
Reyhan pulang dari rumah Yumna, dengan kekecewaan yang mendalam. Permintaan maaf yang dia dapat membuat dadanya sesak. Penyesalan yang tidak ada artinya.
Harapan untuk kembali berbaikan bersama putranya, nyatanya tak membuahkan hasil. Harapannya seketika pupus dengan sempurna. Menyalahkan diri yang tak pantas menjadi seroang ayah.
"Sayang, apa yang harus Mas lakukan. Ali tidak mau memaafkan Mas, mereka benci sama mas," Reyhan menatap sang istri dengan mata yang tampak ber-air. Jelas tergurat rasa penyesalan dalam dirinya. Terlihat jelas dari wajah laki-laki itu.
Lani mengusap wajah suaminya dengan kedua tangannya. Dia juga sedih atas apa yang terjadi barusan dengan suaminya. Tapi tak dapat di pungkiri jika dia sebenarnya marah dengan suaminya. Namun apa bisa buat, itu sudah terjadi dan tidak akan pernah kembali seperti semua.
Ibaratkan gelas yang di hempas menjadi serpihan-serpihan yang tak akan pernah kembali utuh. Semarah apapun Lani saat ini kepada suaminya yang, juga tidak ada gunanya.
"Sabar Mas, aku yakin suatu saat akan ada kata maaf untuk kamu. Baik itu dari Ali maupun mantan istri kamu. Sekarang aku tidak bisa berbuat banyak Mas. Aku tak tau juga harus apa, mau mengantikan Mas untuk meminta maaf juga tidak akan membuahkan hasil. Sama seperti yang Mas lakukan tadi."
"Dan tolong untuk yang akan datang Mas, harus mencari bukti yang jelas dulu untuk melakukam sesuatu. Jangan ambil keputusan, hanya karena marah semata. Jangan sampai apa yang sekarang Mas lakukan akan terjadi lagi di masa yang akan datang," lanjut Lani menatap suaminya. Dia ikut sedih melihat keadaan suaminya saat ini.
Taksi yang membawa Reyhan dan Lani akhirnya sampai di kediaman mereka. Lani mendorong kurus roda suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ibu, Ayah dari mana?" Rena yang kebetulan ada di ruang tamu menatap ke-dua orang-tuanya bingung. Apa lagi mata Ayah serta sang ibu tampak memerah seperti habis menangis.
"Ibu sama Ayah habis dari luar, Sayang. Ayah merasa suntuk di rumah. Makanya jalan-jalan sebentar." Bohong Lani. Bukan tak mau jujur, hanya saja terasa berat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada anak gadisnya itu.
"Oo gitu ya Bu,"
"Iya, Nak. Ibu masuk dulu Sayang. Ayah mau istirahat," Lani meninggalkan putrinya yang tengah asik menonton televisi.
__ADS_1
***
Pagi ini Reyhan serta keluarga kecilnya termasuk Rena tengah duduk di ruang tamu. Menikmati teh manis di pagi bhari rasanya sangat nikmat. Berbeda dengan Reyhan yang meminum kopi manis. Karena, laki-laki itu tak terlalu begitu dengan meminum teh manis seperti yang lainnya.
Lani bergegas menuju pintu rumahnya kala ada yang mengetuk pintu itu. Membuka dan lihat siapa yang bertamu ke rumahnya paginya.
"Maaf Pak, mau cari siapa ya?" Lani cukup terkejut dengan kehadiran polisi di rumahnya. Ada apa gerangan sehingga polisi itu bertamu ke rumahnya pagi ini.
"Apa benar ini kediaman Bapak Reyhan?" tanya salah satu polisi itu tanpa menjawab pertanyaan Lani.
"Ahh iya benar, Pak. Ada apa Bapak mencari suami saya?" Saat ini Lani tengah di runding gelisah. Apakah ini ada kaitannya dengan perbuatan suaminya atau tidak. Sungguh dia sangat khawatir akan hal itu saat ini. "Silahkan masuk dulu Pak," ajak Lani akhirnya.
Ke-dua polis itu masuk ke dalam rumah Reyhan. Mengikuti Lani menuju ruang tamu, dimana keluarganya tengah berkumpul.
"Silahkan duduk Pak," pinta Lani saat ke-dua polisi itu sudah berada diruang tamu rumahnya.
"Baiklah saya akan menyampaikan maksud dan kedatangan kami ke rumah ini. Tak lain dan tak bukan untuk membawa Bapak Reyhan ke kantor sesuai laporan yang di sampaikan atas nama Bapak Andi selaku Ayah bagi ananda Ali," jelas salah satu polisi itu.
Seluruh keluarga sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Pak Polisi. Nyatanya apa yang tadi dipikirkan Lani memang benar. Fillingnya nyatanya tak salah.
Dada Reyhan bergemuruh. Pikirannya kembali saat dia datang ke rumah mantan istrinya itu. Dimana seorang laki-laki dewasa yang keluar dari rumah itu dengan menyebut kata 'sayang' untuk Yumna. Awalnya Reyhan menyangka laki-laki itu bisa saja keluarga jauh Yumna dari kampung. Tapi apa yang sekarang dia dengan membuatnya sedikit sesak. Laki-laki yang nyata suami Yumna yang sudah mengantikan Ayah buat anaknya Ali.
Ada rasa tak terima dalam diri Reyhan tentang adanya laki-laki yang akan mengantikan posisi Ayah untuk putranya, Ali. Dia marah, marah akan dirinya juga yang tak becus. Marah akan dirinya yang tak layak di sebut Ayah. Menyesal, lagi-lagi kata-kata itu tersemat untuk dirinya. Rasa menyesal yang teramat sangat.
__ADS_1
Kembali lagi buliran bening itu merembes dari mata tegas itu. Dia sedih, kecewa, bahkan marah kepada dirinya sendiri. Benci dengan apa yang sudah di lakukannya untuk sang putra.
Dia dengan tak tau dirinya membuat anaknya celaka. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang Bahkan sudah ada dua orang polis yang akan membawanya untuk ditangkap. Bagaimana bisa setelah ini dia akan meminta maaf kepada anaknya.
"Apa tidak bisa di selesai secara kekeluargaan, Pak?" Reyhan menatap ke dua polis itu secara bergantian. Yakinlah jika saat ini ingin rasanya dia memukul dirinya sekuat tenaga. Jika saja tak ada orang di dekatnya.
"Maaf tidak bisa Pak. Itu sudah keputusan yang yang di ambil Bapak Andi untuk keadilan bagi putranya,"
Putranya? Lalu dia siapa? Apakah dia memang sudah tak ada lagi artinya bagi sang putra. Tak adakah sedikit saja rasa kasihan anaknya itu untuk dirinya. Terlepas dari apa yang telah dilakukannya untuk sang putra. Ingin rasanya Reyhan tertawa sekuat-kuatnya, untuk menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan dirinya atas tindakan ceroboh yang dia lakukan.
"Tapi Pak, suami saya masih harus melakukan kontrol ke rumah sakit," Lani berusaha agar suaminya tak dibawa ke kantor polisi.
"Maaf Bu. Suami anda harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukannya. Itu sudah ada pasalnya Bu. Jadi tidak bisa lagi di tunda. Jika masalah kontrol keadan suami Ibu, nanti bisa dilakukan," jelas polis itu.
Lani terdiam mendengar ucapan polisi itu. Tak tau harus membalas apa lagi. Sedangkan Reni syok melihat Ayahnya yang akan dibawa ke kantor polis untuk menebus kesalahan fatal yang sudah dilakukannya. Gadis itu menangis dalam diam. Menangis melihat keluarnya kecilnya ibunya hancur satu-persatu. Sungguh takdir Allah yang tak pernah dia bayangkan.
Reyhan dibawa ke kantor polisi. Menyisakan Lani, Rena dan Reni yang tampak terdiam dalam tangis masing-masing. Sungguh Allah itu adil. Apa yang kau tanam maka itu yang akan kau panen. Sama halnya dengan Reyhan, apa yang dia perbuat maka itu yang sekarang harus ditebusnya.
Jangan lupakan juga dengan Rena. Apa yang dia perbuat dimasa lalu, maka itu yang kini tengah wanita tua itu terima. Kekejaman yang dilakukannya untuk mantan menantunya, kini dia terima dengan kelumpuhan permanen yang tengah di alaminya. Mulutnya yang kejam dalam sekejapoun sudah Allah tutup rapat.
Mulut yang kejam saja bisa Allah ambil dalam seketika. Percayalah bahwa Allah itu maha baik. Ada alasan kenapa Allah menutup suara bagi seseorang, yang tak lain tak bukan demi kebaikannya. Semakin tua maka semakin menjadi. Maka dari itu, perbaikilah mulutmu dari sekarang, agar dimasa tua nanti tak ada luka yang kau berikan kepada seseorang melalui lisanmu. Sesunguhnya lisan sangat berbahaya untuk diri sendiri, jika tak bisa menjaga dan merawat tutur kata yang keluar. Maka dosa akan terus mengalir. Apalagi luka karena lisan itu sulit untuk sembuh, bahkan bisa tak akan sembuh sampai akhir hayat. Berbeda dengan luka yang di sebabkan karena pisau yang seiring waktu pasti akan sembuh.
__ADS_1
TBC