
Di ruang tamu rumah Yumna kini tengah berkumpul keluarga Caca dan juga Yumna. Mereka tengah berbincang-bincang ringan untuk mengisi sore mereka.
"Besok kamu beneran mau balik Ca?" Yumna menatap temannya itu sendu.
"Iya Yum, aku juga nggak bisa ninggalin kerjaan di kampung."
"Apa tidak bisa kamu disini satu hari lagi Ca? Lagian baru kemaren kamu sampai masa sudah kembali lagi?" Yumna menatap temannya itu penuh harap.
Caca menggeleng. "Tidak Yumna, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan aku disana. Belum lagi pekerjaan Bang Rangga yang juga nggak bisa di tinggal." jelas Caca tak enak hati. Jika saja pekerjaannya tak banyak, bisa saja Caca tinggal untuk beberapa hari di sini.
"Hmmm yasudah, tidak apa-apa Caca. Mika juga ikut kamu atau gimana Ca?" Yumna melirik sekilas ke arah putri temannya itu.
"Iya Yum, Mika ikut aku ke kampung. Lagian sudah lama putriku itu tidak ke kampung."
"Hmm ya sudah tidak apa-apa. Besok rumah ini akan kembali sunyi tanpa kehadiran kamu, suami dan Mika, Ca,"
"Lah sunyi apanya Yum, anak kamu saja ada tiga. Coba lihat aku yang hanya punya satu, selama dia disini aku hanya tinggal berdua dengan suamiku di kampung. Jadi yang berhak ngomong sepi itu aku dan Bang Rangga," Caca mengelengkan kepalanya mendengar ucapan Yumna. Sepi? Ada-ada saja temannya itu.
"Hehehe iya deh Ca, aku kalah." jawab Yumna.
****
Tok!!!
Tok!!!
"Dek, boleh Abang masuk?" Ali mengetuk pintu kamar Mika.
Ceklek...
"Ada apa, Bang?" Mika menatap bingung kepada Ali.
"Apa kamu sibuk, Dek?" Ali sedikit mendongakkan kepalanya melihat ke dalam kamar Mika.
"Ngak kok Bang, ada apa?"
"Bisa kita ngomong sebentar Dek?"
"Baiklah, Bang," Mika membuka pintu kamarnya. Mempersilahkan Ali untuk masuk ke dalam kamar gadis itu. Membiarkan pintu kamar itu terbuka agar tak menimbulkan fitnah nantinya.
__ADS_1
Mika dan Ali tengah duduk di atas ranjang yang biasa di gunakan Mika untuk tidur. Di dalam kamar Mika memang tidak terdapat kursi sofa.
"Abang mau ngomong apa?" Mika menatap wajah tampan laki-laki yang masih membuat hatinya bergetar.
"Besok Adek balik ke kampung ya?" Meski Ali sudah tahu jika Mika akan pulang bersama orang-tuanya besok, laki-laki itu hanya ingin mendengar dari mulut Mika secara langsung.
Mika mengangguk. "Iya Bang, aku sudah rindu dengan suasana di kampung. Apalagi sudah lama aku tidak pulang kampung Bang," jawab Mika dengan jujur.
"Berapa hari kamu di kampung Dek?"
Mika menatap bingung Ali karena ucapan laki-laki itu. "Kenapa emang Bang?" Mika bali bertanya.
"Nggak ada. Abang cuman nanya saja Dek," jawabnya.
"Hmm gitu, mungkin satu mingguan Bang. Setelah itu aku akan kembali lagi ke kesini untuk ngelamar pekerjaan Bang."
"Hmmm gitu ya Dek. Abang pasti rindu jika nanti kamu sudah di kampung Dek,"
"Rindu? Abang nggak salah ngomong, bukan?" Perkataan Ali membuat Mika bingung dan juga aneh. Tumbenan laki-laki itu mengatakan rindu kepada dirinya. Padahal tahun lalu dirinya satu bulan lebih di kampung namun, laki-laki itu tak ada mengatakan rindu barang sekalipun kepada dirinya.
"Hmmm-hmm, iya Dek. Abang pasti rindu sama kamu," Ali menatap wajah gadis itu dengan sendu. Ntah apa yang kini dirasakan Ali pada Mika. Sungguh membuat laki-laki itu bingung akan dirinya.
"Iya juga sih Dek. Tapi kedengarannya aneh nggak sih Dek? Abang rindu sama kamu?"
"Iya aneh banget Bang. Kecuali kita memiliki hubungan khusus boleh saja Abang rindu sama aku. Tapi ini nggak sama sekali Bang," Mika menatap wajah laki-laki itu dengan sorot mata bingung. "Aku perhatiin Abang kenapa aneh akhir-akhir ini? Apa Abang ada masalah?"
"Nggak kok Dek, Abang nggak punya masalah." jawabnya jujur.
"Terus kenapa raut wajah abang akhir-akhir ini tanpak berbeda?"
"Berbeda gimana Dek? Perasaan abang hanya biasa saja kok,"
"Ya berbeda kelihatannya. Kadang aku perhatiin abang sering melamun. Seperti ada yang tengah Abang rasakan?"
"Mungkin hanya perasaan kamu saja Dek. Abang nggak ada ngerasain apa-apa kok,"
"Semoga saja Bang," Mika menganggukkan kepalanya. Lagian Mika juga tidak mau memperpanjang pertanyaannya. Malas, itulah alasan Mika.
Ali menatap sekeliling kamar Mika yang tampak rapi. Tak ada satupun barang-barang yang berantakan. Tersusun rapi pada tempatnya masing-masing. Hanya buku yang berada di atas meja belajar Mika yang berantakan. Mungkin saja gadis itu tadi sedang membuat sesuatu pada keras yang terdapat beberapa tulisan pada kertas itu.
__ADS_1
"Dek, boleh Abang minta sesuatu?" Setelah puas menatap kamar Mika, Ali kembali beralih menatap gadis cantik itu.
Mika menaikan satu alisnya. "Apa Bang?"
"Boleh Abang peluk kamu sekali saja?" pintanya sendu.
Ali tidak tahu kenapa dirinya ingin sekali untuk menangis. Menumpahkan air mata pada pangkuan gadis itu. Perasaan yang Ali sendiri tidak tahu itu apa. Seperti ada firasat tentang Mika yang tak akan kembali ke rumahnya untuk tinggal seperti biasanya.
Mika terkejut akan permintaan Ali. Sungguhkah laki-laki itu meminta sebuah pelukan kepada dirinya. Atau telinganya yang salah mendengar ucapan Ali.
"A-abang ngomong apa tadi?" Ali memastikan pendengarannya sekali lagi.
"Boleh Abang peluk kamu sekali saja, Dek," ulang Ali.
"Peluk? A-abang mau meluk aku?" Mika seakan linglung mendengar permintaan Ali.
Aku menganggukkan kepalanya cepat. "Boleh Dek?" Menatap Mika dengan mata penuh harap. Bahkan mata itu tampak sendu membuat Mika tak tega.
Namun di satu sisi Mika tidak ingin melakukannya karena, sama saja Ali menghianati kekasihnya dengan memeluk gadis lain. Meskipun Ali menganggap dirinya adik, tetap saja Mika merasa begitu. Tapi disisi lain Mika merasa sangat bahagia. Sejak datang ke rumah ini, ingin sekali Mika memeluk tubuh laki-laki itu barang sekalipun. Tapi, hingga kini impian itu tidak pernah sekalipun dia dapatnya.
Tapi kini, Ali dengan sendirinya meminta peluk kepada dirinya. Bahkan mata laki-laki itu tidak bisa berbohong jika dirinya memang benar-benar ingin minta sebuah pelukan.
"Tapi Bang--"
"Sekali saja Dek, Abang janji!" Mohonya.
Dengan spontan kepala gadis itu mengangguk. Padahal mulutnya akan berkata tidak, tapi tubuhnya menginginkan apa yang dikatakan Ali.
"Terima kasih Dek," Dengan segera Ali merengkuh tubuh mungil Mika
memeluk tubuh itu dengan erat. Menumpahkan segala rasa aneh yang kini bersarang dalam dirinya. Ada rasa takut, cemas bahkan rindu bergabung menjadi satu.
Cukup lama Ali memeluk tubuh Mika. Bahkan laki-laki itu mendaratkan ciuman pada kepala gadis itu. Ali tak berani untuk mengecup pipi Mika seperti dulu saat gadis itu masih kecil. Ali tak akan berani melakukan itu meski dirinya ingin.
"Terima kasih Dek, terima kasih sudah ngizinin Abang meluk kamu," Ali menampakkan senyum manisnya kepada Mika.
"Sama-sama Bang,"
TBC
__ADS_1