
Satu minggu sudah berlalu, kini tepat dimana hari bahagia bagi Mika maupun Ali. Hari dimana mereka akan melakukan janji suci pernikahan. Rumah Ali sudah di sulap sedemikian rupa, karena acara pernikahan itu diadakan di kediaman Andi, lantaran tak mungkin rasanya untuk menikah di kampung. Apalagi undangan yang di berikan hanya khusus untuk teman yang berada di sekitaran Jakarta. Kamar yang dulu di huni Ali sudah berubah sangat cantik. Disulap sedemikian rupa untuk pasangan pengantin.
Mika tengah di rias di kamar yang akan dia tempati nanti malam bersama dengan Ali. Mua yang berada di kamar memoles wajah Mika secantik mungkin.
"Mika, Ibu bahagia akhirnya kamu menikah Nak," Caca menghampiri putrinya yang sudah selesai di rias. Memeluk erat putrinya yang sebentar lagi akan berstatus seorang istri.
"Alhamdulillah kalau Ibu bahagia," jawab Mika tersenyum.
"Tapi Ibu juga sedih, karena setelah ini tidak adalagi hak Ayah maupun Ibu atas kamu, Nak. Ibu hanya berharap dan berdo'a semoga pernikahan kamu langgeng samapi kakek nenek, aaamiin.
" Aamiin Ibu, terima kasih do'anya,"
"Sama-sama Sayang, yuk turun. Pak penghulu sudah datang," Caca menuntun putrinya untuk keluar dari kamar itu.
"Ma syaa Allah kamu cantik sekali Mika. Bunda samapai pangling loh lihat kamu," Yumna yang hendak menemui Mika karena acara pernikahan akan di mulai sungguh terkejut dengan perubahan wajah Mika yang tampak sangat cantik. Bqak ratu yang baru saja turun dari kayangan.
"Hehe alhamdulillah Tante,"
"Ehhh, jangan panggil Tante dong Mika. Mulai hari ini kamu harus manggil Tante dengan Bunda begitupun dengan Om dengan sebutan Abi. Sama dengan Ali, Ai dan Az karena, kita itu sudah menjadi keluarga besar,"
"Ahh iya, baiklah Bunda," jawab Mika tersenyum canggung karena belum terbiasa.
***
"SAH!!!" ucap kata saksi serta orang yang berada di ruang tengah itu. Ali mengucapkan qobul hanya dalam satu tarikan nafas tanpa mengulang untuk kedua kalinya. Selanjutnya membacakan do'a untuk kedua mempelai oleh pak penghulu.
"Selamat Mika atas pernikahan kamu, semoga cepat di beri momongan, aamiin," ucap Tiana yang sudah berada di pelaminan dimana Ali dan Mika tengan menunggu tamu yang menyalami mereka.
__ADS_1
"Terima kasih Tiana," jawab Mika dengan tersenyum manis.
"Sama-sama Mika. Selamat Mas Al, selamat sudah menjadi suami dari sahabat aku yang keras kepala ini. Selamat masih menjadi tahta tertinggi di hati sahabat aku. Andai dari dulu Mas Al menerima Mika mungkin saja sahabat aku tidak akan menangis tengah malam," sindir Tiana mendapat cubitan dari Mika.
"Aauu, sakit Mika. Kamu kalau mau nyubit juga kira-kira dong," protes Tiana.
"Ngapain juga kamu buka aib aku Tiana, kan aku jadi malu sama suami aku," ujar Mika dengan wajah memerah. Meski sudah pakai polesan make-up tetap saja wajah itu terlihat merah menahan malu.
"Ya biar Mas Al itu sadar jika kamu itu tidak main-main mencintai dia. Hanya orang bodoh yang rela menolak cinta tulus kamu, Mika," Kambali Mika menyindir Ali yang tampak terdiam mendengar ucapan Tiana. "Ya sudah aku kebawah dulu Mika, lagian juga banyak yang ngantri," pamit Tiana yang diangguki Mika.
"Selamat atau pernikahan kamu, Mika. Kakak ikut bahagia di hari bahagia kamu. Semoga segera Allah berikan momong dalam pernikahan kamu dan suami,"
"Terima kasih Kak Yan,"
"Selamat atas pernikahan kamu, Mika. Semoga jadi keluarga samawa,"
Rangkain acara akhirnya telah selesai tepat pada pukul 9 malam. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 10 malam yang mana Mika dan Ali baru saja selesai membersihkan tubuh mereka. Tidak akan enak jika tidak mandi untuk dibawa tidur. Apalagi tubuh mereka sudah sangat lengket karena keringat.
"Dek maafkan Abang," Ali memegang lembut tangan istrinya.
"Maaf untuk apa Bang? Perasaan Abang tidak ada salah?" tanya Mika yang duduk tepat di samping suaminya.
"Maafkan Abang yang dulu membuat kamu kecewa Dek. Maafkan Abang yang menolak cinta kamu saat itu. Abang memang bodoh seperti yang sahabat kamu katakan Dek," Sesal Ali menatap istrinya.
Mika menggeleng. "Tidak Bang, kamu tidak salah. Waktu itu aku paham karena Abang tidak ada perasaan sama aku, aku juga tidak akan mungkin memaksa cinta Abang untukku bukan? Yang jelas sekarang kita sudah jadi suami-istri yang lama biarlah menjadi kenangan yang tidak perlu lagi di ungkit. Yang jelas sekarang dan masa depan kita yang harus kita pikirkan, Bang," Mika mengusap telapak tangan besar milik suaminya.
"Terima kasih Dek, terima kasih sudah memberikan Abang kesempatan kedua,"
__ADS_1
"Iya Bang,"
"Kamu tahu Dek, Abang sangat bahagia saat ini karena kamu sudah menjadi istri Abang. Abang tidak pernah menyangka jika Abang akan jatuh cinta sama kamu. Padahal kita itu kenal sudah dari orok. Bermain bersama-sama bahkan pernah tidur bersama di rumah Abang di kampung. Namun, kini kamu malah jadi istri Abang. Sungguh indah takdir Allah ya Dek,"
"Iya Bang, aku juga tidak pernah menyangka bahkan sampai jatuh cinta sama Abang sampai bertahun-tahun lamanya. Padahal aku tahu jika kita itu layaknya adik dan kakak. Namun itulah takdir kita ya Bang, Allah punya kejutan untuk kita berdua dengan menyatukan kita langsung dalam ikatan halal tanpa ada yang namanya pacaran,"
"Iya Dek, alhamdulillah," ucap Ali mencium beberapa kali tangan mungil istrinya.
"Abang tidak ingin?" Mika mengantungkan ucapannya. Menatap suaminya yang tengah mencium tangannya tanpa henti.
"Maksud kamu Dek?" Ali binggung dengan ucapan Mika. Terlihat jelas dari kening Ali yang tampak mengernyit.
"Apa Abang tidak ingin malam pertama?" Malu? Ya Mika sangat malu mengatakan itu. Pipinya tampak sangat merah bahkan terasa panas. Mika tidak mengutuk dirinya atas ucapannya karena membuat suami bahagia itu adalah tugas istri begitupun sebaliknya. Baik saat terlalu lelah sekalipun, istri harus memenuhi keinginan suaminya. Tapi itu semua juga tergantung sang suami, apakah dia akan memaksa istrinya karena tuntutan nafsu ataukah memberikan kelonggaran terhadap sang istri karena terlihat lelah atau semacamnya.
Apakah Mika meminta haknya? Bisa saja itu benar. Tidak ada salahnya bukan seorang istri meminta terlebih dahulu? Bahkan disanalah pahala yang sangat besar di dapatkan oleh seorang istri.
"Apa kamu tidak capek Dek?" Jujur saja Ali juga ingin. Apalagi umurnya yang sudah kepala tiga membuat rasa itu menggebu-gebu apalagi saat ini ada istrinya yang akan bisa kapan saja dia minta. Namun, Ali juga berfikir tadinya Mika merasa lelah makanya dia hanya diam. Berfikir jika bisa esok hari untuk melakukan malam pertama mereka. Namun, kini kata-kata itu keluar dari mulut istrinya sendiri. Seakan ada lampu hijau yang di berikan istrinya untuk dirinya. Kencing yang di kasih ikan tidak akan pernah menolak sekalipun.
Mika menggeleng. "Tidak Bang, aku tidak akan pernah capek jika itu menyangkut tugas aku untuk melayani kamu, Bang. Aku takut juga akan dosa jika aku menolak Abang," Mika menampilkan senyum manisnya kepada Ali.
"Beneran Dek? Beneran kamu akan ngasih hak Abang malam ini? Abang tidak akan maksa kamu jika kamu memang merasa lelah Dek. Abang tak ingin kamu sakit besok harinya,"
"Iya Bang, aku akan memberikan apa yang menjadi hak Abang malam ini. Aku tidak capek kok Bang, karena jujur saja aku sangat bahagia karena menjadi istri Abang,"
Mendapatkan lampu hijau yang sangat terang membuat Ali sangat bahagia. Aku langsung saja duduk dengan tegak menatap wajah cantik istrinya. Ali mendekatkan kepalanya kepada sang istri, memberikan ciuman pada seluruh wajah istrinya yang kini sudah merona merah.
"“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna." (“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami,” (HR Bukhari)." Ali membacakan do'a tersebut tepat di depan wajah sang istri sebelum melakukan hal yang lebih lanjut lagi.
__ADS_1
TBC