
Semalam Mika menghabiskan waktu keberadaannya dengan Ali. Memberi kehangatan satu sama lain, hingga pagi ini wajah pasangan suami istri itu tampak berseri-seri mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam.
"Abang hari ini nggak kerja?" Mika bingung suaminya karena Ali hanya memakai baju kaos serta celana levis.
"Abang hari ini masuk siang Dek, kira-kira jam 1-an," jawab Ali
Mika mengangguk. "Kenapa Abang baru ngomong sekarang? Biasanya Abang pasti ngomongnya malam,"
"Semalam Abang sudah mau ngomong sama kamu, Dek karena kamu sudah ketiduran jadi Abang nggak tega mau bangunin kamu. Apalagi tidurnya sangat lelap setelah kegiatan kita semalam," jawab Ali membuat rona merah di pipi Mika. Sungguh dia malu saat mengingat kembali apa yang sudah mereka lewati.
Mika hanya membalas dengan anggukan saja. "Berarti Abang hanya ngantar aku saja ke kantor?"
"Hmm iya Dek, setelah itu Abang mau mampir sebentar ke rumah sakit karena ada berkas yang Abang lupa bawa pulang kemaren,"
•
•
"Yang semangat kerjanya Dek, ingat jangan nakal ada suami yang selalu merindukan kamu setiap saat," ucap Ali setelah mendaratkan ciuman pada dahi istrinya.
"Iya Bang, aku nggak akan pernah berpaling dari Abang kok. Di hati aku hanya ada Abang, bagaimana bisa aku beralih ke lain hati jika saja waktu delapan tahun waktu itu tidak membuat aku terlena dengan laki-laki lain," Mika menampilkan senyum manisnya kepada Ali yang dibalas suaminya.
"I love you Dek,"
"Love you more, Abang,"
Setelah itu Mika langsung keluar dari dalam mobil Ali. Ali melihat Mika hingga hilang ditelan gedung pencakar langit itu. Berulah Ali meninggalkan halaman kantor itu.
__ADS_1
"Pagi Tiana, eh mata kamu kenapa?" Mika lekas menghampiri sahabatnya itu. Melihat mata Tiana yang tampak bengkak mungkin gadis itu menangis semalaman.
Tanpa diundang lagi-lagi air mata Tiana merembes dengan lancar melalui matanya. Mengalir begitu cantiknya di pipinya yang mulus.
"Ada apa Tia? Apa ada sesuatu yang terjadi sama kamu? Apa di rumah ada masalah? Ataukah ada hal lain yang terjadi sama kamu, Tia?" Mika memborong Tiana dengan pertanyaannya.
"Aku putus sama Kak Yuda, Mika," jawab Tiana setelah menghapus air matanya.
"Loh..., kok bisa?" Kejut Mika tak menyangka.
"Ya bisalah Mika, buktinya sekarang aku sama Kak Yuda sudah bukan lagi kekasih. Dia selingkuh Mika, huhuhu," Tiana kembali menumpahkan air matanya. Sungguh rasanya hatinya kini sudah hancur lebur karena ulah laki-laki yang bernama Yuda.
"Dari siapa kamu tahu Kak Yuda selingkuh Tiana? Kamu jangan asal ngomong nanti jatuhnya fitnah,"
"Aku melihat sendiri kamaren habis magrib Mika. Kebetulan kemaren aku keluar untuk mencari kebutuhan aku yang sudah habis. Aku melihat Kak Yuda berduaan di taman, mereka juga berciuman," ucap Tiana jujur. Karena memang jelas Tiana melihat Yuda tengah berciuman dengan mesra sama wanita yang merupakan karyawan satu kantor dengan mereka hanya saja beda ruangan.
"Kamu seriusan Tiana? Sama siapa? Kok tega sih Kak Yuda melakukan itu sama kamu? Apa kamu nggak nyamperin dia langsung Tiana?"
"Bagus Tiana, aku suka kamu yang tegas kek gini. Ngapain tetap mempertahakan laki-laki tukang selingkuh kek dia. Masih banyak laki-laki yang lebih baik dari dia Mika. Tetap semangat," Mika mengepalkan tangannya untuk memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu.
"Terima kasih Mika, kalau nggak ada kamu ntah sama siapa aku akan bercerita. Mengeluarkan unek-unek yang dari semalam aku pendam,"
"Sama-sama Tiana, aku yakin Kak Yuda akan mendapatkan balasan yang lebih dari apa yang kamu rasakan Tiana,"
"Semoga saja begitu Mika. Aku sumpah sakit hati banget sama dia." ucap Tiana menggebu-gebu.
Mata Tiana dan Mika menatap sosok laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangan mereka. Sosok yang membuat Tiana sakit hati dan kecewa dengan tindakannya yang berani berkhianat. Sosok itu berjalan menghampiri meja Tiana dengan raut wajah penuh sesal. Ntah itu hanya pura-pura saja Mika sungguh tidak tahu.
__ADS_1
"Maafkan Kakak, Tiana. Kakak tidak bermaksud menduakan kamu, Kakak kemaren hanya khilaf," Yuda berusaha mengapai tangan Tiana namun, gadis itu menarik tangannya dengan segera. Agar Yuda tidak bisa memegang tangannya barang sedikitpun. Dia muak dengan laki-laki mata keranjang seperti Yuda.
"Khilaf? Enak banget Kakak ngomong khilaf ya? Sudahlah Kak hubungan kita sudah berakhir kemaren. Jadi tidak ada lagi yang harus kita bahas." Sekuat tenaga Tiana berusaha tetap tegar di depan Yuda. Dia tidak mau laki-laki itu besar kepala karena terlalu dia cintai. Cihh!!! Yang ada Tiana jijik melihat Yuda si tukang penghianat itu.
"Beri Kakak satu kali lagi kesempatan Tiana. Kaka janji tidak akan melakukan itu lagi," bujuknya dengan mengiba kepada Tiana.
"Dalam kamus hidupku tidak ada kesempatan kedua untuk seorang penghianat. Ingat itu, Kakak bukan lagi siapa-siapa aku jadi mending kakak minggir dari hadap aku. Kakak hanya menganggu penglihatan aku saja!!" usir Tiana menatap sinis kearah Yuda.
"Tia beri kakak kesempatan kedua Kakak janji tidak akan mengulanginya lagi Tia." Bukannya beranjak Yuda masih berdiri memohon kesempatan kepada Tiana.
"Tidak ada kesempatan untuk Kakak. Sekali penghianat akan tetap menjadi penghianat!!" tekan Tiana pada kata penghianat. "Pergilah ke meja kerja Kakak, aku muak melihat wajah sok Kakak itu!!"
Belum sempat Yuda beranjak Yanda sudah menghampiri mereka. Dengan senyum mengembang Yanda menghampiri ketiga temannya itu dan memberikan sebuah kartun undangan pernikahan.
"Kak Yan mau nikah?" Tiana menatap Yanda dengan penuh tanda tanya. Menghilangkan sejenak rasa marah yang baru saja dia rasakan.
Yanda mengangguk. "Alhamdulillah Tiana, 4 hari lagi Kakak akan menikah. Jangan lupa datang ya," pintanya dengan senyum mengembang di bibir itu.
"Nina Aksara Wiratama? Jangan bilang ini---" Mika menatap Yanda dengan penuh selidik. Apakah nama yang tertulis di kartu undangan itu salah atau memang orang yang sama.
Yanda lagi-lagi mengangguk. "Iya Mika, dia CEO kita. Kakak akan menikah dengannya," Dengan senyum mengembang Yanda menatap bergantian ketiga orang yang berada didepannya.
Tiana langsung membekap mulutnya. Tak menyangka jika Yanda akan menikah dengan bos mereka. Sungguh takdir Allah begitu indah untuk hamba-Nya. "Sumpah demi apa Kak? Astaga!! Ini mah bisa membuat geger seluruh karyawan perushaan ini kalau tahu bos akan menikah dengan Kakak," Tiana tampak antusias dengan ucapannya.
"Ya mau gimana lagi Tia, kalau jodoh mah nggak akan kemana," Senyum manis terus terbit di bibir Yanda. Bahkan dirinya sendiri juga tidak menyangka akan menikahi bos di perusahaan tempat dirinya bekerja.
"Waahhh alhamdulillah Kak selamat. Aku bahagia akhirnya Kakak bisa dapatin wanita yang lebih dari aku," Dengan senyum tulus Mika mengakan apa yang dia rasakan. Sungguh dia sangat bahagia akhirnya Yanda bisa lepas dari belenggu cinta kepada dirinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mika, terima kasih," Mika hanya mengangguk memberikan respon uncapan Yanda.
TBC