
Mika melipat pakaian yang baru saja dia ambil dari halaman belakang. Menyusunnya dengan rapi ke dalam lemari. Setelah kembali ke kota dua minggu yang lalu Mika memilih untuk tinggal di sebuah kontrakan. Awalnya Caca maupun Rangga melarang putri mereka untuk tinggal sendiri. Namun, gadis itu membujuk ke-dua orang-tuanya dengan berbagai macam cara agar diizinkan tinggal sendiri.
Akhirnya Caca maupun Rangga mengizinkan putrinya tinggal sendiri. Meski berat namun, mereka juga tidak bisa memaksa anak mereka untuk tinggal di keluarga Yumna. Di tambah lagi rasa tak enak Mika, karena sudah terlalu lama tinggal di kediaman mereka.
"Huhhh alhmadulillah selesai." Mika menarik nafasnya.
Neng nang neng nong...
Neng nang neng nong...
Mika meraih benda pipi yang tergeletak di atas ranjang. Melihat siapa yang menelpon dirinya.
("Hallo, assalamu'alaikum Tia,")
("Wa'alaikumsalam Mika, Kamu di mana Mika?")
("Di kontrakan Tia, ada apa?")
("Keluar yuk, Mika? Lagian besok kita sudah mulai kerja,") ajak Tiana di sebrang sana.
("Baiklah Tia, mumpung kerjaan aku sudah selesai,")
Mika mematikan sambungan telepon mereka. Membersihkan tubuh sebelum Tiana sampai ke kontrakannya. Kebetulan dari rumah Tiana lumayan jauh dari tempat kontrakan yang di huni Mika.
"Yuk berangkat Tia," Mika mengunci pintu rumahnya lalu memasukkan kunci tersebut ke dalam tas selempangnya.
"Iya Mika," Tiana menjalani mobilnya. Meninggalkan kontrakan Mika untuk menyenangkan pikiran sebelum besok masuk kerja.
"Kita mau kemana, Tia?" Mika melirik sekilas ke arah Tiana. Pasalnya perempuan itu belum menyebutkan kemana mereka akan pergi saat ini.
"Kamu maunya ke cafe atau restoran Mika?"
"Cafe juga nggak apa-apa Tia,"
"Baiklah, kebetulan di dekat kantor tempat kita bekerja ada cafe sama restoran. Jadi kita langsung ke cafe disana saja."
"Ok Tia,"
Perjalanan mereka sangat santi. Tidak terlalu terburu-buru, karena mereka hanya merefresingkan pikiran sebelum menjalani pekerjaan di kantor esok hari.
Mobil Tiana memasuki halaman Cafe yang tampak luas. Memarkirkan mobilnya di tempat pasir yang disediakan.
"Kamu mau pesan pada Tia?" Saat ini mereka sudah berada di dalam cafe. Mika melihat-lihat menu yang di berikan wainters.
"Samain saja sama kamu, Mika,"
"Baiklah. Nasi goreng sama es tehnya dua ya Mbak," pinta Mika kepada gadis yang kini tengah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Baik Kak," Setelah itu wainter tersebut meninggalkan meja Mika maupun Tiana.
Keduaa gadis itu sibuk memainkan gawainya. Menunggu pesanan mereka dengan santai.
"Silahkan Mbak," Wainter datang dengan membawa pesanan Tiana dan Mika.
"Terima kasih, Mbak," ujar Mika dan Tiana barengan.
"Besok-besok kalau jam istirahat kita makan disini saja Mika. Masakannya enak," ujar Tiana di sela-sela makannya.
"Iya Tia, aku setuju. Dan kita akan nyoba menu lainnya nanti ya,"
"Sipp Mika,"
Mereka melanjutkan makannya dengan tenang. Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut kedua gadis itu. Menikmati betapa enaknya sensasi nasi goreng dilidah mereka. Cuaca panas dengan segelas es teh menambah segarnya kerongkongan mereka.
"Alhamdulillah kenyang," Mika meletakkan sendok serta garpu dengan rapi di atas piring makannya.
"Iya Mika, alhamdulillah. Enak banget lagi." tambah Tia. "Eh Mik, itu bukannya Mas Ali?" Mata Tiana melihat seorang laki-laki dengan jas dokternya memasuki restoran dengan seorang wanita di sampingnya.
Mika menghela nafasnya dengan kasar. Menghilang rasa cemburu yang tumbuh di hatinya.
"Mereka pacaran kok kaku banget ya Mika? Seperti bukan sepasang kekasih saja," Tiana terus menatap ke arah sepasang kekasih itu.
Mika mengedikkan bahunya. "Nggak tahu juga Tia. Tapi yang aku lihat saat Abang bawa pacarnya ke rumah, mereka tampak mesra kok,"
"Mesra apanya? Coba kamu lihat Mika. Mereka bahkan tampak canggung gitu kok. Apa mereka jarang ketemu ya?" Tiana menatap Mika penasaran.
"Nggak tahu Tia. Lagian aku juga nggak terlalu kepo dengan urusan Abang. Yang ada aku malah sakit hati ntar. Mendingan aku menghindar atau masa bodo dengan mereka," jawab Mika jujur.
"Iya deh iya. Orang yang cinta mati kok sama Abang Al," ledek Mika kepada sahabatnya itu.
"Gimana nggak masih cinta Tia, aku suka sama Abang sudah lama banget. Jika mudah cinta itu hilang, sudah sejak dulu aku lakukan. Tapi apa? Nggak bisa. Aku malah makin cinta sama abang. Jauh saja aku tetap cinta apalagi kalau dekat."
"Uhhh, yang bucin akut sama Mas Al nih ya? Yok yok semangat hancurin hubungan Mas Al dan pacarnya. Hahaha," Tiana tergelak setelah mengatakan ucapannya.
"Itu sama saja aku jahat Tia. Sama saja aku nggak punya perasaan. Apalagi aku sama dia sama-sama perempuan. Jadi ya harus ngehargain hati dia lah. Kan dia yang disukai Abang bukan aku. Tapi kalau aku di sukai Abang terus dia maksa-maksa masuk ke dalam hubungan aku, ya tak tendang saja ke lobang serigala. Biar habis dia jadi santapan serigala."
__ADS_1
"Sadis banget kamu, Mika."
"Itu harus Tia. Ngapain dia ngerusak hubungan orang lain. Kek nggak ada saja laki-laki di dunia ini."
"Kamu nggak salah ngomong Mika?" Tiana menatap Mika sinis.
"Kenapa?"
"Kenapa nggak kamu buka saja hati kamu untuk laki-laki lain. Laki-laki kan nggak cuman Mas Al?" Tiana membalikkan kata-kata Mika, membuat gadis itu terdiam sejenak.
"Emmm, kalau itu beda Tia. Jika nanti Abang nikah sama perempuan lain aku akan ngilangin rasa ini tapi, jika Abang masih pacaran rasa ini akan tetap ada."
Tiana mengeleng mendengar ucapan Mika. Ada-ada saja gadis itu. Jika mau di hilangkan ya dari sekarang. Ngapain harus nunggu Ali nikah dulu baru dihilangkan.
"Kenapa nggak sekarang saja Mika?"
"Kalau sekarang Abang kan belum nikah Tia. Mana tahu aku jodohnya Abang, bukan? Kalau aku hilangin rasa ini, gimana jadinya rumah tangga nantinya sama Abang,"
"Terserah kamu lah Mika." Akhirnya Tiana nyerah adu mulut dengan Mika. Gadis itu tidak mau lagi kalah kali ini.
Tiana sesekali melirik ke arah meja dimana Ali dan kekasihnya duduk. Tampak mereka tengah adu mulut. Yang jelas Tiana tidak tahu apa yang tengah mereka omongin lantaran tempat duduk mereka lumayan jauh.
"Mika itu Mas Al lagi berantem atau apa? Kok mereka main adu mulut gitu?"
"Nggak tahu Tia, lagian suara mereka nggak kedengaran ke sini." Mika melirik kearah Ali yang memang tampak adu mulut dengan kekasihnya. Namun, Mika kembali memposisikan tubuhnya seperti semula. tak ada juga gunanya dia ingin tahu ada masalah apa antara kedua orang itu. Toh tidak ada juga haknya di dalam.
"Iss, kamu ini gimana sih Mika? Katanya suka, cinta sama Mas Al. Harusnya kamu seneng dong jika Mas Al berantem terus putus. Dan ada peluang bagi kamu untuk masuk ke dalam hatinya."
"Percuma Tia, jikapun ada peluang namun hatinya tidak untuk aku buta apa?"
"Hmm, iya juga sih,"
"Ya sudah yuk kita pulang. Lagian sudah lama juga kita berasa di sini," ajak Mika yang diangguki gadis itu.
Setelah membayar pesanan mereka, ke-dua gadis itu meninggalkan cafe. Mika melirik sekilas ke arah Ali dan Yola. Semenjak kembali ke sini Mika tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya kepada Ali. Bahkan kali ini mereka bertemu secara tak sengaja. Sedangkan Ali yang melihat Mika juga cukup terkejut.
TBC
__ADS_1