Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Bertemu Alya


__ADS_3

            Delapan bulan telah berlalu.waktu berjalan dengan begitu cepat. Adrian masih fokus dengan layar laptop kerjanya. Terdengar ketukan dari arah pintu.


 


              " Ya masuk.!" 


 


               "Maaf tuan, saya mau mengingatkan sebentar lagi kita mau meeting." Ucap Puspa yang berdiri di depan Adrian .


     


               "Ya , apakah ada lagi." Tanya Adrian tanpa menatap.


 


               "Iya tuan, kita meeting di cafe Coffe  yang sederhana." Puspa menjeda perkataannya.


 


              "Kenapa di sana,  memang tidak ada tempat lain.?" Adrian mengerutkan dahi nya heran.


 


              " Itu permintaan klien kita tuan, karena ingin menikmati suasana terbuka.?" Jawab Puspa.


   


             Adrian bangkit dari tempat duduknya, mengekor di belakang Puspa mengikuti langkah Adrian.


  


        


         Tiba dimana Puspa memberitahukan tempat yang diminta klien.Mereka pun menuju ruangan dimana disana sudah menunggu klien yang dikatakan Puspa.


 


                "Maaf ,  sudah membuat anda menunggu ." Adrian menjabat tangan klien tersebut.


 


                "Tidak apa-apa tuan, kenalkan saya  Iqbal, utusan dari pak Handoko, dari proyek yang berada di Bandung, kedatangan saya kesini karena beliau berhalangan hadir." Jawab Iqbal.


 


               Meeting pun berjalan lancar Adrian menyetujui persentase yang disampaikan utusan mitra kerjanya, ia pun bersepakat untuk menandatangani kontrak kerjasama.


 


             Alya  yang sedang bekerja membersihkan meja, mengalihkan perhatiannya sejenak.


 


              " Kamu kenapa Alya, kamu terlihat pucat sekali.?" Tanya Lyra.


 


            Lyra salah satu temannya yang sama- sama bekerja di cafe.


 


            "Entahlah perutku rasanya sangat kram sejak semalam."  Ucap Alya .


 


           Mendengar perkataan Alya seketika temannya menjadi panik.


               "Ya ampun, apakah kamu sudah mendekati mau lahiran Alya.?" Tanya Lyra panik.


 


               "Sebenarnya belum, tapi entah kenapa beberapa hari ini perutku sering mengalami kram Lyra." 


 


              Alya membelai perutnya yang kini terlihat semakin membesar.Ya, kejadian malam itu kini telah menumbuhkan benih kehidupan baru yang kini berada di dalam rahimnya.


       

__ADS_1


          Sebenarnya Alya harus cuti dari pekerjaannya, menjelang hari persalinan.Akan tetapi karena kebutuhan hidup ia memaksakannya untuk tetap bekerja. Ia tak ingin menggantungkan hidupnya dengan ibu Lastri yang sudah menolongnya. Beruntung pemilik cafe masih mengizinkannya untuk bekerja meski dalam keadaan hamil tua.


 


               "Bagaimana kalau kamu minta izin sama bos, untuk istirahat, sebentar lagi kita sudah gantian shift  kerja." Ucap Lyra memberi saran.


 


             " Iya, Lyra kalau begitu aku bawa ini ke dapur dulu ." 


 


            Alya bergegas mengangkat nampan yang di atas meja , nampan yang berisikan mangkuk dan gelas- gelas kotor. Akan tetapi , tiba- tiba saja ia bertabrakan  dengan pengunjung cafe. Nampan yang di tangannya jatuh ke lantai pecahan kaca berhamburan dimana- mana. Membuat perhatian pengunjung cafe mengarah ke mereka.


 


           "Hey, bisa kerja yang benar gak sih, tuh..kan pakaianku jadi kotor.!"  Maki wanita yang menabrak Alya.


 


         Kemejanya yang berwarna putih jadi kotor karena terkena tumpahan kopi.


 


              "Maafkan saya nyonya, saya benar-benar tidak sengaja." Alya membungkukkan kepala meminta maaf kepada wanita di depannya. Alya menyambar tissue yang terletak di atas meja untuk membersihkan pakaian wanita tersebut.


 


            Tetapi, wanita itu tiba- tiba mendorong tangan Alya dengan kasar.


 


   


                "Ih…sudah -sudah ." 


 


                "Hah.., kamu.?" Wanita itu memekik.


 


             Alya mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah wanita arogan yang ada di depannya. Seketika mata Alya membulat sempurna. Bagaimana tidak wanita di depannya yaitu Puspa adik angkatnya.


 


 


        Akan tetapi bukan hanya kedatangan Puspa yang berada di depannya yang membuat Alya terkejut. Namun juga pria yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.Ya .Adrian yang telah membeli kesucian nya sekaligus lelaki yang sudah menanam benih yang sekarang tumbuh di dalam rahimnya.


             Ada yang berbeda dengan penampilan Puspa, dia tampak tak seperti biasanya,penampilan yang sekarang tidak seperti Puspa yang dulu kini penampilannya tampak berkelas.


 


                  "Puspa, kamu ada di sini.?"  


           Tangan Alya berusaha meraih Puspa untuk memeluk, tapi dengan kasar Puspa menepis tangan Alya seolah dia tak mengenalnya.


 


                   "Ihhh..,apaan sih pegang-pegang." 


 


                   


              Siang itu Puspa dan Adrian memang bertemu klien di cafe itu.Puspa memang tidak mengetahui jika Adrian adalah lelaki yang telah membeli Alya.Karena malam itu Baron kalah judi hingga Alya yang jadi korban taruhannya. Puspa sangat terkejut mendapati kakak angkatnya menggunakan seragam pegawai cafe.Puspa memandangi Alya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


     


           


               "Wow…, kejutan sekali bisa bertemu di sini.?" Ternyata sekarang kamu bekerja sebagai pelayan cafe ya.?"  Ucap Puspa dengan nada sarkas.


 


        


                Alya hanya diam karena kejadian malam itu membuat hidupnya menjadi terlunta-lunta. Wajah Alya seketika terlihat sangat pucat. Bibirnya mengatup rapat, badanya gemetar  Alya tak berani lagi mendongakkan kepala. Apalagi tatapan Adrian benar-benar mengintimidasinya.

__ADS_1


 


     


         "Oh ya, sejak kapan kamu hamil.?" Boleh aku tahu siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu.?" Apa jangan - jangan lelaki dari anak itu banyak.?" Sehingga kamu tidak mengingatnya.!" 


 


             


              Alya tidak menyahut celotehan dari Puspa. Pertemuan yang sangat menyakitkan rasa rindu yang membuncah ingin bertemu ibu Maria harus ditahan karena sikap Puspa yang kini berubah. Terlebih sakit lagi hati Alya berdiri di depannya lelaki yang telah membeli kesuciannya yang menyebabkan kini ia hamil. Adrian yang harus bertanggung jawab kehamilannya itu kini tampak tak peduli.


 


        


           Tak ingin berdebat dengan Puspa , Alya berjongkok tangannya memunguti pecahan kaca yang berserakan di lantai. Alya menahan air mata yang hendak jatuh menetes.


 


      


            Adrian hanya menatap dingin tanpa ekspresi. Sejak tadi Adrian terpaku memandangi perut Alya, yang kini sudah membesar. Meskipun baru satu kali bertemu, setelah malam itu namun Adrian masih mengenali pemilik wajah polos itu yang selama ini membayangi kemanapun pergi. Wanita yang dibelinya beberapa bulan yang lalu untuk memenuhi hasratnya  yang tak tertahankan malam itu ia membelinya melalui mucikari yang bernama Alvin, anak buah bos Marco.


 


             "Maaf saya harus ke belakang."


 


    Alya berjalan dengan tergesa-gesa menuju arah dapur. Ia ingin menghindari perdebatan dengan Puspa. Alya tak ingin dipecat dari pekerjaanya.


 


    


                Setibanya di dapur ia menghela nafas panjang untuk mengurai rasa sesak di dada. Punggungnya ia sandarkan di dinding, tangannya menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


 


               Adrian belum mampu menghilangkan  dari rasa terkejutnya, pertemuan yang tak terduga dengan Alya. Pandangan Adrian ia alihkan ke arah dapur, karena setelah masuk dapur Alya tak kunjung keluar.


 


                "Puspa, apakah kamu mengenal  perempuan tadi.?" Tanya Adrian.


 


          Puspa terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan dengan Adrian. Tidak mungkin ia akan memberitahu Adrian yang sebenarnya bahwa Alya kakak angkatnya, karena usahanya mendapatkan perhatian Adrian sangat lah sulit.


 


               "Oh dia Alya tuan, tetangga lama saya, sebenarnya saya tidak mengenal begitu dekat. Tetapi yang saya tahu dia itu bukan wanita baik- baik.!" Jawab Alya menyakinkan.


 


 


                "Maksud kamu bukan wanita baik- baik bagaimana.?" Tanya Adrian penasaran.


 


            "Dia itu wanita malam, saya heran kenapa pemilik cafe ini mau memperkerjakan wanita seperti itu. Apa gak takut ketiban sial, mana hamil lagi gak jelas banget.!" Puspa berkata dengan nada sarkas.


 


          


          Adrian diam sejenak mencoba mencerna perkataan Puspa. Sedikit keraguan menjalari pikirannya. Jauh di dasar hatinya tidak menerima perkataan Puspa. Karena Adrian tahu bahwa dirinyalah orang yang pertama menyentuh Alya. Bahkan Adrian sangat yakin dari sikap Alya malam itu, Alya belum pernah berhubungan dengan seorang laki- laki.


 


          


                 


 


     

__ADS_1


        


           


__ADS_2