
Yumna membuka kantong kresek yang diletakkan Ali di atas meja. Mengeluarkan gulai kambing yang di bungkus plastik berukuran seperempat minyak manis. Lalu mengeluarkan nasi ketan putih yang dibungkus daun pisang dan di serahkan kepada sang putra.
"Nih makanlah Sayang, tadi bunda dikasih sama ibu itu. Lumayan lah untuk kamu sendiri. Lagian tadi bunda juga sudah makan itu di sana," ujar Yumna sambil menyodorkankan nasi ketan itu kepada putranya, yang disambut sang putra dengan senyum manis terukir dibibirnya.
"Terimakasih Bunda," Ali memang sangat menyukai nasi ketan putih. Waktu mereka masih di kampung, ketika sang bunda pergi ke tempat orang yang mengadakan nikahan atau syukuran pasti selalu di bawakan nasi itu. Dengan senang hati Ali menyantap nasib ketan putih itu dengan begitu lahab.
Ada beberapa macam sambal yang dibawa Yumna dari tempat nikahan itu. Mulai dari gulai kambing, gulai ayam serta rendang daging. Lumayan untuk mereka makan sampai besok. Tak perlu memasak sambal lagi, hanya tinggal memasak nasi yang itupun dimasak melalui megicome. Sangat praktis tidak seperti dulu lagi yang mengandalkan kayu bakar yang dicari diladang atau bahkan kehutan.
"Banyak juga Bunda bawa gulai," ujar Ali saat melihat gulai kambing yang diletakkan sang bunda di samping kresek.
"Iya, lumayan lah buat kita sampai besok, Sayang." jawab Yumna.
"Iya Bun, tapi baik banget ya Ibu itu Bun. Biasanya kalau Bunda pergi ke acara nikahan nggak pernah bawa kek gini," Ali mengingat beberapa kali mereka tinggal di kota ini tidak pernah sang bunda membawa apapun dari tempat acara nikahan.
Kecuali saat mereka di kampung halaman sang bunda. Setiap ada acara nikahan, khitanan serta syukuran pasti akan membawa nasi serta gulai kambing. Ya meskipun untuk dua orang makan, tapi lumayan lah untuk menghilangkan rasa pengen akan gulai tersebut. Cita rasanya sangat berbeda dengan yang dijual di kedai nasi. Lebih enakan yang di tempat acara nikahan. Bumbunya yang sangat pas serta sangat terasa membuat lidah tak mau berhenti memakannya. Bukan yang dijual itu tidak enak, enak hanya saja berbeda saja jika dirasa di lidah.
__ADS_1
"Iya Ibu itu emang baik, Sayang. Sebenarnya tadi bunda sudah mau pulang tapi di panggil lagi sama si Ibu dan nyuruh bunda untuk nunggu sebentar di dekat dapur. Ehhh tau-taunya Ibu itu kembali dengan menenteng kresek ini dan dikasih sama bunda. Dia emang baik Sayang, bahkan tadi banyak yang bawa kresek kek gini tadi. Padahal tamu undangannya sangat banyak," Yumna memberitahu sang putra dengan senyuman. Tak menampik jika Ibu itu memang baik orangnya.
Ali menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang bunda. "Oh ya Bun, tadi aku ketemu sama Ayah di tempat jual sate yang kita beli beberapa hari lalu," Ali menatap sang bunda. Beginilah Ali, apapun yang terjadi pasti akan diberitahukan kepada sang bunda. Kecuali sesuatu yang seharusnya tidak di kasih tau.
Yumna yang masih asik dengan bawaannya menghentikan pergerakannya. Menatap sang putra dengan serius. "Apa katanya?" Yumna menaikkan alisnya tanda dia sangat penasaran.
"Ya tadi Ayah minta peluk sama aku, Bun," ujar Ali yang memang itu yang diinginkan sang ayah saat mereka tadi bertemu.
"Lalu?"
"Kenapa belum siap? bukankah kamu menginginkan pelukan seorang ayah, Sayang?" Yumna semakin menautkan alisnya semakin dalam. Setau Yumna, anak bujangnya itu sangat mendambakan pelukan seorang ayah. Namun sesuatu yang diinginkan sang putra sudah berada di depan mata, tapi anaknya malah belum siap.
"Aku ingin meluk Ayah, Bun. Bahkan sangat ingin. Tapi tubuh aku belum siap menerima pelukan darinya. Sungguh rasanya sangat berat, padahal hati aku pengen banget buat meluk Ayah, Bun," Ali menatap sendu sang bunda.
Kembali lagi Ali menggigat raut wajah sang ayah. Raut wajah penuh kekecewaan lantaran dia tidak mengabulkan keinginan sang ayah yang hanya gampang. Pelukan, satu kata yang tak akan sulit untuk diwujudkan. Namun, reaksi tubuhnya yang seakan menolak pelukan yang sangat, sangat dia dambakan.
__ADS_1
Yumna menatap lembut putranya. Memegang dan mengusap dengan lembut tangan kekar sang putra. Jika saja Yumna boleh egois, dia tidak akan memperbolehkan anaknya untuk berbicara dengan keluarga sang mantan suami. Ingat lagi Yumna akan sebuah dosa yang akan dia tanggung diakherat kelak. Melarang darah dagingnya untuk menjalin silaturahmi dengan dengan ayah kandungnya. Jika tidak mengingat dosa, Yumna tidak akan pernah mengizinkan anaknya untuk memaafkan kesalahan yang dulu mereka berikan untuknya serta sang putra.
Hidup sendirian untuk membesarkan buah hati seorang diri itu tidaklah gampang. Ditambah lagi pekerjaan yang harus dia lakukan demi memenuhi kebutuhan dirinya dan sang buah hati. Mengingat itu semua rasanya Yumna ingin membenci keluarga mantan suaminya. Tapi ingatkan lagi Yumna tentang sebuah dosa. Itulah yang membuat Yumna menasehati sang putra agar tidak membenci keluarga mantan suaminya. Meski jauh dilubuk hati Yumna dia ingin sekali dendam akan keluarga mantan suaminya. Apalagi mulut mantan mertuanya yang sangat tak bisa di maafkan. Selalu saja mencari kesalahan Yumna dan menfitnahnya kesana kemari. Apa yang dilakukan Yumna? diam, ya hanya diam. Yumna lebih memilih untuk tuli akan semua fitnah tak mendasar dari mantan mertuanya. Bukan takut untuk membalas, hanya saja Yumna tak mau berdebat dengannya. Malas, lelah itulah yang dirasakan Yumna jika berdebat dengan wanita tua yang tak juga kunjung bertaubat. Yumna yakin, jika tak di dunia wanita itu mendapatkan balasan, maka akan ada akhirat yang akan memberinya balasan yang bahkan mungkin lebih dari yang Yumna bayangkan. Intinya itu sabar.
Mungkin saja sebagian orang beranggapan Yumna wanita jodoh. Biarlah mereka berkata demikian. Mereka hanya akan berkomentar sesuai dengan apa yang mereka pikirkan, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi ke belakangnya. Yang menjalani itu Yumna, bukan mereka yang hanya mengeluarkan pendapat. Perlu apa Yumna dengan pendapat mereka. Toh tidak ada untungnya. Yang ada malah rasa marah yang akan mengusai relung hatinya nantinya. Maka dari itu Yumna lebih memilih tuli akan semua hal yang terjadi di dekatnya. Itupun demi dirinya sendiri.
"Bunda paham apa yang kamu rasakan, Sayang. Tapi cobalah untuk menerimanya. Mungkin saja kamu belum bisa menerimanya seutuhnya, maka dari itu tubuh kamu beraksi seperti itu, sayang. Jika kumu sudah menerimanya dengan baik, maka semuanya akan terasa mudah. Percaya sama Bunda." jelas Yumna kepada sang putra.
Yumna tidak ingin menanamkan hal yang buruk pada diri putranya. Yumna hanya ingin mendidik sang putra sesuai ajaran agama yang dia anut. Dia tidak mau anaknya salah jalan hanya karena ajarannya yang sesat.
"Iya Bun, akan aku coba apa yang bunda saranin. Terimakasih Bunda," ujar Ali.
"Sama-sama Sayang. Mungkin saja kamu masih ada rasa marah ataupun kecewa terhadap mereka, maka dari itu kamu susah untuk menerimanya Sayang. Harapan bunda hanya satu, kamu mampu memaafkan kesalahan mereka. Apapun itu bentuknya, baik itu yang kecil maupun yang besar." jelas Yumna kepada sang putra.
"Iya Bunda, akan aku udahan apa yang bunda jelaskan." balas Ali dengan senyuman.
__ADS_1
TBC