Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Hancur dan Kecewa


__ADS_3

Hari kian berlalu, tak terasa sudah dua tahun lamanya Mika menjalani kuliah di kota. Kota yang jauh dari jangkauan ke-dua orang-tuanya. Bahkan selama dua tahun ini baru satu kali Mika pulang ke kampung halaman. Kampung yang menyimpan sejuta kenangan.


"Abang lagi apa?" Mika menghampiri Ali yang tengah duduk di kursi belakang rumah. Mengawasi ke-dua adiknya yang tengah bermain di sekitar sana.


"Lagi ngawasin Ai sama Az, Dek," jawabnya.


Mika mengangguk. "Boleh aku duduk di sini, Bang?"


"Boleh, duduklah Dek. Tumbenan kamu minta izin dulu untuk duduk? Biasanya juga langsung saja?" Ali menatap Mika dengan bingung.


"Heheh, nggak apa-apa kok, Bang," jawabnya cengengesan.


Mika melihat Aileen maupun Azlan yang tengah asik bermain. Tampak ke-dua bocah itu tertawa beriringan. Ntah apa yang tengah mereka bicarakan. Yang jelas Mika maupun Ali tidak mendengar ucapan kedua bocah kecil itu.


"Abang," Mika menatap wajah laki-laki yang kini tengah duduk di sampingnya. Laki-laki yang semakin hari malah semakin tampan.


"Apa Dek?" Ali menolehkan kepalanya pada Mika.


Mika tak langsung menjawab ucapan Ali. Gadis itu masih tampak sedikit grogi, namun kini dia tak bisa lagi mengelak. Cepat atau lambat, terima atau tidaknya pasti akan terjadi.


"Aku suka sama Abang," lirih Mika to the point.


"Abang juga suka sama kamu, Dek," jawab Ali. Meski suara Mika hanya samar namun, laki-laki itu masih mendengar lirihan itu.

__ADS_1


"Abang ngerti apa maksud aku?"


Ali mengangguk. "Abang ngerti Dek,"


"Aku cinta sama Abang," lanjutnya lagi.


"Haa? Apa kata kamu Dek? Cinta?" Ali terkejut dengan ucapan Mika.


Mika mengangguk. "Iya aku cinta sama Abang. Aku sayang sama Abang buka sayang sebatas adek sama kakaknya. Seperti yang Abang katakan juga menyayangi aku. Melainkan sayang dan cinta sama lawan jenis." jelas Mika menatap Ali yang masih tampak terkejut serta syok.


"Sejak kapan?" Kini nada suara laki-laki itu bukan seperti tadi. Agak naik sedikit.


"Sudah lama Bang. Mungkin sejak aku sudah beranjak remaja. Maaf jika aku lancang menaruh hati sama Abang. Awalnya aku juga sayang sama Abang hanya sebatas Kakak. Namun, seiring berjalannya waktu rasa itu berubah menjadi rasa cinta kepada lawan jenis. Maafkan aku, Bang. Harusnya aku tak boleh menaruh rasa ini kepada Abang. Harusnya aku mengubur dalam-dalam perasaan ini sejak awal. Tapi aku tidak bisa Bang. Semakin aku mengubur, cinta itu semua dalam. Semakin aku menepis pikiran tentang Abang, malah semakin menjadi," Mika menatap lurus kedepan. Rasanya apa yang selama bertahun-tahun ini mengganjal dalam hatinya sudah terasa lega.


Mika mengangguk. "Tahu bahkan aku sangat tahu, Bang. Jika saja boleh memilih, aku juga tak ingin hati ini melabuh sama Abang. Tapi siapa yang tahu jika hati ini akan memilih Abang. Hati ini selalu menolak orang baru yang datang. Hati ini selalu tak terima dengan keberadaan orang baru. Aku juga tak bisa memaksakan hati aku buat orang lain bukan, Bang. Hingga kini hati ini masih tetap pada milik yang sama, masih Abang. Bukan satu atau dua tahun hati ini memilih Abang, tapi sudah lebih dari 8 tahun."


"Tak bisakah hati itu terbuka untuk orang lain meski hanya sesaat? Tak bisakah, itu kamu lakukan Dek? Maafkan Abang, Abang tidak memiliki perasaan lebih. Abang hanya menganggap kamu sama dengan Aileen dan Azlan. Tak lebih dari itu." Ali cukup terkejut dengan Mika, tak menyangka jika gadis itu mencintainya selama itu, bahkan hingga kini.


Gadis itu mengeleng keras. "Tidak bisa Bang, waktu 8 tahun bukanlah waktu yang sebentar. 96 bulan dalam kurun waktu 8 tahun, 2,920 hari, 70,080 jam, 4,204,800 menit dan yang terlahir 25,228,800 detik. Itu bukanlah waktu yang mudah untuk melupakan rasa ini Bang. Abang bayangin berapa lama Abang berada di hati aku. Maafkan aku yang tak bisa memenuhi keinginan Abang. Maafkan aku yang telah lancang sama Abang." Air mata gadis menetes saat telah selesai mengatakan itu semua.


Kecewa? Sudah pasti gadis itu kecewa, cinta yang begitu besar untuk laki-laki itu nyatanya tak terbalaskan. Cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan, cinta sepihak milik dirinya. Hatinya hancur akan penolakan laki-laki yang dia inginkan menjadi tempat bersandarnya. Laki-laki yang dia harapkan menjadi ayah dari anak-anaknya suatu saat. Tapi, semuanya hancur dalam seketika. Laki-laki itu tak memiliki perasaan yang sama kepada dirinya.


"Maafkan Abang yang tidak bisa menerima cinta kamu, Dek. Maafkan Abang yang sudah menaruh hati kepada perempuan lain."

__ADS_1


"Tidak apa Bang, aku paham. Lagian aku juga tidak akan bisa maksa hati Abang untuk aku, bukan?" Mika menghapus air matanya yang semakin mengaliri pipi mulus gadis itu.


Dadanya terasa sangat sesak. Ingin sekali rasanya Mika memukul dada itu untuk menghilangkan sedikit rasa sesak yang kini tengah dia rasakan. Sekuat apapun Mika meyakinkan dirinya di awal agar tetap kuat, jika akhirnya sebuah penolakan yang diterimanya, tetap saja rasanya amat sakit. Air mata terus saja mengalir di pipi mulus gadis itu.


"Tidak usah Bang, aku bisa sendiri," Mika menepis lembut tangan Ali yang hendak mengusap air matanya.


"Sekali lagi maafkan Abang, Dek," Ali merasa sungguh tak enak hati kepada Mika. Namun hatinya yang memang bukan untuk gadis itu pun juga tak akan bisa dia paksakan. Hatinya sudah menjadi milik orang lain.


"Tidak apa Bang, tidak apa. Ya sudah aku masuk dulu ya Bang. Mau istirahat." Mika meninggalkan Ali dengan air mata yang terus mengaliri matanya. Gadis itu teramat sangat kecewa dengan penolakan yang dilakukan Ali. Mika juga tak mau menyalahkan Ali, meski cintanya ditolak. Ini semua salah dirinya, karena menaruh hati kepada seseorang yang mengganggap dirinya hanya sebatas adik-kakak.


Ali menatap punggung kecil gadis itu. Punggung yang bergetar sepanjang jalan karena, tangis yang dialami gadis itu.


'Maafkan Abang, Dek. Sungguh Abang memiliki perasaan sama kamu. Maafkan Abang yang membuat kamu kecewa. Maafkan Abang yang membuat kamu terluka. Maafkan Abang yang tak menerima perasaan kamu, Dek. Semoga kamu bahagia dengan laki-laki yang menerima kamu,' batin Ali yang terus menatap gadis itu


Mika memasuki kamarnya dan langsung saja menguncinya dengan rapat. Menelungkupkan wajahnya di atas bantal yang menemani dia setiap malamnya.


"Hiks ... Hiks ..., kenapa sesakit ini, kenapa penolakan itu membuat hatiku begitu hancur, sakit sekali, sungguh!!" Mika memukul-mukul dadanya yang semakin sakit. Bayangan penolakan Ali terus saja menghantui pikirannya.


"Kenapa aku harus melabuhkan hati ini untuk kamu, Bang. Kenapa harus kamu yang menjadi labuhan hatiku. Kenapa harus kamu, Bang. Abang rasanya sangat sakit saat kamu tak membalas rasa ini. Rasa yang begitu dalam kepada dirimu. Tak ada yang lain selain kamu, Bang. Tak akan bisa hati ini mudah berpaling dari cinta yang terus bersemi setiap waktunya. Tak bisakah kamu paksakan hati kamu untukku Bang? Tak bisakah kamu berpura-pura menerima aku agar merasakan betapa manisnya menjalin hubungan dengan kamu. Meski akhirnya juga aku yang sakit. Setidaknya biarkan aku merasakan manisnya cinta bersama kamu Bang. Abang rasanya begitu menyayat hatiku. Hatiku sudah hacur lebur karena penolakan kamu. Hiks ... Hiks ...,"


Gadis itu masih terus memukul-mukul dadanya yang semakin terasa sakit. Rasa sakit yang baru pertama kali dia rasakan. Rasa sakit yang lebih dari luka pisau yang pernah dialaminya. Rasa sakit yang lebih dari kecelakaan yang dulu pernah dia rasakan. Sungguh hatinya kini sangat hancur. Mata yang semula tampak begitu cantik kini berubah bengkak. Hidung kuning langsatnya berubah merah. Gadis itu tersedu-sedu di atas kasur nan empuk itu. Menumpahkan segala rasa yang dia rasakan melalui air mata yang kian menganak sungai. Bahkan bantal tempatnya mencurahkan rasa sakit sudah sangat basah dengan air matanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2