Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Adrian sakit.


__ADS_3

      Di kantor perusahaan Dharmawangsa.


 


       Adrian yang kini sangat serius menatap layar laptopnya, dengan mata yang sudah terasa perih dan berair , ia memeriksa beberapa email masuk. Pekerjaan yang begitu padat membuat kepala Adrian berdenyut. Tangannya sesekali memijat pelipisnya.


 


        Di saat Adrian mau beranjak dari tempat duduknya , penglihatan Adrian seketika berubah menjadi gelap. Adrian tetap berusaha bangkit, tiba-tiba.


 


          Brugh.


 


        Tubuh Adrian jatuh tersungkur ke lantai, tubuh yang tegap tinggi dan atletis , kini terbaring lemah tak berdaya dengan darah segar yang mengalir dari lubang hidungnya.


 


         Bayu yang berjalan ke arah ruangan Adrian, kini perlahan mengetuk pintu. 


  


           Tok…tok..tok…


 


         Berkali-kali, Bayu mengetuk pintu tetapi tidak ada respon dari dalam. Hingga Bayu berinisiatif untuk membukanya sendiri.


 


          "Bro..bro…" 


 


        Bayu berjalan mendekati sofa, lalu berjalan ke arah toilet,  yang terdapat di dalam ruangan itu, tapi tidak menemukan Adrian yang ia cari.


 


        Sehingga mata Bayu menangkap sepatu Adrian yang tergeletak di bawah meja, perlahan Bayu mendekatinya.


 


          "Ya tuhan bro, ngapain kamu tidur disini?" Pekik Bayu refleks.


 


          Bayu lalu mengguncangkan tubuh Adrian berkali-kali, Bayu sangat khawatir karena Adrian tidak meresponya, hingga dengan telunjuk jarinya, Bayu menempelkan ke hidung Adrian.


 


           "Syukurlah masih bernafas." Ucap Bayu menarik nafas lega.


 


          Bayu meraih ponsel di dalam saku celananya, lalu mengadakan panggilan dengan nama Jonathan.


 


          Panggilan terhubung.


 


         "Jo, kamu di mana.?" Sekarang naik ke atas si bos pingsan." Ucap Bayu dalam kepanikannya.


 


            Tak berapa lama Jonathan yang berada di lobi, kini sudah berada di ruangan Adrian. 


 


   


         Jonathan dan Bayu langsung membawa Adrian ke rumah sakit. Di rumah sakit tempat dokter Aura bekerja, dengan langkah terburu-buru dokter Aura memasuki ruangan dimana Adrian dirawat.


 


       Dokter Aura yang datang dengan asistennya, memberikan perintah agar segera memasang alat bantu pernafasan dan infus. Setelah memastikan semua alat medis sudah terpasang , dokter Aura memeriksa Adrian yang belum sadarkan diri.

__ADS_1


 


        Setelah memeriksa Adrian memerintahkan asisten nya  untuk mengambil sampel darah, untuk diperiksa di laboratorium, dokter Aura pun keluar dari ruangan Adrian.


 


        "Bagaimana keadaan Adrian , Ra, apakah baik-baik saja.?" Tanya Bayu yang panik.


 


      Bayu yang dulu sangat menggilai dokter Aura, kini tidak lagi merasakan getaran di hatinya, karena Aura dulu memilih Adrian sebagai tambatan hatinya, tetapi Adrian menolak cinta Aura, Adrian hanya menganggap Aura sebagai adiknya.


 


       "Bay, aku sarankan agar Adrian segera ke luar negeri, apakah istri Adrian sudah mengetahui penyakit Adrian.?" Tanya dokter Aura yang berdiri di ambang pintu ruangan.


 


        Bayu menggelengkan kepalanya.


 


       "Aku rasa belum, Alya belum tahu penyakit suaminya." Jawab Bayu .


 


       "Untuk saat ini, mungkin Adrian bisa bertahan, mau sampai kapan dia akan menyembunyikan ini dari istrinya.?" Ucap dokter Aura penuh penekanan.


 


        "Separah apa, penyakit Adrian Ra.?" Tanya Bayu menatap lekat wajah cantik Aura .


 


       "Aku tidak bisa memastikan Bay, kamu tahu sendiri peralatan rumah sakit ini kurang memadai, nanti jika sudah siap akan ku hubungi temanku yang berada di luar negeri, agar mencarikan rumah sakit yang terbaik." Ucap dokter Aura.


 


       Bayu dan Jonathan mengangguk-anggukan kepalanya, mereka sedang berpikir, apakah akan memberitahukan keadaan Adrian pada Alya atau tidak.


 


          ******


 


         Sementara itu di kediaman Adrian Dharmawangsa.


 


       Alya dan mama Vera yang sedang sibuk di dapur, karena Alya hari ini belajar memasak dengan mama mertuanya tentang menu kesukaan suaminya. Karena di kelas mrs Saqueena tidak ada kelas masak memasak  . Semua kelas di mrs Saqueena , adalah tentang urusan 21 ke atas, yang membuat tubuh Alya meremang jika memasuki ruangan mrs Saqueena.


        "Ma,mama  tahu gak, mas Adrian memberikan kelas private pada Alya semua tentang menyenangkan suami dan membuat Alya bosan ma." 


 


      "Masa, menyekolahkan Alya  tentang urusan orang dewasa semua, kan buang- buang duit ma." Ucap Alya dengan polosnya.


 


      Mama Vera yang sedang memotong sayuran menahan tawanya hampir meledak, karena dia tahu sebagai orang yang sudah berpengalaman , Adrian pasti mempunyai maksud dan tujuannya sendiri.


 


      "Begitu, memang tidak ada kelas memasak nya.?" Tanya mama Vera.


 


      "Gak ada ma,mas Adrian aneh kan ma.?" Tanya Alya.


 


      Kegiatan mereka pun masih disibukkan di dapur, Alya dengan serius mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan oleh mertuanya, hingga tahap akhir memasak, ketika mama Vera akan menambahkan bumbu , mama Vera hanya menambah garam, dan tidak yang lainnya, membuat Alya mengerutkan dahinya.


 


        "Ma, kok cuma garam , memang begitu masakan kesukaan mas Adrian.?" Tanya Alya heran.


 

__ADS_1


       "Iya, apakah Adrian tidak cerita tentang sesuatu pada mu.?" Ucap mama Vera balik bertanya.


 


        "Tidak.!" Jawab Alya menggelengkan kepalanya.


         "Adrian tidak pernah cerita tentang dirinya, atau penyakitnya .?" Tanya mama Vera.


 


        "Tidak pernah ma, atau mungkin Alya lupa." Ucap Alya berusaha mengingat.


 


         "Alya, Adrian mengidap penyakit leukemia, dan harus menghindari makanan yang mengandung bahan pengawet dan lainya." Ucap mama Vera sendu.


 


         Alya yang memang tidak tahu apa-apa hanya diam, mendadak ia teringat akan suaminya, sudah beberapa kali melihat suaminya keluar darah segar dari hidungnya.


 


         "Dokter Aura yang menangani penyakit Adrian, entah sejauh mana pengobatan yang dilakukan mama tidak di beritahu." Ucap mama Vera melempar pandangannya keluar ruangan.


 


         Tatapan mama Vera menerawang jauh, ia tak dapat membayangkan jika harus kehilangan Adrian, beruntung Adrian sekarang sudah menikah, dan sudah mempunyai garis keturunan, membuat sedikit lega mama Vera.


         Beberapa jam berkutat di dapur , masakan pun siap dihidangkan, mama Vera yang kini sedang bermain dengan Arjuna , tidak lagi menghiraukan ketika Alya sibuk menghidangkan makanannya , yang dibantu oleh asisten rumah tangganya.


 


       Alya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, Alya yang kini merindukan suaminya jika tidak bertemu , kini Alya mengadakan panggilan dengan nomor Adrian.


 


       Beberapa kali panggilan tetapi nomor Adrian tidak aktif.


 


        "Kok tidak aktif, tumben.?" Gumam Alya. 


       


       "Ada apa.?" Tanya mama Vera ketika melihat Alya sangat panik.


 


      "Ma, kok no ponsel mas Adrian gak aktif kenapa ya.?" Ucap Alya panik.


 


      "Mungkin dia lagi sibuk, coba nanti beberapa saat lagi, pasti dia akan telepon kamu." Ucap mama Vera.


 


       Satu jam berlalu, Alya menghibur dirinya dengan bermain-main dengan Arjuna juga mama mertuanya. Mata Alya melirik ke arah ponsel , belum juga Adrian menghubungi atau mengirim pesan,  tidak seperti biasanya ponsel Adrian tidak aktif.


 


        Alya yang gelisah meraih kembali ponselnya, lalu mengadakan panggilan, masih sama.


 


        "Coba kamu hubungi Bayu, siapa tahu dia tahu kemana Adrian pergi." Ucap mama Vera memberi saran.


 


        "Iya ma, coba Alya hubungi ya ma.?" 


 


        Beberapa kali panggilan Bayu tidak mengangkat ponselnya, semakin gelisah Alya di buatnya.


 


         Sedangkan Bayu yang berada di rumah sakit, tidak tahu harus berbuat apa, jika Alya sedang menelepon dirinya selalu meminta bukti , dengan panggilan video call , sesibuk apa suaminya, pernah suatu hari Adrian lupa mengabari Alya, Alya yang saat itu langsung mengadakan panggilan video call pada dirinya.


      

__ADS_1


           ******


__ADS_2