
Ali bekerja seperti biasanya, tak lagi larut dalam kesedihan karena kehilangan Yumna. Bekerja profesional di rumah sakit, mengalihkan pikiran tentang sang bunda yang tak lagi berada di sisinya.
Percayalah sekuat apapun Ali mengenyahkan pikirannya dari sang bunda saat sendiri pasti akan kembali mengingat kebersamaan mereka, kebahagiaan yang mereka lalui bersama kala itu.
Ali mengusap kasar wajahnya melihat tumpukan kertas putih biodata pasien yang hari ini akan di tanganinya. Kepala Ali sebenarnya sudah pusing dari tadi pagi. Belum lagi tubuhnya terasa lemas dari semalam di tambah dengan perutnya yang belum didisi dari pagi lantaran tidak minat untuk sarapan. Bahkan untuk melihat nasi saja tidak membuat Ali berselera.
Ali meletakkannya kepalanya pada meja kerjanya. Memejamkan matanya karena kepalanya yang semkain bertambah pusing.
Setelah sekian lama Ali memilih berdiri keluar dari ruangannya. Berjakan menuju kantin dengan wajah pucat.
"Mbak bubur ayam sama teh panas satu." pinta Ali kepada penjual di sana.
"Baik Mas,"
Ali menyesap teh panas yang sudah berada di depannya. Menatap nanar pada bubur yang berada di samping teh. Gejolak dalam perut Ali semakin menjadi membuat Ali keluar dari kantin. Sebelumnya Ali lebih dulu meronggoh sakunya untuk mengambil uang 50 ribuan.
"Huek...,huek...," Ali mencuci mulutnya yang tidak mengeluarkan apa-apa. Pusing dikepalanya semakin menjadi membuat Ali berpegangan pada dinding toilet.
Sekian lama Ali berada di sana akhirnya Ali memilih untuk kembali ke ruangannya. Memegang kepalanya yang semakin pusing dan mata berkunang-kunang.
Waktu dua jam sudah cukup bagi Ali untuk mengistirahatkan tubuhnya dari rasa pusing dan mual. Kini Ali mulai memeriksa beberapa pasiennya.
"Tolong awasi putrinya saat memakan coklat ataupun permen ya Bu dan juga makanan yang manis-manis yang bisa memperparah penyakit putri Ibu. Gigi bagian dalamnya sudah banyak yang pecah-pecah dan juga berlubang." ucap Ali kepada wanita yang berada di depannya.
"Baik Mas, terima kasih,"
"Jangan lupa obatnya di tebus sebelum pulang Bu," Ali menyodorkan serep obat yang akan di tebus wanita itu.
Wanita itu mengambil resep yang di sodorkan Ali lalu, keluar dari ruangan Ali bersama putrinya.
Waktu makan siang Ali memilih untuk berada di ruangannya. Perutnya masih belum bisa menerima makanan apapun kecuali air putih dan teh manis.
"Dek, sudah makan?"
"Dek, kamu makan dimana?"
"Dek, apa mau Abang temenin makan siang di cefe atau restoran?"
"Dek, kenapa WhatsAppnya nggak aktif?"
__ADS_1
"Dek, Abang rindu,"
Itulah beberapa pesan yang dikirim Ali untuk istrinya yang bekerja di perusahaan depan. Tapi istrinya itu tidak aktif padahal sekarang sudah masuk waktu istirahat makan siang.
\*\*\*\*\*
Sedangkan di perusahaan Mika tengah ditemani Tiana di toilet karena mika tidak ada henti-hentinya memuntahkan isi perutnya. Apa yang tadi dimakannya keluar tanpa sisa. Badan Mika semakin lemas karena perutnya yang kembali kosong.
"Mika ,kamu kenapa? kamu sebenarnya sakit apa Mika? Mika yuk kita ke rumah sakit untuk meriksa tubuh kamu," Tiana membantu mengurut tengkuk Mika.
"Aku nggak apa-apa Tia. Mungkin aku hanya masuk angin biasa. Semalam aku tidur pakai baju tipis," Jujur Mika.
"Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu, Mika. Kita ke rumah sakit saja ya, lagian dari sini juga dekat," bujuk Tiana yang mendapat gelengan dari Mika.
"Aku nggak ap..., Huek!!! Huek!!!," Kembali Mika memuntahkan isi perutnya yang hanya mengeluarkan air bening karena, makanan yang dimakan mika sudah keluar semuanya.
"Aku nggak apa-apa Tia. Aku han...,huek....,huek...!"
"Nggak apa-apa gimana maksud kamu Mika? Sudah jelas kamu muntah-muntah gini. Pokoknya kita harus kerumah sakit. Nggak ada penolakan." Tekan Tiana memapah Mika keluar dari toilet saat sahabatnya itu tidak lagi muntah.
"Tia, aku nggak kuat. kepalaku pusing Tia," Dalam sekejap Mika sudah ambruk dilantai dingin itu.
"Mika," Tiana menepuk-nepuk pipi sahabatnya namun tak ada reaksi dari Mika sama sekali.
"Kak Yan, tolong mika pingsan di dekat toilet." ucap Tiana dengan nafas ngos-ngosan karena berlari keruangan kerja mereka.
Bergegas Yanda menuju toilet wanita. Membantu Mika yang sudah tak sadarkan diri untuk dibawanya menuju lift.
__ADS_1
"Dok tolong teman saya, dia pingsan." ucap Yanda setelah sampai di rumah sakit.
Bergegas dokter itu membawa Mika ke dalam ruangan UGD. Menyisakan Yanda dan Mika di depan ruangan bercat putih itu.
"Tia apa kamu bawa handphone Mika?"
"Nggak Kak, kenapa?"
"Kita harus kasih tahu suaminya jika Mika pingsan. Lagian kita juga tidak bisa lama-lama disini Tia. Pekerjaan kita masih banyak kalau Mika masih bisa kita minta surat izinnya."
"Kakak tunggu disini dulu, biar aku samperin suami Mika keruangannya. Kebetulan aku pernah beberapa kali nemenin Mika kesana."
"Baliklah Tia, tapi jangan terlalu lama ya,"
Akhirnya Tiana sampai didepan ruangan Ali berada. Mengetuk pintu putih itu sebanyak tiga kali. Barulah Tiana masuk saat mendengar instruksi dari dalam sana.
"Tiana? Ada apa?" Ali mendongak menatap sahabat istrinya yang berada di dalam ruangannya dengan wajah penuh tanya.
"Mika pingsan Mas, sekarang Mika berada di UGD sedang di periksa dokter,"
Tanpa menjawab ucapan Tiana, Ali bergegas meninggalkan ruangannya. Rasa cemas menghantui Ali. Tiana hanya menggeleng melihat kelakukan suami sahabatnya. Senyum kecil terbit di bibir Tiana karena melihat Ali yang sangat cemas dengan istrinya.
Didepan ruang UGD hanya tinggal Ali karena Tiana dan Yanda sudah kembali ke perusahaan.
"Dok, gimana keadaan istri saya?"
Dokter itu tersenyum sekilas. "Alhamdulillah istrinya Anda baik-baik saja Dokter Ali. Selamat istri anda sekarang tengah berbadan dua alias hamil,"
"Hamil? Benarkah dokter istrinya saya hamil?" Ali sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini.
"Iya Dokter, silahkan temui istri anda didalam dia sudah siuman."
"Dek," panggil Ali menghampiri istrinya. "terima kasih sudah memberikan Abang kebahagiaan yang tidak akan bisa Abang rangkai dengan kata-kata. Terima kasih sudah memberikan Abang seorang bayi yang kini tengah bersemayam didalam sini," Ali mengusap lembut perut rata istrinya.
"Sama-sama Abang. Apa Abang bahagia?"
"Jangan ditanya Dek, Abang sangat-sangat bahagia. Terima kasih." Ali mendaratkan ciuman pada pipi dan turun pada perut rata istrinya.
__ADS_1
TBC