Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
penyakit.


__ADS_3

       Setelah membersihkan diri Adrian keluar dari kamarnya, dia menoleh ke arah kamar Alya pintu kamar masih terlihat tertutup.Adrian berjalan mendekati kamar Alya.


 


              Tok…tok…tok…


 


            "Emh.., iya tunggu sebentar." Alya menggeliatkan tubuhnya lalu bangkit dari ranjang tempat tidurnya.


 


             Cklek.


 


            "Masih tidur.?" Tanya Adrian yang sudah berdiri di depan pintu.


 


             Alya terlonjak mendapati Adrian sudah rapi dengan pakaian kerjanya.Lalu matanya menoleh ke arah dinding,terpampang jelas waktu sudah menunjukkan pukul 08.00.


 


           "Ma..mau apa anda kemari,?" Tanya Alya gugup.


 


           "Hey.., aku ini suamimu" Apa aku tidak boleh masuk ke sini.?" Tanya Adrian mengerutkan alisnya.


 


           Alya terdiam memandangi tubuh atletis Adrian,tak bisa disangkal laki-laki yang kini berdiri di depannya memang sah sudah menjadi suaminya. Tapi yang membuat pikiran Alya kini menjadi kecewa,jika Adrian pernah menghabiskan malam bersama dirinya. Bagaimana sebelum selama ini pernah menghabiskan malam bersama wanita sewaan lainnya.


 


            "Kenapa kamu diam.?" Terus memandangku seperti itu, kamu naksir aku ya.?" Tanya Adrian menggoda Alya.


 


           "Ti..tidak."Jawab Alya mengalihkan pandangannya.


 


           "T…tu..ee, apakah saya boleh bertanya.?" Tanya Alya.


 


            Adrian berjalan mendekati box bayi, lalu menggendong bayinya.


 


          "Kamu mau menanyakan apa.?" Jawab Adrian sembari menggendong bayinya.


 


          Alya terdiam tengah berpikir , dia ingin menanyakan hal yang sangat penting bagi dirinya. Tidak pernah terlintas di pikiran Alya , semenjak di nikahi Adrian,Alya kini seperti di ratu kan di rumah Adrian , tapi itu semua tidak membuatnya nyaman . Adrian memang sangat kaya bisa memenuhi segala kebutuhannya,lantas itu semua tidak membuatnya senang karena bisa saja dengan kekayaan nya Adrian bisa gonta ganti wanita sesuka hatinya. Alya bergidik membayangkan jika dia malam itu bisa saja tertular suatu  penyakit.


           "Kok diam."? Tanya Adrian.


 


          "Maaf ,saya mau menanyakan sesuatu , anda kan kaya pasti anda sudah menghabiskan malam bersama wanita yang berbeda-beda, apakah anda yakin tidak terkena penyakit HIV atau yang lainnya.?" Ucap Alya .


 


         Adrian yang mendengar perkataan Alya , seketika raut wajahnya berubah memerah, dia mengepalkan tangannya,terlihat jelas dia menahan marah. Jika yang menanyakan itu Bayu atau Jonathan , mungkin sudah ia melayangkan tinjunya ke arah wajah itu.


 


         Adrian menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan amarah yang hampir meledak.


 


            "Apa.?" Kamu pikir aku ini penyuka ************ , gonta -ganti perempuan.?  Jawab Adrian membelalakkan kedua matanya.


 


          Alya menundukkan kepala,ia tak berani lagi menatap Adrian.Pikirannya benar -benar kacau karena sudah mempertanyakan hal yang sangat pribadi, dan bisa saja menyinggung perasaan Adrian.


 


          Adrian menatap lekat Alya, ingin sekali dia menggigit bibirnya, karena sudah mempertanyakan hal konyol pada dirinya.Jika saja dia tidak berpikir bahwa Alya masih membutuhkan waktu untuk bisa menerima dirinya besar kemungkinan dia sudah membaringkannya di tempat tidur.


 


          "Bersiaplah.!" Kita akan ke rumah sakit Puspa sudah diperbolehkan pulang hari ini.!" Ucap Adrian mendengus kesal. Lalu membaringkan bayinya.


 


 


           Adrian berjalan keluar dari kamar Alya, Alya memberanikan diri mendongakkan kepalanya menatap punggung Adrian yang melangkah keluar.


 


           "Ada -ada saja , dia pikir aku penjahat kelamin dan penyuka ************.?" Gerutu Adrian.


 


           Adrian sejenak terdiam , merenungkan pertanyaan Alya, seburuk itukah Alya menilai dirinya , karena kejadian malam itu hingga membuat imejnya dinilai negatif.


 


          Jantung Alya berdebar tak karuan. Dia membayangkan bagaimana jika Adrian marah pada dirinya.


 


          "Oh tuhan, lindungilah diriku dari kemarahan tuan takur." Lirih Alya.

__ADS_1


          Alya pun memasuki kamar mandinya lalu membersihkan diri. Setelah merias dirinya tipis , Alya keluar kamarnya matanya berotasi keliling mengintip keberadaan Adrian.


 


           Adrian yang duduk di ruang tamu, menyunggingkan senyumnya karena ia memperhatikan tingkah Alya dari kejauhan.


 


         Setelah berpamitan pada pengasuhnya bayinya , Alya berjalan menghampiri Adrian yang sedang duduk di ruang tamu.


 


          "Apakah sudah siap.?" Tanya Adrian.


 


           Alya tidak menyahut hanya menganggukkan kepala.


            Adrian bangkit dari duduknya.Alya berjalan mengekor dari arah belakang Adrian. Setelah memasuki mobil, kendaraan pun berjalan memecah keramaian kota menuju rumah sakit.


 


         Di perjalanan rumah sakit memakan waktu agak lambat , dikarenakan padatnya kendaraan membuat macet. Adrian menoleh ke arah Alya dia memperhatikan Alya duduk dengan gelisah , lalu terdengar bunyi perut Alya keroncongan.


            "Kamu lapar.?" Tanya Adrian melirik Alya.


 


           Alya menganggukan kepalanya. Karena buru-buru tadi mau berangkat , Alya tidak sempat lagi untuk sarapan.


       


            "Kenapa tidak bilang dari tadi.?" Ucap Adrian.


 


           Adrian lalu memutar arah kendaraannya, mobilnya pun memasuki kawasan elite dimana banyak mobil mewah sedang parkir di area itu.


 


         Setelah turun dari mobil, Alya mendongakan kepala membaca huruf cetak besar yang terpampang di gedung itu. Ia pun berjalan mengikuti langkah Adrian memasuki Resto itu.


 


           Setelah duduk, seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan selembar kertas print daftar menu resto tersebut.


 


          "Ayo , pilihlah makanan yang kamu suka, kamu bisa memilih sendirikan.?" 


 


          Alya menganggukan kepala.


 


        Kedua matanya membulat , memperhatikan daftar harga menu yang tertera. Karena seumur hidupnya belum pernah menyantap makan mahal.Jadi Alya bingung untuk memilih.


 


 


         Adrian yang memperhatikan Alya tampak kebingungan itu berinisiatif mengambil daftar menu yang di pegang Alya.


 


          "Kamu suka makanan sayur atau daging.?" Tanya Adrian menautkan kedua alisnya membaca daftar menu makanan.


 


          "Suka semuanya " Jawab Alya


 


           "Mbak pesan beef steak dan chicken goreng dicampur saus tiram minumnya cappucino  dingin aja." Ucap Adrian sembari menunjukkan  daftar menu yang ada di tangannya.


 


            "Baik tuan, ditunggu pesanannya." Ucap pelayan itu sembari berjalan meninggalkan mereka.


 


          Begitu banyak pertanyaan di kepala Adrian , memperhatikan tingkah Alya untuk memilih menu makanan saja dia bingung , bagaimana dia selama ini menjalani hidup. Walaupun Adrian sudah mengetahui siapa Alya sebenarnya ia memilih untuk menyembunyikannya.  Adrian menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, dia harus memperhatikan keselamatan Alya dan anaknya. Besar kemungkinan bahaya mengancam keluarganya.


 


 


          "Ini pesanan anda tuan." 


            Lamunan Adrian membuyar seketika, ketika suara seorang  pramusaji datang menghidangkan makanan yang di pesan oleh Adrian.


 


         "Ayo kita makan, jika kamu masih menginginkan kamu bisa pesan lagi." Ucap Adrian meraih makanan yang ada di hadapannya.


 


         Adrian dan Alya pun menyantap makanannya , mata Adrian melirik cara makan Alya, terlihat sekali Alya begitu menikmati makanannya.


                


          "Mau lagi.?" Tanya Adrian 


 


          "Tidak.!" Alya menggelengkan kepalanya.


 

__ADS_1


 


         Setelah menyelesaikan pembayarannya, Adrian mengambil kartu hitamnya yang bergariskan emas. Mereka pun melangkah keluar resto itu.


       Sepanjang jalan menuju rumah sakit. Alya tampak diam , dia tengah memikirkan Puspa dan ibunya. Bagaimana dulu mereka pernah hidup bersama,kini Puspa sudah diperbolehkan pulang dari pihak rumah sakit, setelah melewati beberapa pemeriksaan. Hati Alya benar -benar nyeri mengingat Puspa yang sudah bersedia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya.


 


            "Ibu." Ucap Alya yang muncul dari balik pintu.


 


           "Kak Alya." Ucap Puspa dengan mata berbinar.


 


          "Puspa , apakah kamu sudah benar-benar sehat.?" Ucap Alya memindai tubuh Puspa yang tampak berseri.


 


          "Seperti yang kakak lihat, Puspa sudah sehat." Jawab Puspa.


 


           "Terima kasih Puspa." Ucap Alya sembari memeluk Puspa.


 


         Air mata Alya meleleh membasahi kedua pipinya. Dia tidak dapat membayangkan jika Puspa tidak melindungi dirinya pasti sudah dia yang terbaring di rumah sakit.


 


           "Terima kasih untuk apa kak.?" Justru Puspa yang harus minta maaf pada kakak, maaf kan Puspa ya kak, selama ini Puspa sudah jahat sama kakak." Ucap Puspa dalam isak tangisnya yang tersedu- sedu.


 


           Alya dan Puspa berpelukan , tidak terasa air mata Maria juga meleleh menyaksikan kedua orang yang sangat dia cintai kini berpelukan , hati Maria kini sangat bahagia.


 


              *******


 


         Di kediaman Sudirja.


 


           "Anton, kenapa Baron tiba-tiba muncul di pernikahan putra Dharmawangsa.?" Tanya oma Yana penasaran.


 


            Anton yang terdiam dengan pertanyaan oma Yana hanya menggelengkan kepala.


 


            Pemberitaan yang tersebar luas baik di media sosial dan koran kini tengah gencar menjadi perbincangan panas , karena dari pembatalan pertunangan dan penyerangan resepsi pernikahan Adrian kini tengah diburu oleh semua wartawan.


 


         "Nyonya , tapi nona muda menjadi korban penikaman Baron, jika kita mendekati Dharmawangsa itu akan berpengaruh ke bisnis kita." 


 


        "Kita akan dituduh telah bersekongkol." Ucap Anton.


         "Bukankah sudah ku katakan lindungi dia!" Apa kerja kamu Anton.?"  Ucap oma Yana dalam kemarahannya.


 


         "Saya akan menemui Baron di penjara, semoga saja dia mau membuka mulutnya." Jawab Anton. 


          Keduanya terdiam tengah sibuk memikirkan cara untuk mendekati Dharmawangsa , selain terikat kontrak kerja , mereka juga bersaing dalam bisnis, jika mereka sampai menyinggung keluarga Dharmawangsa , tak dapat dibayangkan dengan mudah perusahaan mereka akan dibuat hancur.


         


 


           Tanpa mereka sadari , sepasang telinga telah mendengarkan pembicaraan mereka. Burhan yang sembunyi di balik dinding yang dia buat khusus untuk mendengarkan setiap  Anton menemui oma Yana, kini dia menyunggingkan senyumnya.


 


              "Di penjara.?" Baiklah siapa yang akan tiba di penjara lebih dulu.?" Ucap Burhan tersenyum licik.


 


              "Nyonya kita harus cepat menemui nona muda dan Maria." Karena saya takut Burhan akan menemukan terlebih dahulu." Ucap Anton.


 


            "Ya, tapi aku tidak ingin terburu-buru, aku ingin memastikan terlebih dahulu pada Maria, kenapa sampai detik ini dia belum menemuiku.?" Ucap oma Yana.


 


          Oma Yana mengingat beberapa tahun yang telah berlalu, Maria sendiri yang akan datang menemui dan menyerahkan pewaris tunggal Sudirja.


 


           "Aku tidak ingin gegabah mengambil tindakkan, lalu ada orang yang memanfaatkan situasi ini." Ucap oma Yana.


 


         "Yang anda katakan benar nyonya, hal yang tidak mungkin di balik semua ini pasti ada yang memanfaatkan situasinya." 


         "Sebaiknya kita harus lebih waspada." Ucap Anton.


 


          Perbincangan pun mereka sudahi Anton berjalan di belakang oma Yana keluar ruangan itu. Mereka berjalan menuju taman di belakang, di taman itu yang dulu penuh kenangan. Di mana Anita dan Bram menghabiskan waktu bersama Alya kecil dengan bermain. Taman itu masih terawat hingga kini berharap sang empu segera kembali dan merubah suasana rumah.

__ADS_1


 


            *****


__ADS_2