Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
pertemuan menyedihkan.


__ADS_3

        Setelah mengucapkan ijab kabul, dan semua saksi mengatakan sah, Adrian dan Alya melangsungkan resepsi pernikahannya yang digelar di sebuah hotel berbintang , sebelumnya yang sudah dipersiapkan oleh Bayu dan Jonathan.


 


             Pengamanan yang ketat tampak sekali di semua sudut dijaga oleh orang berseragam khusus , dimana Jonathan yang dipercaya sebagai ketua pengawalan khusus , untuk berjaga-jaga besar kemungkinan hal buruk terjadi.


 


            Adrian menggenggam tangan Alya menaiki pelaminan,  pelaminan  yang di dekor khusus tampak begitu mewah, bagaikan sepasang raja dan ratu mereka duduk bersanding di pelaminan itu. Senyum mengembang di bibir Adrian, ia tampak begitu gagah dengan  Tuxedo setelan hitamnya. Begitu pula dengan Alya yang mengenakan gaun pengantinnya yang bertaburkan gliter tampak seperti ratu dari negeri dongeng.


 


          Puspa yang bertugas mendampingi mempelai wanita itu begitu kagum dengan penampilan Alya malam ini. Semua tamu tak bisa lepas pandangannya dari kedua mempelai. 


 


          Dalam kemeriahan pesta yang sedang digelar kasak kusuk orang sedang berbincang mengatakan tentang dari batalnya Adrian mempersunting Raisa. Dan kini di tengah keramaian pesta , tidak menampakan kehadiran keluarga kedua mempelai. Semua tamu mempertanyakan asal usul mempelai wanita.


 


          "Siapa perempuan itu , dari mana tuan Adrian mendapatkanya"Ucap salah satu pengunjung acara.


 


         "Kabarnya sih, mereka sudah punya anak duluan." Timpal temannya.


 


          "Hamil di luar nikah dong.?" Jawab temannya.


 


           "Wah , berarti perempuan gak bener." 


 


            Tertangkap jelas di telinga Alya dan Adrian. Perbincangan ibu-ibu yang sedang menggunjingkan mereka. Wajah Alya seketika memerah menahan malu , apalagi mereka menyebutkan dirinya sebagai wanita tidak benar, Adrian melirik Alya yang sedang tertunduk, Adrian lalu menggenggam erat tangan Alya seolah memberikan sebuah kekuatan.


 


            "Tidak usah didengarkan, tegakkan kepalamu kamu tidak perlu takut." Bisik Adrian sembari tersenyum ke arah Alya.


 


          Alya memberanikan diri mendongakkan kepala , lalu tersenyum menatap ke arah tamu .


          Tanpa mereka sadari di tengah keramaian pesta , sepasang mata menatap ke arah mereka penuh dengan kebencian.


 


           Disaat tamu undangan menaiki pelaminan memberikan selamat kepada Adrian dan Alya, berjalan seorang laki-laki paruh baya mendekati mereka dengan tangan menggenggam sebilah pisau ia masukkan di sela jas yang dikenakannya.


 


          Puspa yang melihat itu seketika mendorong Alya .


           "Awas kak." Teriak Puspa.


 


           "Auwhh…." 


 


           "Puspa…" pekik Alya.


 


          Puspa seketika terhuyung lalu jatuh ke lantai dengan kedua tangan memegang pisau yang menancap di perut kirinya. Hingga detik berikutnya lantai pun bersimbah darah yang mengalir dari tubuh Puspa.


            "Puspa… kenapa kamu lakukan ini nak .?" Teriak Baron histeris memangku kepala Puspa.


 

__ADS_1


           Semua tamu berteriak ketakutan menyaksikan adegan yang sedang terjadi.Adrian yang menangkap tubuh Alya yang akan jatuh karena didorong oleh Puspa, seketika terkejut mendapati Puspa yang tergeletak dengan tubuh bersimbah darah.


 


           "Bay, Jo, cepat panggil ambulance dan telepon polisi "Teriak Adrian.


 


         Pesta yang sedang berlangsung seketika berubah hiruk pikuk , pengunjung berlarian ketakutan. Tidak menyangka akan ada kejadian yang mengerikan .


        


         Jonathan dengan sigap membekuk tubuh Baron, Bayu pun sibuk menelpon polisi dan ambulance.


 


         "Bapak ." Ucap Alya lirih.


          Alya berjalan mendekati tubuh Puspa yang tergeletak di lantai. Lalu meraih kepala Puspa dan meletakkan di pangkuannya. Tangan Alya menepuk-nepuk pipi Puspa.


 


         "Puspa bagun , sadarlah jangan tinggalin kakak." Ucap Alya dalam isak tangisnya.


 


         Raut wajah Adrian merah padam menatap lekat ke arah laki-laki yang kini dalam pengamanan Jonathan. Rahang Adrian mengeras kedua tangannya mengepal, ia berjalan mendekati laki-laki itu, di saat tangan Adrian akan melayangkan tinjunya datang Bayu meraih tubuh Adrian lalu mendorongnya menjauh.


           "Tidak bro, jangan lakukan. Sebaiknya kita urus Puspa dan Alya. Lihat.! Alya sangat syok." Ucap Bayu .


 


           Tak berapa lama datang mobil ambulance dan polisi. Adrian mengangkat tubuh Puspa lalu membaringkan di ranjang dalam mobil ambulance.  Dengan deraian air mata Alya memandangi tubuh Puspa yang kini terbaring sendirian di dalam mobil ambulance. Sedangkan polisi kini memborgol kedua tangan Baron lalu membawanya pergi ke kantor polisi. Sirine kedua mobil itu berbunyi hampir bersamaan, mereka meninggalkan tempat kejadian perkara.


 


         "Maaf saudara-saudara atas insiden yang terjadi, untuk sementara acara kita tunda dulu." Ucap Mc di atas panggung.


 


 


        "Kita akan ke rumah sakit , sebaiknya kita ganti baju dulu." Jawab Adrian menenangkan Alya.


        Mereka pun memasuki kamar hotel yang sudah di booking  sebelumnya, beberapa orang yang tadi merias Alya kini tengah sibuk melepas gaun dan beberapa aksesoris yang dikenakan. Setelah membersihkan dirinya Adrian dan Alya bergegas berjalan ke arah parkiran mobil.


 


          Mobil mereka memecah jalan di keramaian kota, walaupun sudah malam kota masih terlihat sangat ramai ,Bayu dan Jonathan mengiringi mereka dari arah belakang.


 


           Tiba di halaman rumah sakit Alya segera turun dari mobilnya. Adrian menggandeng tangan Alya berjalan beriringan .


 


          "Pasien yang barusan dibawa mobil ambulan di ruangan mana ya, mbak." Ucap Adrian ke petugas administrasi .


    


          "Ada di ruangan UGD pak , sedang dalam penanganan." Jawab petugas itu.


 


          "Terima kasih."


 


          Adrian dan Alya menyusuri lorong-lorong rumah sakit itu, tiba di depan pintu UGD Lampu masih menyala merah , menandakan sedang berjalannya operasi. Adrian lalu mendudukkan Alya di sebuah kursi di ruang tunggu.


 


         "Puspa , tolong bertahanlah , kakak tidak punya saudara hanya kamu saudara kakak." Lirih Alya.

__ADS_1


       


        "Tenanglah,  semua akan baik-baik saja." Ucap Adrian sembari membenamkan wajah Alya ke dalam pelukannya.


 


         Alya yang dalam kesedihan itu pun tak kuasa menolak pelukkan Adrian , ia merasakan kedamaian dalam pelukan itu. Setelah Adrian merasakan Alya cukup tenang , ia pun melepaskan pelukannya.


 


          Adrian berjalan menghampiri Bayu dan Jonathan, yang kini duduk tidak jauh dari mereka.


 


         "Terima kasih." Ucap Adrian lirih.


 


         "Santai bro." Balas Bayu.


 


         "Aku tidak menyangka , ini semua akan terjadi "Ucap Adrian.


 


         "Maafkan saya bos." Ucap Jonathan.


 


         "Tidak Jo, ini semua bukan salahmu"


 


         "Bro , aku akan ke kantor polisi mewakili mu." Ucap Bayu.


 


          "Ya." Jawab Adrian singkat 


 


          "Jo, sebaiknya kamu kabari ibunya Puspa , ajak dia kemari." 


 


          "Baik , bos " jawab Jonathan 


 


          Bayu dan Jonathan berjalan beriringan , mereka pergi meninggalkan rumah sakit.  


 


         Adrian dan Alya sangat gelisah menunggu di depan pintu ruang operasi.  Tubuh Alya meremang membayangkan insiden yang yang barusan terjadi, dia tidak menyangka jika bapaknya akan melukainya , kejadian beberapa bulan lalu kini melintas di pelupuk matanya. Hatinya kini benar-benar nyeri , kesalahan apa hingga membuat bapak angkatnya begitu membencinya.


         Satu jam telah berlalu tapi pintu ruangan operasi belum juga terbuka. 


 


          Dari kejauhan berjalan Jonathan bersama dengan seorang wanita paruh baya. Ia tampak berjalan terburu-buru mendekati ke arah Alya dan Adrian berada.Alya yang melihat wanita itu segera bangkit dari duduknya lalu berlari menghambur  ke arah Maria. Mereka pun berpelukan.


 


            "Alya, kamu tidak apa-apa nak." Ucap Maria . 


 


             Kedua tangan Maria membingkai wajah Alya yang sembab , lalu menciumnya.


 


            "Alya tidak apa-apa bu , tapi Puspa.."Jawab Alya tidak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


            Keduanya pun pecah dalam tangisan pilu, pertemuan yang kini seharusnya berbahagia karena lama terpisah , tapi kini berubah menjadi tangisan yang menyedihkan.


           *******


__ADS_2