
Mika sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Tak terasa sudah enam bulan lamanya Mika mengais rezki di kantor tempat dia bekerja. Tak pernah sekalipun Mika mengeluh tentang pekerjaannya. Gadis itu menikmati setiap kerjaan yang dia lalui. Selama itu pula Mika tidak pernah bertemu dengan Ali lantaran, gadis itu memilih untuk makan siang di pantri kantor. Hanya sesekali Mika makan di cafe maupun restoran dekat kantor. Bahan Mika tak pernah lagi berkunjung ke rumah Yumna selama enam bulan ini.
Bukan tak menganggap Yumna sebagai keluarga serta teman Ibunya, hanya saja kesibukannya tidak bisa membuat gadis yang masih berusaha belum genap 23 tahun itu memiliki waktu berkunjung ke kediaman Ibu ke-duanya itu. Sesuai rencananya minggu lalu, Mika akan berkunjung ke rumah Yumna hari ini. Kebetulan sekarang hari minggu, jadi banyak waktu luang bagi Mika dan kebetulan besok dia juga libur kerja di kantor.
"Sepertinya sudah tapi dan juga cantik." Mika mematut dirinya di depan cermin. Melihat penampilannya apakah ada yang kurang atau tidak.
"Sepertinya sudah sangat rapi. Ahhh iya, bibirku tampak pucat." Mika mengambil lipstik di dalam tas kecil yang dia bawa. Lipstik yang berwarna merah muda kesukaannya dan Mika sangat benci dengan listrik merah darah. Seperti di meminum darah segar saja.
Mika menaiki motor yang dua bulan lalu di belinya. Meski hanya kredit Mika sangat bahagia. Apalagi itu dari hasil kerja kerasnya. Mika tidak mau merepotkan orang-tuanya untuk membelikan dirinya sepeda motor untuk pergi bekerja. Selagi dia bisa kenapa tidak dirinya sendiri yang usaha.
Perjalanan yang lumayan jauh menuju rumah Yumna. Akhirnya Mika memasuki perkarangan rumah Yumna yang tak luas. Bahkan pekarangan itu sudah tampak lebih asri dari 6 bulan yang lalu. Dengan di tanami banyak bunga serta pohon lindung. Sebelum masuk gadis itu tak lupa menyapa satpam rumah dan memberikan beberapa buah tangan yang dibawahnya kepada laki-laki paruh baya itu.
Ting Tong!!!
Ting Tong!!!
Mika memencet bell pada rumah Yumna. Tak lama kemudain keluar seorang wanita paruh baya yang Mika kenal. Asisten rumah tangga Yumna.
"Ehhh, Non Mika. Mari masuk, kebetulan Tuan dan Nyonya berada di dalam." ajak si Mbok kepada Mika yang diangguki Mika.
"Assalamualaikum Tante, Om," Mika menghampiri Yumna dan juga Andi yang tengah menonton di ruang tamu. Tak terlihat disana kedua bocah kecil Yumna. Mungkin saja mereka tengah sibuk bermain, itu pikir Mika.
"Ehhh, wa'alaikumsalam Mika. Kenapa baru ke sini, hmm? Aileen terus nanyain kamu loh?" Yumna memeluk anak temannya itu dengan erat. Sungguh Yumna amat rindu dengan Mika yang sudah lama tak datang ke rumahnya.
"Heheh maaf Tan, pekerjaan aku terlalu banyak. Jadi tidak ada waktu untuk datang kesini. Kebetulan saja besok aku libur jadi bisa ke sini Tan," Mika duduk di samping Yumna setelah menyalami tangan Andi dengan takzim.
__ADS_1
"Gimana kerjanya Mika? Lancar?" Andi menatap sekilas ke arah gadis yang sudah dianggapnya sebagai anak.
"Alhamdulillah lancar Om," jawab Mika menampilkan senyum manisnya.
"Alhmadulillah,"
"Aileen sama Azlan mana Tan?" Mika celingukan melihat keberadaan kedua bocah kecil itu. Namun tak terlihat batang hidung mereka sama sekali.
"Tadi pergi jalan pagi sama Ali, Mika. Mungkin sebentar lagi mereka sampai. Lumayan lama mereka pergi sejak satu 40 menit yang lalu,"
Mika menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Mika sudah sangat merindukan kedua bocah kecil itu. Sudah lama tidak mampir kesini membuat rindu itu membuncah.
"Assalamu'alaikum," Aileen dan Azlan berlari memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mika, Yumna dan Andi.
Aileen menubrukkan tubuhnya, memeluk Mika dengan bahagia. Sungguh gadis kecil itu sangat merindukan Mika, Kakak yang selalu bermain dengan dirinya. namun tidak pernah lagi bertemu sejak 6 bulan yang lalu.
"Kakak juga rindu sama Ai, Ai habis dari mana?" Mika membalas pelukan gadis kecil itu. Mendaratkan beberapa kecupan pada dahinya.
"Habis jalan-jalan sama Abang, Kakak Mimi," jawabnya polos. Bahkan gadis kecil itu tidak melepaskan pelukannya dari Mika. Rasanya sangat nyaman.
"Wahhh, enak dong Ai? Kapan-kapan sama kakak jalan-jalannya ya Ai? Sudah lama kita tidak pergi jalan-jalan seperti dulu," Mika antusias berbicara dengan Aileen tanpa menghiraukan mereka yang ada di sana. Bahkan Ali yang sudah duduk di sofa itu tak di hiraukan Mika. Melirik saja tidak Mika pada laki-laki itu.
Laki-laki yang masih bertahtakan cinta di dalam hatinya. Laki-laki yang mejadi raja di dalam hatinya. Laki-laki yang memenangkan segenap rasa di dalam dirinya. Bertapa beruntungnya laki-laki itu jika menerima cinta tulus dari seorang Mika. Tak akan pernah gadis itu melepaskan Ali jika saja waktu itu Ali menerima cintanya. Tapi, kini Mika tidak tahu apakah hati laki-laki itu belum juga ada untuknya atau memang tidak sama sekali.
__ADS_1
****
Mika merapikan meja makan bersama Yumna karena, baru saja mereka selesai makan siang bersama. Dengan menu seadanya karena, Yumna belum ada kepasar untuk membeli persediaan makanan.
"Nginap di sini malam ini ya Mika? Aileen sering nanyain kamu. Kapan Kakak Mimi tidur disini? Ai rindu Kakak Mimi dan masih banyak lagi yang dikatakannya pada Tante. Mau ya Mika?" pinta Yumna dengan penuh harap. "lagian besok kamu libur kan, Mika?"
"Baiklah Tante, rasanya aku juga sudah sangat rindu dengan kamar ku yang dulu heheh." Mika menyetujui permintaan Yumna. tak apa untuk malam ini. Mumpung besok waktu libur, jadi tak membuat Mika ketar-ketir pulang ke kontrakan.
"Beneran Kakak Mimi tidur disini?" Yumna dan Mika di kejutkan dengan kehadiran Aileen yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat meja makan. Padahal bocah itu tadi ikut Andi dan Ali ke ruang keluarga.
"Iya Ai, apa Ai senang Kakak tidur di sini?" Mika mendekati Aileen yang tampak sangat bahagia.
"Iya Kakak Mimi, Ai bahagia Kakak Mimi tidur disini. Ai maunya Kakak Mimi tidur setiap hari di sini seperti dulu," Raut wajah bocah itu langsung berubah. Sungguh dia sangat senang dengan kehadiran Mika di rumah. Karena secara langsung dia mendapatkan seorang Kakak dan Abang.
"Emmm, maaf ya Ai. Untuk sekarang Kakak tidak bisa tidur di sini terus. Sekali-sekali kakak pasti akan menginap disini. Ai tahu kakak itu kerjanya banyak jadi nggak bisa di tinggal. Makanya, kakak tidak bisa tidur tiap hari di sini," Mika berusaha menghibur Aileen yang tampak cemberut.
"Kakak Mimi di sini saja kerjanya, biar Ai ada temannya. Ai bosan main sama Az terus."
"Tidak bisa Ai, kakak kerja di tempat orang. Nanti kalau Kakak nggak kesana kakak pasti akan di keluarkan. Emang Ai mau kakak pulang ke kampung dan kita tidak akan ketemu lagi, hmmm?" Dengan lembut Mika berusaha membujuk bocah itu.
"Ai tidak mau kakak Mimi pulang kampung. Ai maunya Kakak Mimi tetap disini."
"Kalau gitu Ai mau kan dengerin kata kakak tadi?"
"Baiklah Kakak Mimi tapi kakak Mimi harus janji juga sesekali menginap disini ya?" Dengan raut wajah polos serta mata berbinar bocah perempuan itu memberikan kelingkingnya kepada Mika.
__ADS_1
"Iya Kakak janji," Mika membalas tautan kelingking kecil itu dengan kelingkingnya yang besar.
TBC