Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
pertengkaran mama Vera dan oma Jayanti.


__ADS_3

       Di kediaman Dharmawangsa.


 


         Mama Vera yang masih di dalam kamarnya ia memandangi ponselnya. Matanya sembab karena lelehan air mata yang terus mengalir membasahi kedua bola matanya.


 


          "Kamu tampan sekali Arjuna,kamu persis seperti papa mu." Ucap mama Vera memandangi foto dalam ponselnya. 


 


          Semenjak pertengkaran mama Vera dan Adrian , Adrian tidak pernah lagi pulang ke kediaman Dharmawangsa. Apa lagi di saat Adrian menggelar resepsi pernikahannya bersama Alya,Adrian melarang oma dan mamanya untuk datang ke acara tersebut.


 


         Kini mama Vera merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Adrian putra satu-satunya tidak pernah lagi datang menjenguknya dan tidak lagi menelponnya. Mama Vera masih menatap lekat foto dalam ponselnya yang ia dapatkan dari Bayu.


        


         Lama mama Vera membeku di dalam kamarnya, samar -samar dia mendengar dari arah luar ruangan orang sedang berbincang. Mama Vera bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar kamarnya. Matanya berotasi ke sebuah ruangan keluarga, tengah duduk oma Jayanti sedang berbincang dengan seseorang. 


 


             "Clara " 


 


         Kedua bola mata mama Vera membulat sempurna,  setelah dia melihat  oma Jayanti dan Clara berbincang dan bersenda gurau. Clara dulunya adalah kekasih Adrian. Dia pergi meninggalkan Adrian di saat hari pertunangannya. Setelah lima tahun berlalu kini dia datang lagi dan berbincang dengan oma Jayanti.


 


        "Kamu.?" Mau apa kamu ke sini.?"  Ucap mama Vera ketus.


 


         Menyadari mama Vera berdiri tak jauh dari mereka ,Clara pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri mama Vera yang menatapnya tajam.


 


        "Hai.., tante apa kabar ,ini Clara bawain oleh-oleh buat tante." Ucap Clara sembari tangannya menyerahkan beberapa paper bag barang branded.


 


       Mata mama Vera melirik sekilas ke arah Clara .


       "Maaf saya tidak butuh oleh -oleh kamu, barang yang kamu berikan itu , saya bisa membelinya sendiri." Ucap mama Vera.


 


      "Tante kedatangan Clara kesini, mau minta maaf , ini oleh-oleh buat tante , Clara ikhlas tante." Ucap Clara.


 


         Ciihh..


  


        Sorot mata mama Vera menatap tajam Clara yang berdiri di hadapannya, ia memindai tubuh Clara dari atas sampai bawah , tidak ada yang berubah dari Clara, ia masih tampak sama dari sebelumnya.


 


       "Mau apa kamu datang lagi.?" Tanya mama Vera tanpa ekspresi.


 


        Oma Jayanti bangkit dari duduknya lalu menghampiri mereka yang tengah berbincang.


 


        "Vera, Clara datang mau minta maaf pada kita, dia sudah menceritakan semua,dia tidak bersalah." Ucap oma Jayanti.


 


        " Apa.?" Minta maaf .?" Buat apa.?" Ucap mama Vera.


 


        "Aku tahu Clara sudah membuat kesalahan, apa salahnya kita memaafkannya." Ucap oma Jayanti.


 


       Mata mama Vera seketika mengembun. Ia membayangkan lima tahun yang lalu, di mana Adrian benar-benar patah hati setelah ditinggal pergi Clara di hari pertunangannya. Adrian sempat mengalami depresi berat hingga, hingga menutup diri untuk semua wanita.


        


            "Oma setuju jika Adrian kembali lagi dengan Clara, bagaimana menurutmu Vera.?" Tanya oma Jayanti.


 


            "Maksud oma apa.?" Jawab mama Vera menoleh ke arah oma Jayanti.


 


            "Ya, Clara cinta pertama Adrian, biarkan mereka bersatu."


 


            " Apa.?" 


 


       Kedua mata mama Vera terbelalak, ia tak menyangka jika mertuanya akan menerima Clara dengan begitu mudahnya.


 

__ADS_1


           "Oma, oma tidak salah mau menerima perempuan ini masuk ke dalam rumah kita.?" Tanya mama Vera.


 


       Mama Vera memandangi oma Jayanti yang berdiri disamping Clara, ia menatap lekat kedua perempuan itu di hadapannya.


 


        "Tidak, aku akan mendukung Clara kembali pada Adrian." Ucap oma Jayanti dengan ringan.


 


         "Aku ibunya, aku tidak sudi mempunyai menantu dia, dia sudah menyakiti Adrian , dan aku tidak akan pernah mendukungnya." Ucap mama Vera dengan suara lantangnya.


 


       "Aku omanya, aku lebih berhak menentukan kebahagiaan Adrian, daripada mempunyai menantu pelac*r dan rendahan , aku malu." Ucap oma jayanti tak mau kalah.


      


       Sorot mata oma Jayanti dan mama Vera beradu, di antara mereka tidak ada satupun yang mau mengalah , Clara yang berdiri di samping oma merasa bahagia mendapat dukungan dari orang yang paling disegani. Ritme Nafas mama Vera dan oma Jayanti naik turun, mereka sama-sama ingin memenangkan pendapat mereka masing-masing.


 


            "Sabar ya oma, berikan waktu sama tante Vera untuk berpikir." Ucap Clara.


 


            "Diam kamu.!" Suara mama Vera membentak.


 


          Clara seketika terdiam, ia menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh oma Jayanti.


 


         "Ingat .!" Ya Clara, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu mendekati Adrian, sudah cukup dulu kamu meninggalkan Adrian, dia sudah menikah dan punya anak sekarang hidupnya sudah bahagia." Ucap mama Vera menatap tajam Clara yang bersembunyi di balik tubuh oma Jayanti.


 


        "Vera , oma tidak akan pernah mengakui Alya sebagai menantu rumah ini, Clara lebih baik dari segalanya di banding dia, Clara cantik , berpendidikan dan jauh terhormat dibanding Alya." Jawab oma Jayanti dengan nada sarkas.


 


        "Baik , kita lihat saja nanti oma"Ucap mama Vera.


 


       Mama Vera pergi meninggalkan oma Jayanti dan Clara yang masih berdiri di ruang keluarga. Mama Vera menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, ia meraih ponselnya lalu kembali menatap lekat foto yang ada di dalam ponselnya. Tangisnya pecah kembali, ia begitu menyesali perbuatannya yang telah mendatangi  Alya di rumah sakit , kini kerinduannya dengan Arjuna sangat menggelora ingin bertemu , akan tetapi Adrian melarang siapapun menemui Alya dan anaknya tanpa persetujuan Adrian.


 


              ********


 


 


          Adrian yang berada di ruang perpustakaan, mata masih fokus ke layar laptopnya.


 


              Tok….tok…


             "Masuk.!" Sahut Adrian.


 


             Muncul dibalik pintu Dona dengan tubuh atletisnya.


 


            "Maaf tuan, Jonathan minta izin bertemu dengan anda." Ucap Dona.


 


           "Suruh dia masuk!" 


 


           "Baik tuan." 


 


          Tak berapa lama Jonathan muncul lalu memasuki ruangan Adrian , mereka duduk berhadapan.


 


             "Ada apa anda memanggil saya tuan.?" Tanya Jonathan.


 


          Jonathan yang terbiasa diberi tugas melalui telepon , merasa aneh ketika Adrian meminta untuk menemuinya. Adrian mematikan laptopnya lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


 


           "Jo, kamu ada kenalan guru private gak.?" Tanya Adrian.


 


           "Guru private, untuk apa tuan.?" Jonathan mengerutkan dahinya merasa aneh pada Adrian .


 


            Jonathan sudah lama bekerja di Dharmawangsa, tugas sesulit apa pun mampu ia selesaikan , dan dia juga mengetahui Adrian berpendidikan tinggi gelar terakhir Adrian pun diambil di luar negeri, tapi kenapa tiba-tiba menanyakan guru private padanya.

__ADS_1


 


            "Kenapa tidak di cari di google saja tuan.?" Tanyanya kembali.


 


          "Sudah." Aku ingin kamu menemuinya, pastikan dia sangat berkualitas." Jawab Adrian.


 


            Adrian menarik nafas dalamnya dan menghembuskannya dengan kasar. Dia bangkit dari rebahannya, lalu mengambil secarik kertas yang sudah dipersiapkan sejak tadi.


 


         "Kamu temui dia, pastikan dia berkualitas dan hanya bekerja untuk ku saja, berikan no ponselku jika dia mau." Ucap Adrian .


 


        Jonathan meraih kertas yang diberikan oleh adrian , ia membaca barisan kata yang tertera di kertas itu.


 


           "Mrs Saqueena, dia seorang psikolog , ya tuan.?" Tanya Jonathan.


 


          "Hem " 


          "Tapi buat apa.?" Tanyanya kembali 


 


          "Ya ampun Jo, kenapa kamu cerewet sekali." 


 


          "Baik tuan, saya berangkat sekarang."


 


         Jonathan bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Adrian seorang diri.Adrian kini keluar dari ruangannya berjalan mendekati Alya dan Rima yang berada di halaman rumah.


 


          "Hai..anak papa, sudah makin gede aja nih." 


 


          Adrian memandangi tubuh Arjuna yang berada dalam gendongan Alya, yang kini terlihat makin gembil kedua pipinya, pertumbuhan Arjuna semakin pesat , dia dengan gemas memegang kedua pipi bayi itu. 


 


         "Rima, bawa masuk Arjuna , saya mau bicara dengan nyonya." Ucap Adrian.


 


        "Baik tuan." Jawab Rima 


 


        Kedua tangan Rima meraih tubuh Arjuna dalam gendongan Alya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Alya dan Adrian .


 


        "Alya, mulai besok kamu akan sekolah private, di antar Jonathan ." Ucap Adrian.


 


        "Sekolah private.?" Tanya Alya heran 


         


        "He em." 


      


        "Baik, tu..ee sayang." Jawab Alya kaku .


 


        Adrian mengulas senyum mendengar jawaban Alya yang masih kaku. Sedikit hatinya bahagia karena walau terlihat canggung Alya mampu mengucapkannya. Berbeda dengan Alya semburat wajahnya merona menahan malu, jantungnya berdebar tak karuan jika dia berada di sisi Adrian.


 


           "Ayo kita mandi.?" Ucap Adrian.


 


           "Apa.?" Seketika mata Alya membulat.


     


           "Hey, jangan parno, maksudnya kita mandi di tempat berbeda." Jawab Adrian dengan senyum mengembang.


 


          Kembali raut wajah Alya merona memerah karena candaan Adrian, dalam diam Adrian bahagia karena berhasil menggoda Alya. 


 


             *****


 


         

__ADS_1


__ADS_2