
Maria membeku di kamarnya memandangi sebuah foto pernikahannya bersama Baron yang berada di dalam bingkai , air matanya mengalir , mengingat bagaimana mereka telah melalui dua puluh tahun mengarungi pernikahan , akan tetapi kini kandas karena hanya perbuatan Baron yang tak berubah.
"Ibu rindu dengan bapak ya.?" Tanya Puspa.
Maria terperanjat dengan seketika menghapus air matanya.
"Apakah kamu akan membenci ibu , Puspa.?" Ucap Maria menoleh ke arah Puspa yang sudah duduk di sampingnya.
Puspa menggelengkan kepalanya, ia sadar bahwa bapaknya memang bersalah,perlahan kepalanya ia letakkan di pangkuan ibunya, tak terasa air mata Puspa ikut mengalir , membayangkan dulu hidup di dalam keluarga yang lengkap, tapi kini semua berantakan tercerai berai , disaat usia mereka seharusnya bersatu.
"Puspa tidak ingin menyalahkan siapapun bu, Puspa tahu bapak bersalah." Ucap Puspa dalam isak tangisnya.
Tangan Maria membelai pucuk kepala Puspa, hati Maria sebenarnya tak kalah hancur, tidak mudah melupakan seseorang dalam sekejap, apalagi mereka sudah hidup bersama.
Dalam waktu yang cukup lama mereka larut dalam kesedihan, hingga suara ponsel berdering mengejutkan mereka, Puspa meraih ponsel nya tertera di sana nomor tak dikenal, ragu- ragu Puspa menekan menggeser tombol jawab.
"Halo, ini siapa.?" Tanya Puspa.
Lama tak ada jawaban , hingga terdengar suara seorang laki - laki seperti tidak asing di telinga Puspa.
"Sa..saya Puspa, Bayu." Jawab Bayu di seberang telepon.
"Pak Bayu, maaf ada apa bapak telpon saya.?"
"Saya ada di depan rumah kamu, bolehkah saya mampir.?" Ucap Bayu lagi.
"Hah, di depan rumah bo..boleh pak" Jawab Puspa gugup.
Puspa segera bangkit dari duduknya,ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang sembab karena menangis.
"Ada apa Puspa, kenapa kamu terlihat panik?" Tanya Maria.
"Itu bu, ada pak Bayu katanya ada di depan rumah mau mampir " Jawab Puspa sembari berjalan ke arah depan.
Benar saja , Puspa mendapati Bayu sedang berdiri di halaman rumahnya. Perlahan Puspa menghampiri Bayu yang terlihat sangat rapi tidak seperti biasanya.
"Pak Bayu, mari silahkan masuk!" Ucap Puspa.
"Iya terima kasih." Jawab Bayu.
"Malam tante, maaf kedatangan saya mengganggu ." Ucap Bayu sembari menjabat tangan Maria.
Mereka pun duduk berseberangan di ruang tamu. Puspa pergi ke dapur untuk membuat minuman, tak lama Puspa muncul dengan minuman di atas nampan.
"Silahkan diminum pak." Ucap Puspa.
Puspa sekilas memandang laki-laki yang kini duduk di hadapannya, tak ada yang aneh memang dengan penampilan Bayu, jika di kantor Bayu mengenakan pakaian khusus , berbeda kali ini Bayu berpenampilan hanya mengenakan celana jeans dan kaos, terlihat lebih santai.
"Maaf bu kedatangan saya mungkin agak mengganggu, saya ada kepentingan dengan Puspa." Ucap Bayu.
Puspa mengerutkan dahinya, ia tak menyangka orang nomor dua di Dharmawangsa , rela datang ke rumahnya malam -malam begini , apalagi Puspa tidak tahu maksud kedatangan Bayu sebelumnya.
"Oh , begitu baiklah silahkan anda bicarakan pada Puspa." Jawab Maria sembari bangkit dari duduknya.
Di ruang tamu kini duduk mereka berdua , Puspa yang duduk berseberangan dengan Bayu tampak canggung .
"Puspa maaf, jika kedatangan ku malam ini mengganggu kamu, sebenarnya saya …." Bayu menggantungkan perkataannya di udara, ada rasa gugup yang menyelimuti dihatinya.
Puspa tak kalah gugup berhadapan dengan laki-laki, walaupun dulu sebenarnya dia sangat menginginkan Adrian, setelah kejadian Baron ingin membunuh Alya, hingga di jebloskan ke penjara membuat Puspa kini sadar, bahwa harta tidak menjamin kebahagian.
"Katakan pak, ada kepentingan apa, sekiranya anda datang kemari." Ucap Puspa memecah keheningan.
Bayu mendongakkan kepalanya, terlihat jelas raut wajahnya dipenuhi dilema.
"Saya hanya ingin mengatakan , bahwa saya mengagumi mu."Ucap Bayu.
__ADS_1
Detak jantung Puspa seketika tak karuan, Bayu yang terlihat cuek bahkan tak peduli kini datang tiba-tiba mengungkapkan rasa padanya.
"Ma..maaf , apakah bapak tidak salah." Ucap Puspa memastikan
"Tidak, perasaan ini tiba-tiba hadir dengan sendirinya, apakah kamu sudah mempunyai seseorang yang mengisi hatimu, jujur aku sangat mengagumimu." Ucap Bayu.
Puspa sangat terharu, tak terasa menetes air mata di sudut matanya, ia tak menyangka jika masih ada laki-laki yang memperhatikannya , mengingat serangkaian kejahatan yang pernah ia lakukan , tidak mungkin lagi ada lelaki yang mau mendekatinya apalagi bapaknya mendekap di penjara dijerat pasal berlapis karena perbuatannya.
Hening. Puspa tidak langsung menjawab , begitu banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan.
"Beri saya waktu pak,semua ini begitu tiba-tiba." Jawab Puspa.
Bayu meraih gelas di hadapannya, ia meminum kopi buatan Puspa.
Lama mereka dalam kebisuan, mata Bayu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam menunjukkan pukul 09.30.
"Aku pamit ya, sudah malam aku tunggu jawaban kamu jika sudah siap." Ucap Bayu
Bayu lalu bangkit dari duduknya, perlahan berjalan keluar meninggalkan rumah itu menuju dimana mobilnya terparkir di halaman rumah Puspa.
Puspa yang mengantarkan kepergian Bayu sebatas teras rumahnya , menatap punggung Bayu memasuki kendaraannya hingga menghilang ditelan kegelapan malam.
Puspa masuk ke dalam rumahnya, ia menutup pintu rumah lalu berjalan menuju ke arah ruang keluarga , di sana duduk Maria yang sedang menonton acara televisi.
"Sudah pulang tamu nya tadi.?" Tanya Maria .
"Iya bu." Jawab Puspa lalu duduk di samping Maria.
Maria memandangi wajah Puspa yang terlihat murung.
"Kok murung gitu ada apa.?" Tanyanya kembali.
Puspa menyeka air matanya, matanya tampak berkaca-kaca, terlihat kesedihan yang mendalam tersimpan di hatinya.
Puspa menggelengkan kepalanya.
"Lantas apa.?"
"Puspa sedih bu, di saat ini Puspa benar- benar merasa tidak pantas untuk siapapun, terlebih perbuatan Puspa di masa lalu , Puspa sangat jahat , Puspa menyesal." Ucap Puspa di iringi air mata yang mengalir deras .
Maria mengusap kepala Puspa, ia begitu memahami bagaimana perasaan Puspa saat ini, terlebih perbuatan Puspa saat itu di luar kemauannya, Baron menjadikan Puspa menuruti segala kemauannya.
*******
Di pagi hari yang cerah , cahaya sang surya menghangatkan bumi , Puspa lama terpaku di depan cermin. Ia tersenyum mendapati dirinya kini ada yang memperhatikannya, dengan penuh semangat Puspa mempersiapkan segala keperluannya akan berangkat ke kantor. Walaupun Puspa belum berani memberikan jawaban untuk Bayu, setidaknya ada semangat tersendiri di dalam diri Puspa.
Di saat Puspa sedang sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang ia bawa pulang , ponselnya berdering dengan cepat ia meraih ponsel yang terletak di atas meja.
Panggilan pun terhubung.
"Halo, dengan saudara Puspa.?" Tanya seseorang di seberang telepon.
"Iya saya sendiri,ada apa ya.?" Jawab Puspa.
"Maaf mbak, saudara bernama Baron sedang dalam keadaan kritis , sekarang dirawat di rumah sakit." Ucap petugas lapas itu.
"Baik mbak, saya segera kesana." Ucap Puspa sembari mengakhiri panggilannya.
"Bapak." Lirih Puspa.
Puspa terduduk lemas , beberapa bulan yang lalu Puspa berkunjung ke lapas , terlihat Baron memang sakit badannya yang kurus dan tak terurus pada waktu itu dikarenakan penyakit TBC .
__ADS_1
"Bu..ibu…" teriak Puspa.
Puspa mendapati ibunya Maria tengah menangis di kamarnya, ia tak sengaja mendengar perbincangan Puspa, jika petugas lapas memberitahukan bahwa Baron sedang kritis.
"Ibu, ayo kita jenguk bapak di rumah sakit." Ucap Puspa.
Tidak sahutan ,Maria hanya mengangguk kan kepalanya .
Puspa yang sudah menjual mobilnya untuk biaya pengobatan Baron , kini memesan Grab , sesuai petunjuk yang diberikan mobil itu pun sudah terparkir di halaman rumahnya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat di mana di rawat Baron, Maria tak hentinya meneteskan air mata , begitu pula Puspa dia sangat gelisah , Baron selain mengidap penyakit TBC dia juga mengidap penyakit kanker paru-paru.
Tiba di halaman rumah sakit , Puspa dan Maria turun dari mobil setelah menyelesaikan pembayarannya, dengan nafas memburu mereka menyusuri lorong-lorong rumah sakit, Puspa berhenti di bagian administrasi untuk menanyakan keberadaan Baron.
"Maaf mbak pasien bernama Baron di kamar berapa ya.?" Tanya Puspa pada petugas administrasi.
"Ibu lurus saja nanti di pertigaan lorong anda belok ke kiri." Jawab petugas itu.
"Baik terima kasih mbak."
Mereka pun kembali menyusuri lorong-lorong rumah sakit sesuai petunjuk yang diberikan , mereka melangkah mendekati ruangan yang sudah di jaga ketat seorang petugas polisi dan petugas lapas.
Dengan langkah gontai Puspa dan Maria melangkah ke arah pintu ruangan itu.
"Saudara Puspa, apakah anda anak bapak Baron.?" Tanya petugas lapas .
"Iya pak, saya anaknya." Jawab Puspa.
"Baiklah silahkan masuk.!"
Baron terbaring tidak berdaya , tubuhnya terlihat sangat kurus, beberapa alat medis terpasang di tubuhnya dan selang oksigen sudah terpasang di hidungnya, nafasnya terlihat tidak teratur.
"Bapak ini Puspa, ada ibu juga datang pak." Ucap Puspa sembari menggenggam tangan renta Baron.
Seolah ada kekuatan Baron perlahan membuka matanya, rasa sakit yang menjalari tubuhnya ia abaikan .
"Puspa, Maria." Ucap Baron dengan suara parau .
"Bapak.."
"Maria..maa..maafkan aku." Ucap Baron menahan sakitnya.
Maria mendekati Baron laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya. Dengan berlinang air mata Maria meraih tangan Baron yang kini hanya tinggal kulit membalut tulang.
"Mas.., aku juga minta maaf , aku sudah bersalah pada mu." Ucap Maria dengan bercucuran air mata.
Baron dengan tubuhnya yang lemah masih mencoba untuk berbicara , akan tetapi sakit kanker paru- paru yang dideritanya seolah menghalangi membatasi pergerakannya.
Dengan nafas tersengal ia masih berusaha untuk menggerakkan anggota tubuhnya, dengan nafas yang tidak lagi teratur , Baron memegangi dadanya rasa sakit yang menyerang dari dalam tak dapat ditahan , perlahan mata Baron meredup dengan tangannya yang jatuh terkulai dalam genggaman tangan Maria , Baron menghembuskan nafas terakhirnya.
"Bapak..bapak…pak.."Ucap Puspa mengguncangkan tubuh Baron.
"Bu , bapak kenapa diam.?"
Puspa menempelkan tangannya ke lubang hidung Baron , tangan Puspa tak dapat lagi mendeteksi nafas Baron , tak ada lagi nafas yang keluar dari hidung tersebut.
"Bapaakkk…."Teriak Puspa histeris.
"Mas…" Pekik Maria.
Baron yang telah menghembuskan nafas terakhirnya , ia meninggalkan sejuta kenangan pahit dan manis dalam hidup Maria, walaupun Maria bukan lagi istrinya , tapi kepergian Baron benar-benar membuat Maria terpukul. Tangis Puspa dan Maria menggema di ruangan dimana Baron dirawat.
__ADS_1
*****