Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Emang Abang Siapa?


__ADS_3

Ali terus menarik tangan Mika hingga sampai pada lorong yang memang jarang di lalui orang. Tampak sepi bahkan pencahayaan di sana tidak terlalu terang.


"Abang ngapain sih narik-narik aku kek gini? Abang aneh," Mika berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Ali.


"Lepas ihh Bang, ini tangan aku sudah kebas rasanya," semakin kuat Mika berusaha melepaskan tangannya semakin kuat pula Ali memegang pergelangan tangan gadis itu.


"Abang kenapa berubah jadi kasar gini sih? Salah aku apa coba sama Abang? Datang-datang malah langsung narik tangan aku. Nggak jelas tau nggak Bang?!" Mika membentak Ali yang kini sudah melepaskan tangannya.


Gadis itu mengusap serta meniup-niup tangannya yang terasa agak sakit. Bahkan pergelangan itu sudah tampak memerah bekas cekalan Ali yang kuat.


"Lihat nih tangan aku jadi sakit dan membekas seperti ini." Mika menyodorkan tangannya kepada Ali. Memperlihatkan tangannya yang sakit kepada Ali.


Ali mengambil tangan kecil itu, mengusapnya dengan lembut. Tak lupa meniup-niup tangan gadis itu dengan lembut.


"Lepas!!" bentak Mika.


Dengan spontan Ali melepaskan tangan gadis yang baru saja dia tiup. Menatap manik mata Mika yang kini sudah berkaca-kaca. Mungkin saja tangan itu masih sakit.


"Maafkan Abang, Dek. Maafkan abang yang sudah buat kamu sakit, maafkan abang yang sudah narik-narik kamu seperti tadi." Sesal Ali menatap Mika. Tangan laki-laki itu mengusap air mata yang keluar dari netra indah itu.


"Abang ada masalah apa sampai memperlakukan aku seperti ini, hmm? Nggak ada masalah bukan?"


"Iya Abang tahu kalau Abang salah, maka dari itu maafkan Abang, Dek. Sungguh Abang menyesal," ujarnya.


"Abang tahu nggak apa yang Abang lakukan tadi itu seperti seseorang yang tengah cemburu buta dengan kekasihnya. Ingat Bang, kita itu tidak memilikimu hubungan khusus. Kamu bukan siapa-siapanya aku, Bang. Jadi jangan bertingkah seakan-akan aku ini milik Abang," todong Mika membuat Ali terdiam.


Ya dia sadar jika yang dia lakukan itu salah. Namun hatinya yang terlalu panas membuat logikanya tidak bisa berfikir jernih. Hatinya sudah terpaku pada gadis di depannya ini. Mengatakan cinta pada gadis itu rasanya juga tidak bisa. Dulu dengan kejamnya dia menolak cinta gadis itu. Tapi apakah masih ada rasa cinta di hati gadis itu untuk dirinya? Apakah hati gadis itu tetap dia yang menghuni sebagai raja?


"Maafkan Bang, Dek," Ali menatap sendu wajah gadis itu. Gadis yang membuat hati dan pikirannya tidak singkron beberapa hari ini.


"Sudahlah Bang, jangan lakukan ini lagi. Jangan buat aku berfikir yang tidak-tidak sama Abang. Cukup sekali ini Abang membuat kita malu di depan umum. Ntah apa pikiran mereka saat Abang membawa aku seperti tadi. Jika saja Abang suami aku, itu hal yang wajar jika Abang cemburu, tapi kita tak memiliki hubungan khusus. Jangan bertingkah layaknya seorang kekasih yang entah cemburu buta." tekan Mika menatap Ali. "Aku pergi dulu," pamitnya.


"Tunggu dulu Dek, Abang mau ngomong sama kamu," Ali menghentikan langkah Mika yang hendak pergi.

__ADS_1


"Tidak ada lagi yang mau di omongin Bang, cukup sudah kamu membuat aku malu di depan banyak orang karena, tingkah kekanak-kanakan kamu, Bang," Mika langsung saja meninggalkan Ali seorang diri disana. Tak melihat sedikitpun kepada laki-laki itu.


Mika tidak mau terlalu berharap pada cintanya itu, takut akan penolakan untuk kedua kalinya. Dia tak mau lagi mengejar cinta laki-laki itu. Cinta yang membuatnya semakin berharap dan sakit dalam penantian yang sia-sia. Biarlah hatinya ttap seperti ini dulu, hingga laki-laki itu menikah nanti dengan perempuan lain.


Ali menatap punggung gadis itu nanar. Mulutnya seakan terkunci saat akan mengatakan jika dirinya mencintai gadis itu. Ali sama halnya dengan Mika yang takut jika cinta itu tak akan terbalaskan. Menguyar rambutnya dan menendang angin dengan kaki panjangnya. Melampiaskan kekesalan yang dia rasakan dengan meninju tembok di sampingnya. Tangan kekar itu tampak mengeluarkan darah pada buku-buku tangannya.


Ali meninggalkan tempat itu dengan hati yang tak baik. Hatinya sungguh merutuki tingkahnya yang tak bisa di kontrol. Baru kali ini Ali merasakan hal seperti ini, padahal dulu saat bersama Yola laki-laki itu tampak biasa-biasa saja. Tak ada rasa cemburu buta saat Yola berdekatan dengan laki-laki lain.


Apakah dia tak secinta itu kepada Yola saat itu? Atau dia hanya terobsesi saja dengan gadis cantik itu. Ahhh, pikiran Ali semakin kacau.


****


"Kamu tidak apa-apa Mika?" Yanda menghampiri Mika yang kini tengah berjakan keruangan meraka.


"Tidak Kak, aku baik-baik saja kok," Mika menampilkan senyum manisnya kepada laki-laki di depannya itu.


"Kamu nggak lagi bohongin kakak kan Mika? Kamu tidak di apa-apain sama laki-laki tadi, bukan?" Raut cemas Yanda membuat Mika tersentuh.


Jika saja Mika bisa memilih, dia ingin sekali hatinya berlabuh untuk Yanda. Laki-laki yang tak pernah bosan mengatakan rindu dan keseriusan untuk mengajak dirinya menikah. Tapi kenapa hatinya seakan terpaku pada Ali. Laki-laki yang sudah terlalu lama menguasai seluruh hatinya. Ingin rasanya Mika berteriak kepada hatinya akan terlepas dari belenggu cinta untuk Ali.


"Syukurlah kamu tidak di apa-apain sama dia, Mika. Kakak takut kamu di jahatin sama laki-laki itu. Apalagi cara dia membawa kamu tadi terbilang cukup kasar,"


Kini mata Yanda beralih pada tangan Mika. Tangan gadis itu tampak memar dengan warna merah jambu yang menghiasi pergelangan tangannya. "Ini tangan kamu di apain sama dia, Mika? Kenapa bisa merah kek gini? Apa terlalu sakit?" Yanda menarik tangan Mika yang tampak merah. Mengusapnya dengan lembut.


"Tidak apa-apa kok Kak, lagian juga tidak terlalu sakit,"


"Tidak apa-apa gimana Mika? Jelas tangan kamu memar gini kok. Laki-laki itu pasti menarik tangan kamu terlalu kuat makanya jadi kek gini. Tangan kamu harus di kompres dulu Mika, biar nanti tidak membengkak," Yanda sangat cemas melihat tangan Mika yang memerah.


"Tidak udah Kak, lagian nanti juga akan sembuh sendiri. Kalau masih sakit tidak apa di kompres, tapi ini tidak sakit kok," Mika melepaskan tangan Yanda yang masih memegang tangannya. "Yuk ah Kak lanjut kerja, lagian ini sudah masuk waktunya,"


Yanda hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia tak bisa memaksa Mika untuk mengikuti apa maunya.


__ADS_1



"Mika kemana Mas Al bawa kamu tadi?" Rasa penasaran Tiana muncul ketika mereka sudah berada di loby kantor. Kebetulan saat ini jam kantor sudah habis.



"Dia bawa aku ke lorong dekat cafe, kamu tahu kan lorong yang agak gelap itu?"



"Oh itu, iya aku ingat. Ngapai kamu dibawa kesana sama Mas Al?"



Mika mengedikkan babunya acuh. "Nggak tahu, lagian setelah di sana beberapa menit aku juga langsung pergi. Dia sungguh tidak jelas banget." kesal Mika saat mengingat itu.



"Ehh tapi kamu sadar nggak sih Mika? Tingkah Mas Al seperti itu seperti seseorang yang tengah cemburu saja."



"Ntahlah Tia, aku juga tidak terlalu berharap Abang cemburu sama aku. Aku takut cinta ini akan di tolak untuk kedua kalinya."



"Aku sangat yakin jika Mas Al itu cemburu Mika, jelas banget dengan tingkahnya tadi. Emang tidak ada yang dikatakannya tadi sama kamu, Mika?"



Lagi-lagi Mika hanya mengedikkan bahunya acuh. Dia malas membahas itu, takut jika dia terlalu berharap kepada laki-laki itu. Takut jika benteng pertahanan yang selama ini dia bangun lenyap dalam seketika. Dia tak mau lagi untuk menangis di tengah malam yang membuat matanya akan bengkak di pagi hari.


__ADS_1


TBC


__ADS_2