
Mika menganti alas tempat tidurnya dengan alas yang baru. Memang terakhir gadis itu pulang ke ke kampung, kamar ini tidak ada yang menghuni. Karena, Aileen dan Azlan memiliki kamar untuk dirinya mereka masing-masing. Bukan pembantu Yumna tidak menganti sprey kamar ini, kebetulan baru dua minggu yang lalu di gantinya. Hanya saja Mika tidak nyaman kalau memakai spery itu.
Menganti dengan sprey hellokitty yang sering di pakainya dulu. Tampak cantik dan lucu. Senyum manis mengembang di wajah cantik gadis itu. Merasa puas dengan apa yang dia lakukan.
"Ahhhh, nyamannya," Mika mengusap-ngusap tempat tidur yang kini dirinya berbaring diatasnya. Merasakan kelembutan dari sprey yang sangat disukainya itu. Belum lagi harumnya masih sama dengan yang dulu.
Cukup lama Mika mengusap-ngusapnya dengan tangan, gadis itu memilih untuk duduk. Melirik ke sekeliling kamar yang tidak pernah berubah. Bahkan terkesan sama. Dimana letak barangnya dulu kini masih pada tempat yang sama. Bersih tanpa debu.
"Emmm, haus banget." Mika meninggalkan kamarnya menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Kebetulan gadis itu terbiasa minum setiap malam, jika saja tidak kerongkongannya akan kering.
"Ngapain Dek?" Ali berjalan ke arah Mika.
"Astagfirullah, ahh Abang. Ini aku lagi ngabil minum soalnya haus," jawab Mika menetralkan detak jantungnya karena saking terkejutnya.
Mika mengira jika orang rumah sudah pada tidur, karena lampu pada ruang tamu sudah di matikan.
"Kamu apa kabar Dek?" tanya Ali kepada gadis yang pernah mengutarakan cintanya kepada dirinya. Gadis itu yang hendak meninggalkan dapur.
"Seperti yang Abang lihat, alhmadulillah aku sehat. Abang gimana, sehat?" jawab Mika menghentikan langkahnya.
"Duduk sebentar di ruang tamu yuk Dek, Abang belum ngantuk,"
"Baiklah Bang, aku juga belum ngantuk," Mika mengiyakan ajakan Ali. Jujur saja dia memang belum mengantuk.
Saat ini sepasang anak manusia itu sudah duduk di ruang tamu yang tampak tamaran. Mereka tidak menghirup lampu, karena sudah ada cahaya dari ruangan lain yang memantul kesana. Memang tidak terlalu jelas namun, cukup untuk melihat wajah masing-masing.
__ADS_1
"Gimana kerja kamu Dek? Lancar?" Ali menatap gadis cantik itu. Gadis yang sudah berubah dari terakhir kali dia bertemu. Kecantikan gadis itu sudah semakin bertambah. Apalagi terlihat kesan dewasa dalam dirinya. Itu yang dilihat Ali dari sosok Mika.
"Alhamdulillah lancar Bang, kerja Abang gimana? Lancar juga?" tanya Mika yang tak melihat ke arah Ali. Bukannya dia tak sopan, degup jantungnya sudah berlari dengan kencang. Perasaan yang ntah kenapa tidak bisa pergi dari dirinya. Padahal selama ini Yanda tidak henti-hentinya berusaha untuk mendapatkan hatinya. Seakan-akan hati itu sudah terkunci pada pemilik yang sama, Ali.
"Alhamdulillah Dek, Abang juga alhamdulillah lancar kok Dek," jawab Ali.
"Kapan Abang nikah sama Kak Yola?" Tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur dengan mulus dari mulut Mika. Yakinlah hatinya saat ini tengah merutuki dirinya sendiri. Sakit, ya masih saja sakit rasanya jika kata-kata terucap sempurna.
Aku menggeleng. "Dia sudah nikah sama laki-laki lain 6 bulan yang lalu, Dek," Pikiran Ali menerawang saat dimana gadis itu memberinya surat undangan. Bahkan siapa yang menyangka jika suami dari mantan kekasihnya itu satu tempat kerja dengan Ali hanya saja berbeda profesi. Jika Ali di bagian dokter gigi, suami mantan kekasihnya di bagian kandungan.
"Kok bisa? Bukannya Abang cinta sama Kak Yola? Bukahkah Abang sama dia juga sudah lama menjalin kasih?" Mika terkejut dengan kenyataan yang baru saja di terimanya. Bahkan matamga kini tempak membesar, sangking terkejutnya.
"Ya gitu lah Dek. Dia memang bukan jodoh Abang, makanya dia nikahnya sama laki-laki lain, bukan?" Mengingat kisah cintanya yang kandas membuat perasaan laki-laki itu sakit. Cinta yang dia agung-agungkan untuk menjadi pasangan halal nyatanya musnah dalam seketika. Miris memang.
"Maaf ya Bang, aku membuat Abang mengingat kisah Abang yang tragis itu. Sungguh aku tidak tahu itu Bang," Sesal Mika tak enak kepada Ali.
"Makasih Bang,"
"Iya Dek, tidak ap---"
"Tunggu sebentar Bang, ada yang nelpon aku," Mika mengambil handphone yang berada di dalam sakunya. Melihat siapa gerangan yang menganggu dirinya malam-malam begini.
("Hallo, assalamualaikum Kak Yan,")
("Wa'alaikumsalam Mika, kamu lagi apa? Kakak tidak gangu kamu, bukan?") terdengar suara laki-laki di sebrang sana. Bahkan Ali yang duduk di samping Mika juga mendengar lontaran kata-kata dari laki-laki itu.
__ADS_1
("Tidak kok Kak, emang ada apa,") jawab Mika.
("Kakak rindu sama kamu, Mika. Makanya Kakak telponin kamu. Mata kakak juga tidak bisa tidur. Mungkin karena efek merindukan kamu. Sehari tadi kita tidak bertemu Mika Kakak rasanya sudah uring-uringan,")
("Heheh Kakak ada-ada saja. Padahal kemaren kita sudah ketemu masa sekarang ngomongnya gitu lagi sama aku. Lagian selasa besok kita pasti juga akan ketemu di kantor Kak,") Mika terkekeh mendengar ucapan Yanda. Laki-laki yang tidak pernah bosan mengatakan kata rindu kepada dirinya. Padahal mereka tidak memiliki hubungan khusus.
("Namanya juga rindu Mika, Kakak juga tidak memaksa rasa rindu untuk kamu. Tapi ya gitu dia milihnya kamu terus Mika. Besok senin dan kita juga tidak akan bertemu, bertapa banyak rasa rindu Kakak untuk kamu selama 2 hari ini Mika,")
Ali, laki-laki itu menatap Mika dengan intens. Sudut hatinya terasa panas saat laki-laki yang kini berkomunikasi dengan Mika mengatakan kata rindu. Cemburu? Mungkin saja Ali tengah cemburu dengan Mika. Gadis yang jelas dia tolak cintanya waktu itu. Apakah cinta itu sudah tumbuh di dalam dirinya? Atau bahkan rasa cinta itu ditepisnya dan menganggap Mika tak lebih dari seorang adik?
("Iya juga sih Kak, tapi nggak tiap hari juga kali Kak. Apa Kakak tidak merasa bosan ngomong itu mulu sama aku? Nggak di kantor nggak di telpon pasti ngomongnya rindu-rindu mulu,")
("Kakak tidak akan pernah bisa untuk tak mengatakan rindu sama kamu, Mika. Kamu itu ratu bertakhtakan cinta di dalam hati Kakak. Kamu satu-satunya gadis yang mambuat Kakak membuka hati setelah 3 tahun.")
("Isss kakak kok jadi gombal gini sih?") Mika tersenyum mendengar kata-kata Yanda. Meski tak ada cinta di hatinya untuk laki-laki itu, namun ucapannya seperti hiburan tersendiri baginya. Bahkan dari awal Mika sudah mengatakan jika dirinya tidak mencintai Yanda tapi, laki-laki itu kekeh dengan pendiriannya.
("Kakak serius loh Mika, Kakak nggak ngegombal kamu tapi itu yang kini kakak rasakan sama kamu. Jika saja hanya modus, mungkin Tiana sama Putri sudah Kakak perlakukan dengan sama. Nyatanya tidak bukan?")
("Iya deh iya, aku percaya sama Kakak. Kalau sama Tiana mana berani Kakak, dia kan pacarnya sahabat Kakak sendiri,")
("Ya bisa saja Kakak mengoda dia saat dirinya sendiri atau lewat telpon bukan? Itu tandanya kakak hanya mau sama kamu, Makanya tidak Kakak lakukan,") ujar Yanda.
("Iya deh iya, aku percaya sama Kakak,")
Ali semakin meradang melihat Mika berbicara tersenyum manis seperti itu dengan laki-laki lain. Bahkan dengan dirinya saja tadi Mika tampak membuang muka. Seakan-akan gadis itu malas berbicara dengan dirinya. Ali menghela nafas dengan kasar. Rasa yang tumbuh di dalam hatinya kini sungguh membuat Ali kehilangan akal.
__ADS_1
("Wa'alaikumsalam Kak,") Mika menyudahi obrolannya dengan Yanda setelah laki-laki itu mengucapkan salam.
TBC