Diceraikan

Diceraikan
Kantor Polisi


__ADS_3

Sudah enam bulan lamanya Reyhan berada di dalam jeruji besi. Wajah yang dulu terlihat tampan, kini tak lagi. Bahkan jambang yang dulu terlihat rapi, kini tumbuh lebat di sisi wajahnya. Tubuh yang dulu berisi kini taakuk kurus bahkan, terkesan sangat kurus.


"Mas, gimana keadaan kamu sekarang?" Lani menatap wajah laki-laki yang dicintainya itu tampak lebih kurus dari biasanya.


"Seperti yang kamu lihat, Sayang," balasnya apa adanya. "Keadaan kamu gimana, Sayang? Ibu sama Reni gimna keadaannya?" lanjutnya.


"Reni alhamdulillah sehat Mas. Tapi, keadaan Ibu tidak baik-baik saja Mas. Akhir-akhir ini tampak sering sakit-sakitan. Bahkan tubuhnya Ibu tampak lebih kurus semenjak kamu ditahan," jawab Lani menunduk. Menahan air mata yang hendak keluar. Sungguh dia sangat sedih melihat keadaaan keluarganya.


"Apa kamu tak bawa Ibu ke rumah sakit, Sayang?" Reyhan tampak khawatir dengan keadaan Ibunya. Andai ini semua tak terjadi maka Ibunya tidak akan seperti saat ini. Semuanya salah dirinya yang tak berfikir hendak melakukan sesuatu. Hingga dampaknya pada keluarga kecilnya.


Lani mengangguk. "Sudah Mas. Tak ada perubahan sedikitpun Mas. Bahkan semakin menjadi," Lani menghapus air mata yang keluar dari matanya.


Reyhan tak dapat melakukan apapun saat ini. Dengan keadaan yang masih ditahan di dalam jeruji besi. Bahkan masa tahannya masih lebih dari dua tahun lagi. Masih lama dirinya akan keluar dari tahan ini. Sungguh miris kehidupan yang dialaminya saat ini.


"Tolong jaga Ibu ya Sayang. Hanya kamu sekarang harapan Mas untuk menjaga Ibu. Do'akan Mas sehat-sehat saja di sini," pintanya kepada sang istri.


Lagi Lani mengangguk. "Iya Mas, aku pasti akan jaga Ibu dengan baik. Kamu juga harus sehat Mas." jawabnya. "Ya sudah Mas, aku pulang dulu. Lagian waktu berkunjung juga sudah habis," Lani menarik tangan suaminya untuk di salami dengan takzim.


"Iya Sayang. Kamu hati-hati di jalan," Reyhan mendaratkan ciuman pada dahi sang istri.


"Iya Mas,"


****


Saat ini Reyhan sudah kembali ke dalam jeruji besi, yang sudah beberapa bulan ini menemani dirinya. Bahkan disana dirinya juga diperlakukan semena-mena dengan temannya. Lantaran keadaannya yang tak lagi normal, membuatnya menjadi budak bagi temannya. Meski di dalam sana hanya terdapat tiga orang. Reyhan akan menjadi tukang pijit bagi mereka.

__ADS_1


Meski demikian, mereka tak pernah mengambil makan Reyhan. Karena, mereka juga punya perasaan. Hanya saja mereka akan memperlakukan Reyhan untuk memijit diri mereka yang terasa lelah. Lantaran sudah lama tak keluar dari sana. Bahkan tak ada sanak saudara yang menjenguk mereka. Hanya Reyhan saja yang ada keluarga yang menjenguk.


"Hai Rey, pijit saya sekarang. Tubuh saya terasa sangat lelah," ujar salah satu dari mereka. Menyodorkan tangannya yang akan di pijit Reyhan.


Reyhan hanya mengangguk saja. Tak ada penolakan Meski dia mau. Dia tak mau lagi mereka memukul kakinya yang belum sembuh total. Jari-jari panjang itu mulai memijit lengan besar laki-laki itu.


"Apa tadi istri kamu lagi?" tanyanya saat Reyhan asik memijit lengan laki-laki itu.


"Iya Mas." jawab Reyhan sekenanya.


"Keluarga kamu yang lain emangnya nggak ada?" Kembali laki-laki itu bertanya.


"Ada Mas, Ibu saya. Tapi saat ini dia tengah sakit. Lagian Ibu saya juga ngak bisa pergi kemana-mana," jawab Reyhan dengan mata yang sudah mengembun. Mengingat kata-kata istrinya tadi, membuat hati Reyhan mencelos.


Ada sesak di dada Reyhan saat ini. Sungguh hatinya sangat sakit mengingat apa yang sudah dia katakan untuk putranya kala itu. Memberi fitnah keji serta membuat anaknya hampir kehilangan bahwa karena, dirinya yang marah serta dendam tak mendasar.


"Oooh, semoga Ibu, kamu cepat sembuh,"


"Terima kasih Mas,"


"Iya. Kamu bersyukur masih ada keluarga yang datang untuk menjenguk. Tidak seperti kami, tak ada satupun keluarga yang peduli," Teman satunya lagi ikut menimpali ucapan mereka.


"Iya, kamu masih beruntug Rey." lanjut laki-laki yang kini tenaga di pijit Reyhan.


"Iya alhmadulillah Mas," Reyhan menampilkan senyum manisnya kepada mereka berdua. Meskipun Reyhan sering dijadikan tukang pijit mereka, namun mereka tetap baik kepada Reyhan.

__ADS_1


"Jujur saya juga pengen sekali ada keluarga yang jenguk. Tapi ya karena saya sudah jadi tahanan di kantor polisi ini, tak ada lagi yang peduli. Padahal dulu mereka berlomba-lomba dekat dengan saya," Laki-laki yang di pijit Reyhan tampak menunduk. Mengingat masa-masa dimana keluarganya tampak hangat dah harmonis.


"Sabar Mas, aku yakin kok suatu saat mereka pasti akan datang menjenguk Mas kesini," Reyhan berusaha menenangkan laki-laki itu.


"Tidak akan mungkin. Jika memang begitu kenapa selama setahun ini mereka tak pernah datang sekalipun. Bahkan mereka seakan lupa dengan saya, yang dulu berjuang demi kebutuhan hidup mereka." jawabnya.


"Sama Mas, bahkan istri dan anak saya tidak pernah datang ke sini untuk menjenguk saya, barang sekali saja, semenjak saya masuk ke sini. Seakan mereka lupa dengan saya. Seakan saya bukanlah keluarga mereka lagi," Teman Reyhan yang duduk di depannya imut nimbrung. Tampak raut sedih dari wajah laki-laki itu.


"Mungkin saja mereka sudah bahagia dengan kehidupan mereka di luar sana. Sehingga lupa dengan saya yang ada disini," tambahkan lagi.


"Mungkin dari sana Masnya bisa menilai. Jika mereka bukanlah yang terbaik buat Mas. Jika mereka yang terbaik, tidak akan mungkin mereka akan membiarkan Mas menahan rindu sendirian di dalam sini," ucap Reyhan dengan bijak.


"Iya kamu benar banget Rey. Mungkin inilah cara Allah menguji saya dan juga mereka. Menguji seberapa besar mereka menerima saya dalam kehidupan mereka. Atau malah hanya menikmati hidup saat saya tidak ada di dekat mereka dan lupa jika mereka memiliki saya yang jauh dari mereka" ujar laki-laki yang di pijat Reyhan.


Sedangkan laki-laki yang ada di depan mereka hanya menganggukkan kepalanya. Setuju dengan apa yang dikatakan teman satu tempatnya.


****


Reyhan tengah duduk termenung di samping temannya yang sudah lebih dulu tidur. Pikiran Reyhan menerawang pada Ibunya yang ada di rumah. Berbagai pikiran buruk kadang kala menghampiri laki-laki itu. Rasa menyesal yang teramat dalam kini dia rasakan. Reyhan hanya menampilkan senyum manis saat dia dan temannya bercerita. Namun, jauh di lubuk hatinya terdapat penyesalan yang terdalam.


Menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan untuk putranya. Menyesal dengan keputusan tak mendasar yang dia lakukan. Menyesal karena sudah menfitnah putranya sendiri. Intinya dia teramat menyesal dengan apa yang sudah dilakukan. Bahkan untuk minta maaf saja kini dia sudah tak bisa. Meminta diwakili sama istrinya dia juga tak yakin itu akan berhasil.


"Ya Allah, dada ini teramat sakit. Sakit karena telah mencelakai anak kandung hamba sendiri. Memberinya fitnah keji. Bahkan dengan teganya diri ini memutuskan hubungan darah dengannya. Sungguh maafkan hamba ya Allah. Ampuni kesalah hamba," Air mata sudah merembes di pipi Reyhan. Laki-laki itu menangis dalam penyesalan yang mendalam.


TBC

__ADS_1


__ADS_2