Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Sebenarnya Ada Apa?


__ADS_3

Mika tengah berperang dengan komputer yang tengah menyala di delapannya. Kebetulan hari ini pekerjaannya lebih banyak dari hari kemaren, membuat Mika harus fokus dengan layar lebar di depannya itu.


"Mika, kamu makan di luar sama Mas Al atau makan di pantry?" Tiana menghampiri Mika yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Padahal waktu istirahat sudah tiba.


"Pekerjaan aku belum selesai Tia, ini saja masih sangat banyak," Mika melirik sekilas ke arah Tiana yang berdiri tepat di sampingnya.


"Pekerjaan itu masih bisa dilanjut nanti Mika. Kesehatan kamu itu yang utama, jangan sampai gara-gara pekerjaan kamu juga yang sakit. Matiin dulu komputernya terus kita makan di pantry saja biar waktunya nggak keburu habis," ucap Tiana.


"Hmm, baiklah," Mika mematikan komputernya setelah menyetujui ucapan Tiana.


Apa yang dikatakan Tiana memang benar. Kesehatan itu nomor satu daripada pekerjaan yang kapan saja bisa di lanjut.


Mika, Tiana dan Yanda bejalan beriringan menuju pantry. Meskipun Yanda sudah menikah dengan bos mereka bukan berarti Yanda akan berhenti kerja. Yang namanya seorang suami pasti akan memberi nafkah kepada istrinya. Baik itu sedikit maupun banyak. Nafkah bukan hanya nafkah lahir tapi juga dengan nafkah batin.


"Gimana rasanya nikah sama bos, Kak Yan?" celetuk Tiana saat mereka tengah makan.


Uhuk!!! "Isss Kak Yan, hati-hati dong makannya. Masa aku nanya gitu doang malah batuk segala," Tiana menyodorkan air kepada Yanda.


"Ya kakak kaget saja kamu nanya gitu Tia. Lagian ya biasa saja sih menurut kakak. Namanya juga pernikahan ya kakak bahagia, sama seperti pengantin lainnya." jawab Yanda apa adanya.


"Bukan itu maksud aku, Kak. Ini kan ceritanya beda, istri Kakak itu kan bos kita, apa tidak ada sesuatu perasaan aneh gitu menghampiri Kakak?"


"Nggak ada Tia, lagian Kakak sama dia saling cinta kok, ya meskipun kakak kenal dengannya baru setengah tahun. Keluarga dia jiga nerima kakak dengan tangan terbuka tanpa melihat bagaimana status kakak," Jujur Yanda sambil menampik senyum manisnya.


"Enak banget ya jadi Kak Yan, sudah ganteng dapat istri baik nerima Kakak apa adanya. Aku kapan ya dapat suami yang nerima aku apa adanya?" ucap Tiana dengan sendu. Sekalinya dapat kekasih yang berharap dapat sampai pelaminan malah di selingkuhin. Miris sekali nasib Tiana.


"Sabar Tia, aku yakin kok suatu saat kamu pasti dapat pendamping yang baik bahkan sangat baik dari Kak Yuda. Mungkin dia hanya seseorang yang singgah namun bukan untuk menetap." Mika menepuk-nepuk bahu sahabatnya.


Memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu.


"Benar apa yang dikatakan Mika, Tia. Kamu jangan berkecil hati karena Allah pasti tengah menyiapkan seorang suami yang tidak pernah kamu sangka. Intinya jangan lupa berdo'a dan tawakal." Tambah Yanda.


Senyum manis terbit di bibir Tiana. Meski tak lantas hatinya masih menangisi nasibnya. "Terima kasih Kak Yan, Mika. Tanpa kalian berdua ntah apa yang terjadi sama diriku."


"Sama-sama Tia," balas Mika dengan tersenyum manis.


("Hallo, assalamu'alaikum Mbok,") Mika mengambil gawainya yang bergetar di dalam saku roknya. Melihat siapa yang tengah menelpon dirinya.

__ADS_1


("Wa'alaikumsalam Non, apa Non masih kerja?") Suara di sebrang sana parau yang Mika tahu adalah art di rumah Yumna.


("Nggak Mbok, ini aku lagi istirahat. Ada apa Mbok nelpon aku siang-siang gini? Dan juga suara Mbok kenapa terdengar parau?") Mika merasa bingung dengan suara pembantunya itu.


("Apa Non bisa pulang sekarang?") tanyanya nyaris tak terdengar. Suara ingusan yang di tarik terdengar jelas di indra pendengar Mika. Mika semakin bingung dengan ucapan Mbok Lena.


("Emang ada apa Mbok?")


("Mbok tidak bisa menjelaskan di telpon Non, mendingan Non pulang sekarang ya? Ada sesuatu yang terjadi di rumah Non,)


("Emmm, baiklah Mbok. Sebentar lagi aku akan langsung pulang. Assalamualaikum,") jawab Mika mematikan sambungan telepon itu meski dengan rasa bingung yang jelas kentara diwajah cantik Mika.


"Ada apa Mika? Kenapa wajah kamu tampak bigung?" yang Tiana menatap wajah sahabatnya itu.


"Aku di suruh pulang sekarang sama Mbok Lena, Tia. Seperti ada sesuatu yang emang tidak boleh aku lewatkan."


"Ya sudah kamu pulang saja Mika. Nanti biar Kakak atau Tiana yang izinin kamu,"


"Baiklah Kak. Aku duluan Kak, Tia," pamit Mika meninggalkan pantry dengan pikiran berkecamuk.


****


Getaran pada benda pipih yang berada di diatas meja membuat Ali mengalihkan fokusnya. Mengambil benda itu lalu menggeser icon hijau pada layar yang kini masih menyala.


("Assalamu'alaikum Abi?")


("Wa'alaikumsalam Nak, apa kamu bisa pulang sekarang?")


("Ada apa Abi? Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?") tanya Ali khawatir. Apalagi mendengar suara Andi yang terdengar parau seperti habis menangis.


("Pulanglah sekarang Nak, Abi tidak bisa menjelaskannya melakui telepon,") jawab Andi membuat Ali semakin bingung.


("Sebenarnya ada apa Abi? Apa tidak bisa Abi menjelaskannya di sini?")


("Tidak Nak, Abi tidak bisa menjelaskan di sini. Mendingan sekarang kamu pulang Al,")


("Bilah Abi, assalamu'alaikum,") Ali menatap nanar benda pipih yang berada di tangannya. Ada apa gerangan sampai-sampai Andi menyuruh dirinya pulang di jam kerja seperti sekarang. Tak bisanya dirinya di telpon jika pada saat dirinya masih berada di rumah sakit. Jika saja ada masalah mungkin dari lagi Ali sudah tahu namun tadi pagi rasanya baik-baik saja.

__ADS_1




"Dek?" Ali menghampiri Mika yang tengah berdiri di depan jalan raya menunggu taksi.



"Abang," Segera Mika memasuki mobil suaminya. "Sebenarnya ada apa di rumah Abang? Kenapa kita di suruh untuk segera pulang?" Mika menatap suaminya yang kini tengah mengemudikan mobilnya.



"Ntahlah Dek, Abang juga tidak tahu. Tapi perasaan Abang mulai tidak enak sedari tadi. Abang takut jika terjadi sesuatu yang buruk di rumah, Dek," jawab Ali dengan gusar. Apakah ini jawaban dari rasa aneh yang sedari jam 10 tadi dia rasakan? Apakah ini jawaban rasa resah dan gundah yang tadi dia rasakan? Sungguh hati Ali tengah berkelana pada hal yang tidak-tidak.



"Kita berdo'a saja Bang, semoga tidak terjadi yang buruk di rumah," Mika mengusap lembut lengan suaminya yang tengah menyetir. Dia juga tampak sama cemasnya dengan Ali. Takut jika Hal buruk tengah menanti mereka di rumah.



Ali menambah menambah kecepatan mobilnya hingga lekas sampai rumah. Perjalanan menuju rumah mereka lumayan lama. Sehingga mereka tidak celat sampai di rumah. Belum lagi macet juga menyerang mereka. sekitar 10 menit kemacetan terjadi di jalan raya membuat Ali mendesah frustasi. Pikirannya sungguh tidak singkron.



"Kenapa di rumah banyak orang Bang?" Manik mata Mika menangkap beberapa orang yang tengah bediri di luar rumah.



"Ntah lah Dek, Abang juga tidak tahu. Tapi kenapa ada bendera kuning di rumah Dek? Abang takut jika terjadi sesuatu," Raut wajah Ali tampak pias, bulir-bulir keringat sudah tampak sebesar biji jagung di dahi Ali.



"Ayo kita keluar Bang, tidak mungkin kita hanya berdiam di dalam mobil saja," Mika membuka sabuk pengamannya dengan bergetar begitupun dengan Ali.



Saking cemasnya kaki Mika terasa bergetar juga dengan seluruh tubuhnya. Pikiran-pikiran buruk itu terus menghantui pikiran Mika maupun Ali. Ntah apa reaksi mereka nantinya jika melihat apa yang terjadi di dalam rumah.

__ADS_1



TBC


__ADS_2