
Satu bulan telah berlalu.Karena Alya mau pulang ke rumah masih trauma dengan kejadian malam itu. Trauma yang dialami Alya meninggalkan luka yang mendalam hingga hampir tiap malam Alya mengalami mimpi buruk.
"Ibu..tolong..ibu ..tolong.."
"Alya…bangun Alya" Ibu Lastri menggerak-gerakkan badan Alya yang sedang mengigau.
"Tolong…"
Alya terbangun dari tidurnya badannya bercucuran keringat yang membasahi tubuhnya, kedua matanya sudah dipenuhi dengan air mata, nafasnya tersengal sesak.
" Kamu mimpi buruk lagi.?" Tanya ibu Lastri menatap sendu.
"Iya, bu Alya takut." Alya memeluk ibu Lastri yang duduk di tepi ranjang.
" Sekarang, bangunlah bersihkan diri lalu kita sarapan."
"Iya, bu."
Perlahan Alya menggeliatkan tubuhnya merenggangkan ototnya yang terasa kaku dan pegal.Lalu bangkit dari tidurnya bergegas bangun berjalan menuju kamar mandi.
Ketika melewati dapur Ibu Lastri sedang memasak . Seketika perutnya merasa aneh terasa di aduk-aduk. Ia pun mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.
"Uwek…uwek…uwek."
Ibu Lastri yang sedang memasak di dapur pun tercengang melihat tingkah Alya.
Dok dok dok
"Alya.., kamu kenapa.?"
"Kamu sakit.?"
Ibu Lastri berdiri cemas di depan pintu kamar mandi berulang kali mengetuk pintu.
"Alya, kamu baik- baik saja.?" Tanya ibu Lastri lagi.
"Alya , buka pintunya."
Cklek…
Alya yang baru keluar dari kamar mandi terlihat sangat pucat. Ibu Lastri yang sejak tadi berdiri di depan pintu menatap bingung ke arah Alya.
"Alya , baik -baik saja bu.?"
"Alya, pingin muntah bau menyengat masakkan ibu.?"
" Ibu masak apa.?" Tanya Alya.
"Apa kamu bilang."
"Ibu masak nasi goreng kesukaan mu.?" Ibu Lastri menatap bingung ke arah Alya.
Degh.
Pikiran Ibu Lastri seketika melayang. Membayangkan Alya yang sedang hamil, apa kata tetangga jika mengetahui keadaan Alya hamil tanpa suami. Oh, tidak- tidak membayangkan saja sudah takut bagaimana jika firasatnya benar, apa yang harus ia lakukan. Sedangkan Alya sendiri tidak tahu jalan pulang.
Gleg…gleg
Ibu Lastri menelan salivanya beberapa kali membayangkan kemungkinan buruk terjadi.
" Bu, ibu kok melamun." Alya menatap heran ke ibu Lastri.
"Apakah jangan- jangan Alya hamil.?" Ibu Lastri bergumam lirih hampir tak terdengar.
__ADS_1
" Bolehkah Alya istirahat dulu, nanti kalau udah enakkan Alya bantu ibu."
"Iya, istirahatlah dulu." Jawab ibu Lastri.
Alya perlahan berjalan menuju kamarnya membaringkan tubuhnya yang terasa lemah .Hari ini ia merasakan tubuhnya lemas dan tidak berdaya.
Sejenak ibu Lastri diam ia tengah memikirkan bagaimana cara mengetahui bahwa dugaannya benar.
"Rani…Rani.., ayo cepat kemari , temani kakak Alya , ibu mau ke pasar sebentar."
"Iya, bu kak Alya mana .?" Tanya Rani.
" Di kamarnya."
Ibu Lastri bergegas pergi meninggalkan rumahnya, langkahnya tergesa- tergesa.
Berselang tiga puluh menit ibu Lastri tiba di rumahnya. Karena jarak pasar dan rumahnya tidak terlalu jauh. Ia pun berjalan menuju kamar Alya.
"Alya , bangunlah , apakah kamu sudah makan.?" Ibu lastri duduk di tepi ranjang.
"Belum bu, " jawab Alya pelan.
"Alya , apakah kamu tidak merasa ingin buang air kecil.?"ibu Lastri ragu-ragu bertanya.
"Belum bu, kenapa.?" Jawab Alya bingung.
Ibu Lastri menyodorkan bungkusan plastik kecil ke arah Alya. Ia membuka bungkusan kecil itu dan memberikan instruksi bagaimana cara menggunakanya. Alya pun menerima bungkusan itu menatap bingung ibu Lastri.
"Baik bu, Alya akan coba." Alya berjalan ke arah kamar mandi.
Sepuluh menit telah berlalu ibu Lastri yang menunggu di luar harap-harap cemas detak jantung nya bergemuruh tidak karuan.
"Mana, sini ibu lihat." Ibu Lastri segera mengambil test pack dari tangan Alya.
"Ya , Tuhan. " ibu Lastri membungkam mulut nya matanya membulat sempurna manatap test pack di tangannya.
"Ada apa bu.?" Alya mengerutkan kedua alisnya menatap bingung
Ibu Lastri merasakan lemas seluruh tubuhnya. Bingung harus berbuat apa bagaimana cara menyampaikannya kepada gadis di depannya, dua garis merah yang di tangannya menandakan bahwa Alya benar- benar hamil.
"Katakan ada apa bu.?" Alya menatap heran .
Semenjak memegang benda mungil itu tiba- tiba ibu Lastri terdiam.
"Alya, bagaimana ibu mengatakannya kepadamu.?" Tatapan ibu Lastri nanar .
"Katakan saja Alya siap mendengar !" Suara Alya menekan.
"Kamu hamil Alya ."
"Apa. ?"
"Hamil."
Alya tertunduk lesu mendengar perkataan ibu Lastri. Bayang - bayang lelaki yang sudah merenggut miliknya yang berharga kini kembali hadir. Masih terngiang - ngiang di telinga Alya bagaimana ancaman lelaki itu.
" Ingat ! Setelah kejadian malam ini kamu jangan mencariku, karena aku sudah membelimu dengan harga yang sangat mahal, anggap pertemuan kita ini tidak pernah terjadi .!" Jika kau mencariku kamu akan tahu akibatnya.!"
__ADS_1
"Apa yang harus Alya, lakukan bu.?" Tanya Alya bingung.
" Bagaimana jika kamu mencari ayah bayi di kandungan mu itu.?" Ibu Lastri memberi saran.
Dengan cepat Alya menggelengkan kepala. Hal yang tak mungkin ia lakukan. Dengan hati perih Alya menceritakan kejadian malam itu. Dari bapaknya bernama Baron yang hobinya main judi dan peminum hingga ia rela mempertaruhkan Alya yang menjadi korban taruhan judi Baron. Tragis memang nasib yang dialami Alya.
" Kamu harus kuat .! Ibu Lastri memeluk Alya yang sudah berurai air mata.
****
****
" Bu , ibu…"
"Bapak.!"
" Kalian dimana.?"
Puspa yang memasuki rumahnya dengan hati yang gembira kini mencari keberadaan orang tuanya.
"Ada apa.?" Tanya Baron yang keluar dari kamarnya.
"Pak , Puspa diterima kerja."
Dengan senyum yang mengembang Puspa menceritakan ia diterima bekerja di sebuah perusahaan besar. Dimana menjadi sekretaris adalah impiannya.
"Wah,Puspa anak kebanggaan bapak." Baron merentangkan kedua tangannya memeluk Puspa.
" ehem, apakah kalian sedang bahagia.?" Berdiri Maria di belakang keduanya.
" Iya bu, Puspa diterima kerja." Puspa memeluk ibunya Maria.
Seketika air mata Maria meleleh membasahi kedua pipinya ingatannya melayang teringat dengan Alya. Bagaimana nasib Alya sekarang. Kemana ia akan mencari keberadaannya. Di tengah ibu kota yang ramai padat dengan penduduk siapa yang akan ia tanyai.
"Ibu pasti teringat dengan Alya lagi, bosan bu." Puspa menghentakkan kakinya kesal.
"Jangan begitu , Puspa. Dia itu kakak mu, bagaimana kabarnya sekarang.?" Tatapan Maria jauh menerawang.
"Heh, tentu dia sudah hidup enak." Jawab Baron sinis.
"Jangan lupa, kamu mas itu semua perbuatan mu.!" Jawab Maria geram dengan tingkah Baron.
" Ini hari bahagia Puspa kenapa bertengkar." Puspa mendengus kesal.
Puspa yang dulu sangat menyayangi Alya kini berubah membencinya hidup mewah yang kini ia rasakan tak ingin membaginya. Uang hasil dua milyar dari menjual Alya kini Baron membeli rumah di kota ia tak ingin lagi tinggal di kampung. Sebagian uang ia berikan kepada Puspa untuk perawatan diri untuk pergi ke salon. Ambisinya Baron ingin mendapatkan menantu kaya agar bisa menopang hidupnya di hari tua.
" Kamu benar - benar jahat mas." Ucap Maria menatap nyalang ke arah Baron.
"Biarkan saja , toh dia bukan anak kita, anak sialan itu akhirnya membawa keberuntungan untuk kita." Ucap Baron enteng .
"Jangan sampai kau menyesali ucapan mu mas .!" Maria memberi peringatan kepada Baron.
Maria benar- benar dibuat geram dengan tingkah suaminya. Hal yang tak ingin ia bayangkan bagaimana kalau keluarga Sudirja mengetahuinya. Ia akan mempertanyakan keberadaan Alya apa yang harus ia lakukan jawaban apa yang akan ia berikan kepada keluarga Sudirja.
__ADS_1