
Setelah mengemasi barang-barangnya Miranti sejenak matanya berotasi memandangi kamarnya, kamar yang penuh dengan kenangan selama dua puluh lima tahun hidup menemani Burhan. Sudah beberapa bulan berlalu, semenjak kejadian insiden di mana Burhan ingin menembak oma Yana, dari situlah pula sejak itu Burhan tiada kabar beritanya.
Miranti menyadari sepenuhnya, penantian pada Burhan tak kan kunjung datang, apalagi kini semua aset milik Burhan sebagian sudah disita, dan sebagian aset kembali pada oma Yana.
Miranti yang belum pulih sepenuhnya, menyeret koper berisi barang-barang miliknya keluar dari kamarnya, sudah menunggu Celine berdiri di depan kamarnya, dengan beberapa koper dan tas berukuran besar.
"Apakah semua sudah siap Celine.?" Tanya Miranti pada Celine yang sudah berdiri depan pintu kamarnya.
Celine tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya, Celine yang selama ini menjalani kehidupan mewah dan glamour , harus menerima kenyataan pahit jika dirinya sekarang di posisi titik paling bawah, Miranti dan Celine berjalan perlahan menuju kamar oma Yana, terlihat pintu kamar oma Yana tidak tertutup sempurna .
Tok tok tok
"Masuk!" Sahut oma Yana dari dalam kamarnya.
Oma Yana yang sedang duduk di posisi ternyaman, menoleh ke arah pintu berjalan Miranti dan Celine mendekatinya.
"Ma,Miranti dan Celine mau pamit." Ucap Miranti dengan kepala tertunduk.
"Dan ini, Miranti kembalikan perhiasan yang mama kasih ke Miranti."
Oma Yana menatap lekat wanita yang berstatus menantunya itu, pandangannya pun ia alihkan ke arah Celine, terlihat kedua wanita itu sudah siap dengan tas selempang di bahunya masing-masing.
"Pamit, kemana.?" Tanya oma Yana menatap silih berganti Miranti dan Celine.
"Pulang kampung ma, maafkan Miranti jika selama menjadi menantu mama, Miranti banyak salah."Ucap Miranti dengan mata berembun .
"Miranti, mama tidak ada hak untuk mencegah mu sekarang, jika itu sudah menjadi kehendakmu , mama bisa apa.?"
"Ambilah perhiasan ini, mama berikan ini untukmu , jika kau merasa ini ada kaitannya dengan Burhan suami mu itu ,tidak ada hubungannya, mama belikan ini karena mama menyayangimu." Ucap oma Yana mendekati Miranti .
"Tapi ma.?" Ucap Miranti memberanikan diri mendongakkan kepalanya.
"Aku tidak pernah memintamu pergi, dan mengembalikan apa yang sudah kuberikan, tapi jika kau masih ingin pergi , pintu rumah ini selalu terbuka untukmu jika kau mau kembali."
"Celine minta maaf oma , jika selama ini Celine pernah buat oma kecewa." Ucap Celine mendekati oma Yana.
"Celine, kamu tetap cucu oma, tidak ada yang akan berubah, tidak ada yang salah di antara kita, pesan oma jaga dirimu baik-baik." Ucap oma Yana memandangi gadis remaja di depannya.
__ADS_1
Oma Yana selama ini bukan tak peduli dengan kehadiran Celine, rasa sakit pengkhianatan yang dilakukan Burhan , itu yang membuat oma Yana sangat kecewa.
Dengan perasaan sedih dan luka Miranti dan Celine melangkahkan kaki meninggalkan kediaman Sudirja, Miranti yang anak tunggal yang kini kedua orang tuanya sudah meninggal dan masih meninggalkan warisan berupa rumah dan perkebunan , kini dikelola oleh paman dan bibi Miranti di kampung.
Oma Yana melepas kepergian Miranti dengan perasaan pedih, tidak ada hak nya untuk meminta Miranti tetap tinggal di rumahnya, sebagai menantu Miranti tidak pernah mendukung tindakan Burhan. Ketulusan mencintai suaminya sebuah bukti kesetiaan yang selama ini Miranti punya.
"Sarinah, tolong ambilkan obat ku.!" Ucap oma Yana sembari tangannya memegangi dadanya.
"Baik nyonya." Jawab Sarinah berlari kecil ke arah kamar oma Yana.
Di usia yang sudah senja , dan penyakit oma Yana yang komplikasi , membuat penyakit oma Yana sering kambuh jika tertekan pikiran , rasa perih dan sakit akibat ulah Burhan membuat oma Yana sering jatuh sakit.
******
Mama Linda yang kini menatap lekat wajah Bayu yang tertunduk , memohon padanya untuk merestui hubunganya dengan Puspa, membuat mama Linda sedikit berubah pikiran.
"Bay, apakah kamu sudah benar-benar mempertimbangkan akibat yang akan kau lakukan.?" Ucap mama Linda memecah keheningan.
"Apakah kamu tidak akan menyesali, kamu telah menikahi perempuan macam Puspa.?" Ucap mama Linda tak melepas pandangannya terhadap Bayu.
"Ma, apa yang salah dengan Puspa, kini dia hidup sendiri, dia tidak seperti yang mama duga." Ucap Bayu dengan penuh keyakinan.
"Percuma mama larang kamu saat ini, jika kamu sudah dibutakan dengan cinta."
"Ya sudah , sekarang terserah kamu, mama harap suatu hari kau tidak menyesal." Ucap mama Linda berlalu pergi meninggalkan Bayu yang duduk seorang diri di ruang keluarga.
Setelah mendapat jawaban dari mamanya, Bayu bergegas pergi meninggalkan rumahnya, ada rasa bahagia di hati Bayu kini mamanya menyetujui pernikahannya dengan Puspa.
Bayu mengemudikan mobilnya menuju rumah Puspa, dengan harapan Puspa kini tidak ada alasan lagi menolaknya. Tiba di rumah yang sederhana , tapi terlihat bersih dan rapi Bayu memarkirkan mobilnya.
Dengan penuh kepercayaan diri Bayu melangkahkan kakinya.
"Assalamualaikum." Ucap Bayu sambil mengetuk pintu rumah yang ditempati Puspa.
__ADS_1
Tak berapa lama muncul sosok Puspa dengan baju gamis dan hijabnya, ia membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam"Jawab Puspa.
"Mas , kenapa malam - malam kesini.?" Tanya Puspa yang berdiri di ambang pintu.
"Saya gak disuruh masuk nih.?" Ucap Bayu .
"Maaf mas, kita bukan muhrim sebaiknya kita duduk di teras saja." Jawab Puspa.
"Oh ya, kita duduk di sini saja." Jawab Bayu sembari mengambil tempat duduk tak jauh dari Puspa.
"Kedatanganku kesini, mau kasih tahu kamu Puspa." Ucap Bayu dengan senyum di bibirnya.
"Tentang apa mas.?"
"Mama sudah merestui hubungan kita, menurutmu apakah kamu sudah mau menjadi kekasih halalku.?" Tanya Bayu memandangi Puspa yang kini semakin cantik dengan penampilan barunya.
Untuk sejenak Puspa terdiam , ada perasaan sedih dan bahagia yang kini dirasakan, bahagia perjuangan Bayu selama ini kini mendapat restu dari mama Linda, sedih kini dia tak dapat membagi kebahagiaannya karena kedua orang tua yang sudah tiada.
"Bagaimana menurutmu.?" Tanya Bayu lagi yang tak sabar mendengar jawaban dari Puspa.
Puspa tersentak, lamunannya seketika buyar mendengar perkataan Bayu.
"Saya terserah kamu saja mas, jika memang benar ibu mas sudah setuju, apalagi yang harus saya tunggu? "Jawab Puspa tertunduk tersipu malu.
"Baiklah, aku akan segera melamarmu, aku tak ingin kamu tinggal lebih lama di sini ." Ucap Bayu dengan mata berbinar setelah mendapat jawaban dari Puspa.
"Kalau begitu saya pulang ya, jaga dirimu baik-baik , calon istriku." Ucap Bayu
Raut wajah Puspa berubah bersemu merah mendengar perkataan Bayu yang menggoda dirinya, ia tak dapat menyembunyikan rasa malunya , dengan perasaan berdebar ia hanya mampu menganggukkan kepalanya, Bayu beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke arah mobilnya.
Suara deruan mesin mobil menggema,Bayu melajukan mobil ke arah jalan , Puspa hanya mampu memandangi Bayu dari kejauhan lalu di telan di antara kendaraan lainnya.
__ADS_1