Diceraikan

Diceraikan
Bulan Madu 2


__ADS_3

Yumna dan Andi tengah membersihkan rumah yang tampak berdebu. Semenjak Yumna meninggali rumah ini, memang tak ada yang membersihkan. Untung saja halamannya di tembok, jadi tidak ada rumput yang tumbuh.


Cukup lelah memang, tapi tak mungkin mereka duduk di atas debu yang tampak jelas. maka dari itu sepasang suami istri itu memilih untuk membersihkan terlebih dahulu.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar milik Yumna. Yumna menyusun baju mereka untuk beberapa hari ke depan, di dalam lemari yang dulu Yumna gunakan untuk menyimpan bajunya.


"Mas nggak mandi dulu?" Yumna melihat suaminya yang kembali berbaring di atas kasur yang tak terlalu empuk itu.


Andi menggeleng. "Sebentar lagi Bun. Emang Bunda mau mandi dulu?" tanya Andi menatap istrinya yang kini sudah duduk di samping.


Wanita itu mengusap surai hitam milik suaminya. Lalu, tangan itu berpindah pada pipi yang di tumbuhi jambang yang tampak dicukur bersih.


Yumna menggeleng. "Nanti saja Mas," jawab Yumna yang masih bengusap lembut pipi suaminya dengan gemas. Ingin rasanya wanita itu mengigit pipi suaminya itu.


"Kenapa?" Andi menatap wajah cantik istrinya.


Yumna mengedikkan bahunya. "Nanti saja lah Mas. Lagian aku masih mau begini," jawab Yumna yang belum puas mengusap wajah suaminya.


"Isss, jangan di pencet-pencet gitu Bun. Kan sakit," Pipinya terasa agak sakit karena istrinya yang memencetnya lumayan kuat.


"Heheh, maaf Mas. Lagian enak tau seperti ini. Coba saja Mas rasain sama pipi aku," ujar Yumna yang memilih tidur di samping suaminya.


Andi melakukan apa yang dikatakan istrinya. Memang terasa enak, bahkan terkesan gemas saat melakukannya. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Bahkan rasanya Andi tidak mau melepaskan sangking asiknya memainkan pipi istrinya.


"Iya Bun. Enak banget rasanya kek gini. Apalagi pipi bunda terasa lembut," Jujur Andi. Dalam sekejab saja bibir yang sedikit tebal itu mendapat di dahi sang istri dengan lembut. Bahkan ada sedikit saliva yang tertinggal disana saat Andi melepaskan ciumannya.


"Nak kan, apa yang aku bilang, Mas. Kamu sih nggak awalnya nggak percaya," ujar Yumna yang hendak duduk. Namun pergerakan tertahan karena tubuh suaminya yang besar itu. "Awas ihh Mas. Aku mau duduk," punya Yumna yang tak di indahkan suaminya.


"Bunda," Kambali Yumna tidur seperti tadi. Membiarkan tubuh suaminya yang mengukung dirinya.


"Iya Mas," jawab Yumna menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Pengen," Satu kata yang jelas Yumna tau maksudnya.


"Emang Mas nggak lelah apa. Padahal tadi kita kerja lumayan banyak loh?" tanya Yumna. Terasa di wajahnya terpaan nafas suaminya yang sudah tak beraturan.


Andi menggeleng. "Tidak Bun. Yuk Bun, Mas pengen," ujarnya mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.


Hanya anggukan kecil yang diberikan Yumna. Jika boleh jujur, Yumna sangat lelah. Tapi apa yang bisa dilakukan wanita itu jika bukan memenuhi kebutuhan suaminya yang tak bisa dia tolak.


Mau mengatakan jika dirinya lelah juga tidak mungkin. Apalagi kini wajah suaminya tampak sudah memerah menahan gejolak pada tubuhnya yang mungkin saja sudah tidak bisa ditahan.


Pasrah, hanya itu yang kini dilakukannya. Tak kuasa menolak suaminya. Bukan hanya itu, dia bahkan takut untuk menolak lantaran ingat akan dosa.


***


"Mas kamu mau makan sesuatu?" Yumna menghampiri suaminya yang tengah duduk di ruang tamu.


"Mas pengen makan nutrijjel Bun. Apa Bunda bisa bikinin buat mas," tanya Andi dengan antusias.


"Iya tidak apa Bun. Sebelum itu apa ada yang bisa Mas bantu Bun?" Andi menatap istrinya.


Yumna menggeleng. "Tidak Mas. Kamu duduk saja disini. Lagian tak akan lama membuatnya, Mas," jawab Yumna dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


Andi hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Yumna meninggalkan suaminya di ruang tamu sendirian. Dia akan membuatkan apa yang diinginkan suaminya terlebih dahulu. Lagian tidak akan memakan waktu satu jam. Paling sama juga sepuluh menit jika itu api kompornya di perbesar.


"Mas, kamu mau keripik?" Yumna menawarkan keripik pisang yang dia bawa dari dapur.


"Tidak Bunda. Makanlah," jawab Andi. Dia memang tidak menginginkan memakan keripik. Yang dia mau hanya nutrijjel, yang masih didinginkan istrinya di dalam kulkas.


Yumna duduk di samping suaminya. Tak lupa kepalanya menyender pada bahu tegas suaminya. Andi mengusap lembut surai hitam milik Yumna. Memang saat ini Yumna tidak memakai hijab seperti biasa. Ini dia lakukan juga keinginan suaminya sendiri. Jika tidak di minta suaminya, Yumna tidak akan melepaskan hijabnya.


"Bunda, Mas ingin kamu lepas hijab ya. Lagian di rumah ini hanya ada kita. Berbeda jika kita di Jakarta, yang kadang ada saja tamu yang datang," Itulah kata suaminya beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


Andi mengusap perut rata istrinya yang dibalut baju tidur. "Semoga bayi kita cepat tumbuh di sini, Bun," Berulang kali Andi mendaratkan ciuman pada perut rata istrinya. Keinginannya saat ini, hadirnya sosok seorang anak dalam kandungan sang istri. Sosok seorang bayi mungil yang sangat didambakan laki-laki itu sejak lama.


"Aamiin Mas. Semoga saja apa yang kamu inginkan dikabulkan sama Allah, Mas. Begitupun dengan diriku, yang juga menginginkan seorang bayi ke-dua yang ada di rahim ini, Mas," jawab Yumna yang juga menginginkan apa yang kini tengah di inginkan suami.


"Aamiin Sayang. Semoga saja do'a kita diijabah sama Allah ya, Bun,"


"Iya Mas, aamiin. Yang terpenting kita berdo'a dan juga berusaha." jawab Yumna dengan senyuman.


"Iya kamu bener banget Bun." ujar Andi. "Apa nutrijjel tadi sudah keras ya, Bun?" lanjutnya mendudukkan dirinya dengan sempurna.


"Tunggu sebentar Mas. Aku lihat dulu. Biasanya tidak akan lama, kalau diletakkan di freezer."


"Iya Bun,"


Tak akan memakan waktu lama. Yumna membawa sepiring nutrijjel di atas piring yang sudah di potong-potong wanita itu. "Nih Mas, sudah bisa di makan," Yumna menyodorkan nutrijjel itu kepada suaminya.


"Rasa apa ini Bun? Kok warnanya ungu? Biasanya kalau di rumah, Mama sering buatnya yang warna orange. Kalau tidak salah Mas rasa mangga dan jeruk." Andi menatap istrinya menunggu jawaban dari mulut wanita itu.


"Ini rasa anggur Mas. Tadinya maunya bikin rasa melon, tapi tidak jadi." jawab Yumna.


"Kenapa Bun?" tanya Andi mengerutkan keningnya.


"Rasa melon sudah sering aku buat di rumah untuk Ali, Mas. Sekali-kali beda rasa juga tidak apa," jawab Yumna tersenyum. Jangan lupakan masih ada keripik di dalam mulutnya.


"Hmm, enak juga rasa ini Bun. Bunda mau?" tawar Andi yang mendekatkan nutrijjel yang sudah digigitnya pada mulut sang istri.


"Hmm iya enak Mas. Mau lagi Mas," pinta Yumna kepada suaminya.


Dengan senang hati, Andi kembali menyuapi istrinya. Rasanya sangat bahagia melakukan hal sederhana seperti ini. Tak perlu mewah untuk menciptakan suatu kebahagiaan. Kenapa harus mewah jika hal kecil saja sudah membuat kebahagiaan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2