Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Berduka.


__ADS_3

      Adrian menutup panggilan masuknya dari Bayu, ia tampak gelisah marah dan kesal yang sedang dirasakan. Perlahan Adrian berjalan mendekati Alya yang sedang sibuk mengurus Arjuna. 


 


       "Emm…, Alya." Ucap Adrian ragu-ragu.


 


       "Ya, mas ada apa.?" Jawab Alya menoleh ke arah Adrian.


 


        Alya yang sedang sibuk memakaikan baju untuk Arjuna, tidak begitu memperdulikan Adrian, meskipun sudah ada baby sitter Alya tetap menjalankan perannya sebagai seorang ibu, setelah selesai mengenakan baju untuk Arjuna beserta topi penutup kepala, Alya berjalan mendekati Adrian yang tampak cemas.


 


        "Ada apa mas, kok kelihatannya gelisah begitu." Tanya Alya yang sedang menggendong Arjuna.


 


        Adrian memegangi pundak Alya menatap lekat wajah istrinya,ia ingin menyampaikan berita duka , bahwa Baron telah pergi untuk selamanya.


 


       "Bayu barusan kasih kabar, sekarang dia ada di rumah Puspa , bahwa bapak Baron kini sudah meninggal." Ucap Adrian.


 


      "Apa.?" Meninggal.?" 


       Sekujur tubuh Alya seketika rasa tak bertulang, berita tentang meninggalnya Baron , membuat syok Alya, biar bagaimana pun Baron orang yang pernah berjasa dalam hidupnya , walaupun terlihat jelas perbedaan kasih sayang yang diberikan Baron terhadapnya Alya tak ingin melupakan sisi baik Baron kepadanya.


 


        "Mas, bolehkah aku kesana, setidaknya untuk terakhir kali aku melihatnya."Ucap Alya memohon.


 


       Adrian yang saat itu masih menyimpan dendam dan marah terhadap Baron , seketika luluh dengan permintaan istrinya. Walaupun Adrian masih belum bisa mengungkap kebenaran tentang Alya, akan tetapi dia tetap tidak tega.


 


        "Baiklah kita kesana, bersiaplah." Ucap Adrian.


 


        Alya menyerahkan Arjuna pada Rima. Setelah mempersiapkan diri Alya dan Adrian berangkat dengan ditemani Jonathan sebagai pengemudinya. Di sepanjang jalan menuju rumah Baron, Alya hanya diam , meskipun Baron bukan ayah kandung dan tipe orang yang kasar, akan tetapi Alya sempat merasakan kasih sayangnya, tak terasa air mata menetes membasahi pipinya. 


 


          Tak berapa lama kendaraan yang di tumpangi Alya dan Adrian memasuki halaman rumah yang sederhana , di rumah itu sudah banyak para pelayat yang datang  dari tetangga, dengan tubuh gemetar Alya turun dari mobilnya. Untuk pertama kalinya dia memijakkan kaki ke rumah itu , setelah perpisahan malam itu , dimana Alya di jadikan taruhan judi mereka terpisah dari kampung hingga ke kota yang membawa Alya malam itu dibeli oleh Adrian, sayup-sayup terdengar suara tangisan Puspa dan Maria. 


          Semua mata tertuju pada Alya , pada saat Alya memasuki pintu utama rumah itu.


 


          "Assalamualaikum." Ucap Alya dengan bibirnya bergetar.


 


          "Waalaikumsalam" Jawab para pelayat hampir bersamaan.


 


         Puspa yang duduk di dekat kepala Baron menoleh ke arah Alya, matanya yang digenangi dengan air mata membuat sembab kedua mata Puspa, sedangkan Maria menangis di sudut ruangan, Alya melangkah mendekati Puspa lalu memeluknya.


 


          "Sabar ya Puspa, semua ini sudah takdir yang maha kuasa." Ucap Alya dalam isak tangisnya. 


      


          "Kak , maafin kesalahan bapak ya , yang selama ini menyakiti kakak." Ucap Puspa terbata. 


  


          Alya menganggukkan kepalanya.Alya pun bangkit berjalan mendekati Maria yang sejak tadi menangis, terlihat Maria sangat terpukul dengan kepergian Baron , meskipun mereka tak ada lagi ikatan suami istri, tapi rasa cinta Maria terhadap Baron tak pernah berubah. 


 

__ADS_1


          "Maafkan bapak ya Alya." Ucap Maria diiringi deraian air mata. 


 


          Alya pun tak dapat membendung air matanya yang terus mengalir. Ia memeluk erat tubuh Maria orang telah membesarkannya, tubuh yang dulunya terlihat segar, kini sangat berbeda Maria terlihat kurus dan pucat, tekanan batin yang selama ini membuat Maria selalu dihantui rasa bersalah setelah bercerai dari Baron.


 


         "Bagaimana bu, apakah masih ada yang ditunggu keluarga kerabat atau saudara jauh.?" Tanya seorang laki-laki yang berdiri  di ambang pintu memakai sorban di kepala.


 


         "Tidak ada lagi pak ustad." Jawab Puspa mendongakkan kepalanya.


 


          Puspa sudah meminta pihak rumah sakit untuk memandikan dan mengkafani jenazah Baron, hingga tidak memakan waktu lama jenazah Baron dibawa ke masjid untuk disholatkan. Setelah selesai di sholatkan , dengan dibawa mobil ambulance jenazah Baron dibawa menuju ke pemakaman, diiringi mobil Adrian dan Alya beserta Maria , Puspa mengikuti dari belakang.


 


        Tiba di pemakaman, sudah menunggu pihak warga yang siap menguburkan jenazah Baron. 


 


        "Bapak istirahat yang tenang ya di sana." Ucap Puspa di gundukkan tanah merah bertaburkan bunga. 


      


        "Sabar ya Puspa, bapak sudah tenang di sana, jangan menangis kita doakan saja yang terbaik untuk bapak." Ucap Alya memeluk Puspa. 


 


        "Mas, maaf kan aku." Lirih Maria. 


 


          Suasana haru begitu mencekam, Baron memang orang yang sadis dan kejam, akan tetapi Maria yang telah  lama hidup bersama merasa begitu kehilangan.


 


        Setelah para pelayat sudah pergi meninggalkan pemakaman, Adrian berjalan mendekati Alya yang masih berada di antara Puspa dan Maria. 


 


 


        "Kalian pulanglah dulu , aku masih ingin di sini." Ucap Puspa.


 


        "Ayo kita pulang bersama , tidak baik Puspa meratapi orang yang sudah pergi, kita semua akan menyusul , hanya waktu saja yang menentukan ." Ucap Maria memberi nasehat.


 


         Dengan berbagai bujukan akhirnya Puspa ikut pulang, di perjalanan hanya isak tangis yang terdengar. Alya mencoba memberi kekuatan , walaupun rasa sakit saat dirinya malam itu yang di jual oleh Baron sebisa mungkin untuk memaafkan segala kesalahannya, ia merasa bersyukur saat ini ia mendapatkan seorang Adrian laki-laki yang terlihat dingin terhadap orang lain, tapi jika sudah bersama keluarganya Adrian adalah sosok yang hangat dan penuh kasih.


          *******


 


      Masih dalam suasana duka, Di kantor sudah beberapa hari Puspa tidak bekerja. Bayu yang di dalam ruangannya hanya memberikan supportnya lewat pesan ponsel.


 


           Tok…tok..tok…


 


           "Masuk.!" Sahut Bayu dari dalam.


 


          "Maaf pak, ini laporan dari perusahaan cabang yang bekerjasama dengan Sudirja mohon di revisi ulang." Ucap pak Ismail meletakkan beberapa map di atas meja Bayu.


 


         "Letakkan di situ saja." Jawab Bayu datar.


 

__ADS_1


         Adrian yang sedang berjalan melewati ruangan Bayu, menghentikan langkahnya saat melihat  Bayu terlihat sedang galau.Adrian perlahan membuka pintu ruangan Bayu.


 


         "Boleh masuk.?" Tanya Adrian yang muncul di balik pintu.


 


          "Hem." Jawab Bayu berdehem.


 


          "Kamu kenapa, sakit.?" Ucap Adrian berjalan menuju sofa yang terletak di sudut ruangan.


 


          Bayu tidak langsung menyahut , Bayu sangat dilema dengan perasaannya karena belum mendapat jawaban dari Puspa.


 


          "Bro, apakah kamu akan setuju jika aku menyukai seseorang.?" Ucap Bayu berjalan mendekati Adrian yang sedang duduk di sofa. 


        


           " wah.., kamu sedang jatuh cinta, siapa wanita itu.?" Ucap Adrian .


 


           Bayu tampak ragu ingin mengungkap Puspa yang kini sedang ia pikirkan, mengingat Puspa adalah orang yang jahat dan pernah mencelakai Alya hingga Alya mengalami pendarahan dan terbaring di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, Puspa juga yang sudah menghasut tante Vera agar tidak menyetujui pernikahan Adrian dan Alya.


 


        "Apakah kamu akan setuju jika aku mengatakannya." Ucap Bayu.


 


       Alis Adrian bertautan ia menatap lekat wajah Bayu yang penuh keraguan.  


 


       "Ayolah, siapa dia.?" Ucap Adrian penuh tanya.


 


        "Dia Puspa, entah sejak kapan perasaan itu tiba-tiba hadir." Jawab Bayu .


 


         Adrian diam sejenak, sebenarnya Adrian tidak begitu peduli dengan kehidupan asmara Bayu, tapi kenapa harus Puspa orang yang begitu jahat.


 


        "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, kamu pasti tidak menyukainya kan.?" Ucap Bayu.


 


        "Yakinlah dia sudah berubah, bahkan dia rela meninggalkan kehidupan glamornya." Ucap nya lagi.


 


        Bayu menceritakan tentang Puspa yang kini sudah tidak seperti yang dulu yang berambisi Puspa sudah menghukum dirinya sendiri dia tidak menggunakan fasilitas kantor yang diberikannya. 


 


        Puspa sudah menjual semua aset miliknya yang berharga uang hasil dari menjual Alya malam itu,untuk memberi pengobatan terbaik Baron yang sedang sakit.


 


        Kini tinggal rumah dan pekarangan yang ditempati, seperti hukum yang berjalan apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai.


 


         "Bay, keputusan ada di kamu bagaimana dengan mama mu, apakah sekiranya dia akan setuju.?" Ucap Adrian


 


        Bayu terdiam mendapat pertanyaan Adrian, sejauh ini Adrian bisa berjuang untuk Alya , Adrian menentang oma dan tante Vera , Adrian mempunyai segalanya untuk membahagiakan Alya sedangkan dia, hanya beberapa persen saham yang ia tanam di perusahaan ini, jika mamanya tidak setuju apakah dia bisa memperjuangkan Puspa.


 

__ADS_1


     ******


__ADS_2