Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Berusah


__ADS_3

Semalam Mika tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa kecewa yang dia rasakan masih sangat kentara. Hatinya patah karena cinta sepihak milik dirinya. Hatinya remuk redam karena cinta tak terbalaskan.


Air mata menemani gadis itu sepanjang malam. Tak jarang gadis itu terbangun di tengah tidur lelapnya. Bahkan saat tidurpun gadis itu tampak gelisah. Dadanya bahkan berdetak dengan cepat. Niat hati akan kuat jika emang akhirnya tak terbalaskan. Nyatanya tak mampu dilakukan gadis itu. Kecewa akan dirinya yang sok tegar diawal namun lemah diakhir. Berharap hati yang awal keras nyatanya lunak seperti jelly.


"Pagi Tante, maaf aku nggak bantu Tante di dapur. Soalnya semalam Mika tidur agak larut," sapa gadis itu saat Yumna tengah menata sarapan pagi.


"Tidak apa-apa Mika. Kenapa semalam tidak keluar makan malam? Bahkan tante sudah ngetuk pintu kamar kamu, tapi tidak di buka?bahkan pintunya sudah Tante buka juga nyatanya kamu kunci dari dalam." tanya Yumna yang masih menyusun tapi hidangan tersebut. Ehh, itu mata kamu kenapa bengkak,Sayang?" Yumna melihat wajah anak temannya itu tampak sebab. Seperti habis menangis. "Apa kamu habis nangis Mika?"


"Maaf Tante semalam aku ngidupin musik pakai handset, jadi nggak kedengeran suara Tante. Semalam aku juga nggak merasa lapar Tante," jawab Mika. Tak mungkin dia akan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Yumna. "Aku semalam habis nonton film sedih Tante, jadinya ya gini, bengkak matanya, heheh," Lanjut Mika dengan sedikit tawa.


"Oh gitu, lain kali jangan nonton film sedih-sedih lagi ya, Mika. Lagian kamu juga mau pergi ke kampus, kan nggak cantik kalau matanya bengkak gini," Yumna mengusap pipi mulus gadis itu.


"Iya Tante, lain kali aku nggak akan ngulangin lagi kok," balas gadis itu dengan tersenyum.


"Ya sudah kamu sarapan dulu gih," Suruh Yumna yang diangguki gadis itu. "kamu berangkat bareng Abang, Mika?"


Mika menggeleng. "Nggak Tante, aku berangkat sama Tiana. Tadi pagi aku sudah ngirim pesan sama Tia,"


"Baiklah, kamu hati-hati perginya nanti ya. Oh ya, Tante ke kamar dulu, soalnya Aileen sama Azlan belum bangun,"


"Iya Tante,"


Mika melanjutkan sarapan paginya dengan tenang. Meski tidak terlalu nafsu untuk makan, gadis itu tetap mengunyah nasi itu dengan pelan. Tak mungkin Mika akan membawa perut kosong saat pergi ke kampus. Yang ada dia akan terkena sakit maag suatu hari nanti.


"Pagi Dek," Ali yang baru saja datang menyapa gadis itu. Duduk di samping Mika setelah meletakkan tas kerjanya di kursi sebelah.


"Pagi Bang," balas Mika memaksakan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


Ali mengambil nasi ke dalam piringnya. Menyantap sarapan paginya dengan tenang. Tak ada suara diantara sepasang anak manusia itu.


"Aku duluan Bang, temanku sudah sampai." pamit Mika beranjak dari duduknya.


"Nggak sama Abang ke kampus Dek?" Ali mengalihkan atensi makannya kepada gadis yang kini tengah menyampirkan tas pada bahu kecilnya.


"Nggak Bang, aku sama Tiana," Setelah mengatakan itu, Mika langsung meninggalkan Ali di meja makan seorang diri. Tak ada senyum manis yang biasa gadis itu berikan kepadanya jika tak berangkat bareng. Bahkan terkesan cuek dan tak peduli.


Ali menatap punggung Mika yang mulai menjauh. Ali yakin jika gadis itu masih nangis hingga malam. Lantaran tidak ikut makan malam dan juga matanya tampak sembab dengan hidung agak merah. Mengedikkan bahunya dan melanjutkan sarapan dengan tenang.


Jujur saja Ali juga merasa tak enak dengan Mika namun hatinya juga tak bisa dia bohongi hanya untuk menyenangkan gadis itu. Hatinya tak ada sedikitpun untuk Mika selain menganggapnya adik. Jika pun dia berbohong, yang ada gadis itu akan semakin kecewa karena dirinya. Tak apa sekarang kecewa karena kejujuran dari pada kecewa karena kebohongan. Rasa sakitnya juga pasti akan jauh berbeda.


***


"Mata kamu kenapa Mika?" Tania menatap heran sahabatnya itu. Tak biasanya mata gadis itu bengkak seperti ini.


"Kalau nggak apa-apa, pasti ada apanya. Cerita saja Mika kamu kenapa?"


Mika tak lantas menjawab pertanyaan Mika. Gadis itu kembali membayangkan saat kemaren dirinya menyatakan perasaan kepada Ali. Air mata gadis itu kembali menetes. Dadanya kembali bergemuruh dengan kencang.


"Kamu kenapa Mika? Kok malah nangis gini? Aku jadi nggak fokus loh nyetir kalau kamu nangis," Dengan segera Tiana meminggirkan mobilnya. Untung saja jalanan saat ini sangat sepi. Jadi tak akan terjadi kemacetan hanya karena mobilnya.


Tiana memeluk Mika setelah melepas sabuk pengamannya. Mengusap lembut kepala sahabatnya yang kini menangis tersedu-sedu.


"Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu di rumah? Atau kamu di marahi Tante Yumna atau Om Andi?"


Mika menggelengkan kepalanya. Mengambil tisu yang ada di Console box. Menghapus air mata yang kian menetes.

__ADS_1


"Kemaren aku sudah nyatain perasaan aku sama Abang, Tia," ujar Mika dengan tersedu.


"Terus kenapa kamu nangis gini? Apakah kamu di tolak?"


Mika mengangguk. "Iya, Abang nggak suka sama aku. Abang hanya nganggap aku tak lebih dari seorang adik. Abang sudah punya tambatan hatinya," Mika kembali menghidupkan air matanya. "Hati aku sangat sakit Tia, rasanya aku tidak kuat menerima ini semua. Salahkah aku mencintainya, salahkan aku menaruh harapan untuknya Tia. Aku, aku tak kuat menahan rasa sakit ini Tia. Hati aku sangat sakit, hati aku sangat rapuh," Mika menagis dalam pelukan sahabatnya. Sesekali dia menghapus air mata serta ingusnya yang keluar.


"Tidak Mika. Kamu tidak salah mencintainya karena, kita tidak pernah tahu kemana hati itu akan berlabuh. Kita juga tidak akan bisa memilih kepada siapa hati itu akan menaruh rasa cintanya. Kamu harus yakin, jika setelah kesedihan pasti akan ada bahagia yang menghampiri." Tiada menghapus air mata sahabatnya itu menggunakan tisu yang dia ambil. "Kamu harus move on dari Mas Al, Mika. Jangan terpuruk hanya karena cinta yang kamu miliki. Jika memang dia takdir kamu maka dia tak akan pernah pergi kemanapun. Sejauh dia melangkah dia pasti akan pulang ke rumah yang semestinya. Percayalah kamu akan tetap baik-baik saja tampa dia. Kamu harus tunjukkan kepada Mas Al jika kamu tidak terpengaruh karena dia tak menerima cinta kamu. Ok, jika kamu kemaren menangis di depannya, tapi untuk selanjutnya jangan lagi. Kamu jangan lemah hanya karena kamu ditolak. Kamu harus tetap berdiri kokoh tanpa ada air mata yang keluar. Kamu harus tegar, biar dia tidak akan besar kepala." nasehat Tiana kepada sahabatnya itu.


"Kamu benar Tiana. Terima kasih sudah memberiku semangat. Jika tak ada kamu, aku tidak tahu harus kepada siapa akan curhat," Mika menampilkan senyum manisnya seperti biasanya.


"Nah gitu kan kamu cantik Mika. Nggak kek tadi, murung nggak jelas hanya karena cinta di tolak. Yakinlah cinta itu tak selamanya indah apalagi, cinta yang tidak berada di dalam lingkup mahligai rumah tangga."


"Iya kamu bener banget Tia. Sekali lagi terima kasih Tia,"


"Sama-sama Mika. Kita lanjut ke kampus atau bolos?" Tiana menaikkan-turunkan alisnya sebelah.


"Kita ngampus aja Tia, lagian ke-dua orang-tua kita sudah capek-capek kerja buat nguliahin kita. Tak mungkin kita malah enak bolos gini. Yang ada mereka pasti akan kecewa sama kita,"


"Kamu bener banget Mika. Tapi mata kamu?"


"Tak usah hiraukan itu Tia, lagian kita ke kampus untuk kuliah bukan tebar pesona."


"Hahah kamu bener banget Mika. Tapi dikit-dikit tidak mengapa lah. Cuci mata gitu."


"Sama saja kali Tia," Akhirnya kedua gadis itu terkekeh mendengar ucapan Mika.


TBC

__ADS_1


__ADS_2