Diceraikan

Diceraikan
Mengunjungi Toko


__ADS_3

Setelah memberi nasehat kepada sang putra, Yumna membereskan meja ruang tamu yang penuh dengan apa yang dia bawa dari tempat acara nikahan. Dibantu sang putra untuk membawakan gulai ke dapur untuk di letakkan ke dalam piring lalu, disimpan di dalam lemari khusus tempat letak sambal. Jika mau makan bisa dipanaskan nantinya.


Yumna membaringkan tubuhnya di tempat ternyamannya. Apalagi kalau bukan kasur yang selalu menemani dirinya di setiap malamnya. Tubuhnya terasa lelah habis dari acara nihan tadi. Semalam bahkan dirinya tak kunjung tidur lantaran matanya tak mau berkompromi.


Yumna memejamkan matanya karena kantuk yang juga sudah menyerang dirinya. Akibat terlalu lelah, Yumna sudah tidur dengan pulasnya. Padahal baru bebeberapa menit lalu wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


***


Hari terus saja berlalu. Sudah satu minggu sejak kejadian Ali mengatakan bertemu dengan sangat ayah. Kini Yumna tengah di atas angkot untuk pergi ke toko. Mengecek keadaan tokonya yang sudah lebih satu minggu tak dia datangi.


Akhirnya angkot yang dinaiki Yumna berhenti tak jauh dari tokonya berada. Tak mungkin sang supir mengantarkan dirinya sampai di depan tokonya. Karena tidak ada tempat parkir di sana, kecuali memang angkot tersebut ingin berhenti lantaran tidak ada penumpang bisa saja dia berhenti tepat di samping toko Yumna yang kebetulan di sana ada rumah orang yang halamannya lumayan luas dan bisa memarkirkan sebuah mobil. Itupun harus izin dulu sama yang punya rumah.


"Assalamu'alaikum," Yumna mengucap salam saat memasuki tokonya. Seperti biasanya Yumna tidak akan pernah lupa mengucapkan salam, baik itu ketika tokonya ramai ataupun tidak.


"Wa'alaikumsalam Bu, tumben sendiri Bu?" Seorang karyawan Yumna menjawab salam dari sang pemilik toko lantaran pegawainya yang lain melayani pembeli.


"Iya Pit, anak ibu tadi pergi kuliah jadi nggak bisa nganterin ibu," jawab Yumna.


Pita hanya mengangguk mendengar jawaban Yumna. Semua karyawan Yumna sangat baik bahkan Yumna menyayangi mereka tanpa membedakan antara yang satu sama yang lainnya. Semua karyawannya sama dimatanya.


"Apa kalian sudah makan?" Tanya Yumna a Espada Pita untuk mewakilkan semuanya.


Pita menggeleng. "Belum Bu, dari tadi banyak yang beli jadi belum sempat untuk makan," jawab Pita jujur. Lagian memang tadi banyak yang datang berbelanja. Bahkan tak berhenti semua karyawannya itu melayani pengunjung yang tiada habisnya. Biasanya kalau agak sore baru banyak yang datang berbelanja. Namun sekarang baru pukul dua belas siang. Tapi itulah rezki tidak tau kapan, dimana dan jam berapa akan datangnya. Semuanya sudah diatur sama yang Kuasa. Kita sebagai hambanya hanya bisa menerima apapun yang ditakdirkan untuk diri kita. Intinya bersyukur dengan apa yang dikasih, maka segala sesuatu akan di mudahkan.


"Yasudah makan dulu yuk lagian tadi ibu sengaja masak banyak agar bisa kalian juga memakannya." ajak Yumna. "kamu panggil teman yang lain ya Pit lagian kedai sudah nggak ada yang berkunjung lagi," lanjut a Yumna saat menatap tidak ada lagi pengunjung yang datang berbelanja di tokonya.

__ADS_1


"Iya Bu," jawab Pita dengan anggukan serta senyum manis yang tidak pernah pusat dari bibirnya.


Menurut mereka semua, Yumna sosok wanita yang baik. Bahkan sangat baik. Wanita yang tidak pernah pelit menurut mereka, apapun yang mereka inginkan saat ditawarkan Yumna untuk membeli sesuatu pasti akan Yumna belikan. Tak penting itu harganya mahal atau murah. Yumna pasti tidak akan pernah perhitungan dengan itu semua. Maka dari itu semua karyawan Yumna sangat senang bekerja dengan dirinya. Meski kerja di toko itu lelah, namun sejak awal Yumna sudah mengatakan jika kita ingin sukses, sekerasnya apapun pekerjaan yang kita lakukan saat ini belum tentu suatu saat akan dapat seperti ini lagi. Bahkan bisa jadi akan lebih berat dari yang sekarang kita jalani. Syukuri, nikmati maka rasa lelah akan sirna jika kata itu ditanamkan dalam diri kita. Itulah kira-kira motivasi yang diberikan Yumna kepada karyawannya saat mereka makan siang waktu itu.


Kini ketiga karyawan Yumna telah duduk diatas karpet yang biasa mereka gunakan untuk duduk ketika makan bersama. Yumna mengeluarkan empat bungkus nasi goreng dengan telus dadar serta irisan mentimun dan juga ada kol putih yang diiris tipis oleh Yumna. Kebetulan karyawannya juga menyukai kol putih mentah. Dimakan dengan nasi goreng, rasanya sangat enak. Ada kriuk-kriuknya saat kol putih itu dikunyah gigi.


Mereka makan dengan tenang. Tanpa ada percakapan yang keluar dari mulut keempat orang itu. Menikmati lezatnya nasib goreng yang di buat Yumna. Setiap kali Yumna datang pasti dia akan membawakan makanan, kadang nasi goreng ataupun gorengan. Jika Yumna sempat pasti dia akan membawakan makanan untuk semua karyawannya. Jika tidak ada waktu, maka Yumna hanya membawakan gorengan. Hanya sekali-sekali saja Yumna tidak membawakan mereka makanan.


"Tambah gih Siv," ujar Yumna saat melihat nasi goreng Siva yang hanya tinggal satu suap lagi.


Kebetulan Yumna membawa nasi goreng lebih, jika saja ada karyawannya yang masih belum kenyang bisa nambah lagi.


"Sudah Bu, aku sudah kenyang," balas Siva yang memang merasa sudah sangat kenyang. Dalam satu bungkus nasi goreng, Yumna mengisi dengan porsi yang lumayan besar. Jadi membuat Siva sangat kekenyangan. Ingin menyisakan nasi goreng tersebut, Yumna sangat melarang keras semua karyawannya untuk membuang-buang makanan. Karena diluar sana banyak mereka yang makan hanya dari sisa-sisa orang lain. Bahkan ada yang memakan nasi basi, maka dari itu Yumna melarang karyawannya berbuat demikian. Bayangkan jika diri kita yang berada di posisi mereka. Untung kita masih di beri rezki yang layak seperti ini. Itulah kata-kata Yumna ketika Siva pernah tidak menghabiskan nasinya.


Semenjak saat itu, tidak pernah sekalipun Siva menyisakan makanan. Berapapun yang diberi Yumna pasti akan di habisnya gadis itu. Ya dia sadar jika apa yang dikatakan Yumna adalah suatu yang baik. Suatu pelajaran untuk dirinya kedepannya.


"Nggak Bu, ini saja aku sudah sangat kenyang," balas Nana dengan mengusap perutnya yang tampak membuncit lantaran terlalu banyak makan.


"Iya Bu, aku juga sudah sangat kenyang. Rasanya nggak kuat untuk berdiri, hehe," tambah Pita dengan sedikit tawa di akhir kalimatnya.


"Apa ibu terlalu banyak mengisi porsinya?" tanya Yumna sedikit menyesal.


"Tidak terlalu kok Bu," Siva menghibur Yumna agar merasa tak enak hati.


"Ya sudah kalau gitu ibu minta maaf, lain kali akan ibu kurangi," ujar Yumna.

__ADS_1


"Iya Bu, terimakasih nasi gorengnya. Nasi gorengnya sangat enak," puji Nana dengan senyum mengembang di bibirnya.


Apa yang dikatakan Nana tidaklah salah. Memang benar adanya. Apapun yang dibuat Yumna rasanya sangat enak dirasa lidah mereka. Bahkan rasanya sangat kalah dengan yang dijual kedai-kedai nasi.


"Iya Bu, aku juga ngucapin terimakasih untuk makanannya. Sangat enak," lanjut Pita yang diangguki Siva.


"Sama-sama. Ahh kalian terlalu berlebihan," Yumna tanpa malu-malu kucing mendengar pujian dari karyawannya. padahal dalam hatimu dia sangat merasa senang.


Satu jam terlah berlalu. Yumna duduk dikursi yang berada di pintu masuk ke dalam tokonya. Matanya menangkap seorang bapak-bapak mengait sampah di tempat sampah yang lumayan besar dan tempatnya tak jauh dari toko Yumna. Dengan segera wanita itu melangkah masuk ke dalam toko. Mengambil nasi goreng yang masih tersisa satu bungkus.


"Mau kemana Bu?" Nana yang kebetulan melihat Yumna tampak terburu-buru menjadi penasaran.


"Ibu mau keluar sebentar," jawabnya berlalu dari hadapan Nana. Takutnya si Bapak pergi karena terlalu lama bercerita dengan Nana.


Untung saja Bapak itu belum pergi. Masih mengait-ngait sampah seperti mencari sisa-sisa makanan yang dibuang disana. Yumna tak sengaja melihat si bapak memakan roti sisa yang dia ambil dari dalam tong sampah.


"Pak," panggil Yumna saat telah sampai didekat si Bapak.


Otomatis Bapak tersebut menoleh ke arah Yumna yang tepat berada di belakangnya. "Iya," jawab si Bapak.


"Ini ada sedikit makanan buat Bapak. Terima ya Pak," Yumna menyodorkan nasi goreng yang lumayang besar bungkusnya kepada si bapak yang terlihat sudah sangat tua. Hati Yumna teriris melihat keadaan si Bapak. Seharusnya si Bapak harus di rawat oleh anaknya.


"Terimakasih Nak," balas si bapak dengan senyum di bibir keriputnya.


"Sama-sama Pak," balas Yumna.

__ADS_1


Kembali tangan lentik itu mengambil sesuatu di dalam saku bajunya. Setelah ketemu apa yang dia inginkan, akhirnya Yumna memberikan kepada bapak yang masih berdiri di dekatnya.


TBC


__ADS_2