Diceraikan

Diceraikan
Andi


__ADS_3

Yumna kini sudah kembali sehat. Sudah bisa beraktivitas seperti semula. Sakit selama lebih kurang tiga hari, membuat tubuh Yumna agak berkurang. Karena selama sakit dia tidak bisa makan terlalu banyak. Apa yang Yumna makan terasa pahit di lidahnya. Maka dari itu membuat tubuhnya agak berkurang.


"Bunda," panggil Ali saat mereka tengah duduk di kursi sofa.


"Iya, ada apa Sayang?" tanya Yumna menatap sang putra.


"Bunda tau nggak?" tanya Ali ambigu.


"Nggak, kan kamu nggak ngasih tau Bunda," jawab Yumna mengeleng kepalanya.


"Waktu Bunda sakit?"


"Ada apa waktu Bunda sakit emang?" tanya Yumna yang kini bingung dengan ucapan putranya yang dirasa setengah-setengah.


"Waktu Bunda sakit, Om Andi nungguin Bunda loh," ucap Ali menatap sang Bunda dengan serius.


"Yang benar kamu, Al?" tanya Yumna yang cukup terkejut juga kurang percaya dengan ucapan anaknya.


Ali mengangguk. "Iya Bun, bahkan Om Andi juga nungguin Bunda sampai sadar. Namun saat itu ada dokter yang memanggil Om Andi, karena ada masalah yang harus diselesaikan maka dari itu Om Andi tidak sempat melihat Bunda saat sadar," jelas Ali dengan jujur. Karena memang saat itu Andi menunggu Yumna agar lekas sadar.


Yumna yang mendengar ucapan putranya jadi tersentuh dan juga tidak percaya. Karena rasanya sangat mustahil Andi mau menunggu dirinya hingga sadar. Meskipun akhirnya dia di panggil dokter. Tapi Yumna sungguh terharu mendengar penjelasan putranya.


"Kamu nggak bohong kan Al?" Yumna menatap mata sang putra untuk mencari kebohongan di netra terang itu.


Ali menganggukkan kepalanya. "Ya nggak lah Bun, lagian buat apa juga aku bohong sama Bunda. Yang ada aku malah dapat dosa," jawab Ali. Tak ada gunanya juga dia berbohong kepada Bundanya. Toh juga nggak untungnya bagi dirinya.

__ADS_1


"Yaudah bunda percaya sama kamu, Sayang," balas Yumna tersenyum manis. "nanti Bunda akan bilang terimakasih sama Om Andi," lanjut Yumna yang diangguki sang putra.


***


Andi serta orang-tuanya tengah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Tempat yang membuat hati Andi saat ini tengah berbunga-bunga dan juga sangat berdebar-debar. Dia berdo'a yang terbaik untuk hari ini. Berdo'a apa yang dia lakukan hari ini tidak membuahkan kekecewaan, melainkan suatu kebahagiaan untuk dirinya, orang-tua serta wanita itu. Wanita yang kini kembali mengisi hatinya.


Kembali bertemu dengan Yumna selama tiga bulan ini, membuat Andi bersemangat. Meski pernah waktu itu dia menyerah tidak akan menikah lagi, lantaran takut akan terjadi lagi apa yang pernah menimpa dirinya. Takut akan rasa kecewa yang sama dengan takdir yang digariskan untuknya.


Namun, keadaan membuat Andi kembali merasakan jatuh cinta, jatuh cinta kepada wanita semasa SMA-nya. Mungkin saja ini yang terbaik untuk dirinya. Allah menyiapkan seorang wanita yang akan menemani dirinya di hari tua nanti. Semoga saja memang ini rencana Allah untuk dirinya.


"Sudah siap Ma, Pa?" tanya Andi saat dia sudah sampai di lantai bawah. Mendapati kedua orang-tuanya yang tengah duduk di kursi sofa.


Tomi dan Tati yang mendengar suara anaknya, langsung saja menghadap ke arah sumber suara. Mereka sedikit kesal lantaran mereka disuruh bersiap-siap dengan cepat, tapi lihatlah orang yang memerintah mereka malah yang terakhir siap. Bahkan mereka sudah duduk disana selama sepuluh menit.


"Aku kan bersiap-siap juga Ma, lagian salah aku apa coba?" tanya Andi dengan bingung. Bingung melihat wanita kesayangannya itu yang berbicara seperti itu kepadanya.


"Aku kan juga bersiap-siap, Ma," wanita itu mengulang kata-kata yang diucapkan putranya. "Kamu yang nyuruh kami siap-siap dengan cepat, tapi lihatlah dirimu itu, kamu yang terakhir selesai bersiap-siap. Bahkan kami disini sudah menunggu selama sepuluh menit. Iya kan Pa?" Wanita itu menatap suaminya.


"Iya, apa kamu katakan benar sekali Ma. Padahal tadi papa masih mau berendam sebentar," jawab Tomi membenarkan ucapan istrinya. Padahal dia ingin mengurangi rasa lelah di tubuhnya dengan berendam, karena tadi dia habis membersihkan taman belakang rumah yang tampak sudah tidak tapi. Rumput-rumputan yang sudah pada tinggi-tinggi, karena sudah beberapa minggu ini tidak di bersihkan.


"Yasudah aku minta maaf ya Ma, Pa?" pintanya dengan wajah memelas.


"Ya sudah kali ini kami maafkan, jika lain kali tidak lagi," balas Tati menatap anaknya itu dengan sorot mata tajam. "Oh ya, kamu emang langsung melamar dia apa gimana?" lanjut Tati memastikan. Karena satu minggu yang lalu putranya itu mengutarakan jika dia ingin melamar seorang janda anak satu.


Waktu itu, Tati maupun Tomi sempat terkejut mendengar ucapan putranya. Tapi dia juga tidak masalah, mau dia janda anak satu, dua maupun tiga. Yang terpenting anaknya itu bahagia, maka mereka juga akan ikut bahagia. Lagian selama ini, mereka juga sudah mendesak sang putra untuk menikah lagi, namun putra mereka itu selalu saja menolak dengan alasan yang sama. 'Aku takut jika terjadi hal yang sama lagi Ma, Pa' kira-kira seperti itulah kata-kata yang sering dikatakan Andi saat mereka menyuruhnya menikah lagi.

__ADS_1


Namun saat anaknya itu berkata ingin melamar seseorang, betapa bahagianya suami-istri itu. Bahkan mereka sangat bersyukur anaknya itu ingin lagi untuk membina rumah tangga. Mereka takut jika nanti mereka sudah tiada, tidak ada yang akan menjaga putra mereka. Tidak akan ada yang menemaninya di hari tua nanti. Sungguh membayangkan itu membuat dada wanita itu sesak.


Namun rasa itu hilang ketika sang putra ingin melamar seseorang. Seorang wanita yang pernah mengisi hatinya waktu SMA. Ya, Andi sampai menceritakan detailnya jika dia juga pernah menaruh hati pada wanita itu.


"Ngelamar sama nentuin hari nikahnya langsung Ma." jawab Andi yang diangguki Tati dan juga Tomi.


Selanjutnya ketiga orang itu langsung meninggalkan kediaman mereka. Menaiki mobil yang biasa dipakai Andi untuk pergi ke rumah sakit.


"Ma, Pa aku takut," ujar Andi saat mereka sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah Yumna.


"Takut kenapa?" tanya Tati yang duduk di kursi belakang. Pasalnya kursi samping kemudi dihuni suaminya, Tomi.


"Aku takut jika saja aku ditolak sama Yumna," ungkap Andi dengan jujur. Sungguh dia saat ini tengah gelisah, gelisah dengan pikiran buruknya yang belum terjadi, padahal belum juga mencoba namun, laki-laki itu serasa sudah menyerah.


"Nggak usah takut, jika memang dia jodoh kamu semuanya pasti akan dipermudah sama Allah. Dan jika tidak, yakinlah bahwa Allah tengah mempersiapkan yang lebih baik dari dia. Yakinkah kepada yang Kuasa, apapun yang baik menurut kamu belum tentu baik menurut-Nya. Jadi tetap berprasangka baiklah kepada Sang Pencipta." Nasehat Tomi kepada anak semata wayangnya.


"Iya Pa, terimakasih nasehatnya. Do'ain aku agar diterima ya Ma, Pa?" ujar Andi menatap sang ayah yang ada di sampingnya serta sang ibu melalui kaca spion.


"Pasti Sayang, kami pasti akan mendo'akan yang terbaik buat kamu," jawab Tati dengan tersenyum. Menyemangati anaknya agar tidak mudah menyerah.


"Iya Nak, papa pasti do'akan yang terbaik pula buat kamu," lanjut Tomi kepada sang putra.


Setelah itu tak ada lagi yang membuka pembicaraan. Mereka memilih diam, berkecamuk dengan pikiran sendiri. Sedangkan Andi jangan ditanyakan bagaimana dia sekarang, sungguh dia sangat takut dan juga grogi yang menyerang tubuhnya. Namun sekuat tenaga dia tepis pomikiran buruk yang menyerang dirinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2