
Adrian berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi, sedangkan Alya dan ibunya Maria duduk bersama di ruang tunggu.
"Keluarga pasien.?"
Seorang dokter wanita berdiri di depan pintu ruang operasi.
"Saya dokter, bagaimana keadaan pasien.?" Tanya Adrian.
"Keadaan pasien belum stabil pak,akibat luka tusukan di perut pasien hampir kehabisan darah , beruntung nyawanya masih bisa ditolong, kita tinggal menunggu pasien siuman saja." Ucap dokter itu memberi penjelasan
Alya dan ibunya Maria bernafas lega, mengingat bagaimana pisau menancap di perut Puspa tadi, Alya tidak dapat membayangkan bagaimana Puspa bisa diselamatkan.
"Baiklah dokter, tolong pindahkan pasien di ruangan yang VIP, masalah biaya nanti saya yang menyelesaikannya." Ucap Adrian.
"Baik pak , sebentar lagi nanti kami pindahkan sesuai permintaan anda." Jawab dokter itu tersenyum ramah.
Tak berapa lama keluar Puspa dari ruangan operasi , dia terbaring lemah dan belum sadarkan diri , bibirnya yang pucat seperti mayat hidup. Alya dan ibunya hanya memandangnya sekilas , karena beberapa perawat yang sedang mendorong ranjang pasien melewati mereka untuk memindahkan Puspa ke ruangan VIP.
Alya dan ibunya Maria mengikuti langkah perawat yang mendorong ranjang pasien dari belakang. Tiba di ruangan itu , beberapa perawat memasang selang infus dan selang oksigen. Setelah selesai mengerjakan tugasnya perawat itu pergi meninggalkan ruangan itu.
Maria berjalan melangkah mendekati Puspa yang sedang terbaring, ia memandangi wajah Puspa yang tampak pucat, hatinya terasa ngilu menyaksikan Puspa yang tak berdaya.
"Puspa bangunlah nak, ini ibu ." Rintih Maria.
Maria menggenggam tangan Puspa lalu menciumnya, ia pandangi wajah Puspa.
"Bu , percayalah Puspa pasti sembuh, Alya yakin Puspa wanita yang kuat." Ucap Alya menghibur Ibunya Maria.
"Alya, maafkan ibu, karena ulah bapak, kamu harus menderita, ibu tidak berdaya melawan bapak, tapi tidak kali ini dia benar-benar sudah melewati batas." Ucap Maria dengan mata berkaca-kaca.
Hati Maria kini benar-benar hancur,menyaksikan anaknya harus terbaring karena ulah dan ego Baron.
Di balik pintu muncul Adrian , dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisikan kotak makanan dan air mineral. Adrian meletakkan barang bawaannya di atas meja.
"Kalian pasti belum makan, ini aku bawakan makanan, ayo, dimakan bu, ibu juga harus jaga kesehatan untuk Puspa." Ucap Adrian membujuk.
Alya hanya terdiam , ia memperhatikan Adrian dari ekor matanya. Adrian berjalan mendekati Alya.
"Kita harus pulang, kasihan Arjuna dia pasti merindukan ibunya." Ucap Adrian lembut.
"Arjuna, apakah itu nama cucu ibu Alya." Ucap Maria menatap lekat Alya.
Alya menganggukkan kepalanya, bibirnya mengembangkan senyuman tipis.
"Nama yang indah, kapan kamu akan memperkenalkan ibu dengan Arjuna Alya.?" Ucap Maria.
Tidak ada sahutan, mata Alya menatap ke arah Adrian, karena dia harus meminta persetujuan dari sang suami. Adrian yang memahami pikiran Alya, kini dia tengah berpikir memberikan izin atau tidak. Mengingat begitu banyak kejadian dia tidak akan sembarangan membawa keluar Arjuna.
"Emh.., nanti jika keadaan sudah kondusif membaik , ibu boleh berkunjung ke rumah kami." Ucap Adrian.
"Ibu paham nak, baiklah, kalian pulanglah terima kasih sudah membawa Puspa tepat waktu jika tidak…, ibu tidak tahu apa yang terjadi." Ucap Maria sendu.
Alya berjalan mendekati Maria, ia memeluk tubuh renta itu. Jika dia tidak mengingat Arjuna anaknya ia memilih menemani ibunya di rumah sakit.
"Alya pulang ya bu, jangan lupa makan jaga kesehatan ibu." Ucap Alya di saat memeluk Maria.
"Iya, kamu juga jaga kesehatan, apalagi kamu menyusui tidak boleh banyak pikiran." Ucap Maria memberi nasehat.
Setelah berpamitan Adrian dan Alya pergi berjalan meninggalkan ruangan itu. Mereka menuju parkiran. Mobil pun berjalan memecah keheningan malam. Mata Adrian melirik Alya yang tengah canggung. Hening . Tidak ada suara mereka hanya saling melirik lewat ekor mata.
"Alya, apakah kamu keberatan jika aku melarang membawa Arjuna menemui ibu Maria.?" Tanya Adrian memecah keheningan.
"Saya tidak punya hak tuan untuk keberatan, semua keputusan ada ditangan anda." Jawab Alya .
"Tuan.?"Apakah kamu masih mau memanggilku dengan sebutan itu.?"
"Aku ini sudah menjadi suami mu, nanti semua orang mengira kamu pembantuku.?" Ucap Adrian mendengus kesal.
__ADS_1
"Maaf tuan , ee..saya harus memanggil apa.?" Ucap Alya bergetar.
"Ya , kamu pikir sendiri , itu sudah menjadi tugasmu, jika kamu masih memanggilku tuan , jangan salahkan aku jika aku ******* bibirmu walaupun di tempat ramai." Jawab Adrian datar.
Alya seketika mengerucutkan bibirnya lalu membungkam dengan kedua tangannya, dia bergidik membayangkan jika benar Adrian melakukan itu, sedangkan Adrian ingin tertawa melihat tingkah Alya.
"Bagaimana.?" Kamu setuju kan .?" Tanya Adrian menggoda.
Alya seketika terkesiap mendengar perkataan Adrian yang terdengar mengerikan bagi Alya.
"Tidak tu…, ee , saya harus panggil apa.?" Tanya Alya dengan tubuh bergetar.
"Sayang.?" Kamu harus panggil aku sayang bagaimana.?" Aku kan suamimu , biar terlihat mesra." Ucap Adrian.
Tubuh Alya seketika meremang , jantungnya berdetak kencang tak beraturan, permintaan Adrian benar-benar membuat salah tingkah Alya.
Alya terdiam memikirkan permintaan Adrian, memang benar mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri, tapi ini semua terlalu cepat bagi Alya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai parkiran apartemen. Alya dengan terburu-buru membuka pintu mobil , ia takut Adrian akan mencecarnya lagi. Adrian hanya tersenyum melihat tingkah Alya. Mereka pun berjalan beriringan sampai di depan pintu Alya mematung karena dia tidak tahu kode untuk membuka pintu.
Dari belakang tubuh Alya , Adrian meraih tangan Alya lalu menekan tombol nomor rumah mereka, jantung Alya berdebar ketika Adrian membisikkan di telinganya menyebutkan barisan kode nomor rumahnya.
"Itu kode nomor rumah ini, bagaimana kamu bisa masuk jika tidak tahu nomornya.?" Ucap Adrian.
Pintu pun terbuka , Alya segera memasuki rumahnya dengan terburu-buru, ia berlari kecil menuju kamarnya, lalu segera menutup pintu kamarnya.
Adrian tersenyum menyaksikan tingkah Alya. Ia tak menyangka jika sebegitunya Alya takut berada di sisinya.Adrian pun lalu memasuki kamarnya untuk membersihkan diri.
******
Pagi pun tiba ,Alya masih di dalam kamarnya, ia takut keluar kamar karena takut bertemu dengan Adrian. Hingga terdengar ketukan pintu dari luar beberapa kali tapi Alya masih takut untuk membukanya.
Tok…tok…tok..
"Mbak Rima, bilang sama tuan saya lagi tidak enak badan." Jawab Alya dari dalam kamarnya.
"Baik nyonya." Jawab Rima.
Alya sedang berpikir keras bagaimana caranya menghindari Adrian. Sejujurnya dia masih takut dan trauma bila berada disisi Adrian. Dia tidak menyangkal perilaku Adrian kini berbeda padanya dia lebih lembut dari biasanya.
Tok…tok…
"Alya , buka pintunya apa kamu sakit.?" Tanya Adrian di luar kamar.
Lamunan Alya seketika buyar , mendengar suara Adrian di balik pintu. Kini jantungnya berdetak kencang.
Deg…deg…deg…
"Ya ampun , lama-lama aku bisa punya penyakit jantung." Kenapa begini sih, setiap kali mendengar suaranya kok jadi gak karuan." Lirih Alya.
Terdengar kembali ketukan pintu dari luar, hingga memaksa Alya harus membukanya. Setelah pintu terbuka.
"Kamu sakit.?" Kenapa tidak bilang.?" Ucap Adrian sembari tangannya ia letakkan di kening Alya.
"Tidak tuan , saya hanya tidak enak badan." Ucap Alya.
"Tuan.?"
"Ah..tidak-tidak ,maafkan saya maksud saya,sa..sa..sayang."Ucap Alya terbata-bata.
Alya lalu membungkam mulutnya , ia teringat perkataan Adrian ia akan ******* bibirnya jika masih menyebutkan dirinya dengan sebutan Tuan.
Adrian tersenyum tipis melihat tingkah Alya.
"Apa kita perlu ke rumah sakit.?" Tanya Adrian.
__ADS_1
"Tidak perlu.!" Jawab Alya singkat.
"Baiklah , kalau begitu istirahatlah, aku akan meminta mbok Asri mengantarkan sarapan mu ke kamar."
Alya menganggukkan kepala. Setelah kepergian Adrian Alya bernafas lega.
Alya pun segera menutup pintu kamarnya kembali.
******
Di penjara.
Baron kini meratapi dinding penjara,raut wajahnya kini benar-benar kusut tidak seperti biasanya.Kini pikirannya menerawang memikirkan Puspa, air matanya terus mengalir tak terhentikan.
"Saudara Baron , ada kunjungan untuk anda." Suara sipir memanggil Baron.
"Kunjungan.?"
Sudah beberapa hari Baron mendekam di penjara, tapi baru kali ini ada kunjungan untuknya. Baron segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri sipir yang sudah menunggunya di depan pintu sel tahanan.
Baron membeku berdiri tak jauh dari seorang wanita yang tengah duduk di ruangan yang dikhususkan untuk pengunjung di penjara. Lalu berjalan menghampiri wanita itu.
"Maria.?" Ucap Baron dengan suara parau.
Maria pun menoleh ke arah sumber suara yang sangat ia kenal.
"Terima kasih , kamu masih mau menjengukku."
Tidak ada sahutan , Maria lalu mengeluarkan rantang yang berisikan makanan.
"Makanlah." Ucap Maria.
Baron lalu membuka rantang makanan itu, seketika air matanya jatuh tak tertahankan , wanita yang kini di hadapannya masih begitu peduli padanya, ia membawakan makanan favorit Baron, ayam semur dan sambal petai di campur udang.
Hati Maria terasa sesak memandangi tubuh renta Baron , yang kini terlihat kurus dan tidak terawat. Ia menatap lekat Baron yang sedang menyantap makanan yang ia bawa, begitu lahapnya Baron menyantap hingga tidak tersisa.
"Terima kasih , kamu sudah begitu peduli padaku." Ucap Baron.
Maria meraih tas nya , lalu mengeluarkan selembar kertas putih dari dalam tas itu lalu meletakkan di depan Baron.
"Apa ini.?" Tanya Baron .
Baron membuka kertas putih itu. Kedua matanya terbelalak membaca tiap baris kata di kertas itu.
"Cerai, kamu meminta cerai Maria.?" Tanya Baron dengan suara berat.
"Tidak !" Aku tidak akan menceraikanmu Maria, tolong maaf kan aku, aku khilaf "
"Maafkan aku mas, cerai adalah jalan terbaik untuk kita berdua, meskipun di dalam agama mu, tuhan mu sangat membenci perceraian , tapi aku sudah tidak sanggup lagi."
Air mata Maria yang tak terbendungkan lagi, akhirnya jatuh meleleh membasahi pipi.
"Aku tidak akan menceraikanmu Maria, aku sangat mencintaimu, bagaimana dengan Puspa , jika kita bercerai.?"
"Aku tidak ingin menyaksikan kamu melukai orang lagi mas,sudah cukup Puspa mengorbankan dirinya melindungi Alya, jika tidak …, aku tidak ingin kehilangan Puspa dan Alya."
"Maaf bu , jam besuk nya sudah habis , bisa anda lanjutkan kembali besok." Ucap petugas lapas.
Perbincangan mereka terhenti. Maria lalu menghapus air matanya, Maria pun bangkit dari duduknya lalu meraih tas selempangnya, dia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa uang lembaran seratus ribu dan meletakkannya di atas meja.
"Ini uang, siapa tahu kamu membutuhkannya, aku pamit,tolong kabulkan permintaanku."
Maria berjalan perlahan meninggalkan Baron yang tengah kebingungan.
"Maria, tunggu Maria , aku tidak mau cerai.!" Teriak Baron.
"Mariaaa…"Pekik Baron.
Maria tidak ingin menoleh lagi kebelakang ,Maria berjalan dengan langkah gontai, luluh lantak sudah dinding pertahanan yang selama ini ia pertahankan untuk berumah tangga dengan Baron , dua puluh lima tahun dia bertahan , kini dia benar-benar sudah tak sanggup lagi.
__ADS_1
******