
Yumna tengah duduk diatas ranjang sambil melipat baju yang baru saja dia ambil dari jemuran, lantaran sudah kering. Melipat baju tersebut untuk dimasukkan ke dalam lemari. Melihat jam diatas nakas yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Biasanya anak bujangnya jam segini sudah sampai di rumah. Kali ini sepertinya Ali pulang agak telat. Itu pikir Yumna.
Selesai membereskan baju Yumna keluar dari kamar untuk memasak air diatas kompor gas. Rasa haus membuat wanita itu menyeduh kopi manis yang sudah beberapa hari ini tidak pernah dibuatnya. Yumna bukan maniak kopi, hanya saja sekali-sekali wanita itu membuat kopi. Palingan dalam satu minggu dia membuat kopi manis selama tiga kali ataupun empat kali paling banyak. Mungkin sebagain orang takaran kopinya dua sendok makan atau bahkan sampai ada yang tiga, namun jika Yumna hanya membuat kopi itu hanya satu sendok teh. Yang bisa dikatakan hanya ala kadar saja. Bayangkan saja satu buah kopi rangkiang (itu kopi nama kopi di daerah aku ya guys nggak tau kalau di tempat kalian) bisa tahan selama dua minggu lamanya. Padahal bungkusannya tidak terlalu besar.
Membawa kopi yang sudah diletakkan di atas piring kecil menuju ruang tamu. Menunggu sang putra yang tak kunjung juga pulang.
"Assalamualaikum," Terdengar suara dari arah pintu masuk. Suara yang sangat dikenal Yumna. Suara siapa lagi kalau bukan suara anak bujangnya.
"Wa'alaikumsalam, kenapa telat pulang Nak?" tanya Yumna saat anaknya sudah sampai di hadapannya.
"Tadi mampir dulu ke taman Bun, duduk sebentar di sana sambil ngebaca referensi tambahan untuk mata kuliahku," balas Ali setelah menyalami tangan wanita tercintanya dengan takzim.
"Oowh gitu," balas Yumna yang diangguki anak bujangnya.
"Bun tadi aku bertemu Nenek," Setelah lama terdiam Ali membuka pembicaraannya.
Yumna yang tengah menyesap kopi panas buatannya dengan otomatis menghentikannya. Meletakkan kembali gelas kopi pada piring kecil tempat semula dia mengambil gelas kopinya.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Yumna penasaran. Yumna sudah tau siapa yang maksud nenek yang dikatakan Ali, Pasalnya tidak ada lagi nenek yang dimilikinya kecuali ibu dari mantan suaminya.
"Di taman pas aku lagi baca buku Bun," balasnya jujur. "sudah dua kali aku bertemu Nenek di taman itu," lanjut Ali. Bukannya Ali tidak mau berkata jujur sewaktu pertama kali dia bertemu Rena di taman waktu itu. Hanya saja Ali berfikir tidak akan bertemu lagi dengan wanita tua itu. Tapi semuanya hanya harapan yang tak mungkin terjadi.
"Lalu?" Yumna dapat membaca raut wajah putranya yang berubah kala dia menyebut kata nenek. Mungkin sudah terjadi sesuatu antara dirinya dan sang mantan ibu mertua.
"Dia ngajakin aku tinggal bareng ayah serta istrinya dan anaknya, Bun. Terus nyuruh ninggalin Bunda sendirian di sini," ujar Ali berkata dengan jujur.
Percayalah Yumna sungguh terkejut mendengar ucapan putranya. Yumna tidak melarang anaknya untuk menginap dirumah ayahnya. Hanya saja Yumna tidak akan rela jika anak yang dia besarkan harus dipisahkan dengan dirinya dengan cara seperti ini. Tidak mungkin bahkan tidak akan mungkin sampai matipun Yumna rela jika anaknya harus diambil dengan cara seperti ini. Apa tadi? meninggalkan dirinya disini. Ckckckck sungguh kejam wanita tua itu terhadap dirinya. Apa salahnya sampai wanita tua itu berkata demikian dengan putranya. Seburuk itukah dirinya dimata wanita itu. Sungguh Yumna tak habis pikir dengan mantan ibu mertuanya itu.
"Aku jawab saja jika aku nggak mau Bun. Lagian siapa juga yang mau tinggal sama meraka, yang ada nanti aku malah mati karena ucapkan nenek tua itu. Bunda tau, bahkan dia menjelekkan Bunda sama aku. Hati siapa yang nggak sakit coba jika ibu kandung yang telah melahirkan aku dihina seperti itu." Tampak raut marah dari wajah tegas putranya.
"Sayang, sebelum bunda lanjut ngomong bunda mau nanya sesuatu dulu sama kamu, Nak," ujar Yumna. Sebenarnya dia marah, tapi apa boleh buat tak mungkin dia akan membalas wanita itu. Kalau iya lalu apa bedanya dia dengan wanita tua itu jika melakukan hal yang sama. Tak ada bedanya, tapi sama!!
"Nanya apa Bun?" tanya Ali menatap sang bunda dengan intens.
"Apa kamu benci dengan ayah serta nenek ataupun keluarganya, Sayang?" tanya Yumna dengan hati-hati. Dia tidak mau anak bujangnya menaruh rasa benci kepada mereka. Yumna sadar bagaiamana pun sikap seseorang terhadap kita maka tetap berbuat baiklah kepada mereka yang menyakiti kita. Meskipun Yumna belum bisa melupakan, dan bahkan tidak akan pernah bisa lupa apa yang dikatakan keluarga itu dulu kepadanya. Namun dia berusaha untuk memaafkan mereka. Karena kita tidak tau umur sampai kapan. Ntah satu menit lagi atau bahkan satu detik lagi, sungguh tidak akan ada jawaban tentang kematian kita jika kita tanya kepada orang lain maupun diri kita sendiri. Hanya yang Kuasa yang tau kapan kita akan mati.
__ADS_1
Ali menarik nafas panjang. Jika boleh jujur ada sedikit rasa benci kepada keluarga ayahnya. Apalagi kepada wanita tua yang tadi yang ketemu dengan dirinya. Mungkin bukan benci tepatnya, hanya rasa kecewa dengan ucapan wanita itu tentang penilaian terhadap sang bunda.
"Ntah lah Bun, aku juga nggak tau. Ini ntah benci ntah hanya sekedar rasa kecewa. Yang jelas aku merasakan sakit hati jika mengingat kata-kata yang keluar dari mulut wanita tua itu," balas Ali dengan nada lirih. Sungguh hatinya teramat sakit mengingat ucapan wanita itu yang menilai sang bunda seenak dengkulnya.
"Sayang, bunda berharap kamu tidak benci sama mereka. Karena bunda tidak ingin anak kesayangan bunda memiliki sifat benci. Apalagi akibat dari sifat benci itu tidak main-main. Hanya karena benci kadang kala kita bisa melakukan sesuatu kejahatan yang sebenarnya tidak boleh kita lakukan. Berilah mereka maaf meski hati kami masih teramat sakit, Sayang. Percaya sama bunda jika kita sabar maka Allah pasti akan menunjukkan yang terbaik buat diri kita. Sebenarnya itu termasuk suatu ujian.
Mampu tidak kita menjalaninya, jika mampu maka kita lulus dengan tes pertama. Ingatlah ujian itu tidak hanya satu Sayang, banyak bahkan sangat banyak. Saat kita sudah tiada saja kita masih saja di omongin sama orang lain apa lagi kita masih hidup. Jadi intinya itu tidak akan pernah ada habisnya ujian itu hingga kiamat akan datang." papar Yumna panjang lebar. Berharap putranya merekam serta memahami apa yang dia katakan.
Ali menatap Yumna dengan padangan haru. Sunggu wanita yang berada di sampingnya ini wanita tersabar yang dia miliki. Begitu banyak hinaan yang dilontarkan keluarga ayahnya, namun sang bunda masih memberi maaf kepada mereka. Betapa beruntungnya Ali memiliki Bunda seperti Yumna. Wanita yang mungkin tidak akan pernah ditemui Ali di dunia ini, meski sudah dia cari ke ujung dunia sekalipun. Hanya sang bang ya hanya sang bunda yang seperti ini.
"Iya Bunda terimakasih, terimakasih Bunda karena telah memberikan aku begitu banyak pelajaran. Aku akan berusaha dan akan mencoba bersabar seperti yang Bunda katakan," Ali menatap sang bunda dengan pandangan haru.
"Sama-sama Sayang. Karena ini memang tugas Bunda selaku seorang ibu yang pasti akan mengajari anaknya ke jalan yang benar," Yumna mengusap lembut pilih putranya.
Ali dengan spontan memeluk wanita itu dengan erat. Tak dapat dibendung betapa bahagianya Ali memiliki seorang ibu seperti wanita dalam pelukannya ini. Tak dapat dikatakan dengan kata-kata betapa bahagianya hati Ali saat ini. Sungguh rasanya Ali ingin sekali mengulang kata-kata yang sama kepada sang bunda.
TBC
__ADS_1