Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Kediaman Sudirja


__ADS_3

             Bangunan yang kokoh mewah dan megah, dengan halaman yang luas masih terlihat sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Keheningan yang dulu mencekam semenjak kepergian Bram dan Anita kini mulai berwarna semenjak kedatangan Celine Burhan Sudirja.


 


                "Wah…wah.., ternyata anak papa ini, mempunyai  bakat pebisnis juga.?" Ucap Burhan memuji putrinya.


   


                "Iya dong pa, kalau bukan Celine, siapa yang nerusin Sudirja Corporation.?" Celine menimpali ucapan Burhan.


            


              " Rupanya kalian sedang bergembira, dalam rangka apa.?" 


 


               "Apakah acara kalian sukses.?"  


             Oma Yana dengan nada tidak suka menatap tajam ke arah Burhan dan Celine.


                "Oma…"


   


              Suara Burhan dan Celine hampir bersamaan.


    


               "Oma, Celine kangen."


    


              " Kenapa sih, oma dari dulu seperti tidak menyukai Celine.? 


              


              Celine berjalan menuju ke arah oma Yana, lalu memeluk oma Yana yang berdiri tak jauh dari mereka.


   


              "Oma.." lirih Celine.


   


             Hening.Oma Yana hanya diam membeku, perlahan kedua matanya mengembun butiran-butiran kristal jatuh membasahi kedua pipinya. Ia membayangkan seandainya yang memeluk dirinya saat ini adalah cucu kandungnya mungkin saat ini adalah tangis bahagia.


  


            "Lepaskan..!" Ucap oma Yana pelan.


 


             Oma Yana berjalan perlahan meninggalkan mereka berdua.


 


              "Ma…" Suara Burhan memanggil.


    


              


              "Aku sedang tidak ingin berbicara Burhan.! Sanggah Oma Yana.


     


         


  Berlalu pergi tanpa menoleh ke belakang.


               


                "Kenapa pa, Oma dari dulu tidak pernah menyayangi Celine.?"  Menatap nanar ke arah Burhan.


                "Sudah biarkan saja, kan ada papa.?"  Ucap Burhan menghibur Celine.


 


               Dengan rahang mengeras Burhan mengepalkan kedua tangannya. Menahan amarah kecewa dengan sikap ibunya yang tak pernah menganggap Celine ada.


   


            "Pergilah ke kamar mu,  papa akan menemui mama mu.?"  Bujuk Burhan kepada Celine.


    


                "Persiapkan dirimu untuk pertemuan proyek baru kita." Ucap Burhan mengingatkan Celine.


                 "Baik,pa." 


   


         Celine berjalan menuju kamarnya. Dengan hati sedih ia masih mempertanyakan sikap oma nya. Celine memang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya yang sedang terjadi antara orang tuanya dan oma nya.


 


             ****


            


             ****


      


            


            Oma Yana berjalan menyisir ruangan. Matanya berotasi ke setiap sudut ruang, dengan memegang tongkat ia berusaha menapaki menuruni tangga berusaha mencari sesuatu


 


               "Inah..inah." Suara Oma Yana memanggil pembantunya.


    


               "Iya,Oma sebentar."  Inah berlari kecil menuju Oma Yana.


 


                "Inah…Sarinah…" Suara Oma Yana melengking memanggil.


 


                 "Iya, Oma, ada apa to..kok teriak-teriak, ini.. inah ada di sini , oma."  Ucap Inah yang datang tergopoh - gopoh .


   


                 "Kamu ini budek ya, di panggil dari tadi kemana aja sih.?"  Ucap Oma Yana mendengus kesal.


 


                  "Oma ,kan Inah lagi masak di dapur Oma." Ujar Sarinah memberi penjelasan.


 


        "Di mana Anton.?" Tanya Oma Yana.


            "Kan, pak Anton keluar kota oma."

__ADS_1


          Ucap Sarinah pelan.


    


            "Ya ampun Oma , Kan..Oma yang nyuruh.?" Jawab Sarinah tangannya 


sambil menggaruk -garuk kepalanya yang tidak gatal.


           


            "Kapan aku suruh dia keluar kota.?" Oma Yana bertanya bingung.


 


              "Yah…kumat lagi deh pelupanya." Gerutu Sarinah.


 


             "Heih..kamu di tanya malah ngomong sendiri mulai pikun kamu ya..?" Oma Yana menjorok kan tongkatnya ke arah Sarinah.


      


           "Nggak Oma, Inah baru ingat hari ini kalau gak salah pak Anton pulang Oma.?" Ucap Sarinah.


      


              "Oma."


   


        Terdengar seseorang menyapa, seketika Oma Yana membalikkan badan ia membenarkan kacamata nya memastikan penglihatannya.


 


            "Anton." Ucap Oma Yana pelan.


    


           "Yah..selamet ..selamet.." ujar Sarinah mengelus dada berkali-kali.


            "Apakah ada yang ingin kau sampaikan,Anton.?" Ucap Oma Yana datar.


      


              "Iya Oma." Jawab Anton menundukkan kepala hormat.


    


             "Ikutlah denganku." 


   


          Oma Yana berjalan, diiringi dibelakang Anton mengikuti langkah nya yang menuju sebuah ruang perpustakaan. Dimana mereka setiap kali membahas hal yang tak ingin diketahui orang lain.


 


              "Katakan, berita apa yang ingin kau sampaikan.?" Ucap Oma Yana menatap intens ke arah Anton.


   


             


               "Oma, kita terlambat mengetahui keberadaan nona muda, setelah tim kita sampai di sana rupanya mereka baru saja pindah." Ucap Anton dengan kepala tertunduk.


 


              


                 "Kemana mereka pergi.?" Tanya Oma Yana.


      


                  Ucap Anton.


            


 


           "Anton , seperti yang kau ketahui aku sudah tua, jangan sampai ajal menjemput aku belum menemukan cucuku Anton." Ucap Oma Yana dalam isak tangisnya.


                "Bagaimana nasib cucuku diluar sana, apakah dia makan dan tidur di tempat yang layak." Ucap Oma Yana tergugu.


    


              "Sedangkan aku disini tidak kekurangan apa pun."  Seketika pecah tangis Oma Yana yang ia tahan selama ini.


               


                "Oma tenanglah, kita masih dalam pencarian hanya doa dari  Oma suatu saat bisa membawa pulang nona muda" Ucap Anton berusaha menyakinkan.


   


               Tak dipungkiri rasa rindu yang selama ini terpendam membuat sikap oma Yana berubah-ubah. Dia menginginkan pewaris nya yang sah segera kembali.


              


                   ****


                   ****


   


          


                Gubrakk…


   


       Burhan membanting pintu kamarnya.


 


              "Benar- benar membuatku kesal, dasar sudah tua kenapa tidak m4t! saja !." Ucap Burhan geram.


      


                 HAAHH…


 


                 PRANK….


    


             Sebuah pot bunga menjadi sasaran kemarahan Burhan.


 


         


               "Ya ampun papa, kamu apa-apan sih pa.?"  Mata Miranti terbelalak melihat kamar penuh pecahan beling.


 


                "Kalau ada masalah , jangan main banting aja dong , kok…pot bunga yang jadi sasaran.?"  Suara protes Miranti.


 

__ADS_1


            


             "Katakan ada masalah apa pa.?"  Miranti bertanya sangat hati-hati kepada suaminya.


   


             


              "Jika saja ku lenyapkan , mungkin sekarang tidak menghalangi jalanku." Ucap Burhan kesal ia mengepalkan kedua tangannya.


 


          


                Mata Burhan merah menyala memendam kemarahan, rahang nya mengeras  seperti singa kelaparan siap memakan mangsanya hidup-hidup. Ia memendam sebuah kebencian yang teramat dalam.


 


        


              "Papa bertengkar dengan Oma.?" 


               Miranti bertanya.


        


         Seperti memahami keadaan  Miranti berjalan mendekati suaminya yang sedang marah. Kedua tangannya dilingkarkan ke pinggang suaminya ia memeluk suaminya erat.


   


               "Pa , untuk siapa kamu marah.?" 


 


               "Oma, sangat menyayangimu, jika tidak saat ini kita tidak mungkin disini.?" Ucap Miranti lembut berharap marah suaminya akan mereda.


 


               " Tapi aku benci ,Oma tidak seperti yang dulu yang begitu menyayangiku." Ucap Burhan berdecak kesal.


 


         


            "Oma, begitu merindukan cucunya yang hilang pa, makanya sikap oma berubah-ubah ."  


   


            "Seandainya saja ,Bram dan Anita masih hidup…"  Miranti tidak melanjutkan bicaranya ia menggantung perkataannya.


 


          


            "Cukup , jangan sebut lagi nama itu."  Burhan melepaskan pelukkan Miranti mata nya menatap tajam.


 


           "Apakah kamu lupa , gara-gara Bram aku disingkirkan oleh  Oma ." Ucap Burhan ketus.


 


            "Papa jangan egois, Bram itu anak kandung Oma pa." Ucap Miranti menjelaskan.


 


      


              "Seharusnya , kita ikut mencari dimana keberadaan anak  Bram dan Anita pa."  Miranti berusaha membujuk suaminya.


 


     


              "Cukup,  diam , tutup mulutmu !"  Ucap Burhan menatap nyalang ke arah Miranti.


 


             Seketika Miranti terperanjat dengan suara bentakkan suaminya ia mundur beberapa langkah . 


 


          "Pa .. mama tidak ingin papa salah jalan, seandainya yang hilang Celine apa yang akan papa lakukan.?" 


     Dengan suara bergetar Miranti bicara agar suaminya tidak tersinggung atas perkataannya.


   


           Hening. Perkataan Miranti 


membuat Burhan bungkam tidak bersuara lagi.Burhan terlihat gelisah ia menuju ranjang tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya. 


 


            


            "Apa.?" 


 


          "Jadi papa bukan anak kandung Oma."  Celine bergumam lirih.


 


               Tidak sengaja Celine mendengar perdebatan kedua orangtuanya.  Dia berdiri di balik pintu, telinganya ia  tempelkan di daun pintu dia mempertajam pendengarannya.Sebuah rahasia besar yang tidak diketahui selama ini. Berusaha mencerna perkataan kedua orang tuanya dengan perlahan dia meninggalkan kamar orang tuanya berjalan pelan menuju kamar nya sendiri. Hatinya sangat gelisah setelah mendengar perdebatan Burhan dan Miranti ambisinya jadi pewaris tunggal harus tertunda karena dia bukan cucu kandung Oma Yana.


        


   


            Di dalam kamar Celine berjalan mondar mandir ia tengah merencanakan sesuatu.


   


              Celine meraih HP nya menggeser berusaha menemukan kontak yang ia cari.


 


               "Halo , tante Lisa " Celine menyapa orang di seberang telepon.


 


                "Iya halo, ada apa keponakan tante tiba-tiba menghubungi tante.?" Jawab Lisa di seberang telepon.


 


                " Tan, bisa gak kita ketemu ada yang mau Celine bicarakan."  Ucap Celine .


    


                "Apa sih, yang gak buat keponakan tante, kita ketemu dimana sayang .?"  Lisa menimpali ucapan Celine.


    


                "Ok,tante kita ketemu di cafe Oxford." Celine menyudahi pembicaraannya.


    

__ADS_1


                 Celine bergegas ke kamar mandi membersihkan diri bersiap untuk pergi .


    


__ADS_2