
Sudah satu tahun lamanya Reyhan pergi meninggalkan dunia ini. Suka dan duka sudah banyak dijalani Reni maupun Lani. Anak dan ibu itu berusaha untuk ikhlas melepas laki-laki tercinta mereka, meski tak akan pernah bisa. Namun, tak mungkin juga mereka akan terpuruk di dalam genangan duka yang mendalam. Masih panjang masa depan yang akan mereka lalui.
"Ibu kenapa memalamun?" Reni menghampiri Lani yang saat ini duduk di teras rumah mereka.
"Ahhh, tidak apa Sayang," balas Lani menampilkan senyum manisnya.
Reni duduk di samping Ibunya. "Andai saja Ayah masih ada, pasti kita akan bercerita banyak dengan Ayah, Bu. Aku rindu Ayah," Reni menerawang, mengingat kebersamaan mereka dulu.
"Sudahlah Nak, Ayah sudah tenang disana. Yang terpenting kita sekarang harus hidup bahagia. Kamu tidak mau kan, Ayah bersedih saat melihat putrinya terus saja terpuruk dalam duka kematiannya?" Lani menatap putrinya. Tak lupa tangan wanita itu mengusap lembut tangan putrinya.
Reni mengangguk. "Iya Bu, aku tidak akan sedih lagi. Aku akan semangat untuk menjalani hidup ini. Aku tak mau Ayah bersedih karena diriku yang tak pernah bagian setelah Ayah meninggalkan aku. Aku akan tunjukkan kepada Ayah, jika aku putrinya yang kuat. Bukan putrinya yang lemah," Reni menampilkan senyum manisnya kepada sang ibu.
"Bagus Sayang. Ayah pasti bangga memiliki putri seperti kamu, Nak,"
"Tentu Bu. Aku tak akan lagi cengeng, aku akan kuat seperti Ayah," Bangganya.
"Iya Sayang, kamu harus seperti Ayah yang kuat." tambah Lani.
Setelah pembicara itu, Lani maupun Reni masuk ke dalam rumah. Hari yang sudah hampir masuk waktu maghrib. Tak mungkin mereka akan duduk di sana hingga malam tiba. Yang ada mereka akan kedinginan.
Hari-hari yang dijalani Lani dan putirnya seperti biasa. Membuka warung kecil mereka dari pagi hingga sore hari sekitar pukul empat.
Lani memang tak melanjutkan kuliahnya, mengingat pendapatan dari warung mereka hanya habis untuk makan sehari-hari saja. Meski pernah didesak Lani namun, gadis itu tetap tak mengindahkan ucapan Ibunya.
"Nak lanjutkanlah mimpi kamu untuk menjadi seorang guru," itulah kata-kata yang Lani ucapkan kepada putrinya waktu itu.
"Tidak Bu. Aku tak ingin melanjutkan kuliah. Aku tak ingin membuat Ibu kepikiran membayar uang kuliahku yang tak lah sedikit. Aku ingin seperti ini saja Bu, atau nanti jika ada tawaran kerja maka, aku akan bekerja untuk membantu perekonomian kita. Ibu tenang saja, aku baik-baik saja. Kuliahpun belum tentu aku akan menjadi seorang pegawai Bu, apalagi sekarang banyak yang mendaftar namun, yang diterima hanya satu atau dua orang saja. Bahkan aku yakin sukses itu bukan hanya berpatokan dengan ijazah sarjana. Banyak diluar sana yang tidak kuliah. Namun berhasil mendirikan perusahaan atas kerja kerasnya sendiri," Itulah jawaban yang Reni berikan kepada Lani kala itu. Membuat Lani bungkam dalam seketika. Apa yang dikatakan putrinya memanglah benar.
"Ibu, apa Ibu nanti pergi ke pasar?" tanya Lani saat membantu Lani menyusun isi warungnya yang tampak acakan.
"Iya Nak, nanti siang Ibu kepasar. Apa kamu mau nitip sesuatu?" Lani mengalihkan penglihatannya kepada sang putri.
"Tolong belikan aku martabak misses jagung sama sate setengah ya Bu. Aku sudah lama tidak memakai ke-dua itu," pintanya.
"Baiklah nanti Ibu belikan. Jangan lupa kasih tahu Ibu lagi nanti sebelum berangkat ya,"
__ADS_1
"Iya Bu," balasnya.
Begitulah keseharian yang dijalani Reni mau maupun Lani. Tak lagi tampak wajah sedih dari ke-dua anak dan Ibu itu. Mereka sudah ikhlas melepas kepergian Reyhan. Yang mereka pikirkan sekarang hanya menajani masa depan yang baik. Tentunya tak ada sedih yang akan membuat mendiang ayah dan suami mereka bersedih di atas sana.
****
Sedangkan di kediaman Yumna, dia tengah sibuk mengurus ke-dua anak serta suaminya. Beberapa bulan yang lalu Yumna sudah melahirkan jagoannya yang diberi nama Azlan Zaydan Hidayat. Bayi kecil yang kini sudah berusia 11 bulan, kurang satu bulan lagi bayi itu sudah genap satu tahun. Bayi laki-laki yang sangat mengemaskan. Ditambah putri kecil Yumna yang kini sudah beranjak usia 4 tahun. Putri yang sangat mirip dengan dirinya versi kecil.
Semenjak satu tahun yang lalu, Ali belum pernah pulang satu kalipun. Anak sulungnya itu mengatakan akan pulang nanti bersama dirinya yang akan menghadiri acara wisudanya satu tahun lagi. Ali hanya dapat melihat wajah adik kecilnya memalui benda pipih persegi empat itu.
Rindu? Sudah pasti dirinya rindu akan gadis kecil serta adik laki-lakinya. Adik laki-laki yang hanya dapat dia lihat melalui HP. Ingin sekali Ali untuk pulang, namun tugas kuliahnya yang banyak membuat Ali mengatakan pulang saat wisudanya nanti. Yang jelas orang-tua serta adiknya pasti akan datang ke sana.
"Ai jaga Az sebentar ya, bunda mau bikin bubur dulu buat Az," pinta Yumna kepada putrinya yang kini tengah duduk bermain dengan Azlan.
"Iya Bunda," jawabnya yang tetap asik bermain boneka Barbie.
Sedangkan bayi laki-laki Yumna tengah duduk menatap Kakaknya yang asik sendiri. Bahkan gadis itu tak menghiraukan adiknya. Membiarkan Azlan melakukan apapun yang dia inginkan sendiri.
"Bunda Az, pup," Aileen berteriak memanggil Yumna. Karena tampak pup Azlan yang keluar dari pempersnya.
"Tunggu sebentar Ai, buburnya Az sedikit lagi siap. Jangan biarin adik pergi dari sana ya," Jelas suara Yumna yang terdengar dari dapur. Sepertinya wanita itu memang belum bisa menghentikan kegiatannya yang sangat nangung.
"Az mana Ai?" Yumna bingung saat tak mendapati putranya tidak berada di tempat.
"Itu dibawa Abi ke kamar Bunda," jawab Aileen tanpa mengalihkan penglihatannya.
"Oo gitu. Bunda nyusul Abi dulu ya, Nak. Kamu tunggu disini bentar,"
"Iya Bun,"
Yumna melihat Andi yang tengah memakaikan baju untuk putra mereka. Sepertinya putranya itu sudah dimandikan Andi. Tampak handuk yang berada di samping putranya.
"Mas," Yumna melangkah mendekati suaminya.
"Iya Bun," Andi mengalihkan penglihatannya sebentar kepada istrinya, lalu melanjutkan memakaikan baju untuk putranya.
__ADS_1
"Kenapa tidak menunggu aku yang mandiin Azlan, Mas?"
"Nggak apa-apa Bun. Mas tahu kalau kamu lagi masak bubur buat Azlan. Dari pada Mas biarin Azlan kotor karena pupnya yang sudah keluar mendingan Mas bersihin, bukan? Lagian juga sebagai membantu Bunda," balasnya dengan tersenyum setelah memasang baju untuk Azlan.
"Terima kasih Mas,"
"Bukan Bunda yang harusnya berteman kasih, tapi Mas. Karena, Bunda sudah mau menjadi makmum untuk Mas dan memberikan Mas putra dan putri yang sangat cantik dan juga ganteng."
"Itu sudah tugasku sebagai istri, Mas,"
"Ya meskipun begitu tetap saja Mas yang harus berterima kasih kepada kamu, Bunda. Bukan malah kamu," ujarnya. "Oh ya, apa Ali tak jadi pulang Bun?" Andi menatap istrinya.
Yumna menggeleng. "Tidak Mas. Katanya nanti pulang sama kita saat dia selesai wisuda. Lagian Tugas Ali sekarang juga banyak Mas, belum lagi menyusun skripsi dan lain sebagainya,"
"Iya kamu bener Bun," ucap Andi.
Itulah kehidupan yang dijalani Yunan dengan penuh kebahagiaan. Dulu luka yang mendalam dia dapatkan namum kini dia dijadikan seriang ratu okeh laki-laki yang tepat untuk dirinya. Laki-laki yang tak pernah mempermasalahkan apapun tentang dirinya. Menerima dirinya dengan hangat terbuka serta putranya, Ali. Menyayangi dirinya serta putranya seperti putra kandungnya sendiri.
∆Janji Allah itu pasti. Dibalik kesedihan akan ada bahagia yang akan menghampiri∆
🍄TAMAT🍄
(Jangan lupa dukun terus ya readerku, tenang cerita ini akan ada Season 2nya yang menjadi peran utamanya Ali dan juga istrinya. Jangan lupa ikutin terus ya.)
(Oh ya, kalau ada dari awal cerita aku yang tak masuk akal, atau penggunaan kata yang salah mohon maaf, karena saya juga manusia yang tak akan luput dari kata salah dan juga dosa. Buat kalian yang menghina saya juga terimakasih banyak. Saya tak marah, hanya saja kata-kata kalian sebagai motifasi untuk saya sendiri agar lebih kuat lagi. Harus seperti ombak yang menerjang batu karang)
Jangan lupa juga mampir ke karya saya yang lain ya.
Menikah Dengan guruku
Sanggupkah Aku
Dijodohkan orangtuaku
__ADS_1
See you all😍😍😘