
"Tante, aku berangkat dulu ya, Tiana sudah mau sampai disini," pamit Mika.
"Iya Sayang, hati-hati di jalan,"
"Iya Tante,"
Mika menyandang tasnya di bahu. Berjalan dengan tergesa menuju pintu masuk. Deru mesin mobil terdengar di indra pendengaran Mika.
"Yok masuk Mika," Tiana membukakan pintu mobilnya untuk Mika.
Gadis itu langsung saja memasuki mobil Tiana pada samping pengemudi. Dengan segera Tiana melajukan mobilnya menuju kampus mereka. Kebetulan hari ini mereka ada jam pagi.
"Kenapa wajah kamu Mika? Kenapa seperti banyak pikiran gitu?" Tiana menatap sekilas wajah sahabatnya itu.
"Nggak ada apa-apa kok Tia,"
"Kamu tidak usah berbohong Mika. Kita itu sahabat bukan lagi satu minggu atau dua minggu, tapi sudah lebih dari satu tahun."
"Aku lagi mikir apa maksud Abang tadi pagi Tia,"
"Emang apa katanya?" Tiana tampak penasaran dengan ucapan Mika.
"Tadi pagi Tante Yum, nyuruh aku buat bangunin Abang. Nah pas aku bangunin Abang terlonjak, dan ngomong akan tanggung jawab. Jadi aku bingungnya itu tanggung jawab apa?"
"Aku kurang ngerti maksud kamu, Mika?"
Mika menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "Jadi ceritanya gini Tia. Tadi pagi saat aku mau sarapan terus Tante Yumna nyuruh aku buat panggil Abang Ali ke kamarnnya. Aku mencoba bangunin Abang tapi tidak juga bangun. Terus aku coba teriak didepan wajah Abang, nyatanya itu berhasil. Abang langsung meminta maaf sama aku bahkan air matanya juga sampai keluar. Abang bilang kalau dia bakal tanggung jawab sama aku. Gitu Tia," jelas Mika.
"Tanggung jawab apa?"
"Ihhh kalau aku tahu, sudah aku kasih tahu kamu, Tia. Tapi celana Abang juga basah tadi pagi aku lihat," ujar Mika dengan kening berkerut.
"Basah?" ulang Tiana.
"Iya Tia, mungkin Abang ngompol kali ya? Udah besar tapi Abang masih ngompol, hahhahah." Mika tertawa saat mengingat keadaan Ali tadi pagi.
__ADS_1
"Mungkin Mas Ali tidak ngompol Mika. Apalagi aku mendengar cerita kamu, sepertinya Mas Al itu lagi mimpiin kamu terus ya gitu deh," lirih Tiana ambigu.
"Gitu maksud kamu apaan Tia? Aku nggak ngerti," Mika bingung dengan ucapan Tiana.
"Ya mungkin Mas Ali mimpiin sedang melakukan hubungan gitu sama kamu, makanya celananya basah. Tapi entahlah, benar atau tidaknya ya hanya Mas Al yang tahu,"
Mika hanya mengangguk mendengarkan ucapan Tiana. Meski merasa agak bingung Mika hanya memilih untuk diam tanpa harus bertanya lagi. Mobil yang dikendarai Tiana akhirnya sampai di perkarangan kampus. Memarkirkan di tempat parkir yang tersedia di sana.
Kedua gadis itu turun dan melangkah beriring menuju dalam kampus. Dengan bercerita ria kegiatan yang mereka lakukan. Bahkan tak jarang Tiana menanyakan keadaan Ali kepada Mika. Ntah gadis itu memang suka atau hanya obsesi semata. Yang jelas Mika pun tidak tahu akan hal itu.
"Mika, Tiana!!" Kedua gadis itu menghentikan langkah kaki mereka saat mendengar suara bas seorang laki-laki yang berlari dengan cepat ke arah meraka.
"Ada apa Yogi?" Bukan Tiana yang menjawab melainkan Mika.
"Kalian bawa buku catatan kemaren tidak? Gue pinjem dong!" tanyanya kepada kedua gadis itu.
"Punya gue sudah di pinjam sama Riki kemaren Gi," jawab Mika.
"Punya lo ada nggak Tia?" Kini Yogi beralih menatap gadis di samping Mika.
"Sorry Gi, gue nggak bawa catatannya. Lagian lo nggak ada ngirim gue pesan,"
"Iya. Yuk masuk kelas," ajak Tiana yang diangguki Mika maupun Yogi.
Ketiga anak manusia berbeda generasi itu melangkah menuju kelas mereka yang terdapat pada tingkat dua. Melangkah dengan pelan, karena waktu masuk masih ada beberapa menit lagi.
Sampai di depan kelas, sudah banyak teman-teman mereka yang duduk di bangku masing-masing. Mika dan Tiana memilih duduk pada bangku paling depan. Sedangkan Yogi duduk tepat di belakang Mika.
Sepuluh menit berlalu akhirnya dosen yang mengajar di kelas Mika memulai pelajaran lagi ini. Tak ada yang berbicara apalagi dosen tu terkenal dengan sebutan dosen kiler. Banyak mahasiswa maupun mahasiswi yang benci dengan dosen itu. Tegas sih boleh, tapi jangan terlalu berlebihan.
***
Sedangkan di rumah sakit, Ali tengah makan siang di kantin rumah sakit. Duduk sendirian tanpa ada yang menemani dirinya seperti beberapa bulan yang lalu. Ali bersyukur Weni tak lagi datang ke ruangannya dan mengajak dirinya bercerita yang membuat Ali muak dan juga bosan. Wanita yang hanya pikirannya club, club dan club. Ali sungguh jijik mendengar tempat haram yang sering di sebut wanita itu.
("Assalamu'alaikum Abang,") Gawai yang Ali letakkan di samping makanannya berdering tanda ada pesan yang masuk.
__ADS_1
("Wa'alaikumsalam Mika, ada apa?") tanya Ali membalas. Jujur saja Ali masih malu karena ketahuan oleh Mika tadi pagi. Tapi apa boleh buat, tidak mungkin dirinya kan menghindar dari gadis yang serumah dengan dirinya itu. Apalagi setiap hari pasti bertemu.
("Bisa jemput Mika nanti Bang? Jam limaan?") Pesan gadis itu kembali di layar.
("Apa kamu kuliah sampai sore Dek? Tumben pulang terlau sore?")
("Tidak Bang, aku mampir dulu ke rumah Tiana, Bang, soalnya ada tugas kuliah yang aku di diskusikan bersama Tiana dan yang lainnya,")
(Baiklah, nanti Abang jemput. Jangan pulang duluan ya, tunggu Abang di sana,") pinta Ali.
Tak ada lagi pesan yang masuk melalui gawai milik Ali. Centang biru yang artinya pesannya sudah dibaca gadis itu.
Selesai makan siang Ali kembali ke ruangannya. Melanjutkan pekerjaan yang masih tinggal beberapa jam lagi. Pasien yang akan diperiksanya juga tak lagi banyak. Tapi cukup membuat Ali merasa lelah.
Ali memacu mobilnya menuju kediaman Tiana. Menjemput gadis kesayangannya di rumah temannya yang lumayan jauh dari rumah sakit. Mobil itu tepat berhenti di halaman rumah Tiana. Ali tak turun dari dalam mobil.
("Dek, Abang sudah di depan. Cepatlah kesini,") Ali mengirimi pesan kepada Mika.
Ceklis dua dan centang biru, artinya Mika sudah membaca isi pesannya. Mata tegas laki-laki itu melihat dua pasang anak manusia keluar dari pintu rumah Tiana. Tampak Mika berbicara kepada Tiana membuat gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Mika.
Mika berjalan perlahan menuju mobil Ali yang terparkir tak jauh dari pintu rumah. "Maaf menunggu lama ya Bang," Mika merasa tak enak dengan Ali.
"Tidak kok Dek, lagian Abang juga baru sampai," jujurnya.
Ali kembali melakukan mobilnya meninggalkan kediaman Tiana. Ali membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati angin sore yang begitu menyejukkan. Apalagi jingga sudah menampakkan sinarnya yang begitu indah. Begitupun dengan Mika yang menikmati perjalanan bersama Ali kali ini.
"Dek, kamu mau mampir tidak?" Ali mengalihkan sebentar penglihatannya kepada Mika.
"Tidak usah Bang, lagian juga tidak akan yang ingin aku beli,"
Ali hanya mengangguk. "Berarti kita langsung pulang ya Dek?"
"Iya Bang. Kita langsung pulang saja."
Mika turun lebih dulu dari Ali, lantaran laki-laki itu mematikan mesin mobil terlebih dahulu. "Terima kasih sudah jemput aku, Bang," ujar Mika saat Ali turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya Dek, sama-sama." Ali menampilkan senyum manisnya, membuat jantung Mika berdetak dengan kencang. Sungguh rasanya Mika ingin sekali mengatakan perasaanya kepada Ali. Gadis itu sudah tidak tahan menahan gejolak rasa cinta untuk Ali. Namun, nyalinya saat ini belum terlalu kuat untuk mendengar penolakan. Mungkin beberapa hari lagi akan dia katakan apa yang tengah dirasakannya kepada Ali. Mika harus memantapkan hatinya terlebih dahulu sebelum berkata jujur.
TBC