
"Nak bolehkah Ayah memeluk kamu?" tanya Reyhan dengan percaya diri.
"Maaf, bukan maksud saya melarang, hanya saja saya belum siap untuk itu semua," balas Ali kepada Reyhan. Jika jujur Ali pun juga mau memeluk laki-laki itu namun, tubuhnya seakan menolak untuk dipeluk laki-laki yang merupakan ayahnya.
"Yaudah tidak apa-apa, ayah paham dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Ayah berharap suatu hari kamu mau mengabulkan keinginan ayah," Reyhan kecewa dengan jawaban yang diberikan sang putra. Hanya saja dia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Dia takut jika memaksa malah membuat anaknya menjauh dari dirinya.
Setelah pertemuan singkat antara dirinya dan sang putra, Reyhan langsung menjalankan motornya menuju rumah tanpa berhenti dulu di sekitaran rumah Yumna. Reyhna menghela nafasnya cukup kasar. Apa yang dia bayangkan tadi siang nyatanya jauh lebih baik. Ingin melihat sang putra dengan jarak jauh seperti biasanya, namun takdir Tuhan memang indah dari yang di bayangkan.
Ada rasa bahagia yang menyeruak dalam dada laki-laki itu. Rasa bahagia yang tidak dapat digambarkan oleh apapun. Senyum manis mengukir wajah tegas laki-laki yang bisa di bilang tidak lagi muda. Dengan bersenandung ria dia melangkah menuju ruang tamu untuk sekedar menikmati sore hari dengan meminum kopi manis buatan istrinya.
Saat tengah kenikmatan kopi pikiran laki-laki itu masih saja pada pertemuan antara dirinya dan sang putra. Tak terbayangkan oleh Reyhan jika pertemuannya dengan sang putra begitu baik. Bahkan dia yang awalnya akan kembali menerima penolakan atau bahkan lebih, nyatanya tidak seperti yang dia bayangkan. Padahal sebelumnya Reyhan juga sempat berfikir jika sang putra akan memberinya ucapan pedas. Tapi itu semua tidak terjadi, lantaran ajaran sang mantan istri yang sangat baik.
Andaikan saja waktu itu dia bisa bertahan sedikit lagi, pasti anaknya akan merasakan kasih sayang dari keluarga yang lengkap. Andai saja Reyhan tidak akan gegabah menceraikan Yumna, pasti mereka kini sudah memiliki anak lebih dari satu. Andaikan waktu itu dia tidak memikirkan hanya tentang anak, anak dan anak yang ada di pikirannya pasti rumah tangganya akan baik-baik saja hingga kini. Namun kini dia hanya bisa berkata andaikan yang tidak akan pernah lagi terjadi.
Semuanya sudah habis tanpa sisa. Dia sudah hidup bahagia dengan istri serta putrinya. Apalagi sekarang sudah ada seorang putra yang lahir dari rahim mantan istrinya. Membuat laki-laki amat sangat bahagia.
Reyhan sangat ingin suatu hari anaknya mau diajak tinggal bersamanya meski hanya beberapa hari saja. Tidak perlu dengan paksaan, tapi hanya emang anaknya mau dan tidak keberatan.
"Sudah lama duduk di sini Rey?" Wanita paruh baya yang sudah sangat berumur itu datang dan duduk di samping sang putra yang tengah menyesap kopi manisnya.
__ADS_1
"Belum terlalu lama Bu, emang kenapa?" tanya Reyhan kepada sang ibu.
"Tidak, ibu hanya bertanya saja. Oh ya ibu pengen sekali putra kamu itu tinggal di rumah kita. Ibu pengen ngerasain gimana rasanya punya cucu laki-laki," Wanita itu menatap sangat putra dengan harapan yang begitu dalam. Sungguh dia sangat ingin cucu laki-lakinya mau tidur di rumahnya. Meski masih ada rasa marah terhadap Yumna yang dia pikir sudah menghasut cucunya agar jangan mau tinggal di rumahnya.
Sunggu dalam hati wanita tua itu masih saja ada rasa marah serta dendam kepada sang mantan menantu. Tanpa sebab serta alasan yang jelas wanita itu membenci mantan menantunya. Memiliki salah saja tidak Yumna terhadap dirinya, namun rasa benci itu datang dengan sendirinya. Ntah itu karena masalalu atau apa hanya Rena yang tau.
"Iya Bu, aku juga berharap seperti itu. Ibu do'ain saja semoga suatu hari dia mau tidur di rumah kita. Bahkan aku juga mau dia tinggal bersama kita Bu," ujar Reyhan dengan sendu kepada Ibunya. "lagian tadi aku baru ketemu dengan putraku, Bu." lanjut Reyhan kepada Ibunya.
"Lalu apa yang kamu katakan kepada putra kamu, Nak?" Rena tampak antusias mendengar ucapan anaknya. Semoga saja anaknya berhasil membawa cucunya untuk tinggal bersama mereka. Padahal baru saja putranya itu ngomong jika dia minta do'a. Tapi dirinya seperti mengartikan lain.
"Alhamdulillah dia tidak menolak diriku Bu seperti waktu itu," jawabnya dengan antusias pula.
"Ya aku cuman berbicara biasa saja Bu, dan aku juga minta peluk sekali saja padanya. Namun putraku belum bisa mengabulkan inginku itu," Reyhan bercerita dengan mimik wajah yang kembali sendu. Padahal dirinya itu sangat rindu dengan dekapan sang putra yang belum pernah dia rasakan. Menekan pil pahit untuk hari ini. Semoga saja ada hari untuk menawarkan obat pahit itu suatu saat.
"Nggak apa-apa Nak. Dekati terus cucu ibu itu, terus ajaklah dia untuk tinggal bersama kita. Ya meskipun dia tidak mau setiap hari. Setidaknya dia mau tinggal bersama kita untuk beberapa hari saja," ujar Rena dengan antusias.
"Iya Bu, nanti akan aku coba Bu. Semoga saja dia mau untuk tinggal di rumah kita," balas Reyhan tak kalah senangnya, dengan membayangkan jika suatu saat anaknya itu mau bersamanya dan mereka akan menikmati makan malam bersama dengan penuh canda dan tawa. Ahhh membayangkan saja Reyhan sudah sangat bahagia. Apalagi itu sudah jadi kenyataan.
****
__ADS_1
Ali pulang dari makan sate yang berujung bertemu dengan ayah kandungnya. Laki-laki itu memilih mandi sesampai di rumah. Rasa lelah membuat laki-laki itu memilih untuk menguyur tubuhnya untuk menghilangkan penat di dalam dirinya.
Saat melangkah menuju ruang tamu, laki-laki itu tak melihat keberadaan sang bunda. Padahal sekarang sudah sore, namun tak ada tanda-tanda sang bunda berada di rumah. Dan juga pintu rumah saat dia pulang tadi tampak terkunci. Dia pikir Bundanya mungkin mengunci pintu dari dalam, karena ketika sang bunda tidur pasti pintu rumah akan di kuncinya. Takutnya akan terjadi maling. Apa lagi beberapa hari lalu rumah tetangga mereka dimasuki maling yang buat kehilangan di rumah sang tetangga. Jika hanya mengambil uang saja, namun sang maling juga mengambil kotak perhiasan. Itulah yang didengar Ali dari sang bunda.
Duduk menunggu bundanya di ruang tamu sambil memainkan gawainya. Terdengar beberapa notif yang masuk dari aplikasi hijau, membuat laki-laki itu membukanya. Melihat siapa saja yang mengiriminya pesan, tapi setelah dilihat hanya dari beberapa grup yang dia punya. Setelah melihat sebentar, Ali kembali keluar dari aplikasi hijau tersebut, setelah dirasa tak ada yang terlalu penting.
"Assalamu'alaikum," Saat asik dengan gawainya, terdengar suara salam dari sang bunda membuat laki-laki itu menghentikan melihat gawai dan menatap sang bunda yang menenteng tas serta kresek yang lumayan besar.
"Wa'alaikumsalam, dari mana Bun?" Ali melangkah mendekati sang bunda. Membantu membawakan kerek yang berada di tangan sang bunda.
"Dari tempat nikahan ibu-ibu yang sering belaja di toko kita. Kemaren bunda di kirimi pesan berupa foto undangan yang diberikan melalui wassap. Katanya sih karena terlalu banyak undangan jadi agak telat ngasih tau bunda," jawab Yumna kepada sang putra.
"Ooowh, emang ibu-ibu yang mana Bun? kan yang belanja di toko kita banyak," tanya Ali yang emang tidak tau, pasalnya yang belanja di toko sang bunda tidak hanya satu ibu-ibu, tapi banyak.
"Itu loh yang rumahnya di dekat toko kita, yang bercat hijau," jelas Yumna saat mereka sudah duduk di atas sofa.
"Oo itu, iya aku ingat Bun," jawab Ali yang emang dia tau rumah yang disebutkan sang bunda. Memang beberapa kali Ali pernah bertemu dengan ibu tersebut saat dia di toko sang bunda.
TBC
__ADS_1