
Bayu yang mengemudikan mobil memecah keheningan jalan yang sunyi, sekilas mata Bayu melirik ke arah Adrian. Adrian yang sejak keluar kantor dan berjalan menuju pulang hanya diam.
"Adrian , ada kepentingan apa Clara mendatangi kantor kita.?" Tanya Bayu melirik Adrian.
Adrian hanya diam , tidak menjawab pertanyaan Bayu.
"Apakah Alya tahu tentang hubunganmu dulu dengan Clara.?" Tanyanya kembali.
Adrian menarik nafas nya dalam-dalam , ia tengah berpikir memilih kata untuk menjawab pertanyaan Bayu.
"Bay, aku dan Clara hanya sebatas mitra kerja tidak lebih, dia hanya masa lalu ku." Jawab Adrian datar.
"Aku hanya tidak ingin kehadiran Clara merusak rumah tanggamu itu saja."Ucap Bayu.
Tidak ada sahutan dari Adrian, Bayu fokus dengan kendaraan yang dikemudikan,di sepanjang pulang mereka hanya diam sibuk dengan pikirannya masing-masing , hingga tanpa terasa mobil pun memasuki kawasan perumahan milik Adrian.
"Aku langsung cabut ya?" Ucap Bayu.
"Ok , hati-hati." Jawab Adrian .
Dengan langkah lebarnya Adrian memasuki rumahnya. Sekilas matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 01.00.malam.
Adrian yang berjalan menuju kamarnya matanya melirik ke arah kamar Alya. Lalu melanjutkan melangkah ke kamarnya , bola mata Adrian membulat ketika mendapati Alya tengah berbaring di tempat tidurnya.
"Alya , ngapain dia tidur di sini.?" Gumam Adrian.
Adrian menghampiri Alya yang tidur dengan pulasnya, tangan Adrian menarik selimut untuk menutupi tubuh Alya yang terlihat kedinginan.
Setelah selesai membersihkan diri , Adrian mengambil selimut dan bantal lalu membaringkan tubuhnya di sofa, sekilas Adrian tersenyum memandangi wajah Alya yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya, tak ada niat Adrian untuk membangunkannya karena dia tahu Alya mungkin belum siap untuk dirinya.
Pagi pun tiba, Alya terbangun sekilas matanya melirik ke arah jam dinding.
"Ya ampun , aku ketiduran, mas Adrian kemana apa sudah pulang." Lirih Alya yang masih di tempat tidur.
Tak lama muncul dari balik pintu kamar mandi , tubuh Adrian yang atletis dengan berbalut jubah dan rambut basahnya.
Alya memandangi Adrian, tak dapat disangkal tampan memang suaminya.
"Mas , ada yang ingin aku omongin." Ucap Alya.
"Maaf , aku sedang buru-buru, nanti saja." Jawab Adrian dingin.
Lenyap sudah rangkaian kata-kata , yang sudah disusun rapi oleh Alya untuk bicara dengan suaminya, sikap dingin Adrian membuat dirinya syok , biasanya Adrian akan selalu menyapa jika bertemu dengan dirinya berbeda kali ini sikap Adrian sangat dingin padanya.
Alya pun bangkit dari duduknya lalu pergi melangkah meninggalkan Adrian yang sedang sibuk memilih baju di lemarinya.
Sejenak Adrian terdiam menarik nafasnya, ia berpikir tidakkah sikapnya terlalu berlebihan terhadap Alya.
Alya memasuki kamarnya, lalu duduk di tepi ranjang tidur miliknya. Terasa sesak di dadanya, kini dia menyadari bahwa dia mungkin dinikahi hanya karena kehadiran Arjuna dan tidak lebih.
Dari sudut ekor matanya , mengalir deras air mata Alya yang ia coba untuk tahan.
Alya berpikir mungkin dirinya tidak pantas menjadi istri seorang Adrian Dharmawangsa.
"Siapalah aku, mengharapkan lebih hubungan ini, aku hanya wanita rendahan."Ucap Alya dalam isak tangisnya.
Lama Alya mengunci dirinya di dalam kamar, hatinya benar -benar terpukul untuk kali ini. Hingga ponselnya berdering panggilan masuk , tertera nama mama mertuanya.
"Mama." Lirih Alya.
Alya menghapus air matanya , beberapa kali menarik nafasnya untuk menetralkan nafas isak tangisnya.
"Hallo ma." Ucap Alya
"Alya , kamu kenapa , kamu nangis.?" Tanya mama Vera di seberang panggilan.
"Gak kok ma, lagi pilek aja makanya gini." Jawab Alya.
"Kamu lagi gak sekolah, atau sibuk gak.?" Tanya mama Vera
"Gak ma, kenapa.?" Jawab Alya.
"Mama mau ke situ kangen sama Arjuna, tapi mama lagi gak enak badan , bisa gak kamu ke sini.!"
Sejenak Alya terdiam, ia tengah berpikir, Adrian pernah berpesan pada dirinya , agar tidak pergi tanpa izinnya, Alya jadi bimbang dia tidak dapat menolak permintaan mertuanya, apalagi hubungan mereka kini terbilang sangat baik, semenjak mama mertuanya datang ke rumah dan berkunjung untuk mengunjungi Arjuna kini hubungan mereka seperti ibu dan anak.
"Kamu takut Adrian marah.?" Tanya mama Vera seolah tahu yang dipikirkan Alya.
"Sebentar aja kok Alya, sebelum Adrian pulang kamu harus ada di rumah." Ucap mama Vera.
"Baiklah , kalau gitu Alya siap-siap dulu."
Panggilan pun berakhir. Alya lalu membersihkan dirinya dan bersiap untuk mengunjungi mama mertuanya.
"Mbak Rima, kita siap-siap pergi ya, kita akan berkunjung ke rumah oma nya Arjuna, bilangin sama mbak Dona suruh om Jonathan siapin mobilnya"Ucap Alya.
"Baik nyonya, kalau gitu saya bersiap dulu." Jawab Rima.
Alya duduk di sofa menunggu Rima menyiapkan segala sesuatu kebutuhan Arjuna, Alya menarik nafas dalam demi mengurai rasa sesak di dadanya. Sedikit terobati luka di hatinya karena sikap dingin Adrian, setidaknya mama mertuanya masih peduli terhadapnya.
"Kita berangkat sekarang nyonya.?" Ucap Dona yang sudah berdiri di sampingnya.
Lamunan Alya buyar dengan kehadiran Dona dan Rima yang sudah siap dengan segala sesuatu kebutuhan Arjuna.
Mereka pun melangkah pergi menuju parkiran , di sana sudah menunggu Jonathan yang tengah berdiri membukakan pintu.
"Kita pergi kemana nyonya.?" Tanya Jonathan saat sudah semua di dalam mobil.
"Om Jo , kita pergi ke rumah mama Vera." Jawab Alya.
Jonathan mengerutkan dahinya, seperti yang diperintahkan Adrian, tidak ada yang boleh pergi ke rumah mertuanya tanpa seizin Adrian , mengingat begitu banyak masalah yang dihadapinya.
__ADS_1
"Tapi saya diperintahkan mengantarkan nyonya kemana pergi , tapi tidak ke sana nyonya." Ucap Jonathan protes.
"Om Jo, mama mertua saya sakit, masa gak boleh berkunjung ke sana, masalah dengan tuan , nanti biar saya yang urus ." Jawab Alya.
"Baik nyonya."
Jonathan pun patuh dengan perintah sAlya, dia tidak kuasa menolak perintah istri majikannya,Jonathan pun melajukan mobilnya , di sepanjang perjalanan hati Alya berdebar tak karuan , mengingat oma Jayanti tidak menyukainya , Alya menguatkan hatinya agar tidak terpengaruh dengan suasana hati yang kini sedang tidak baik-baik saja.
Jonathan membelokkan mobilnya di kawasan yang terbilang cukup elite. Hati Alya berdebar tak karuan karena ini pertama kalinya dia berkunjung ke rumah mertuanya. Arjuna yang masih anteng dalam gendongan Rima. Alya melangkahkan kaki memasuki halaman rumah, Dona dan Rima mengikuti langkah Alya dari belakang.
Tiba di depan pintu utama mereka sudah disambut oleh mama Vera dengan senyumnya yang merekah.
"Akhirnya , kamu mau datang juga Alya, maaf ya, mama jadi merepotkan." Ucap mama Vera sembari memeluk Alya.
"Gak kok ma, kebetulan Alya lagi gak repot justru Alya senang bisa ke sini." Jawab Alya melepaskan pelukan dari mama Vera.
Sekilas mama Vera memandangi wajah Alya , mata sembab Alya masih terlihat bekas menangis terlalu lama.
"Ayo duduk, kalian mau minum apa.?" Tanya mana Vera.
"Apa aja boleh ma." Jawab Alya mengulas senyum.
Setelah dari arah belakang mama duduk di samping Alya , mama Vera menyuruh asisten rumah tangga untuk membuatkan minum untuk tamunya.
Mama Vera meraih tubuh Arjuna yang sedang tidur di dalam gendongan Rima.
"Subhanallah , sudah besar cucu oma ya rupanya." Ucap mama Vera menciumi kedua pipi Arjuna.
Mereka berbincang dan bersenda gurau karena Arjuna terbangun di saat mama Vera menciumi pipi Arjuna yang kini gembil dan badannya pun terlihat gemuk.
Ciihh
"Mau apa kamu kesini.?" Ucap oma Jayanti dengan tatapan tidak suka.
Oma Jayanti berdiri dengan diikuti Clara di sampingnya, tatapan mata mereka tidak suka dengan kehadiran Alya.
"Maaf oma , Alya ke sini Vera yang undang , mari gabung duduk ke sini oma." Ucap mama Vera.
"Najis , aku duduk dengan kalian, terutama dengan wanita tidak tahu malu ini." Jawab oma Jayanti dengan tangannya menunjuk ke arah Alya.
Bergetar tubuh Alya mendengar perkataan oma Jayanti yang diiringi dengan perkataan yang menghinanya. Mama Vera menatap lekat ke arah Alya , memberikan isyarat untuk mengabaikannya.
"Oma, apakah ini istri Adrian.?" Ucap Clara dengan senyum ejekan.
"Iya , kamu lihat sendiri kan, selain tidak punya malu, dia juga wanita murahan." Ucap oma Jayanti dengan sarkas.
Alya meremas ujung bajunya mencoba untuk tidak mendengarkan perkataan oma Jayanti.
"Tutup mulutmu Clara , siapa dirimu yang seenaknya saja memberi penilaian terhadap Alya, dia jauh lebih terhormat dibanding dirimu." Ucap mama Vera.
Telak. Ucapan Frontal yang dilontarkan mama Vera mampu membungkam Clara.Clara pun terdiam dan mendengus kesal .
"Vera , Clara jauh terhormat dibanding dia, selain cantik berpendidikan dia juga bukan wanita rendahan." Ucap oma Jayanti.
Clara yang mendapat dukungan penuh dari oma Jayanti tersenyum sinis menatap Alya, Alya mencoba diam agar tidak terpancing dengan perdebatan mama Vera dan oma Jayanti.
"Sudah oma, biarkan saja wanita murahan seperti dia tidak akan bertahan lama dengan Adrian , percayalah oma Adrian akan cepat bosan dan kembali padaku." Ucap Clara dengan kepercayaan diri penuh.
Mereka pun berjalan melangkah akan pergi menuju ruangan keluarga,Alya bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah mereka berdua.
"Tunggu, siapa yang kamu maksud wanita murahan.?" Ucap Alya berapi -api .
Seketika Clara dan oma Jayanti menghentikan langkahnya.
"Oh, ayam kampung beraksi oma."
Alya yang kehilangan kesabaran pun melangkah mendekati Clara. Tangannya pun menjambak rambut Clara yang terurai panjang.
"Auw..sakit tolong oma." Jerit Clara.
"Diam kamu!" Apa kamu bilang, ayam kampung , kamu mau lihat bagaimana ayam kampung sedang marah, hah." Ucap Alya geram .
Entah mendapatkan kekuatan dari mana Alya bagaikan terbakar api kemarahan, jika hinaan itu keluar dari mulut oma Jayanti mungkin dia bisa abai, tapi ini wanita yang sudah menghinanya dan menginginkan suaminya.
Pergulatan pun semakin hebat, mereka saling tampar dan cakar, rambut panjang milik Clara jadi acak-acakan dan tak karuan.
"Vera hentikan wanita ****** itu, lihat !, Clara bisa habis mukanya dicakar." Pekik oma Jayanti.
"Tidak oma, biarkan saja dia membela harga dirinya." Jawab mama Vera.
"Apa.?"
"Heh kalian , kenapa diam , ayo hentikan mereka." Ucap oma Jayanti memandang ke arah Rima dan Dona.
Dona mencoba menghentikan perkelahian Alya dan Clara, karena serangan yang membabi buta Dona pun ikut kena imbasnya kena tampar dan tendang.
Jonathan yang sedang menunggu di luar melangkah maju menuju ke rumah majikannya, ia sangat terkejut menyaksikan perkelahian antara Clara dan Alya.
"Jo, hentikan mereka." Teriak oma Jayanti
"Aku istri Adrian Dharmawangsa majikan mu, akan ku pecat jika berani melangkah." Ucap Alya lantang.
Alya yang kini menindih tubuh Clara dengan mudah menampar dan meninju wajah milik Clara.
__ADS_1
Jonathan menghentikan langkahnya. Ia berinisiatif sendiri mengadakan panggilan video kepada Adrian.
Di kantor.
Adrian yang sedang berbincang dengan Bayu membahas masalah pekerjaan menghentikan pembicaraannya.
"Kok tumben, Jonathan video call Bay.?" Ucap Adrian melirik ponselnya yang sedang berbunyi.
"Angkat aja bro , siapa tahu penting." Jawab Bayu.
"Ya , Jo ada apa.?" Tanya Adrian.
Setelah menggeser panggilan video call yang tersambung milik Jonathan. Terlihat jelas video itu sedang menunjukkan pergulatan antara Alya dan Clara.
"Bay, ini apa -apaan , kenapa jadi begini."
"Lah , ini kan di rumah oma bro."
"Ngapain Alya ke sana."
"Ayo cabut."
Jonathan tidak dapat berbuat apa, karena ultimatum dari Alya. Hanya Dona dan Rima yang mencoba melerai tapi mereka selalu kena imbasnya dari serangan yang menyasar.
Di perjalanan Adrian sangat gelisah, memikirkan kenapa Alya bisa sampai di rumah omanya. Tiba di halaman rumahnya Adrian secepat kilat turun dari mobilnya, ia berlari menuju pintu utama dimana Alya dan Clara sedang baku hantam dan saling tampar.
"Dasar wanita murahan , ****** tidak tahu malu, lihat saja Adrian pasti kembali padaku." Ucap Clara di saat mereka saling jambak rambut.
"Dasar pelakor tidak tahu malu, Adrian suamiku dia hanya akan jadi suamiku selamanya perempuan sundal." Balas Alya.
Adrian mematung menyaksikan kedua perempuan sedang memperebutkan dirinya, ada kebahagian tersendiri Alya menyebutkan dirinya begitu berharga dalam hidupnya.
"Alya hentikan, Jo , ayo bantu ." Ucap Adrian.
Adrian menarik tubuh Alya yang sedang menindih tubuh Clara, Clara terlihat kesulitan bernafas ketika Alya mencakarkan kuku-kuku miliknya ke wajah Clara.
"Sudah hentikan Alya." Ucap Adrian yang berhasil melepaskan Alya.
"Adrian , lihat istrimu sangat keterlaluan , dasar wanita kampung ." Pekik oma.
"Cukup oma.!" Suara keras Adrian.
Keadaan pun membaik , setelah kedatangan Adrian yang berhasil melerai perkelahian alya dan Clara.Adrian menatap silih berganti kedua wanita yang di hadapannya.Alya yang habis berkelahi penampilannya sangat acak-acakan tidak karuan, begitu pula dengan Clara jauh lebih parah karena wajahnya banyak sembuaratan merah bekas cakaran kuku Alya.
"Alya kenapa kamu ada di sini.?" Tanya Adrian.
"Iya mas, larang terus aku , biar aku menjadi bodoh karena mengikuti keinginanmu , dan kamu bebas menemui wanita ini kan."Jawab Alya menatap lekat ke arah Adrian.
"Maaf Adrian , mama yang suruh Alya ke sini , karena mama rindu dengan Arjuna." Ucap mama Vera takut-takut.
"Ya ampun ma." Ucap Adrian mengusap kasar wajahnya.
"Jo , bawa pulang Arjuna, Dona dan Rima, sekarang.!" Ucap Adrian tegas.
"Adrian tunggu, ini gimana dengan Clara." Ucap oma Jayanti memeluk Clara yang kesakitan.
"Itu urusan oma." Jawab Adrian tegas.
Adrian berlalu meninggalkan rumah kediaman Dharmawangsa. Ia menuntun tangan Alya memasuki mobilnya, sedangkan Bayu dan Jonathan pergi mengantarkan Rima , Dona dan Arjuna untuk pulang.
"Adrian maafkan mama." Pekik mama Vera.
Mama Vera hanya dapat memandangi mobil yang membawa pergi Alya dan Adrian.
Di sepanjang jalan Alya hanya diam, kini hatinya benar-benar hancur, begitu banyak wanita yang menginginkan suaminya. Adrian tidak langsung membawa Alya pulang , tapi Adrian membelokkan mobilnya ke arah apartemennya dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin dan tak ingin didengar oleh siapa pun.
BRAK.
Alya melemparkan tasnya ke meja.Adrian membiarkan Alya menumpahkan segala kekesalannya. Alya bangkit dari duduknya menghampiri Adrian yang masih berdiri. Alya memukuli dada bidang milik Adrian , matanya dipenuhi dengan air mata yang bercucuran.
"Katakan mas, apakah aku tidak berharga bagimu,apakah kamu akan memilih wanita itu."
"Kamu benar-benar jahat mas, kamu sudah menghianatiku." Ucap Alya sembari memukul dada Adrian.
"Alya tolong dengarkan aku."
"Apalagi yang harus aku dengar, kamu tampan kaya, banyak wanita di sekelilingmu , kamu bebas memilih." Cerocos Alya dalam kemarahan.
Adrian semakin gemas melihat tingkah Alya yang sedang marah di campur cemburu.Ia meraih tubuh Alya dan membopong tubuh mungil itu memasuki kamar lamanya , Adrian menyerang Alya dengan membungkam kedua bibirnya di adukan, lalu tangan Adrian bergerilya ke gunung kembar milik Alya, Alya yang tidak siap dengan serangan itu jadi kelabakan.
"Emmhh."
Alya mengerang di saat tubuhnya di hujani dengan ciuman liar Adrian, bagaikan singa kelaparan Adrian tidak memberikan kesempatan pada Alya untuk membalas setiap serangan yang ia lakukan. Sehingga akan memasuki permasalahan inti Adrian berhenti sejenak.
Adrian menatap tubuh Alya yang terkulai siap menerima serangan darinya.
"Apakah aku boleh melakukannya.?" Tanya Adrian dengan nafasnya yang memburu.
"Lakukanlah mas."
Hingga fajar tiba , permainan mereka sudahi ,semalaman mereka melakukan permainan panas yang tertahan melepas dahaga yang selama ini membelenggu jiwanya.
******
__ADS_1