Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Maaf Ayah, Aku Tidak Bisa


__ADS_3

Saat ini keluarga Mika baru saja tiba dari kampung. Kini mereka tengah duduk di ruang tamu kediaman Yumna. Disana terdapat Yumna, Andi serta anak-anaknya dan juga Caca dan suaminya. Mereka tengah duduk di ruang tamu yang luas itu.


"Apa kamu sudah menghubungi Mika, Ca?" tanya Yumna kepada temannya.


"Belum Yum, tunggu aku akan menghubungi Mika," jawab Caca mengambil gawainya yang berada di saku celananya.


("Assalamualaikum, Ibu,") jawab suara di sebrang sana.


("Wa'alaikumsalam Nak, kamu apa kabar Mika?")


("Alhamdulillah aku sehat Ibu, Ibu dan ayah apa kabar?")


("Alhamdulillah Ibu dan Ayah sehat Nak, kamu lagi apa Mika?")


("Ini lagi di rumah Bu, baru selesai mandi,")


(Baiklah Nak, apa kamu sibuk setelah ini? Kalau tidak bisakah kamu datang ke rumah Tante Yumna?") pinta Caca kepada putrinya.


("Ada apa ya Bu? Apa ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada Tante Yum?") jelas terdengar suara Mika yang tampak penasaran.


("Datang saja ke rumah Tante Yumna sekarang Nak, nanti kamu juga akan tahu,")


("Baiklah Bu, assalamualaikum Ibu,")


("Wa'alaikumsalam Nak,")


Caca mematikan sambungan telepon putrinya. Kembali meletakkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


"Bagaimana Ca?" tanya Yumna


"Mika baru selesai mandi Yum, mungkin sebentar lagi dia akan jalan kesini," jawab Caca dengan tersenyum.


"Baiklah."


Sedangkan di kontrakan Mika, gadis itu tampak heran dengan ucapan Ibunya. Tak biasanya Ibunya itu menyuruh ke rumah Yumna jika tidak ada pesan yang akan di sampaikan. Dengan segera Mika memakai hijab pada kepalanya. Tak lupa memakai lipstik pada bibir pucat itu agar tampak lebih berwarna.


Mika memacu kendaraan roda dua itu dengan sedikit kencang agar dekat sampai di kediaman Yumna. Perjalan yang lumayan jauh membuat Mika akhirnya sampai di halaman luas rumah Yumna.


"Assalamu'alaikum," Mika memasuki ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka yang berada di sana.


Mika menatap semua orang yang berada di ruang tamu. Terkejut? Satu kata yang kini di rasakan Mika. Disana dia melihat kedua orang tuanya yang tengah duduk bersama keluarga Ali. Bahkan Ali juga berada di sana.


"Ibu?" Mika langsung mendekati wanita yang melahirkan dirinya itu. Memeluk wanita itu dengan erat dan mendaratkan beberapa ciuman pada pipi Ibunya.


"Ibu kapan datang? Kenapa tidak memberitahu aku dulu?" Mika melepaskan pelukannya dari sang ibu.


"Belum lama Nak," jawabnya.


Mika mengangguk. Lalu beralih kepada Rangga sang ayah. Memeluk cinta pertamanya dengan erat. "Ayah, Mika rindu,"


"Ayah juga rindu Nak," Rangga menampilkan senyum manisnya kepada sang putri.




Saat ini Mika tengah duduk di dekat sang ibu. Menatap seluruh orang yang ada di sana dengan pandangan bingung. Ada apa sebenarnya disini sehingga orang-tuanya juga berada di rumah Yumna bukan malah datang ke kontrakan. Padahal ke-dua orang-tuanya tahu dimana Mika tinggal.



"Nak Al, om tidak bisa memutuskan apa yang kamu katakan beberapa waktu lalu. Karena yang akan menjalani rumah tangga itu kamu bukan om. Karen Mika sudah berada di sini Om akan serahkan jawaban itu kepada putri Om," ujar Rangga menatap bergantian antara Mika dan Ali.



"Maksud Ayah apa?" Mika tampak bingung dengan ucapan Ayahnya.



Flashback on



Dau hari setelah pernyataan cinta serta ajakan pacaran yang dilakukan Ali gagal. Laki-laki itu menghampiri Yumna serta Andi yang berada di ruang tamu.



"Bunda, Abi, aku mau ngomong serius," Ali menduduki tubuhnya tepat di depan kedua orang-tuanya.


__ADS_1


"Kamu mau ngomong apa Al? Tampaknya sangat serius?" tanya Andi sambil menatap serius sang putra.



"Aku mau menikah!"



"Menikah?" Yumna mengulang ucapan putranya. Mungkin saja pendengarannya sudah rusak lantaran dirinya tak lagi muda.



"Iya Bunda, aku mau menikah." ulang Ali mantap.



"Menikahlah, Abi akan mendukung kamu, Al. Lagian umur kamu sudah matang dan siap untuk menikah." ucap Andi yang mendukung keputusan putranya.



"Sama siapa Nak? Kenapa tidak mengenalkan dia dulu kepada kami?" tanya Yumna.



"Gadis itu kenal sama Bunda dan Abi. Bahkan dia terbilang dekat dengan Bunda. Aku mau melamar Mika, Bunda, Abi," ujar Ali lansung pada intinya.



"Kamu jangan bercanda Al, pernikahan itu bukan ajang permainan." Yumna tidak suka jika Ali menyebut nama Mika. Yumna berfikir Ali hanya main-main dengan ucapannya. Lantaran yang Yumna lihat Ali dan Mika tidaklah sedekat itu. Bahkan mereka terlihat seperti adik dan kakak yang saling menyayangi.



"Aku tidak bercanda Bunda tapi serius. Aku serius ingin menikah dengan Mika,"



"Kamu beneran jatuh cinta sama Mika, Al? Dia itu adek kamu loh?"



"Tapi kami tidak memiliki hubungan darah Bunda. Aku serius dan aku akan menikahi Mika itu juga serus bukan main-main seperti yang Bunda fikirkan. Maka dari itu aku mengatakan kepada Abi dan Bunda. Aku mau meminta restu Bunda dan Abi."




"Aku juga tidak tahu sejak kapannya Bi, yang jelas aku cemburu saat melihat Mika berdekatan dengan laki-laki lain. Aku tidak suka melihat Mika berbicara dengan laki-laki lain. Intinya apapun yang berhubungan tentang laki-laki lain aku tidak suka. Aku hanya mau Mika hanya melirik aku seorang tanpa ada orang lain." kelakar Ali panjang kali lebar.



Andi mengangguk kepalanya, Ali tidak salah mencintai Mika yang jelas tidak ada hubungan darah yang terikat di antara mereka. bahkan rasa yang timbul di hati Ali juga tidaklah salah. Andi paham jika hati itu tidak bisa kita tebak akan memilih berlabuh kepada siapa.



"Abi setuju saja Al, yang terpenting kamu bahagia menjalaninya."



"Terima kasih Abi, terima kasih sudah memberiku restu." ujar Aku menampilkan senyum manisnya. "Bunda, Bunda bagaimana? Apa Bunda setuju jika aku menikah dengan Mika?" Kini Ali beralih menatap sang Bunda."



"Baiklah Al, jika memang Mika jodoh kamu Bunda pasti akan tetap merestui kalian. Bahkan Bunda sangat senang jika Mika yang menjadi mantu Bunda," jawab Yumna.



"Terima kasih Bunda. Oh ya Bunda rencananya besok aku akan pulang kampung untuk meminta restu Om sak Tante Caca untuk menghalakan Mika,"



"Apa Bunda sama Abi harus ikut juga Al?" tanya Yumna.



"Tidak usah Bunda, biar aku saja pergi sendiri."



Yumna dan Andi hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan keputusan sang putra. Mungkin memang itu yang terbaik untuk saat ini.


__ADS_1





Akhirnya Ali sampai di depan kediaman kedua orang tuanya Mika. Menunggu sebentar setelah mengetuk pintu kayu itu.



"Assalamu'alaikum Tante, Tante sehat?" Saat ini Caca sudah membukakan pintu untuk Ali. Mengajak laki-laki itu untuk masuk ke dalam rumah.



"Wa'alaikumsalam Al seperti yang kamu lihat, tante sehat." jawab Caca.



"Ada perlu apa kamu ke sini Al? Tumbenan juga kamu sendirian datang kesini. Apa Bunda sama Abi kamu juga ikut Al?" Caca menatap bingung Ali. Tak bisanya laki-laki itu datang sendirian kerumahnya.



"Aku sendirian kok Tan, Bunda sama Abi di kota. Oh ya Tan, apa Om tidak di rumah?" Ali melirik sekeliling rumah yang tak mendapati kehadiran rangga suami Caca.



"Ada kok Al, di belakang. Tunggu sebentar tante panggilkan dulu."



"Sehat Om?" tanya Ali saat rangga sudah berada di ruang tamu.



"Alhmadulillah Al, Om sehat."



"Syukurlah kalau gitu Om. Aku senang mendengarnya." jawab Ali dengan tersenyum. "Tante, Om maksud kedatangan aku kesini untuk meminta restu dari Om dan Tante untuk menjadikan Mika sebagi istriku," lanjut Ali tho the point.



"Kamu seriusan Al? Ini pernikahan loh bukan perlombaan?" ucap Rangga menatap Ali tak yakin.



"Iya Om, aku serius. Maka dari itu aku jauh-jauh datang ke sini. Tidak mungkin rasanya aku hanya berbicara lewat telpon Om, sama sja itu tidak sopan."



"Maaf Al, bukannya Om mau menolak. Tapi keputusan itu ada di tangan Mika. Om tidak bisa memaksa Mika jika putri Om itu tidak mau."



"Iya tidak apa-apa Om, aku hanya butuh restu dari Om dan Tante saja."



"Kalau Om sama Tante pasti akan merestui saja Al tapi, yang terpenting itu dari Mika saja Al. Kalau dia mau ya sudah kita lanjut ke pernikahan."



"Terima kasih Om, Tan sudah memberiku restu. Kalau gitu besok kita bertiga akan berangkat ke Jakarta ya Tan, Om. Kita akan bicarakan ini lagi di rumah Bunda,"



Flashback off



"Bagaimana Mika, apa kamu menerima pinangan Ali?" Rangga menatap putrinya.



Mika melirik ke arah semua orang yang tengah menanti jawabnnya.



"Maafkan aku, Yah. Aku tidak bisa."


__ADS_1


TBC


__ADS_2