
Ali tengah duduk di taman belakang seorang diri. Menengadah menatap langit yang tampak biru muda dengan sedikit awan putih yang menyelimuti. Pikiran Ali kembali ketika saat Mika menyatakan perasaannya kepadanya.
Bayangan wajah sedih serta sendu gadis itu selalu berada dalam pikiran Ali. Jujur saja Ali memang tak pernah menaruh hati kepada Mika meski hanya sedikit saja. Ali hanya menganggap Mika seperti apa yang pernah di katakannya yaitu seperti Aileen dan Azlan. Tak lebih dari itu.
Perubahan sikap Mika semenjak saat itu membuat Ali tidak senang. Bahkan dia sangat rindu dengan kebersamaan mereka saat sebelum Mika mengatakan perasaannya. Sepi, itulah satu kata yang dirasakan Ali saat ini. Biasanya Mika akan selalu ceria saat bersamanya, gadis itu akan selalu menampilkan senyum manis kepada dirinya. Senyum yang tak membuat Ali bosan. Bahkan terkesan mengemaskan.
Tapi sejak saat itu terjadi, Mika sangat jarang tersenyum kepadanya. Mika sangat jarang berbicara kepadanya, bahkan sering kali gadis itu menginap di rumah sahabatnya. Kadang kala Ali menyanggah ucapan Mika jika dirinya belajar kelompok atau hanya belajar berdua seperti yang dikatakan gadis itu. Ali merasa jika Mika memang sengaja untuk menjauh dari dirinya.
Mungkin saja memang benar apa yang dikatakan gadis itu untuk menenangkan hatinya agar tak terlalu sakit lagi. Agar cinta yang dia rasakan tak lagi semakin bertambah. Tapi tak bisakah gadis itu untuk tidur di rumah tanpa harus ke rumah sahabatnya. Ok, jika saja gadis itu tak mau bertemu dengannya, dan dia akan berusaha menghindari gadis itu hingga perasaannya kembali stabil.
Hingga beberapa menit yang lalu, itu adalah pertemuan mereka setelah beberapa hari Mika memilih untuk menginap di rumah Tiana. Meskipun sebelumnya mereka bertemu, tapi itu hanya sekilas. Lantaran gadis itu akan berangkat ke kampus atau malah pergi ke rumah sahabatnya.
Ali tak bisa berbuat banyak, tak mungkin Ali mementingkan egonya untuk menahan Mika agar tetap berada di rumah. Tak mungkin Ali akan menahan Mika agar tak usah menginap di rumah sahabatnya. Ali bukan siapa-siapa bagi Mika, namun ntah kenapa Aku merasa sangat berat jika gadis itu tidak tidur di rumah.
Apakah itu bisa dikatakan cinta? Tidak!! Ali tak pernah merasakan debaran kepada gadis itu. Bahkan rasanya sama dengan Aileen. Berbeda saat dirinya bersama dengan Yola, kekasihnya. Saat pertemuan pertama mereka, Ali sudah merasa deg-degan saat dekat dengan gadis itu. Bahkan tangannya sampai berkeringat dengan jantung yang terus memompa dengan cepat. Ali menghela nafasnya dengan kasar. Mencerna setiap apa yang terjadi dalam hidupnya. Sungguh rumit, tapi itu nyata.
Ali mlihat keluarganya tengah duduk di ruang tamu. Tak ada Mika diantara mereka yang tengah menonton film kartun yang jelas itu kesukaan Aileen dan Azlan. Ali mendudukkan dirinya di samping Andi yang kini tengah menatap heran anak bujangnya.
"Wajah kamu kenapa Al?" Andi menatap heran wajah kusut putranya.
"Nggak apa-apa kok Bi," jawabnya.
"Terus kenapa kusut begitu? Kayak nggak semangat saja."
"Mungkin karena lelah terlalu lama di halaman belakang Bi. Apalagi cuaca sangat panas." alasannya.
Andi hanya menganggukkan kepalanya. Tak lagi membuka suaranya untuk berbicara kepada putra sambungnya. Lanjut menikmati film kartun kesukaan ke-dua anaknya yang sesekali tertawa melihat adegan lucu.
"Tadi Bunda kemana?" Ali beralih kepada sang Bunda yang berada di depannya.
__ADS_1
"Ke toko Al, banyak barang yang harus di beli. Stoknya sudah mulai menipis." jawab Yumna tersenyum kepada putranya.
"Terus sudah Bunda beli? Atau gimana?"
"Belum Al, rencana besok mau Bunda beli sama Abi. Kalau di tunggu beberapa hari lagi yang ada stoknya akan habis dan nggak ada yang bisa di jual di toko. Alhamdulillah akhir-akhir ini pembeli juga semakin bertambah."
"Alhamdulillah Bun, terus Bunda mau nambah karyawan lagi atau gimana?"
"Untuk toko yang saat ini belum Al, lagian kamu tahu jika Bunda buka toko baru di kota sebelah. Nah untuk toko itu dulu Bunda sudah dapat 3 karyawan. Tapi lihat dulu apakah mereka benar-benar serius bekerja atau malah seperti karyawan yang pertama. Bekerja baru satu bulan tapi sudah resign. Susah sekarang nyari karyawan yang serius dalam kerja Al." jelas Yumna.
Beberapa bulan yang lalu toko Yumna di kota lain sudah selesai di renovasi. Awalnya Yumna sudah mendapat 2 orang karyawan, tapi mereka mengundurkan diri. Alasannya hanya simpel lelah, tidak kuat kerja seperti ini dan masih banyak lagi alasan-alasan yang diberikannya.
Maka dari itu Yumna belum ada niatan untuk mencari karyawan lagi untuk toko yang sekarang. Meskipun dirinya sangat butuh, tapi Yumna benar-benar mencari yang serius, bukan malah nyari yang tahan satu atau dua bulan saja. Bahkan ada pula yang baru dua hari sudah minta resign.
\*\*\*\*
Sudah tiga tahun kurang lamanya Ali bekerja di rumah sakit tempat Andi dulu bekerja. Sudah tiga tahun kurang pula, hubungan yang dijalani Ali dengan Yola. Perjalanan cinta mereka terlihat begitu kaku. Bahkan mereka sangat jarang untuk bertemu ataupun berkomunikasi. Jika pun berkomunikasi, Ali tak banyak bicara begitupun dengan Yola yang banyak diam. Gadis itu sangat pendiam. Bahkan jika Ali tak bicara, maka gadis itu juga tidak akan bicara. Mereka hanya akan hening dan yang pada akhirnya Ali menyudahi obrolan yang tak terasa hangat itu.
Sedangkan Mika akhir-akhir ini dia sibuk dengan sidang skripsinya. Berkemungkinan beberapa bulan lagi dia akan lulus dari Universitas yang kini dia duduki. Rasanya hati Mika sangat bahagia. Tak sabar untuk melamar pekerjaan di beberapa perusaan, sesuai dengan cita-citanya yang ingin bekerja kantoran. Begitupun dengan Tiana sahabatnya.
Kedua sahabat karib itu tampak saking mendukung dan memberi suport jika salah satu dari mereka ada yang dalam mood turun atau hati yang hancur sama seperti Mika waktu itu. Tiana juga sempat merasakan hal yang sama dengan Mika. Namun, Tiana tak mengatakan perasaannya melainkan tetap diam hingga akhirnya laki-laki itu menggandeng seorang wanita yang jauh di atas Tiana. Sudah cantik, putih langsung pula. Apalagi wanita itu juga tampak ramah serta suka tersenyum sipam kepada orang yang di jumpainya. Membuat Tiana merasa sangan minder.
"Nggak lama lagi kita akan lulus ya Mika. Aku jadi nggak sabar lamar kerja di perusaan," ujar Tiana saat dia dan Mika tengah duduk di taman kampus.
__ADS_1
"Iya Tiana, aku juga nggak sabar untuk jadia karyawan kantoran, heheh. Kamu janji ya Tia, kalau kita akan kerja di perusahaan yang sama?"
"Iya Mika, aku janji. Lagian waktu itu aku juga sudah ngomong juga sama kamu, Mika. Apapun nantinya kita harus kerja di tempat yang sama."
"Baiklah, aku akan pegang janji kamu Tiana,"
"Ok Mika. Kamu tidak usah risau, aku akan selalu nepatin janji aku kok. Oh ya Mik, kamu sudah punya pacar?" Sudah lama rasanya Mika tak lagi membahas tentang hatinya.
Mika menggeleng. "Belum Tia. Aku nggak bisa lupain Abang, meskipun aku sudah usaha. Susah banget pokoknya. Tapi aku juga berharap sih ada yang bisa buka hati aku selain Abang," jawab Mika sendu.
Sungguh rasanya kepada Ali masih tetap sama. Biarlah orang mengatakan dia gadis bodoh, mereka tidak tahu betapa besar cintanya kepada Ali. Mereka tidak tahu bagaimana dirinya berusaha berjuang untuk melupakan Ali, namun jika hati sudah berkata Mika juga tak dapat berbuat apa-apa.
Rasa cintanya tak pernah surut barang sekalipun. Meskipun rasanya sakit saat dia melihat Ali membawa kekasihnya sekali-kali ke rumah. Apa yang bisa Mika buat jika dia bukanlah siapa-siapa. Mika harus sadar jika dirinya tak begitu penting bagi Ali, selain menganggap dirinya seorang adik.
"Kenapa nggak keluar saja kamu dari rumah Mas Al, Mika? Mana tahu kamu bisa mudah move on dari dia," usul Tiana untuk yang kesekian kalinya.
"Aku nggak bisa keluar dari sana Tia. Orang-tua ku jelas tidak akan mengizinkan aku tinggal di kontrakan ataupun di kost, begitupun dengang Tante dan Om Andi. Aku tak punya alasan untuk saat ini. Kecuali nanti aku sudah bekerja baru aku akan ngomong sama orang-tuaku. Masalah move on itu nggak gampang bagi aku, Tia. Abang itu cinta pertama aku dan berharap juga cinta terakhir aku. Waktu bertahun-tahun itu nggak akan pernah gampang melupakan dalam sekejab. Apalagi dalam untaian do'a aku selalu menyebut namanya. Aku berusaha seperti Zulaika yang mengejar cinta Allah dan akhirnya Allah hadirkan Ali untuknya. Kita tidak tahu kapan dan dimana jodoh kita saat ini. Tak ada salahnya kita menyampirkan namanya dalam setiap sujud berharap memang dialah jodoh ku,"
"Aamiin Mika, semuah saja do'a diijabah sama Allah."
"Terima kasih Tia, aamiin,"
TBC
__ADS_1