
Saat ini Ali tengah mengendarai mobilnya menuju kontrakan Mika yang dia tahu alamatnya dari sang bunda. Perasaan Ali saat ini antara bahagia dan juga grogi. Seperti seseorang yang akan bertemu dengan kekasihnya untuk yang pertamanya kalinya. Tak henti-hentinya Ali menampilkan senyum manis yang mengukir bibirnya. Seperti seorang ABG yang merasakan getaran cinta.
"Semoga saja kamu saat ini di rumah Dek, Abang rindu," ujar Ali saat masih di dalam perjalanan. Sungguh laki-laki itu sangat rindu dengan Mika. Sudah beberapa hari ini dia tak melihat batang hidung Mika.
Mobil yang di kendarai Ali akhirnya sampai di jejeran kontrakan yang tampak rapi dan bersih. Ali memarkirkan mobilnya di bawah pohon yang tak terlalu jauh dari kontrakan Mika. Pasalnya mobil tidak bisa masuk ke kontrakan gadis itu, sebab itulah membuat Ali memarkirkan mobilnya di bawah pohon besar ini.
Dengan senyum mengembangkan Ali melangkah menuju kontrakan Mika. Berharap gadis itu tak pergi kemanapun hari ini.
"Mika, Kakak sangat rindu sama kamu," Langkah Ali terhenti saat mendengar suara laki-laki yang tak asing di telinga Ali. Senyum yang semula merekah bak bunga mawar kini kayu dalam seketika.
"Kemaren juga kita sudah ketemu di kantor loh Kak, masa sekarang sudah rindu lagi, heheh," Suara Mika yang menyahut jelas terdengar di telinga Ali. Kebetulan mereka duduk di teras rumah, sehingga suara mereka jelas terdengar di balik pagar batu dimana Ali tengah berdiri.
"Ya namanya juga rindu gimana lagi Mika, kamu seakan tidak tahu saja bagaimana rasanya merindukan seseorang yang di cintai."
"Ya ya ya, aku kalah dek sama Kakak,"
"Mari menikah Mika," Dada Ali terasa sesak mendengar suara laki-laki itu saat mengajak Mika untuk menikah. Hati Ali terasa di remas tangan tak kasat mata. Bulir bening tampak mengenang di pelupuk mata laki-laki itu. Apakah tidak ada kesempatan untuk dirinya? Apakah tidak ada lagi dirinya di hati gadis itu? Secepat itukah gadis itu menghilangkan cinta yang bersemayam di hatinya sekian tahun?
Ali berbalik arah, tak jadi menemui Mika. Bahkan Ali tak sanggup untuk mendengar jawaban apa yang akan di berikan Mika. Sungguh hatinya sudah sangat remuk saat ini. Rasa bahagia yang dia bawa untuk bertemu Mika lenyap dalam seketika.
Ali langsung menaiki mobilnya dan mengendarai mobil itu menuju rumahnya dengan kecepatan tinggi. Rasanya dia tak sanggup lagi disini hatinya sudah remuk.
__ADS_1
Sedangkan di kontrakan Mika, Yanda tengah menunggu jawaban dari gadis yang berada di depannya.
"Maaf Kak, bukan aku mau membuat Kakak kecewa untuak kesekian kalinya, tapi aku tak bisa menerima Kakak. Cinta itu tak pernah hadir di hati ini untuk Kakak. Maafkan aku yang tidak bisa menerima ajakan nikah dari Kakak. Jika saja aku bisa memilih, ingin sekali aku melabuhkan hati ini untuk Kakak tapi, aku sungguh tidak bisa Kak. Hati ini masih milik orang yang sama." Mika menunduk, tak sanggup menatap Yanda. Penolakan ini bukanlah yang pertama atau yang kedua kalinya tapi, sudah lebih dari 5 kali selama Mika kenal dengan Yanda. Laki-laki itu sudah sering mengajaknya untuk menikah.
"Kenapa Mika? Kenapa kamu tidak bisa membuka hati kamu untuk Kakak? Apakah sebegitunya kamu mencintai laki-laki itu?" Yanda kecewa untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak mudah bagi aku membuka hati bagi orang baru Kak."
"Kita bukan lagi kenal satu minggu dua minggu Mika, tapi sudah lebih dari 6 bulan? Kenapa?Kenapa hati kamu terlalu keras untuk Kakak gapai, Mika?" Dada Yanda sungguh sesak. Tak bisakah gadis itu memberinya kesempatan untuk masuk ke dalam hatinya meski peluang itu sangat sedikit. Tapi ini sudah lama bahkan sudah sangat lama mereka kenal. Hati gadis itu seakan beku dengan laki-laki yang bahkan Mika tak mau memberitahu Yanda meski hanya sekali.
"Maaf Kak, aku nggak bisa. Aku cinta sama dia bukan satu atau dua tahun Kak. 10 tahun lebih itu bukanlah waktu yang sebentar Kak. Kebayangkan berapa lama aku mencintai dia, Kak? Sangat sulit bagi aku untuk membuka hati sama orang lain Kak."
Mika menggeleng. "Aku sudah mencobanya sebelum kenal sama Kakak. Namun hasilnya tidak ada sama sekali Kak. Tetap sama hatinya aku hanya milik dia. Hanya dia yang bisa menguasai hati ini Kak. Sekali lagi maafkan Aku."
"Kakak mohon Mika, cobalah sedikit saja berusaha membuka hati kamu buat Kakak," mohon Yanda yang lagi-lagi mendapat gelengan dari Mika.
"Maaf Kak, aku nggak bisa. carilah wanita lain yang bisa menerima Kakak. Carilah wanita yang mencintai Kakak yang hatinya tidak akan pernah berpaling dari Kakak meski hanya sebenar."
"Kakak sudah terlalu mencintai kamu, Mika. Hanya kamu yang bisa mengetuk pintu hati kakak setelah sekian tahun terkunci. Hanya kamu yang Kakak inginkan Mika," Yanda menatap netra Mika. Berharap gadis itu mau membuka hatinya untuk dirinya.
"Maafkan aku Kak, aku tetap tidak bisa. Aku tidak mau menjalani suatu hubungan yang cintanya hanya sebalah. Itu sangat menyakitkan Kak. Aku tidak mau Kakak semakin kecewa dan sakit hati nantinya,"
__ADS_1
Yanda menatap langit-langit teras, berusaha menghentikan air mata yang hendak keluar dari mata tegas itu. Sungguh rasanya amat sakit. Kenapa takdirnya harus seperti ini? Kenapa di saat ada seseorang yang bisa membuka hatinya malah orang itu tak memiliki perasaan kepadanya. Kurang kah perjuangan dirinya selama ini? Kurangkah perhatian yang dia berikan selama ini untuk Mika? Kenapa? Kenapa hati gadis itu terlalu beku, kenapa hati gadis itu tak bisa di jamah meski hanya 5 persen saja?
"Baiklah Mika, kakak paham. Maafkan kakak juga karena sudah lancang mencintai kamu," Setelah sekian lama baru Yanda membuka suaranya.
"Tidak apa-apa Kak, aku paham. Lagian kita juga tidak bisa memilih hati itu akan berlabuh untuk siapa. Aku yang harusnya minta maaf sama Kakak karena, tidak bisa membalas perasaan Kakak. Semoga setalah ini Kakak mendapatkan seseorang yang tulus sama Kakak," Mika tak enak hati dengan Yanda. Dia juga tidak bisa berbuat banyak untuk laki-laki itu. Cintanya sungguh tak pernah goyah selain untuk Ali.
"Aamiin terima kasih do'anya Mika, semoga saja akan di segerakan sama Allah,"
"Aamiin, sama-sama Kak,"
****
Ali masuk ke dalam rumahnya dengan hati yang hancur. Pikirannya kini tengah tertuju pada Mika dan laki-laki yang tidak dia tahu namanya. Apakah Mika menerima ajakan nikah laki-laki itu? Apakah sekali lagi takdir tak memihak kepadanya? Apakah dia harus jadi perjaka tua dulu baru ada yang mau nikah dengan dirinya?
Ataukah dia harus menunggu Mika jadi janda dulu baru dia bisa menikah dengan gadis itu? Tak bisakah takdir mempersatukan mereka dalam ikatan pernikahan? Bisakah agannya itu terwujud? Bisakah, bisakah dan bisakah Allah mewujudkan itu untuknnya.
Ali melewati Yumna serta Andi yang menatap dirinya dengan bingung. Tak seperti biasanya putra mereka itu, jangan lupakan jika Yumna maupun Andi melihat titik air mata yang memenuhi netra putra mereka. Berbagai pertanyaan kini tengah bersarang di dalam benak Yumna maupun Andi.
Padahal tadi sebelum pergi anaknya itu tampak bahagia, tak lupa senyum manis selalu terbit di bibir laki-laki itu. Tapi kini yang mereka lihat wajah sedih putra mereka. Apa sebenarnya yang terjadi hingga laki-laki yang akan tak pernah sesedih itu menumpahkan air matanya? Bahkan saat hubungannya berakhir dengan Yola anaknya itu tak sesedih itu.
TBC
__ADS_1