Diceraikan

Diceraikan
Melahirkan 1


__ADS_3

Yumna duduk di ruang tamu bersama suami serta anaknya, Ali. Mereka tengah menonton film kartu Upin dan Ipin yang beberapa hari lalu di beli kasetnya oleh Andi. Itupun atas permintaan istrinya yang sangat ingin menonton film tersebutbut.


Meski film anak-anak, namun banyak pelajaran yang di dapat di dalam film tersebut. Dengan di temani satu toples keripik pisang kesukaan Yumna yang berada di atas pangkuannya.


"Mas semoga suatu saat anak kita pintar seperti mereka ya," Yumna menunjuk televisi yang tengah memperlihatkan sepasang anak kembar yang tengah membaca do'a untuk memulai sarapan pagi.


"Iya Sayang, aamiin. Semoga anak kita lebih dari mereka hendaknya," Andi mengusap beberapa kali perut besar istrinya.


"Aamiin, Bunda," sambung Ali kepada sang bunda.


"Terima kasih, Sayang. Hanya hitung hari aku sudah lahiran Mas." Ada raut cemas yang kini tengah dirasakan Yumna. Meski ini bukan yang pertama, tetap saja Yumna merasakan takut. Bahkan jika dipikir rasa sakit saat dia melahirkan Ali puluhan tahun lalu masih terasa baginya.


Bagaimana rasa sakitnya dia melahirkan putranya. Masih membekas di ingatan Yumna. Meski demikian rasa itu hilang saat suara tangis anaknya terdengar sangat melengking.


"Bunda tidak perlu takut. Mas akan selalu memberi Bunda dukungan. Begitupun dengan Ali,"


"Iya Bunda, aku pasti akan selalu memberi Bunda dukungan serta do'a untuk kelancaran adik bayi lahir,"


"Kamu dengar bukan, Bunda? Kami akan selalu mendo'akan untuk kelancaran anak kita lahir nantinya. Bahkan Mama sama Papa pasti juga memberikan do'a terbaik untuk kelahiran bayi, kita. Cucu mereka,"


"Benar apa yang Abi bilang Bunda. Nenek sama Kakek pasti akan berdo'a untuk Bunda dan adik bayi. Apalagi mereka sudah sangat menantikan kelahiran adik bayi," tambah Ali.


"Iya Sayang. Semoga saja Bunda dan adik bayi sehat saja nantinya. Terima kasih do'anya Mas, Al," Yumna menatap suami dan putranya secara bergantian.


"Sama-sama Buda," jawab Andi yang terus saja mengusap lembut perut sang istri.


"Sama-sama Bunda," tambah Ali dengan senyum manis menghiasi bibirnya.


Setelahnya, tak ada lagi yang membuka pembicaraan. Mereka sibuk menikmati kartun si kembar yang tengah tayang. Menikmati ucapan lucu si kembar yang sangat mengemaskan itu. Beberapa kali Yumna terkikik saat ada adengan yang menurutnya lucu.


Wanita itu sangat menikmati film kartun tersebut. Bahkan keripik pisang yang tadinya satu toples penuh, kini hanya tinggal seperempat. Tak ada bosannya wanita hamil untuk mengunyah keripik manis itu.


***


"Abi, tolong bilang sama Bunda jika aku mau keluar sebentar ya?" Ali menghampiri Andi yang menyeduh teh manis di dapur.

__ADS_1


"Emang mau kemana Al?" Andi menghentikan kegiatannya. Menatap ke arah anaknya dengan dahi berkerut.


"Aku mau ke perpustakaan kita sebentar Bi. Ada buku yang mau aksi cari. Tambah buat referensi, mungkin saja ada yang aku lupa," jawabnya dengan jujur.


"Lama?"


"Tidak Bi. Palingan setengah jam juga sudah kembali lagi,"


"Ya sudah, kamu hati-hati Al. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya seperti seminggu yang lalu. Jika kamu tidak mau abi aduin sama Bunda," Ancamnya.


Satu minggu yang lalu, Andi sempat melihat Ali membawa motor dengan kecepatan tinggi. Bahkan dengan beraninya, pemuda itu menyelip di beberapa mobil. Ingin rasanya Andi keluar dari dalam mobil, jika saja jalanan waktu itu lenggang alias tak macet.


"Heheh iya Bi. Yang waktu itu jangan bilang Bunda ya Bi. Nanti Al malah kena ceramah tiada henti sama Bunda," Mohonnya kepada laki-laki itu. Ali paling malas kalau di ceramahi terus. Meskipun itu memang untuk kebaikannya. Namun rasanya sangat malas jika isi ceramahnya itu-itu mulu. Gak ada bedanya sama sekali. Seperti kopian yang diulang-ulang.


Andi hanya mengangguk memberi respon kepada Ali. Setelah itu pemuda itu pergi meninggalkan Andi seorang diri di dapur. Kembali laki-laki itu menyelesaikan menyeduh teh manis untuk dirinya. Laki-laki itu pengen meminum teh manis yang sudah beberapa hari ini tak dia cicipi.


Membawa satu gelas teh manis menujung kamar. Dimana sang istri tengah duduk selonjoran di atas ranjang saat dia tinggal tadi. Kebetulan saat ini mereka sudah pindah ke kamar bawah. Takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, jika Yumna terus naik-turun tangga.


"Kamu kenapa Bunda?" Gegas Andi menghampiri istrinya setelah menaruh tehnya di atas nakas.


"Mungkin Bunda sudah mau melahirkan. Mendingan kita kangsung ke rumah sakit saja Bunda. Mumpung belum terlalu terasa. Takutnya terjadi hal tak dinginkan nantinya," Andi tampak cemas dengan keadaan istrinya saat ini.


Bergegas laki-laki itu memasukkan beberapa pakaian bayi ke dalam tas jinjing yang sudah di sediakan. Tak lupa juga baju ganti untuk Yumna nantinya. Setelahnya, langsung saja Andi membopong tubuh istrinya.


"Kenapa Yumna, An?" Tati dan Tomi yang baru tiba di kejutkan dengan keadaan menantunya yang tampak beberapa kali meringis di pangkuan suaminya.


"Yumna mau melahirkan Ma. Tolong bawakan tas ini ke rumah sakit ya Ma. Aku duluan," Andi berlalu dari hadapan orang-tuanya yang masih menenteng koper yang tentunya berisi pakaian mereka.


"Aahhh, iya," Tati sedikit terdiam saat mendengar ucapan putranya. Mencerna apa yang dikatakan sang putra.


Melajukan mobil dengan sedikit kencang agar lekas sampai di rumah sakit. Andi tak mau jika terjadi sesuatu yang buruk kepada anak serta istrinya. Beberapa kali laki-laki itu merapalkan do'a kepada Sang Kuasa untuk kelancaran lahir sang buah hati nantinya dan keselamatan untuk istrinya.


Disisi lain, Ali merasa sangat cemas bahkan tanpa tau sebabnya. Baru saja dia memarkirkan motornya di halaman perpustakaan, kembali pemuda itu menaiki motornya untuk pulang. Menunda untuk masuk ke dalam perpustakaan yang sudah berada di depan matanya. Pikirannya hanya tertuju kepada sang bunda yang kini tengah berada di rumah.


Sungguh perasaan Ali saat ini sangat tak enak. Dia harus segera sampai di rumah. Seakan ada yang terjadi kepada sang bunda, makanya Ali memilih untuk kembali pulang dari pada melanjutkan rencana awalnya.

__ADS_1


"Nenek mau kemana? Kenapa bawa-bawa tas begini?" Saat sampai di halaman rumah. Ali melihat Nenek serta Kakeknya yang bergegas menuju mobilnya.


"Oh ini, nenek sama Kakek mau ke rumah sakit Cu. Bunda kamu sepertinya sudah mau melahirkan," terang Tati kepada Cucunya.


"Ya sudah, aku itu sama Nenek dan Kakek," ujarnya langsung saja memarkirkan motornya sembarangan, yang terpenting kini dia tahu keadaan sang Bunda yang kini berada di rumah sakit.


Tomi melajukan mobilnya sampai ke rumah sakit, dimana menantunya akan melahirkan cucu pertama dari anak tunggalnya. Cucu yang sudah sangat lama dia nantikan kehadirannya.


****


"Bunda, Bunda harus kuat. Mas yakin kamu bisa melewati ini semua demi bayi kita. Bunda jangan nyerah ya, Bunda wanita terkuat yang Mas miliki selain Mama." Andi mengusap peluh yang membanjiri dahi istrinya. Peluh sebesar biji jagung sudah bertengger indah di dahi sang istri.


Beberapa kali Yumna mengambil nafas. Mengucap istighfar di dalam hatinya kepada Sang Pencipta. Agar di mudahkan persalinan anak keduanya.


Pembukaan jalan lahir bayinya masih tinggal dua lagi. Yang artinya sebentar laki anak yang belum mereka ketahui jenis kekaminnya itu akan melihat betapa indahnya dunia yang diciptakan Allah.


"Ibu Yumna dengerin penjelasan saya ya. Tarik nafas lalu hembuskan perlahan. Lalu tarik lagi hembuskan lagi degan perlahan," Instruksi dokter setelah melihat pembukaan jalan lahir Yumna sudah cukup.


Yumna melakukan apa yang di perintahkan dokter wanita itu. Sedangkan Andi berusaha memberi semangat untuk istrinya yang hendak melahirkan buah hati mereka.


"Saatnya menggejan ya Bu," suruh dokter itu.


"Aaaaaaaagggg," Dengan sekuat tenaga Yumna mengejan agar bayi yang ada di dalam perutnya lekas keluar.


Rasanya teramat sakit. Bahkan sama dengan saat dia melahirkan Ali pulihan tahun lalu.


"Sedikit lagi Bu, kepalanya sudah terlihat," kata dokter itu.


"Aaaaaaaa!!!!" Sekali lagi Yumna mengejan agar bayinya cepat keluar. Sungguh rasanya sangat nikmat dan juga menyakitkan.


"Owek ... Owek ....," Terdengar suara tangis bayi Yumna. Rasa sakit yang seperti 27 tulang di patah menjadi satu, kini di gantikan dengan senyum manis wanita itu.


Dia sangat bahagia, akhirnya bayinya telah lahir dengan selamat. Rasa sakit yang tadi sangat kentara, kini di gantikan rasa senang serta bahagia yang menyeruak di dalam dada Yumna. Dia bahagia, bahagia teramat sangat


TBC

__ADS_1


__ADS_2