
Satu minggu sudah berlalu. Pencarian Alya dan anaknya belum juga ada titik terang. Menjadikan Adrian sangat sensitif dengan segala hal, dia tidak bisa fokus dalam pekerjaannya.
Brakk…
Adrian melempar map yang diberikan Puspa untuk di tanda tangani. Semenjak kepergian Alya dan anaknya, membawa pengaruh besar pada diri Adrian, selain sensitif Adrian tidak bisa menerima kesalahan sedikitpun dari staf pekerjanya.
"Bro , tenang, segala masalah tidak bisa kamu selesaikan dengan cara emosi." Ucap Bayu yang paham dengan keadaan Adrian.
"Bay, cari tahu biodata tentang Puspa di bagian HRD, aku ingin tahu siapa dalang sebenarnya yang sudah menjual Alya , padaku malam itu." Ucap Adrian dingin.
"Dan ingat.!" Jangan sampai Puspa mengetahuinya."
"Oke, aku akan minta pak Ismail membawa berkas -berkas yang kamu minta." Jawab Bayu.
Bayu menggeser ponselnya dan menekan tombol memanggil.
Panggilan pun terhubung.
"Pak Ismail, saya mau biodata Puspa sekarang , dan tolong bawa data itu ke ruangan pak Adrian." Ucap Bayu.
"Baik pak." Apakah ada yang lain.?" Jawab pak Ismail di seberang telepon.
"Iya ada, jangan sampai Puspa dan pekerja lain mengetahui tentang hal ini." Ucap Bayu tegas.
Panggilan pun berakhir.
Bayu mengambil kursi dan duduk di depan Adrian, Adrian yang duduk sedang menatap ke arah luar jendela itu pun memalingkan pandangannya ke Bayu.
"Untuk apa kamu meminta data Puspa bro.?" Ucap Bayu .
"Bay, apakah kamu tidak merasa aneh , jika Alya di jadikan taruhan judi dengan bapaknya , lalu kemana uang yang aku trasfer dua milyar itu.?" Ucap Adrian dengan kedua alis bertautan.
"Iya, bro, jika Alya anak kandung tidak mungkin kan , bapak nya tega menjualnya, ada baiknya kita selidiki dulu bro." Jawab Bayu.
Adrian dan Bayu kini sedang sibuk berpikir. Jika memang Alya dan Puspa bersaudara , akan tetapi mengapa harus Alya yang menjadi korban. Adrian mengeluarkan ponselnya dan beberapa kali menggeser ponselnya lalu menekan tombol panggilan.
"Jo, aku mau kamu selidiki atas nama siapa aku mentransfer uang dua milyar di waktu itu ." Ujar Adrian.
"Baik bos." Jawab Jonathan di seberang telepon.
__ADS_1
"Apakah masih ada lagi bos.?" Tanya Jonathan.
"Aku mau tahu dimana dulu Alya tinggal, dan siapa saja anggota keluarganya itu sangat penting bagi Jo, segera mungkin aku minta laporannya.!" Ucap Adrian penuh penekanan.
Tok…tok..
"Masuk."
Muncul di balik pintu pak Ismail dengan sebuah map di tangannya.
"Ini tuan, data yang anda minta." Ucap pak Ismail meletakkan map di atas meja kerja Adrian.
"Terimakasih." Ucap Adrian.
"Saya permisi tuan."
"Hem." Jawab Adrian
Adrian membuka map yang diberikan pak ismail. Bayu yang duduk di samping Adrian pun ikut membaca setiap lembar kertas data Puspa.
"Baron Sucipto dan Maria pricilia, atas nama ibu dan bapak kandung Puspa." Tapi disini tidak tertera nama Alya sebagai kakak Puspa.?" Ucap Bayu.
"Apakah kita perlu ke catatan sipil bro, untuk mencari tahu siapa Alya data Alya disini sepertinya tidak akurat "
Adrian dan Bayu saling bertukar pendapat , di tengah sibuknya mereka berpikir , ponsel Adrian berbunyi panggilan masuk dari Jonathan.
"Bagaimana Jo, apakah sudah ada kabar .?" Tanya Adrian.
.
"Bos , uang yang anda transfer atas nama Baron Sucipto, dan menurut info yang saya dapat Alya pitaloka memang bukan anak mereka." Ucap Jonathan.
"Ada lagi bos, Baron pernah bekerja di sebuah perusahaan Sudirja Corporation, sebagai pengawas lapangan." Ucap Jonathan.
" Sudirja Corporation .?" Pengawas lapangan "Itu berarti dia bukan orang sembarangan." Ucap Adrian.
Panggilan pun berakhir. Bayu yang sejak tadi menyimak pembicaraan Adrian dan Jonathan pun tengah berpikir keras , tentang teka-teki kehidupan Alya.
"Bro, aku pernah membaca artikel tentang Sudirja Corporation , bahwa anak dari perusahaan itu pernah mengalami kecelakaan , bersama pengasuh dan anak usia dua tahun , kedua orang tua balita itu meninggal , tapi pengasuh dan anak itu masih hidup." Ucap Bayu memberi penjelasan.
"Tapi di keluarga Sudirja ada seorang gadis seusia Alya , Bay." Ujar Adrian.
"Ah ..tidak..tidak kamu lelet bro . Yang kamu maksud Celine Burhan Sudirja, itu bukan pewaris sah Sudirja."
__ADS_1
"Ini lihat .!"
Bayu menyodorkan layar laptop ke arah Adrian, ternyata sejak Adrian dan Jonathan berbicara tadi , Bayu sibuk mencari informasi di semua artikel melalui internet.
Di situ terpampang jelas foto profil , ANGGA WIJAYA SUDIRJA. Dan nama istri Yana suzana. Kepemilikan perusahaan Sudirja Corporation yang bergerak di segala bidang bisnis. Perusahaan besar yang kini diambil alih oleh Burhan yang menjabat sebagai wakil direktur. Hingga kecelakaan maut dua puluh tahun silam yang merenggut anak pemilik perusahaan yang bernama Bram Sudirja dan beserta istrinya Anita. Bram dan Anita beserta sopir meninggal di tempat. Tetapi anak dan pengasuh dari Anita dan Bram masih selamat.
Dari berita yang dimuat di situ dijelaskan pengasuh yang bernama Maria priscilla membawa kabur anak dari Anita dan Bram.
"Bro , itu artinya jika Puspa anak kandung Baron Sucipto dan Maria, berarti Alya pitaloka anak Anita dan Bram. Alya pitaloka pewaris sah perusahaan Sudirja Corporation." Ucap Bayu mantap.
Adrian yang sejak tadi terdiam. Kini pikirannya melayang , kehidupan Alya yang jauh dari kata mewah, sedangkan dia sebenarnya adalah pewaris sah dari perusahaan yang besar dan berkembang.
"Itu artinya Puspa , apakah sudah tahu bahwa Alya adalah anak majikan ibunya.?" Jika dia sudah tahu, aku takut Puspa akan menyakiti Alya dan anakku , Bay." Ucap Adrian.
"Segera perintahkan, orang-orang mu menemukan Alya dan anaknya. Aku tidak mau ada yang menyakiti anakku. Arjuna adalah pewaris Dharmawangsa, untuk sementara sembunyikan permasalahan ini dari publik." Ucap Adrian panik.
Adrian kembali menggeser ponselnya dan menekan tombol memanggil. Kegelisahan kini menyelimuti pikirannya setelah tahu kenyataan bahwa Alya dan anaknya menjadi sasaran orang-orang perebut tahta pewaris Sudirja.
"Jo, kenapa kamu lama sekali mengangkat ponselnya.?" Ucap Adrian
"Maaf bos, saya sedang…"
"Iya …iya…aku tahu, kamu sedang di bar, menikmati sundal bolong yang kurang bahan." Ucap Adrian kesal.
Jonathan yang memang benar adanya lagi di bar , dia sedang menikmati wanita -wanita cantik , memakai baju kurang bahan itu pun terdiam dengan ucapan Adrian, seperti punya ilmu indera keenam saja Adrian mengetahui kebiasaan anak buahnya.
"He..he..iya bos, ada apa bos .?" Tanya Jonathan di seberang telepon.
"Jo, kerahkan orang -orang mu untuk mencari Alya dan anakku. Aku mau anakku bisa cepat di temukan dalam keadaan selamat." Ucap Adrian .
"Baik bos." Jawab Jonathan.
"Bay ,apakah sudah ada perkembangan dari kantor polisi pencarian Alya.?" Ujar Adrian.
"Belum." Jawab Bayu
"Sebaiknya kita menyebar dalam pencarian Bay." Jika tidak, kita akan kehilangan jejak."
Adrian dan Bayu meningglkan ruangan. Langkah mereka terburu-buru menuju parkiran mobil. Bayu yang mengemudikan mobilnya kini mulai memecah keramaian kota. Mata Adrian berotasi ke setiap halte bus. Pikiran Adrian kini benar-benar sangat kacau , memikirkan Alya dan anaknya.
__ADS_1