Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Kebahagian Alya.


__ADS_3

     Puspa yang mengambil cuti panjang, kini kembali beraktivitas , dengan langkahnya yang pasti ia memasuki ruangan kerjanya. Setelah merapikan meja, dan menatanya kembali, Puspa menyalakan layar laptop yang ada di depannya, ia memulai aktivitas yang sudah lama ia tinggalkan, beberapa map sudah menumpuk diatas meja kerjanya.


 


          Bayu yang mengintai dari balik tirai, mengembangkan senyumnya, walaupun belum ada kata jawaban dari Puspa, Bayu masih setia menunggu.


 


         Ponsel Bayu berdering, tertera nama tante Vera sedang memanggil, dengan cekatan tangan Bayu menggeser tombol untuk menjawab panggilan masuk. 


   


         "Iya halo tante, ada yang bisa Bayu bantu.?" Ucap Bayu saat panggilan itu tersambung.


 


         "Bay, bisa gak kamu sekarang datang ke rumah, karena kalau bicara lewat telepon sepertinya kurang pas." Ucap tante Vera di seberang telepon.


 


         Bayu diam sejenak, ia melihat buku agendanya, karena di sana jadwal tidak terlalu padat , Bayu lantas menyetujui permintaan tantenya.


         


        Dengan langkah lebarnya, Bayu melangkah keluar dari ruangannya, sekilas ia mencuri pandang ke arah ruangan Puspa, Puspa yang begitu sibuk tidak begitu memperdulikan keadaan sekitar, ia masih serius dengan layar yang ada di depannya.


 


       Bayu melangkahkan kakinya menuju parkiran , terdengar suara raungan mesin, kendaraan Bayu kini memecah jalanan yang ramai, tak berapa lama mobil pun sudah parkir di area perumahan mewah dan megah kediaman Dharmawangsa.


 


      Dengan langkah kaki dan bersiul riang Bayu memasuki pintu utama kediaman Dharmawangsa. 


 


         "Hai.., tante apa kabar.?" Tanya Bayu setelah mendapati tante Vera di ruang keluarga.


 


         "Baik, ayo duduk!" Ucap tante Vera.


 


          "Ada apa tan, nyuruh Bayu ke sini.?" Ucap Bayu duduk berseberangan dengan tante Vera. 


       


          Tante Vera tampak ragu-ragu, ingin memulai perbincangannya. Ia menghela nafasnya.


 


         "Bay, tante mau tanya.?" Apakah benar Alya sudah menemukan keluarganya, dan itu ada kaitannya dengan keluarga Sudirja.?" Tanya tante Vera.


 


         Bayu mengerutkan dahinya ,lalu menganggukan kepalanya.


 


          "Benarkah.?" Ucap tante Vera .


 


         Di balik tembok oma Jayanti yang mendengar perbincangan antara Bayu dan Vera menantunya, ia semakin mempertajam pendengarannya.


 


          "Ya tuhan , ternyata dunia ini sempit,  kamu tau gak Bay, dulu Anita itu teman bangku kuliah tante, dia sangat cantik dan cerdas, kami dulu pernah punya niatan, untuk menjodohkan anak-anak kami." Ucap tante Vera bersemangat.


 


           "Benarkah tante, berarti Alya dan Adrian pernah dijodohkan sewaktu kecil.?" Tanya Bayu.


 


          "Iya Bay." 


 


         Disaat mereka bercengkrama , tanpa mereka sadari sepasang telinga terus menyimak perbincangan mereka. Oma Jayanti sangat terkejut, ternyata orang yang selama ini dihina dan direndahkan, adalah orang yang terhormat.


 


       "Tan, boleh gak kalau Bayu menyukai seseorang wanita.?" Tanya Bayu ragu-ragu.

__ADS_1


 


       "Wanita.?" Ya bolehlah, itu tandanya kamu normal, beda lagi kalau kamu sukanya sama laki-laki." Ucap tante Vera.


 


         "Tapi siapa wanita itu.?" 


         "Tante marah gak.?" Tanya Bayu lagi.


 


 


        Bayu tampak ragu ingin memberitahukan kepada tantenya, karena selama ini tante Vera sangat tidak menyukai Puspa, karena Puspa sudah begitu banyak melakukan kesalahan.


      


         "Kok kamu diam.?" Ucap tante Vera memandang ke arah Bayu.


 


        Bayu yang terdiam masih tidak yakin, jika keluarga Dharmawangsa dapat menerima keberadaan Puspa.


 


         "Nanti aja deh tante kalau sudah waktunya." Jawab Bayu yang terlihat bingung.


 


        Tante Vera sangat mengerti Bayu,  Bayu tipe orang tidak suka dipaksa, Bayu sangat nyaman jika curhat dengan tantenya, dibanding curhat sama ibu kandungnya.


 


        ******


 


     Burhan dengan langkah lebarnya terburu-buru memasuki sebuah gedung yang berbentuk ruko itu, gedung yang sekilas mirip gudang , adalah tempat ia bertemu dengan seseorang . Setelah memastikan tak ada yang melihat Burhan menutup pintu rolling door nya.


 


       "Dasar kalian , tidak becus bekerja, karena tindakan kalian kini polisi sedang mengendus jejak kalian.!" Ucap Burhan dengan nyalang menatap anak buahnya satu -persatu.


 


 


        "Kalian tahu, di saat kalian menabrak banyak mata yang melihat, terlebih kalian ceroboh, tanpa memperhatikan terlebih dahulu ada dan tidak nya cctv di sekitar area itu.!" Ucap Baron dalam kemarahannya. 


 


        Kemarahannya kini benar-benar meledak, karena kecerobohan tindakan anak buahnya yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya.


 


           ****


 


          Disisi lain oma Yana yang terlihat sangat rapi, kini oma Yana lebih banyak tersenyum dan ramah  setelah ia menemukan Alya, ia sedang bersiap memenuhi undangan makan malam Alya di rumahnya, karena selain makan malam ia sekalian ingin mengunjungi cicitnya yang sudah beberapa hari ini membuatnya rindu.


 


         "Anton apakah kamu sudah siap.?" Tanya oma Yana dengan senyum ramah.


 


          "Sudah nyonya." Jawab Anton lalu masuk ke dalam mobil bagian mengemudi.


 


          Celine yang memperhatikan kepergian oma Yana tampak curiga, akhir -akhir ini oma Yana sering bepergian dengan asisten pribadinya.


 


        "Bik…bibi…" Teriak Celine


 


         "Iya non, ada apa.?" Tanya Sarinah asisten rumah tangga Sudirja.


 


          "Bik, oma kok sekarang bepergian, kemana ya.?" Tanya Celine.

__ADS_1


 


          "Bibi, gak tahu non sebab yang diajak pergi kan pak Anton." Ucap Sarinah polos.


 


          "Kirain bibi tahu." Ucap Celine mengerucutkan bibirnya karena ia tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


     


        "Bibi kembali kerja ya non.?" 


 


         "Iya.


 


        Sarinah kembali ke arah dapur, ia juga tidak mengerti dengan sikap oma Yana, sekarang oma Yana sudah jarang marah- marah.


        


 


        Ada kebahagian tersendiri semenjak oma Yana menemukan Alya, kini gairah hidupnya bangkit kembali, ia sangat bersyukur di usia senjanya ia masih dapat menimang cicitnya.


 


          "Terima kasih tuhan, engkau masih memberikan aku kesempatan." Ucap oma Yana dalam hati.


 


         Di sepanjang perjalanan oma Yana sangat bahagia , ia terkadang tersenyum sendiri, Anton yang memperhatikan lewat kaca spion ikut tersenyum.


 


          "Nyonya teruslah begini, tersenyum, agar tuan Bram dan non Anita juga ikut merasakan kebahagian ini." Ucap Anton tulus.


 


          "Iya Anton, terima kasih." Jawab oma Yana.


 


        Mobil pun memasuki kawasan rumah Adrian, sudah menunggu mama Vera dan Alya di teras , mama Vera yang menggendong Arjuna tampak takjub dengan wanita yang berjalan mengarah ke arahnya.


 


          "Oma." Ucap Alya memeluk oma Yana.


 


        "Alya kamu sehat.?" Ucap oma Yana sembari melepaskan pelukannya.


 


        Oma Yana menatap lekat ke arah mama Vera yang sedang menggendong Arjuna.


 


         "Oma, ini mama mertua Alya." Ucap Alya sembari menggandeng tangan oma Yana 


 


         "Apa kabar nyonya.?" Ucap mama Vera sembari mencium punggung tangan oma Yana.


 


         "Baik." Ucap oma Yana yang tak melepaskan pandangannya.


 


         Mereka pun masuk ke dalam rumah, Adrian yang sejak tadi merasa diasingkan karena kehadiran tiga wanita cantik ia memilih ngobrol dengan Anton di ruang tamu.


 


        Disaat mereka sedang asyik berbincang , terdengar suara deruan mesin mobil di parkiran depan, turun dari mobil seorang wanita paruh baya, dengan ciri khasnya. 


 


         "Oma.?" Mau apa dia kesini.?" Ucap Adrian.


 


         Adrian bangkit dari duduknya ia ingin mencegah oma masuk ke dalam rumahnya, terakhir kali bertemu oma Jayanti menghina Alya, Adrian tak ingin  kejadian itu terulang kembali, terlebih sekarang hadir oma Yana yang sedang berkunjung atas undangan Alya.

__ADS_1


  


__ADS_2