Bang?" punta Mika yang membuat Ali gemas.
"Iya boleh Dek,"
Selanjutnya mereka kembali mengulangi apa yang tengah mereka lakukan semalam. Meneguk manisnya surga dunia di pagi hari menjelang masuknya waktu subuh.
__ADS_1
****
Pagi semua...," sapa Mika kepada semua orang yang ada di meja makan. Disana terdapat seluruh keluarga Mika maupun Ali.
"Pagi Nak,"
"Pagi Sayang,"
"Pagi Kakak Mimi,"
Itulah kira-kira jawaban yang diberikan mereka semua. Ali dan Mika duduk di kursi yang memang hanya tinggal dua untuk mereka. Sarapan pagi dengan hidangan yang tampak sangat lezat. Tak ada yang membuka pembicaraan disana selain bunyi sendok yang terdengar di telinga.
"Ibu, Ayah kenapa cepat sekali kembali ke kampung?" Saat ini Mika tengah duduk bersama ke-dua orang-tuanya di ruang tamu termasuk Ali, sang suami.
"Ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaan di sana Mika, apalagi pekerjaan Ayah sangat banyak dan tidak bisa di tunda," Rangga menantap putri tunggalnya dengan sedih karena, hari ini dia dan istrinya harus kembali ke kampung.
"Apa Ayah dan Ibu tidak bisa tinggal untuk beberapa hari lagi di sini? Atau satu hari lagi tidak apa-apa?" Mika menatap ke-dua orang-tuanya penuh harap. Baru saja dua hari yang lalu mereka datang namun, kini sudah kembali lagi ke kampung. Padahal dirinya masih sangat merindukan mereka.
Caca menggeleng. "Tidak bisa Nak, Ibu juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang terbengkalai di kampung. Semakin lama Ibu disini maka pekerjaan Ibu juga akan semakin lama selesainya." Caca mengelus pipi putrinya dengan sayang. Jujur saja dia juga masih sangat merindukan putrinya itu.
"Nanri kita masih bisa video call Sayang, lagian apa yang tidak bisa di zaman modern seperti sekarang."
"Itu beda Ibu, hanya bisa menatap lewat kaca tapi tidak dapat menyentuh wajah Ibu manapun Ayah secara langsung," ujar Mika cemberut.
"Mau gimana lagi Mika, Ibu dan Ayah harus kembali lagi ke kampung. Nanti jika kamu libur masih bisa pulang bukan? Atau nanti kalau Ibu sama Ayah ada waktu maka kami yang akan datang ke sini lagi,"
"Hmm iya tidak apa-apa Ibu, padahal aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibu ketika aku masih cuti kerja," Cemberutnya.
"Wajahnya jangan lagi kek gitu Mika, ingat kamu itu sudah memiliki suami dan mungkin saja bulan depan sudah mendapatkan kabar bahagia. Jadi tidak cocok lagi wajahnya di imut-imutkan seperti ini. Kamu jadi jelek tau,"
"Issa Ibu nggak asik. Masa anak sendiri di bilang jelek," rajuknya membuat Caca, Rangga dan Ali terkekeh.
__ADS_1
"Hahaha kamu tetap cantik kok Nak, kamu akan tetap jadi permata di hati Ayah," Hibur Tangga mengusap kelapa putrinya yang kini sudah terbungkus hijab.
Rangga sangat besyukur putrinya sudah menutup auratnya meski belum dengan pakaian yang serba longgar. Setidaknya anaknya sudah memiliki perubahan dengan mengenakan hijab. Do'anya semoga saja nanti putrinya itu bisa berpakaian seperti besan perempuannya yang sebagai memakainya gamis longgar yang tidak menampakkan auratnya.
"Terima kasih Ayah," Mika memeluk erat Ayahnya. Merasa bangga memiliki seorang ayah seperti Rangga. Penuh kasih sayang dan cinta
****
Kini Mika dan Aku tengah di perjalanan pulang, karena baru saja mengantarkan Caca dan Rangga ke bandara. Menunggu sampai kedua sorang itu masuk kedalam pesawat.
"Mau makan di luar Dek?" Ali menatap sekilas istrinya sebelum kembali Mewtwo jalan raya.
"Nggak Bang, kita makan di rumah saja. Aku lelah pengen tidur lagi," jawab Mika di angguki Ali.
Akhirnya mobil yang di kendarai Ali sampai di halaman rumah. Tampak di sana Aileen dan Azlan tengah bermain kejar-kejaran. Gadis kecil dengan rambut di kepang dua itu tampak sangat bahagia bermain dengan Azlan sang adik.
Mika menampakkan senyumnya saat melihat kedua adik iparnya itu. Sungguh sangat mengemaskan.
"Nanti kalau kita punya anak pasti mereka akan lebih dari Az dan Ai, Dek," Ali memeluk tubuh istrinya dari belakang. Membuat Mika tersentak dengan perlakuan spontan Ali.
"Iya Bang, aku nggak sabar untuk memiliki anak. Pasti akan sangat lucu dan mengemaskan. Perpaduan antara aku dan kamu, Bang," Mika menatap suaminya dengan senyum manis. Membayangkan jika nanti mereka memiliki anak. Ahhh, rasanya Mika sungguh tidak sabar hari itu datang.
"Maka dari itu kita harus sering berkerja keras Dek, agar segera kita dapatkan." Ali menggoda istrinya.
"Itu mah enak di Abang lelah di aku," Mika mencubit gemas pinggang suaminya.
"Auuu sakit loh Dek. Masa cuma Abang yang merasakan enak? Emang Adek nggak ngerasain enaknya juga? Bukankah setiap melakukannya Adek selalu minta nambah?" Lagi-lagi Ali menggoda istrinya membuat pipi Mika bersemu merah karena malu.
Memang itulah kenyataannya Mika selalu minta tambah saat mereka melakukan itu. Bahkan Ali dengan semangatnya memenuhi permintaan istri kecilnya itu. Siapa yang tidak akan bahagia jika istrinya selalu membuat dirinya rindu bahkan membuatnya candu akan kehangatan yang diberikan Mika. Apalagi istrinya itu terlihat sangat menggemaskan dimata Ali.
"Abang juga gitu loh sama aku, jadi jangan hanya menyalahkan aku saja," Mika melepaskan pelukan Ali. Berjalan menuju Aileen dan Azlan yang tampak tengah duduk mengistirahatkan tubuh mereka yang mungkin lelah.
__ADS_1
Rasa lelah yang tadi dirasakan Mika tadi menguap begitu saja saat melihat kedua adik iparnya yang tampak sangat lucu. Sedangkan Ali mengikuti kemana istrinya itu pergi sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu sang istri.
TBC