
Dikamar lagi-lagi Mika menumpahkan air matanya. Dadanya masih terasa sakit saat mendengar Andi bicara kapan hubungan mereka di resmikan. Apalagi yang di harapkan Mika, jika orang-tua Ali sudah menyetujui hubungan Ali dengan kekasihnya. Tak mungkin Mika akan marah-marah tidak jelas dan menentang hubungan mereka. Emangnya dia siapa sampai hati berbuat begitu, dia hanya anak dari teman dekat Yumna. Memang Yumna tak pernah membedakan dirinya dari anak kandungnya.
Mau pergi dan ngekost di tempat lain itu sudah pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan dari Yumna maupun Andi. Belum lagi dari kedua orang-tuanya. Tak mungkin juga Mika akan jujur jika dirinya menyukai Ali dan cintanya hanya bertempuk sebelah tangan. Yang ada orang-tua serta Yumna dan Andi akan syok mendengar ucapan dirinya.
Tak ada alasan bagi Mika untuk keluar dari rumah Yumna. Mau belajar mandiri? Mandiri yang bagaimana? Jika sudah menikah tak apa di sebut mandiri. Ini saja uang kuliah masih dikirim orang-tuannya. Lagian tak ada sanak saudara Mika yang tinggal di kota ini, yang ada hanya Yumna teman dekat ibunya.
Lagi-lagi Mika membawa tangisnya dalam tidur. Mengakibatkan matanya kembali sembab lagi hari, dan juga dia kembali berbohong kepada Yumna dengan alasan yang sama, menonton film sedih.
Flashback off
"Huhhhh, Kakak Mimi tidak ada air kah? Ai haus?" Aileen datang menghampiri Mika sambil mengusap lehernya karena haus.
"Tunggu sebentar Ai, kakak ambil di dalam dulu,"
"Tidak usah Dek, Abang ada bawa air. Nih," Ali menyodorkan air kepada Aileen yang di sambut gadis itu. Kembali Aileen mendekat ke tempat di mana dirinya tadi bermain dengan Azlan.
Sedangkan Mika yang tadi hendak berdiri kembali lagi duduk di tempat semula.
"Sudah lama kita tidak duduk gini ya Dek," Ali memecah keheningan mereka.
__ADS_1
"Emmm, iya Abang bener."
"Terakhir kalinya saat kamu mengatakan perasaan kamu sama Abang. Maafkan Abang, Dek,"
"Iya Bang. Tidak usah minta maaf Bang. Lagian disini aku yang salah, aku yang salah menaruh hati kepada Abang. Aku yang salah tak bisa mengontrol perasaan aku sama Abang. Jadi Abang tidak salah." Mika berusaha menampilkan senyum manisnya. Menampilkan jika dirinya baik-baik saja, agar laki-laki itu tak menganggapnya lemah. Lagian buat apa menangis di depan Ali, jika cintanya tidak akan pernah terbalas. Mendingan di simpan untuk jadi stok nanti malam atau tidak sama sekali.
"Abang merasa aneh, hubungan kita sudah semakin menjauh. Kamu selalu mengindar dari Abang. Bahkan kamu tak lagi Abang antar ke kampus."
"Mungkin itu hanya perasaan Abang saja. Lagian Abang tahu jika aku jarang tidur di rumah. Abang tahu kalau aku sering nginap di rumah Tiana. Aku tidur di rumah Tiana karena banyak tugas yang harus aku selesaikan. Belum lagi tugas kelompok. Sama seperti yang aku jelaskan sama Abang tadi." Mika tak sepenuhnya berbohong.
"Iya Abang tahu, tapi kamu sudah semakin jauh dari Abang. Abang rindu masa kebersamaan kita waktu itu Dek. Abang rindu kita jalan-jalan sama Ai dan Az. Intinya Abang rindu akan semuanya." Ali menatap wajah Mika sendu.
"Tapi Abang mau kita seperti dulu Dek, bukan malah kek gini. Jauh sulit di gapai."
"Emang harus gitu Bang. Abang tahu gimana perasaan aku sama Abang, bukan? Jadi ya kita harus bersikap seperti ini. Itupun untuk menjaga perasaan aku dan juga perasaan pacar Abang. Coba Abang bayangin jika kita pergi jalan berdua dan pacar Abang lihat, gimana hatinya? Sudah pasti hancur Bang. Sama dengan aku yang melihat Abang dengannya hati aku hancur. Jadi mengambil jarak sedikit tidak mengapa Bang. Sampai hati aku benar-benar bisa nerima orang baru. Sampai hati aku benar-benar tak lagi ada untuk Abang," Seulas senyum tipis menghiasi wajah cantik Mika. Sungguh saat ini dia sangat kuat. Tak ada lagi air mata yang menghiasi pipi mulusnya. Tak ada lagi kaca-kaca yang menghisap mata cantiknya.
"Tapi kan nggak harus seperti ini juga Dek,"
"Terus mau Abang kita seperti dulu? Kalau iya Abang terima cinta aku dan Abang ajakin aku buat nikah segera. Maka apapun yang Abang mau bisa tergapai. Mau jalan berdua sama aku ya ayok. Mau jalan bareng aku, Ai dan Az juga ya ayok. Tidak ada hambatan Bang. Tapi kalau sekarang Abang udah punya kekasih dan juga sudah Abang bawa ke rumah. Itu artinya hubungan kita menang tak akan bisa lagi seperti dulu. Itu untuk kebaikan aku, Abang dan pacar Abang. Agar suatu saat tidak timbul masalah di antara kita bertiga." Jelas Mika menatap Ali dengan serius. "aku tidak mau terlibat masalah dalam hubungan Abang nantinya. Aku tak mau itu terjadi. Mendingan aku menjauh dari Abang agar pacar Abang tidak merasa kita punya hubungan spesial. Agar pacarAbang tidak mennganggap aku orang ketiga di hubungan Abang. Bisa saja karena aku hubungan Abang berantakan bukan? Bisa saja pacar Abang orangnya terlalu cemburuan, dan aku tidak mau itu terjadi Bang," lanjut Mika.
__ADS_1
Ali terdiam mendengar ucapan Mika. Apa yang dikatakan Mika memanglah benar. Ada hati seseorang yang juga harus dia jaga. Tapi tak bisakah gadis itu seperti dulu lagi. Hanya sebatas adik dan kakanya.
"Tak bisakah kita seperti adik dan kakak, Dek?" tanya Ali.
"Bukankah kita masih sebatas adik-kakak, Bang. Kita juga tak punya hubungan apa-apa selain itu bukan? Tapi kita tak bisaagi seperti dulu. Aku tak mau dan alasannya juga sudah aku jelaskan tadi. Maafkan aku tak bisa berbuat seperti apa yang Abang inginkan. Intinya aku tak mau semakin terluka dan semakin mencintai Abang."
"Abang ma--"
"Kakak Mimi kita masuk rumah yuk, Ai lelah. Azlan juga sudah lelah." Perkataan Ali terpotong karena kehadiran kedua adik kecilnya.
"Ayuk Ai, lagian kakak juga mau melanjutkan tugas kakak yang masih banyak." jawab Mika. "Abang tidak masuk?" Mika beralih kearah Ali yang masih diam di tempatnya.
"Tidak Dek, Abang mau duduk di sini dulu." jawab Ali.
"Ya sudah, aku masuk duluan ya Abang. Mau lanjut nugas juga," Ali hanya mengangguk merespon ucapan Mika.
Mika, Aileen dan Azlan meninggalkan Ali di taman belakang seorang diri. Mereka tidak tahu apa yang kini tengah dipikirkan laki-laki itu. Dengan senandung ria ketiga orang itu memasuki rumah. Aileen dan Azlan berlari menuju Yumna dan Andi yang tengah duduk di ruang tamu. Sedangkan Mika langsung saja masuk ke dalam kamarnya. Melanjutkan tugas kuliahnya yang belum selesai. Semakin cepat dia membuat semakin cepat pula waktu istirahat untuk dirinya.
Lelah memang, Tapi ya harus dikerjakan. Itu pun demi masa depannya kelak. Tidak akan lama lagi dia akan lulus dari Universitas itu. Waktu dua tahun kurang itu bukanlah waktu yang lama. Semakin di nikmati maka semakin cepat berlalu.
__ADS_1
TBC