
Semakin hari rasa yang dimiliki Ali semakin besar. Rasa cinta itu tumbuh semakin berkembang dihatinya. Tak pernah sekalipun Ali melewatkan untuk melihat foto Mika di galeri HPnya. Sebelum tidur pun Ali pasti akan melihatnya berulang-ulang. Sungguh indah foto kebersamaan mereka yang penuh dengan senyum manis.
Ali turun dari mobilnya saat telah sampai di parkiran rumah sakit. Hari ini kegiatannya lumayan padat. Pasiennya pun lebih banyak dari hari sebelumnya. Maka dari itu Ali datang agak pagi hari ini. Sebelum memeriksa keadaan pasiennya Ali memeriksa kertas putih yang bertumpuk di atas meja kerjanya. Cukup pegal mata Ali melihat dan membaca-baca tulisan tinta hitam pada kertas itu.
Satu-persatu pasien telah selesai di periksa Ali. Lagi-lagi dengan kasus yang sama, permen atau coklat yang membuat gigi anak-anak itu sakit bahkan sudah banyak yang berlobang karena kecanduan dengan dua makanan itu.
Memang sulit jika seorang anak yang jatuh cinta pada permen dan coklat akan sulit untuk di hentikan. Bahkan banyak pula mereka yang menangis karena keinginan tak di penuhi. Jikapun bulan lalu sudah tak sakit lagi, mereka akan datang dua bulan kemudian. Karena sang anak yang kembali meminta makanan kesukaan mereka.
Waktu istirahat makan siang akhirnya tiba. Ali berencana untuk makan di cafe dekat rumah sakit. Ali mengayunkan kakinya menuju cafe dengan tangan yang salah satunya memegang benda pilih yang layar depannya terdapat foto Mika dan dirinya saat Mika wisuda kala itu.
"Mbak nasi goreng telur dadar sama jus mangga satu," pinta Ali saat dia sudah duduk di bangku paling pojok.
"Baik Mas," Karyawan itu meninggalkan meja Ali setelah mencatat pesanan Ali.
Sambil menunggu Ali membuka galeri HPnya. Melihat-lihat foto dirinya dan Mika untuk melepas rasa rindu yang kian hari kian menggebu. Cemburu buta yang dia rasakan akhir-akhir ini sebisa mungkin Ali tahan. Karena teringat lagi dengan nasehat Yumna agar dirinya jangan membawa masalah hati pada pekerjaan. Dia harus bersikap profesional dalam bekerja.
"Terima kasih Mbak," Ali menerima pesanannya saat Karyawan itu meletakkan di mejanya.
Ali menikmati makan siangnya setelah meletakkan benda pipih itu di samping jusnya. Menikmati setiap cita rasa yang keluar dari makanannya.
Cukup lama Ali memakan nasi goreng itu hingga habis. Kini mata tegas itu menjelajahi setiap sisi cafe. Mata Ali menangkap sosok yang sangat di rindukan tengah duduk dengan ketiga orang yang jelas 2 sudah di ketahui Ali.
Netra Ali tak pernah lepas dari wajah cantik Mika, Ali melihat bahkan tanpa berkedip sekalipun. Seakan-akan Ali tidak mau melewatkan barang sedetikpun wajah cantik gadis berhijab itu. Ali ingin menghampiri Mika namun, Ali tak mau menganggu waktu makan cintanya itu seperti waktu itu.
"Bisa kita bicara Dek?" Ali memegang pergelangan tangan Mika saat keempat orang itu hendak keluar dari restoran.
__ADS_1
"Aku harus ke kantor Bang, waktu masuk kerja hampir tiba," balas Mika.
Mika cukup terkejut saat seseorang memegang tangannya tanpa permisi. Melihat siapa pemilik tangan itu membuat Mika tampak lega. Pasalnya dia takut jika orang lain yang memegang tangannya lantaran Yanda berjalan di depannya.
"Sebentar kok Dek, Abang tidak akan lama-lama ngomongnya," bujuk Ali dengan netra penuh harap.
Mika menatap ketiga orang yang kini menatap dirinya. Tampak Tiana menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Bang," Ali bersorak dalam hatinya.
Yanda menatap Mika dengan pandangan sendu. Belahan jiwanya nyatanya mencintai dokter muda yang berada tak jauh dari dirinya itu. Tampan!! Itulah satu kata untuk Ali dari Yanda. Bahkan ketampanan Ali mengalahkan ketampanan Yanda. Pantas saja Mika begitu mengilai laki-laki itu ketimbang dirinya. Selanjutnya mereka bertiga meninggalkan Mika yang ntah dibawa kemana oleh Ali.
"Abang mau ngomong apa? Aku nggak punya banyak waktu Bang," Mika menatap Ali. Kini ke-dua orang itu berasa di taman yang minim pengunjung. Kebetulan di samping restoran ada sebuah taman yang banyak di tumbuh bunga-bunga yang sangat cantik. Bahkan angin segar sanhat terasa menerpa wajah.
Deg!!!
Jantung Mika berpacu dengan kencang. Tak menyangka jika Ali mengajaknya bertemu untuk mengatakan perasaannya. Ntah itu perasaan yang sesungguhnya atau hanya sekedar omong kosong, Mika sungguh tak tahu.
"Cinta?" Mika menatap Ali yang mengangguk.
"Iya Abang cinta sama kamu, Dek."
"Sejak kapan Abang cinta sama aku?"
__ADS_1
"Abang tidak tahu entah sejak kapan cinta itu hadir untuk kamu, Dek. Intinya Abang sangat mencintai kamu," Senyum manis mengembang dari bibir Ali.
"Apa Abang mengatakan itu untuk menjadikan aku pelampiasan karena cinta Abang kandas di tengah jalan? Apa Abang hanya menjadikan aku pelarian dengan mengatakan cinta tulus kepadaku?" Mika menatap manik elang milik Ali. Laki-laki tampan yang sangat dia cintai.
"Tidak Dek, Abang serius mencintai kamu. Abang tidak pernah ingin menjadikan kamu pelarian ataupun pelampiasan atas kandaskan hubungan Abang," Ali menatap netra Mika dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Apa semudah itu Abang melupakan Kak Yola? Apa semudah itu Abang memberikan hati abang untuk orang lain? Padahal hubungan Abang dan dia bukan lah satu bulan tapi tahunan?"
Ali terdiam mendengar ucapan Mika. Menyesapi kata-kata yang keluar dari mulut Mika. Menelaah apakah rasa cinta Ali masih ada atau bahkan memang tak ada untuk Yola.
"Abang serius mencintai kamu, Dek," kini tangan Ali meraih tangan lembut Mika. Memegangnya dengan erat. Dapat Mika rasakan jika tangan Ali saat ini terasa dingin serta berkeringat.
Mika tak bisa mempercayai apa yang kini di katakan Ali. Sungguh penolakan waktu itu sangat jelas diingatan Mika. Ali menolaknya bahkan dengan santainya. Mika hanya takut Ali akan mempermainkan hatinya. Setelah terlena dalam manisnya cinta lalu memberikan empedu yang sangat pahit untuknya. Mika tidak mau itu terjadi.
"Maafkan aku, Bang. Aku tidak percaya dengan ucapan Abang. Bahkan aku merasa ucapan Abang begitu terburu-buru." ucap Mika meragukan Ali. "aku balik dulu ke kantor Bang, waktu masuk tinggal 8 menit lagi." Mika melirik arloji yang ada di tangannya.
"Abang serius Dek. Sudah hilanglah rasa cinta itu untuk Abang? Tidak adakah Abang di hati kamu, Dek? Sudah tidak Abangkah yang bertahtakan raja di hati kamu, Dek?" Ali berteriak saat Mika berjalan menjauh dari dirinya.
"Buktikan jika Abang memang serius sama aku jangan hanya bisa melontarkan omong kosong belaka!" Mika menghentikan langkahnya sejenak.
"Baiklah Abang abang Buktikan sekarang kepada kami, Dek. Ayo kita pacaran!!" Sekali lagi Ali berteriak. Namun kali ini Mika tak menghentikan langkahnya. Mika terus meninggalkan taman tersebut dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan Ali mematung melihat Mika yang meninggalkan dirinya. Bahkan Mika tak memberikan jawaban dari ucapannya. Atau memang Cinta itu sudah bukan lagi miliknya. Ali menendang angin dengan kakinya. Sesak di dadanya kembali datang. Bahkan mata Ali mengeluarkan embun yang menetes dari pelupuk mata tegas itu.
__ADS_1
TBC