Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
penyakit Adrian.


__ADS_3

         Adrian mengintip dari balik pintu kamarnya , terlihat kamar Alya terbuka separuh , terlihat Alya tengah sibuk mempersiapkan diri mau berangkat ke sekolah privatnya. Alya yang tidak menyadari sepasang mata Adrian tengah memperhatikan setiap pergerakannya, kini berjalan menuju ke box bayi Arjuna yang sedang menangis


 


           "Aduh , anak ibu kok rewel sih, sih.?" Ucap Alya menggendong Arjuna yang sedang menangis.


 


         Adrian yang masih di balik pintu, kini berjalan perlahan mendekati pintu kamar Alya, karena  sejak tadi Arjuna tetap menangis meskipun sudah diberi sumber kehidupannya. 


 


         "Alya , kamu belum berangkat.? Tanya Adrian.


 


          "Belum, ini Arjuna dari sejak tadi rewel terus.?" Jawab Alya menoleh ke arah sumber suara.


 


           Adrian berjalan mendekati Alya yang tengah kesulitan menenangkan Arjuna.


 


             "Sini sama papa sayang." 


 


           Adrian meraih tubuh Arjuna yang masih dalam gendongan Alya, Adrian pun membawa tubuh mungil itu keluar kamar dan membawanya ke ruang keluarga. Adrian membaringkan tubuhnya di sofa.Lalu meletakkan tubuh Arjuna di atas dadanya, seperti obat mujarab , Arjuna yang semula menangis kini reda dengan sendirinya.


 


         Alya yang memperhatikan Adrian dari balik kamarnya, tersenyum tipis menyaksikan pemandangan indah di matanya. Alya berjalan mendekati Adrian yang sedang bermain dengan Arjuna.


 


         "Arjuna , suka dipeluk papa ya , sayang." Ucap Alya berdiri di samping Adrian yang tengah berbaring di sofa.


 


         Beberapa hari yang lalu , Arjuna pun sempat rewel , Rima sang baby sitter dan Alya pun mengalami kesulitan menenangkan Arjuna, akan tetapi jika sudah di pelukan sang penakluk Arjuna  langsung diam dan tidak rewel lagi. Adrian bagaikan candu bagi sang anak. Kini Arjuna tertidur dengan pulasnya, di pelukkan sang papanya. Alya melirik jam yang tertempel di dinding , jam menunjukkan pukul 08.00.pagi . 


 


       "Maaf , apakah anda tidak ke kantor.?" Tanya Alya canggung.


 


        Adrian melirik  Alya sekilas dari sudut matanya, terlihat sekali Alya yang dulu dan Alya yang sekarang. Walaupun Alya diberikan fasilitas oleh Adrian tapi Alya masih berpenampilan sederhana , Alya tidak pernah menggunakan fasilitas yang diberikan Adrian. 


       


         "Iya sebentar lagi." Jawab Adrian singkat.


        Di saat Adrian akan bangkit dari pembaringannya di sofa,kepala Adrian tiba-tiba sakit, matanya berkunang-kunang, keluar darah segar dari hidungnya , hingga membuatnya mengurungkan niatnya untuk bangkit dari duduknya. Adrian meraih tissue yang terletak di atas meja lalu menempelkannya ke lubang hidungnya. 


 


         "Kamu kenapa mas.?" Kamu sakit.?" Reflek Alya panik karena melihat noda darah menodai baju yang dikenakan Adrian.


 


        Adrian menatap lekat wajah Alya, yang berdiri di depannya , ada rasa bahagia di hati Adrian , panggilan baru yang diluncurkan lewat bibir Alya dan bentuk perhatian kecil yang diberikan Alya , membuat Adrian terasa melayang di udara. 


 


         "Aku tidak apa-apa." Ucap Adrian.


 


          " Gak apa-apa bagaimana, itu hidung kamu keluar darah mas." Ucap Alya sembari meraih tissue di atas meja lalu menempelkan di hidung Adrian.


 


         Adrian tersenyum , ketika Alya membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya. 


 


           "Terima kasih ." Ucap Adrian sembari memegang tangan Alya.


 


          Alya yang menyadari ada yang salah , seketika raut wajah nya berubah merona semburat wajahnya bersemu merah. Lalu melepaskan tangannya dari pegangan tangan Adrian.

__ADS_1


 


          "Maafkan saya, saya telah lancang." Ucap Alya tersipu malu.


 


         "Aku akan ke kamar mandi, untuk membersihkan noda darah ini." Ucap Adrian sembari mengulurkan tangannya memberikan Arjuna yang masih dalam gendongannya.


 


           Setelah memberikan Arjuna pada Alya, Adrian berlari kecil menuju kamarnya. Ia membuka air kran wastafelnya lalu mencuci wajahnya.


 


          "Ya tuhan , sudah berapa bulan aku tidak kontrol, Aura, pasti marah besar pada ku." Gumam Adrian .


 


        Aktivitas di kantor beberapa bulan ini, benar-benar menguras tenaga Adrian , semenjak dari menangani proyek dari luar daerah hingga kerjasama dengan perusahaan Sudirja, membuat Adrian kelelahan. 


 


          Alya yang panik masih duduk di sofa menunggu Adrian,  selang beberapa menit Adrian keluar dari kamarnya, lalu duduk di samping Alya, tatapan mata Alya terarah di hidung Adrian yang memerah. 


 


         Alya menatap laki-laki yang kini sah menjadi suaminya. Semenjak mereka menikah , mereka saling menghargai , Adrian begitu  pengertian sejauh ini , Adrian tidak pernah menuntut hak nya sebagai suami Alya.


 


          "Kita ke rumah sakit saja mas." Ucap Alya .


 


          "Ah, tidak-tidak nanti juga baikan kok , kamu belum berangkat.?" Tanya Adrian menoleh ke arah Alya.


 


          Alya tidak menyahut, ia menggelengkan pelan kepalanya.


 


           "Sebaiknya kamu berangkat sekarang gih, itu Jonathan sudah siap nunggu kamu, sebentar lagi aku juga berangkat kok." Ucap Adrian memastikan.


 


 


         Alya berlalu pergi meninggalkan Adrian , Adrian yang masih duduk di sofa menatap kepergian Alya hingga menghilang di balik pintu utama.


 


             *******


 


        Adrian yang mengendarai mobilnya tidak langsung pergi ke kantornya. Ia mengarahkan mobilnya pergi menuju ke arah rumah sakit. Langkah lebar Adrian menuju sebuah ruangan . 


 


         Tiba di depan pintu ruangan yang dituju Adrian , menghentikan langkahnya.


 


             Tok…tok..tok..


 


            "Masuk.!"Sahutan dari dalam ruangan.


 


            Duduk seorang wanita yang cantik dan anggun, tengah sibuk di layar laptopnya , lalu menoleh ke arah Adrian yang sudah duduk di hadapannya.


 


            "Kamu sudah beberapa kali melewatkan jadwal pemeriksaan Adrian." 


 


            "Kamu lupa., jadwal kamu.?" Cecar dokter wanita itu.


 

__ADS_1


            "Sorry , Ra , akhir -akhir ini aku sibuk sekali."Jawab Adrian menyeringai.


 


            "Iya, sibuknya kamu, menikah pun aku tidak diundang, siapa wanita beruntung itu.?" Ucap dokter Aura melirik sekilas ke arah Adrian.


 


           Dokter Aura yang sudah lama menyukai Adrian itu hatinya kini berdenyut nyeri, melihat laki-laki yang duduk di depannya kini sudah menjadi milik orang lain, sangat beruntung wanita yang menjadi istri Adrian , Aura yang selama ini mencintai Adrian hingga kuliah ke luar negeri pun Aura satu kampus dengan Adrian hanya berbeda jurusan saja, jika Adrian mengambil jurusan manajemen, berbeda dengan Aura dia mengambil jurusan kedokteran ahli kanker , hingga mendapatkan gelar Onkologi nya di kampus yang sama.


 


         Adrian mengusap kasar wajahnya , untuk mengurai ketegangannya tidak mungkin Adrian menceritakan tentang awal mula pernikahannya dengan Alya.


 


        "Nanti,ku kenalkan." Jawab Adrian .


 


        "Apakah istrimu sudah mengetahui tentang penyakit mu.?" Tanya dokter Aura.


         Adrian menarik nafas dalam, ia menggelengkan kepalanya. 


 


        "Aku minta tolong Ra, jangan sampai istriku tahu." Ucap Adrian datar.


 


         "Kenapa.?" Tanya dokter Aura.


 


          "Aku tidak ingin membebani pikirannya." Jawab Adrian.


 


           "Baiklah , jika itu mau kamu." 


 


            "Sekarang berbaringlah." 


 


           Setelah melakukan beberapa rangkain tes Adrian duduk termenung di ruang tunggu ruangan dokter Aura. Hingga dokter Aura datang menghampiri Adrian.


 


         "Kamu terlalu lelah , hingga trombosit mu menurun  Adrian, saran ku banyak -banyak istirahat ya, kan ada Bayu dia bisa menghandle pekerjaanmu." Ucap dokter Aura.


 


        "Oh ya,  ini aku beri resep untuk kamu minum beberapa hari kedepan, berikut jadwal pemeriksaan selanjutnya, aku sarankan kamu berobat ke luar negeri Adrian." 


 


         Adrian hanya diam, dia tengah berpikir untuk bagaimana bisa membahagiakan Alya, jika suatu hari dia pergi selamanya setidaknya dia sudah memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya.


 


         "Terima kasih Ra , aku pamit." 


 


        Adrian meraih selembar kertas resep yang diberikan Dokter Aura.


 


          "Ingat.!" Adrian jadwal selanjutnya jangan sampai telat." Ucap dokter Aura.


 


           Adrian menganggukkan kepalanya.


 


         Dokter Aura memandangi punggung Adrian hingga menghilang di balik pintu. Jiwanya kini terasa hampa, bayangannya ingin menjadi ratu di hati Adrian , kini lenyaplah sudah dengan sebuah pembuktian Adrian lebih memilih orang lain menjadi istrinya, Adrian hanya menganggap dokter Aura sebagai seorang adik. Perlakuan Adrian selama ini membuat dokter  Aura begitu mengaguminya.


 


             *****

__ADS_1


__ADS_2