
Lama Alya membeku di depan cermin , memandangi tubuhnya yang semakin hari semakin gemuk, sudah terlihat tanda-tanda hari kelahiran sudah mendekati.
Dari usia kehamilan tiga minggu, semenjak kepergian Adrian di negeri bambu , Alya harus merelakan kepergian Adrian untuk mengobati penyakitnya , atas dukungan keluarga dan istri akhirnya Adrian pergi juga , rumah sakit yang direkomendasikan oleh dokter Aura dan di sana selain alatnya canggih , juga dibantu dengan pengobatan herbal, penyakit leukimia harus ditangani secara intensif dan terapi yang ditangani tenaga ahli.
Alya sangat bersyukur , setelah kejadian dua puluh tahun lebih yang lalu, walaupun hanya bisa menatapi batu nisan kedua orang tuanya, ia sangat bahagia karena dia tidak menyangka jika dia terlahir dari kedua orang tua yang utuh, bukan dugaannya selama ini bahwa dirinya bayi yang terbuang , yang selama ini ia bayangkan.
Alya merebahkan tubuhnya , berharap malam ini bisa tertidur , kerinduan pada sang pujaan hati selalu ia tahan demi suaminya kembali dalam keadaan sehat. Lama Alya mencoba memejamkan matanya, akan tetapi karena perut yang sudah membesar membuat Alya kesulitan untuk semua posisinya .
Tanpa ia sadari karena lelah akhirnya matanya terpejam juga.
Malam pun berlalu dengan begitu cepat, tak terasa pagi pun tiba, Alya yang pagi itu merasakan kehangatan sebuah lengan kekar kini melingkari tubuhnya dari belakang, dengan wajah yang terbenam di tengkuk leher belakang Alya, Alya sangat terkejut mendapati sang suami tertidur dengan pulasnya dengan wajah yang semakin terlihat segar.
Alya membalikkan tubuhnya walau agak kesulitan , karena perutnya yang besar membatasi segala aktivitasnya.
"Mas.., kamu sudah pulang.?" Ucap Alya yang pagi itu di kejutkan sang suami sudah tidur di kamarnya.
"Hmm…, ayo tidur lagi aku kangen." Jawab Adrian dengan posisi mata masih terpejam.
Alya yang diselimuti kerinduan dengan sang suami, langsung menghujani Adrian dengan ciuman, Alya tak dapat membayangkan jika harus kehilangan suaminya, kepergiannya di negeri bambu itu saja sudah menyiksa dirinya , Alya sangat mengenal Adrian, apa yang dirasakan pun sama.
Tak terasa air matanya pun meleleh begitu saja tangis bahagia karena kepulangan sang suami.
"Kok gak bilang-bilang pulangnya mas.?" Protes Alya.
"Kalau bilang namanya bukan kejutan." Jawab Adrian mencium pucuk kepala istrinya.
"Tidak mungkin aku melewatkan momen istimewa istriku akan melahirkan, bagaimana kondisi anak papa di sana.?" Ucap Adrian mengusap perut buncit Alya.
"Baik dong pa…" Jawab Alya manja.
"Mas, apa pengobatannya sudah selesai kok udah pulang.?" Tanya Alya mengerutkan dahinya.
"Sudah dong.., Aura memang dokter baik, ia selain merekomendasikan rumah sakit terbaik , dia juga mempunyai teman yang meramu khusus obat herbal." Ucap Adrian masih memeluk istrinya.
"Kamu yakin mas, kamu sedang gak bohongi aku kan.?" Tanya Alya menyelidik.
"Gak lah sayang, buat apa aku bohong, tapi aku juga harus minum obat sesuai yang dianjurkan, karena penyakit ini tidak bisa sembuh total, jadi harus ada pencegahannya." Ucap Adrian menyakinkan istrinya.
Alya menarik nafas lega mendengar penjelasan suaminya. Kehilangan Adrian Alya tak akan sanggup untuk membayangkannya.
__ADS_1
Jam dinding pun menunjukkan pukul 07.00 pagi, Adrian bangkit dari tempat tidurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Adrian yang baru keluar dari kamar mandi dengan kepala basahnya, ia menatap lekat tubuh atletis yang sangat ia rindukan, aroma tubuh suaminya yang sangat ia rindu kini sudah berada di hadapannya.
"Sayang ayo aku bantu ke kamar mandi." Ucap Adrian mendapati Alya yang kesulitan turun dari ranjang.
Alya menurut saja ketika Adrian menggiringnya ke kamar mandi, perhatian kecil dari sang suami inilah yang selalu ia rindukan.
"Mas semalam pulang jam berapa, kok tiba-tiba sudah tidur di belakangku, gimana caranya kamu masuk mas.?" Taya Alya yang penasaran.
"Kamu tidak perlu pikirkan itu, kamu lupa ini rumahku juga ." Jawab Adrian .
Alya tidak mengetahui jika Adrian mempunyai kunci duplikat rumahnya, karena selama ini Adrian menyembunyikannya , tujuan Adrian hanya untuk berjaga-jaga dengan hal yang tak diharapkan akan terjadi.
Mereka pun turun dari kamarnya. Di lantai bawah Arjuna sudah bangun dan sedang bermain.
"Jagoan papa , apa kabar sayang." Ucap Adrian memeluk anak sulungnya.
Arjuna yang sudah lama ditinggalkan Adrian , sejenak ia menatap ke wajah yang sangat ia rindukan.
"Kesayangan papa lihat.!" Papa bawa apa.?" Ucap Adrian yang sudah menyiapkan oleh -oleh untuk Arjuna.
"Ya ampun Arjuna, kamu semakin gemuk saja kayak Boboho." Ucap Adrian gemas menciumi anaknya.
Arjuna langsung duduk di pangkuan Adrian , dengan antusias ia membuka bungkusan yang diberikan Adrian.
Di sudut ruangan keluarga, sudah terdapat dua koper oleh -oleh dari negeri bambu, yang sudah disiapkan oleh Adrian.
Terdengar suara deru mesin mobil dari luar, muncul Bayu dari arah pintu utama , dengan gayanya yang khas potongan rambut seperti aktor Shahrukh Khan, Bayu berjalan menuju ke arah ruang keluarga.
"Wah…Juna , pinjam dong mainannya bagus banget." Ucap Bayu menghampiri Arjuna yang duduk di pangkuan Adrian.
Bayu yang mendapatkan kabar dari Jonathan bahwa bos besar pulang , langsung meluncur ke rumah Adrian.
Untuk sejenak Adrian memandangi raut wajah Bayu yang terlihat agak tirus, tubuh Bayu tampak kurus tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Muncul Jonathan bergabung di antara mereka, Adrian tidak pernah memperlakukan pekerjanya seperti pelayan dan majikan, ia menganggap semua yang bekerja padanya sudah seperti saudara.
"Om Jo, ayo kita main." Ucap Arjuna sembari turun dari pangkuan Adrian .
Sementara Alya sibuk di dapur , dia sedang mempersiapkan sarapan suaminya di bantu dengan asisten rumah tangga.
"Kok pilih om Jo sih Juna , bukan om Bayu.?" Protes Bayu.
Arjuna tidak menghiraukan protes dari Bayu, dengan langkah kecilnya menghampiri Jonathan.
"Wah bos… , ini mainan nya bagus juga, sekarang kita main apa.?" Tanya Jonathan dengan Arjuna.
Arjuna meraih keranjang mainannya, lalu menghamburkan ke lantai, sehingga lantai itu pun sudah berubah menjadi wahana permainan , Jonathan yang bisa mengimbangi Arjuna , larut dengan bocah kecil itu.
Sementara Bayu , terlihat agak kikuk dengan teguran Adrian, Bayu yang sedang berjuang untuk mendapatkan restu sang mama, Puspa yang tidak ingin menerima cinta Bayu jika mama Bayu tidak menerimanya.
"Kamu kenapa Bay, terlihat kurus , apa selama aku tinggal stok beras di rumahmu habis.?" Ucap Adrian berkelakar.
Bayu hanya terdiam , sekilas ia membalas senyuman pada Adrian, ia tak tahu harus memulainya dari mana untuk bercerita pada Adrian.
"Ceritakan, siapa tahu aku dapat membantu.?" Tanya Adrian membuka pembicaraan.
"Kamu yakin bisa bantu.?" Tanya Bayu kembali.
Bayu menarik nafas nya untuk mengurai sesak yang membebani pikirannya.
"Mama sangat menentang hubungan ku dengan Puspa bro, aku kini sedang memperjuangkannya, aku tidak tahu harus bagaimana.?" Ucap Bayu tertunduk lesu.
Adrian yang yang mendengarkan keluhan Bayu menganggukkan kepalanya.Adrian paham bagaimana ibu kandung Bayu, dia lebih keras kepala dari ibunya.
"Kamu sabar ya.., alasannya apa tante Linda tidak merestui .?" Tanya Adrian.
"Kamu tahu sendiri , bagaimana masa lalu Puspa, itu yang membuat mama tidak menyukainya." Ucap Bayu.
"Berbeda dengan kamu bro, kamu bisa menentang semua, sedangkan aku bisa-bisa dikeluarkan dari daftar warisan." Ucap Bayu lagi.
"Jika kamu mencintainya , kamu tidak boleh menyerah, masalah warisan , kamu bisa mencari harta di bawah kolong langit ini , kamu tidak perlu takut semua sudah ada yang mengatur percayalah. "Ucap Adrian menyakinkan.
__ADS_1
Bayu mencoba mencerna perkataan Adrian, Bayu hanya takut apakah dia bisa membahagiakan Puspa atau tidak , walaupun Puspa sudah berubah , apakah Puspa bisa hidup dengan nya hanya modal cinta , semua juga pasti membutuhkan materi.Bayu sangat bimbang mendengar perkataan Adrian.