Diceraikan

Diceraikan
Penyesalan


__ADS_3

Menyesalkah Reyhan saat ini? Jawabannya ya. Laki-laki itu menyesal karena menuduh darah dagingnya tanpa bukti yang jelas. Menuduh darah dagingnya sedemikian rupa. Bahkan bisa dikatakan dia memberikan fitnah keji kepada darah dangingnya sendiri.


Air mata luruh dari mata tegas laki-laki itu. Bahkan tak dapat dibendung rasa sesak yang kini menghampirinya. Ingatannya kembali lagi pada saat dia memutuskan hubungan antara dirinya dan sang putra.


Bisakah Reyhan meminta waktu di ulang kembali. Agar semua kesalahan pahaman ini tidak pernah terjadi. Bisakah kenyataan yang kini diterimanya hanya sebuah mimpi belaka. Bisakah ini semua hanya sebuah bayangan akan takut kehilangan sang putra.


Bisakah, bisakah dan bisakah. Hanya kata yang tak akan pernah terjadi. Ini sebuah kenyataan yang menghantam Reyhan sampai ke ulu hati. Dadanya kembang kempis menahan gejolak yang menyesakkan dadanya. Sungguh, dia seperti seorang ayah yang tak memilikimu pola pikir yang jernih. Seroang ayah yang tega menfitnah darah dagingnya tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ayah, apa Ayah baik-baik saja?" Reni memegang lembut lengan sang ayah.


Reyhan menggeleng. "Tidak Nak, ayah tidak baik-baik saja. Bahkan tak akan pernah baik-baik saja Nak. Ayah sudah melakukan kesalahan besar dengan memfitnah putra Ayah, Nak," sungguh Reyhan menatap putrinya dengan linangan air mata yang bikin hendak berontak keluar dari sarangnya.


Ingatkan Reyhan kembali lagi untuk beberapa saat yang lalu. Ingatan tentang kabar akan keberhasilan anak buahnya mencelakai putranya. Sungguh itu membuat Reyhan kembali merasakan sesak yang teramat dalam. Bagaimana putranya saat ini? Bagaiamana keadaannya putranya? Apakah dia baik-baik saja. Atau malah terjadinya hal yang sangat serius kepada sang putra.


"Ayah menyesal Nak. Ayah menyesal telah melakukan hal yang sangat kejam kepada putra Ayah. Bahkan Ayah menyewa seseorang untuk mencelakainya. Sungguh Ayah laki-laki kejam Nak. Ayah tak pantas di sebut sebagai seorang Ayah, Nak," Reyhan meracau di depan putrinya. Bahkan mata itu tampak sedikit sembab karena, laki-laki itu terus menangis tanpa henti.


Mengalahkan dirinya atas apa yang dia lakukan kepada putranya. berulang kali Reyhan memukul dadanya yang terasa sesak. Sungguh ini sangat menyakitkan bagi Reyhan.

__ADS_1


"Ayah berhenti. Jangan memukul dada Ayah seperti itu. Nanti bisa berakibat fatal." Reni berusaha melepaskan tangan Ayahnya yang terus saja memukul-mukul dadanya.


"Tidak Nak. Ini tidak akan sebanding dengan apa yang sudah Ayah lakukan kepada putra, Ayah." Reyhan terus memukul-mukul dadanya dengan kuat berharap rasa sesak yang kini dia rasakan menghilang meski hanya sebentar saja.


"Percuma Ayah melakukan itu semua. Jika apa yang sudah Ayah rencanakan berhasil. Tak ada gunanya Ayah menyakiti diri Ayah sendiri. Ingat Yah, percuma!!!" Reni marah melihat Ayahnya seperti itu, dia juga sedih bahkan ingin rasanya dia memukul Ayahnya jika tak berdosa. Apa yang sudah dilakukan Ayahnya bukanlah hal yang pantas untuk dicontoh. Bahkan Ayahnya bisa dikatakan terlalu kejam, membalas hal yang belum tentu sebuah kebenaran.


Bisa Reni katakan Ayahnya orang yang gegabah. Kenapa tidak mau mendengar ucapannya terlebih dahulu. Atau paling tidak mencari bukti dulu, baru melakukan apa yang dia mau. Bukan malah seperti ini. Menyesal yang sudah tidak ada artinya.


"Ayah jahat Nak. Ayah kenjam!! Bahkan Ayah tak pantas disebut seorang Ayah. Ayah bukanlah seorang ayah yang baik. Ayah tak pantas, sunggu Ayah tak pantas menyandang status seperti ini," Reyhan berurai air mata saat mengatakan itu semua kepada putrinya.


"Tidak Yah. Ayah tetaplah seorang Ayah. Meakipun kesalahan Ayah sekarang bukanlah perkara yang mudah. Tapi aku yakin akan ada kata maaf nantinya dari Kak Ali untuk Ayah. Percaya sama aku, Yah," Reni berusaha menenangkan sang ayah, supaya tidak meracau lagi.


"Itu tidak akan mungkin Nak. Bahkan Ayah sudah memutuskan hubungan dengan anak, Ayah. Bagaimana bisa dia akan memberi Ayah kata maaf, karena sudah membuatnya celaka. Bahkan dengan teganya ayah merengut nyawa putra, Ayah melalui anak buah yang Ayah sewa. Bahkan Ayah tidak tau bagaimana keadaannya saat ini. Ayah takut, jika dia akan memberi Ayah kata maaf, Nak,"


Prang...


Reni dan Reyhan terkejut saat mendengar pecahan kaca yang yang jelas berada di kamarnya. Mereka menghadap ke arah sumber suara. Lani berdiri mematung mendengar ucapan suaminya. Sekejam itukah suaminya. Tak punya hatinya suaminya, sampai tega melakukan hal buruk kepada putra kandungnya sendiri.

__ADS_1


Atau apa yang di dengarnya baru saja hanya ilusi yang tak nyata. Bisakah itu bukan sebuah kenyataan yang keluar dari bibir suaminya. Air mata merembes keluar dari pelupuk mata cantik itu. Sungguh hatinya sakit mendengar suaminya mengatakan suatu hal yang sangat menyakitkan.


Lani yang sebagai seroang ibu, merasakan sakit. Bahkan tak terbayang oleh Lani bagaimana hati mantan istri suaminya saat mendengar putranya dicelakai mantan suaminya. Tak punya hati, satu kata yang tergambar untuk Reyhan saat ini.


Lani menatap sang putri. Andai jika itu putrinya, apakah suaminya juga akan melakukan hal yang sama, seperti dengan anak tirinya. Beberapa kali Lani menggeleng. Mengusir pikiran buruk yang datang di benaknya.


"Sayang/Ibu," Ayah dan anak itu berbarengan menyebut kata itu.


Lani melangkah masuk ke dalam kamar. Mendekat ke arah suami serta putrinya. "Apakah yang aku dengar tadi hanya omong kosong, Mas?" Lani menatap intens suaminya. Berharap apa yang keluar dari mulut suaminya nanti hanya kata iya.


Reyhan menggeleng. "Itu benar, Sayang. Maaf." Reyhan menunduk dengan air mata yang masih saja mengalir. Menyesal dengan apa yang dia lakukan kepada putranya.


Lani cukup tersentak dengan jawaban suaminya. Sungguh bukan ini yang ingin dia dengan. "Kamu tau Mas. Aku kecewa dengan tindakan gegabah yang kamu lakukan. Bahkan aku sudah mengatakan saat di rumah sakit. Tapi kamu malah memarahi ku. Namun sekarang untuk apa lagi kamu minta maaf jika nasi sudah menjadi bubur." Lani sungguh kecewa dengan suaminya. Tak menyangka jika laki-laki itu akan melakukan hal sekejam itu kepada anak tirinya.


"Maaf, Sayang."


"Kamu tidak punya salah sama aku, Mas. Tapi sama putra kamu. Jadi seharusnya kamu akan mengatakan hal itu untuk putra kamu. Bukan untukku." ujarnya. "Apakah kamu akan melakukan hal yang sama, jika yang melakukan itu adalah putri kita, Mas. Tak ingatkah Mas saat ingin mencelakai putra kamu sendiri, jika saja itu juga dilakukan putri kamu. Tak pernahkah kamu berfikir hingga kesana Mas. Bahkan aku tak yakin jika putramu akan memberi dirimu maaf, Mas. Tak ingatkah kamu perjuangan untuk mendapatkan hati putramu, Mas. Tak ingatkah kamu sampai kesana Mas." lanjutnya.

__ADS_1


Lagi-lagi air mata Reyhan mengucur deras melalui pipinya. Dia tak ingat hingga kesana. Betapa susahnya dia membujuk putranya itu. Bertapa susahnya dia mendekatkan diri kepada putranya. Dan sekarang dia malah memberi luka terdalam, yang mungkin saja tak akan bisa di maafkan sampai kapanpun. Bahkan Reyhan akan mengambil nyawa putranya sendiri hanya karena dendam tak mendasar dirinya.


TBC


__ADS_2