
BRAKK…
KLONTANG….KLONTANG….
Puspa yang pagi itu tengah duduk di meja makan,bersama ibunya Maria dan Baron. Tak dapat lagi memendam amarahnya. Mengetahui niat dia mencelakai Alya tapi kenyataanya Adrian yang jadi dewa penolongnya. Ia menghempaskan apa yang ada di meja makan pagi itu.
"Dasar sialan …kenapa harus Adrian yang menolongnya." Ucap Puspa nyalang.
"Bapak juga gak becus , kenapa juga cuma di dorong, kenapa tidak di mampuskan sekalian. Ucap Puspa geram.
"Apa kamu bilang, bapak gak becus?." Kamu gak mikir disana banyak orang Puspa." Jawab Baron tak kalah sengit menghadapi kemarahan Puspa.
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan, siapa yang sudah kalian celakai.?" Tanya Maria dengan kedua orang yang sedang duduk di depannya.
" Alya. "
"Aku sudah menyuruh bapak mendorong Alya, biar dia mampus dengan anaknya, kenapa ibu tidak suka.?"
"Apa.?" Kamu sudah mencelakai Alya dan anaknya, kamu benar-benar wanita kejam Puspa." Ucap Maria.
Maria bangkit dari duduknya dan menghampiri Puspa yang duduk bersebelahan dengan Baron. Dengan beruraian air mata ia memegangi tangan Puspa.
"Katakan sekarang dia ada di rumah sakit mana.?" Ibu ingin ke sana melihatnya."
"Berani kamu menjenguknya , aku akan lebih parah menyiksanya.!" Jawab Baron sinis.
"Bu, ibu kenapa sih , ibu lebih peduli dengan Alya, aku sangat membencinya bu.?" Ucap Puspa sembari tangannya menepis tangan ibu Maria.
"Tuh , kamu dengar sendiri kan, jawab.!" Pertanyaan anakmu.!" Ucap Baron menatap tajam ke arah Maria.
Maria seketika bungkam. Ia tak ingin memberitahukan sebenarnya siapa Alya. Karena dengan status Alya yang sebenarnya itu akan mempersulit kehidupannya. Ia berada di tempat yang benar-benar sulit untuk dijelaskan. Tapi mau sampai kapan ia akan menyimpan semua ini. Setiap kali mau keluar rumah anak buah Baron selalu mengawasinya dari jauh. Ingin sekali ia datang menemui keluarga Sudirja . Memberitahukan bahwa Alya sekarang tinggal di kota yang sama.
"Aku heran sama ibu. Kenapa ibu begitu peduli dengan Alya, rahasia apa yang sebenarnya ibu sembunyikan dari aku.?" Ucap Puspa menatap tajam ibunya.
Maria hanya diam , dia tak ingin meneruskan bicara menanyakan keberadaan Alya, dia takut salah bicara dan hanya akan menambah kesulitan untuk Alya. Maria berjalan menuju kamarnya. Pikiran Maria kini hanya mencari kesempatan kapan bisa lolos dari cengkraman anak buah suaminya.
"Aku pergi ke kantor dulu, pak. Siapa tahu ada info tentang Alya.?"
Puspa meraih tas selempang nya, ia berjalan keluar menuju mobilnya. Pikiran Puspa kini benar galau ia ingin tahu, apakah hari ini Adrian akan menghadiri rapat penting atau tidak.
Tiba di sebuah gedung pencakar langit. Puspa segera memasuki gedung itu langkahnya terburu-buru menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas. Tiba di ruangannya Puspa mencoba mengintip dari kejauhan apakah Adrian sudah datang ke ruangannya.
Tak berapa lama ketika Puspa tengah sibuk menatap layar laptopnya, Adrian dan Bayu berjalan menuju ke ruangannya. Mereka seperti berjalan tergesa-gesa.
"Bay, apakah penting aku menghadiri rapat ini.?" Tanya Adrian.
Bayu yang paham jalan pikiran Adrian yang kemana arahnya hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
Tok … tok…tok..
"Masuk.!"
"Maaf tuan sebentar lagi meeting akan dimulai." Puspa memberitahukan .
"Iya,sebentar lagi saya kesana." Jawab Adrian dingin.
Setelah Puspa keluar ruangan kini Adrian bangkit dari duduknya,berjalan mengekor Bayu di belakangnya. Mereka memasuki ruangan rapat. Rapat di akhir bulan, mereka yang membahas tentang pekerjaan dilapangan, dan semua laporan dari kantor cabang membuat kepala Adrian berdenyut.
"Bagaimana masalah proyek kita yang ada di luar kota, yang bekerja sama dengan Sudirja itu, apakah berjalan lancar.?" Tanya Adrian
"Sekarang masih dalam tinjauan tuan ." Jawab pak Ismail yang bekerja sebagai kepala staf .
Rapat yang memakan waktu hampir tiga jam itu membuat Adrian, benar-benar gelisah, pikirannya sekarang ingin cepat pergi ke rumah sakit menjenguk bayinya, baru beberapa jam yang lalu sudah membuatnya rindu.
*****
Adrian yang tak tahu banyak tentang kehidupan Alya , sebelum pergi ke rumah sakit ia ingin menanyakan kepada tetangga atau pemilik kontrakan yang waktu itu datang meminta uang sewa pada Alya.
Setelah melewati beberapa lorong sempit , kini Adrian telah berdiri di tengah halaman rumah Alya. Matanya berotasi berharap ada warga yang tahu tentang Alya.
"Om, cari siapa.?" Tanya seorang gadis kecil itu.
Adrian yang berdiri itu pun terperanjat seketika menoleh ke arah sumber suara.
"Oh , begini apakah disini ada yang mengenal Alya.?" Jawab Adrian
"Mari ikut saya."
Adrian berjalan mengekor di belakang gadis itu.
"Bu, ibu ini yang ada nyariin kak Alya."
Tak lama keluar dari dalam rumah ibu Lastri dengan matanya yang sembab. Adrian yang masih berdiri di luar kini terpaku pikirannya melayang beberapa waktu lalu ketika dia datang kerumah ini hanya ada Alya seorang. Apakah sekarang dia sedang berhadapan dengan keluarganya.
"Maaf anda siapa mencari Alya.?" Apakah anda bosnya Alya.?" Alya belum pulang sejak semalam."
Ada rasa bersalah di hati Adrian, ingin rasanya memberitahukan keadaan Alya tapi bibirnya kelu, tak dapat bicara.
"Emh.. , bu saya temannya Alya, hanya ingin tahu apakah Alya tinggal bersama keluarga suaminya disini.?" Jawab Adrian berbohong.
Ibu Lastri menatap lekat ke arah Adrian . Dia bisa menangkap gelagat Adrian telah berbohong padanya. Darimana seorang asing tahu , bahwa Alya tengah hamil, dari penampilan Adrian dia bukan orang sembarangan. Karena Alya pernah bercerita bahwa dia sangat membenci orang kaya, orang kaya kadang seenaknya menindas orang yang tak punya.
"Katakan , apakah kamu memiliki hubungan dengan Alya.?" Tanya ibu Lastri terdengar menusuk.
Belum sempat Adrian menjawab, ibu Lastri sudah menghujani beberapa kata yang membuat Adrian terdiam seribu bahasa.
"Aku bukan siapa-siapa Alya. Tapi Alya sudah ku anggap seperti anak ku. Aku menemukan dia dalam keadaan tidak berdaya, apakah kamu tahu.? Penderitaan Alya selama ini, dia harus menanggung malu sebagai wanita hamil tidak punya suami." Tangis Ibu Lastri seketika pecah.
Adrian hanya mematung mendengar semua penuturan Ibu Lastri. Apa yang dikatakannya memang benar adanya bahwa dia sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
"Katakan sekarang dimana Alya.?" Tanya ibu Lastri dengan mata berkaca-kaca.
"Dia ada di rumah sakit.!" Jawab Adrian lirih
"Apa.?" Rumah sakit , apa yang terjadi padanya.?" Tanya lbu Lastri
"Katakan di rumah sakit mana.? "
" KASIH BUNDA."
" Rani..Rani .., ayo, kita kerumah sakit.!"
"Ke rumah sakit .?" Siapa yang sakit bu.?"
"Kakakmu Alya sedang sakit , kasihan dia pasti sendirian di sana gak ada temennya.?" Ucap lbu Lastri cemas
Tanpa memperdulikan Adrian yang yang masih berdiri, ibu Lastri bergegas berjalan menuju lorong sempit untuk keluar mencari kendaraan umum. Adrian yang berjalan di belakang mengikuti langkah mereka.
"Maaf bu , bagaimana kalau naik mobil saya saja." Ujar Adrian
"Tidak usah nanti kotor." Jawab ibu Lastri tanpa menoleh ke arah Adrian.
Lama berdiri di pinggir jalan tidak ada juga lewat mobil angkot yang menuju arah ke rumah sakit. Hingga Adrian memberanikan diri menghampiri ibu Lastri dan Rani.
"Sebaiknya ibu tidak menolak ajakan saya." Bukankah ibu ingin cepat sampai ke rumah sakit.?"
Ragu- ragu akhirnya mereka memasuki mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan tidak ada pembahasan mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tiba di rumah sakit,setelah Adrian membukakan pintu mobil, mereka berjalan menyusuri lorong- lorong rumah sakit. Tiba di depan pintu kaca yang disana sudah berdiri seorang dokter wanita tengah memeriksa keadaan Alya.
Mereka pun memasuki ruangan itu.
"Maaf pak , ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Katakan dok, ada apa.?" Tanya Adrian cemas.
"Setelah diadakan beberapa pemeriksaan , pasien mengalami koma, akibat benturan di kepala ada penyumbatan darah , dan harus segera dilakukan operasi, ini semua memerlukan persetujuan dari anda." Ucap dokter wanita itu.
Degh…
"Apa, koma , operasi.?"
Bagaikan dihujam belati , rasa sesak di dada kini memenuhi ruang dadanya.Adrian tak dapat membayangkan apa yang terjadi , jika Alya tak terselamatkan. Rasa bersalah dan dosa belum sempat dia menebusnya , apalagi sampai harus kehilangan.
"Lakukan yang terbaik dok, apa perlu kita bawa ke luar negeri ?" Tanya Adrian.
Ibu Lastri dan Rani saling berpelukan, isak tangis mereka terdengar memilukan. Begitupun Adrian , matanya kini menatap box bayinya. Jika memang benar dia harus membesarkan anak nya sendiri, bagaimana caranya menjawab pertanyaan dari putranya yang belum sempat melihat wajah ibunya , serta di antara mereka belum sempat mengukir kehidupan yang indah.
"Tolong selamatkan Alya." Ucap ibu Lastri terdengar memilukan.
"Jika memang anda menyetujuinya silahkan selesaikan dulu ke administrasinya pak.!" Ujar dokter itu.
"Baik dok."
Adrian dengan langkah terburu-buru menuju ruang yang ditunjukkan dokter itu. Tak masalah berapapun jumlah uang yang harus dikeluarkan , yang penting baginya saat ini hanya keselamatan Alya.
__ADS_1