Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
photo Adrian.


__ADS_3

            Alya yang masih dalam tahap pemulihan kini berusaha menggerakkan bagian tubuhnya. Ia merasa tidak betah jika harus terus berbaring di ranjang. Alya perlahan turun dari ranjang pasien, sebisa mungkin dia menggerakkan kakinya yang terasa kebas.


 


           "Kamu mau kemana.?" 


 


        Adrian yang sudah berdiri di ambang pintu itu berteriak , karena mendapati Alya yang tengah berusaha turun dari ranjang.


 


           Alya sangat terkejut dengan kedatangan Adrian, yang tiba-tiba hampir saja jatuh dari ranjang pasien. Tanpa sengaja Alya menjatuhkan botol yang berisi cairan infus ke lantai. Sehingga membuat jarum yang masih menancap di pergelangan tangan Alya tercabut.


 


             Adrian dengan sigap berlari menangkap tubuh mungil itu. Sehingga membuat Alya tidak terjatuh ke lantai.


 


             "Kamu mau kemana.?" Tindakkan kamu bisa melukai dirimu sendiri." Suara Adrian yang panik membentak Alya.


 


             Alya menahan air mata yang akan jatuh. Ia menyeringai kesakitan, menahan perih di bagian pergelangan tangannya akibat jarum yang tercabut paksa tadi. Dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya. Tangan sebelahnya mengusap pergelangan tangannya terasa perih, dan mengeluarkan sedikit darah itu, akibat jarum yang tercabut tidak sengaja.


 


             "Maafkan saya tuan, saya hanya mau ke kamar mandi." Ucap Alya lirih.


 


              Ia berusaha sebisa mungkin menahan air mata yang akan jatuh di ujung mata.


 


            "Kenapa tidak minta bantuan suster, itu kan ada tombol seharusnya kamu gunakan itu." Suara Adrian penuh penekanan.


 


        Alya yang mendengar ucapan Adrian itu seketika membuat tubuh Alya menjadi gemetar. Bagi Alya kehadiran Adrian sosok yang sangat menakutkan.


 


             "Kamu mau ngapain ke kamar mandi.?" Tanya Adrian menatap tubuh Alya yang gemetar.


 


             "Saya mau buang air kecil tuan." Jawab Alya dengan suara bergetar.


 


            Dalam kunjungan dokter tadi, karena Alya sudah terlihat cukup sehat dokter melepas kateter yang sempat terpasang di tubuh Alya. Sehingga mau tidak mau Alya harus berjalan ke kamar mandi.


 


             Ck.


         Adrian yang sejak tadi berdiri memperhatikan tubuh Alya tampak kebingungan ia mengangkat tubuh mungil itu dan membawa ke kamar mandi, lalu mendudukkannya di kloset.


 


           "Ayo, cepat kalau mau buang air kecilnya." 


 


            Alya terdiam sejenak , ia mendongakkan kepala memberanikan diri menatap laki-laki itu yang masih berdiri di depannya. Karena melihat Adrian tidak keluar kamar mandi. Adrian dengan percaya diri yang penuh masih berdiri di depan Alya. Sehingga membuat Alya menjadi bingung.


 


           Antara bingung dan takut. Alya hanya terdiam. Pikiran Alya kini melayang memikirkan pertanyaan Adrian yang sudah ia jawab , bahwa anak yang dilahirkan bukanlah anaknya. Tapi kenapa, Adrian masih datang kembali , bukankah sudah jelas seharusnya dia sudah pergi.


 


              "Kenapa lagi.?" Tanya Adrian.


 


           Adrian memandangi Alya hanya terdiam.


 


              "Saya kan mau buang air kecil tuan " jawab Alya lirih.


 


               "Ya , buang air kecil saja. Terus masalahnya dimana.?" Tanya Adrian mengerutkan dahi tipisnya.


 


              "Sebaiknya anda keluar tuan. Saya kan malu." Jawab Alya menundukkan kepala.


           Bibir Alya mengatup rapat menahan air kencing yang minta segera dikeluarkan. Akan sangat malu baginya , jika Adrian masih menemaninya di dalam kamar mandi. Apalagi jika Adrian harus melihat bagian tubuh pribadinya.


 


            Adrian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia berpikir tidak mungkin baginya meninggalkan Alya sendirian di kamar mandi. Apalagi dia tadi menyaksikan Alya belum bisa menopang dirinya sendiri. Jangankan untuk berdiri, untuk bergerak sedikit saja sudah menahan rasa sakit.


  


              Ck


 


             Adrian kembali berdecak.


 


             "Apa kamu lupa.?" Aku sudah melihat dirimu tanpa sehelai benang pun.Lalu kenapa sekarang harus malu, dasar perempuan." Ucap Adrian tanpa rasa bersalah.


 


          Telak saja ucapan Adrian membuat Alya bungkam. Adrian yang paham jalan pikiran Alya lalu membalikkan tubuhnya.


             "Ya sudah, cepetan kalau mau buang air kecil. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri disini. Nanti kalau kamu jatuh , terus jahitan operasi mu membuka bagaimana.?" Ucap Adrian yang sudah membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


 


              "Baik tuan, maaf sudah merepotkan anda." Jawab Alya.


 


               "Hemm." Jawab Adrian  berdehem.


 


             Adrian merasa aneh dengan diri nya sendiri , entah kenapa dia begitu peduli dengan wanita ini. Jika saja ini wanita lain mungkin saja Adrian tidak akan nyaman dalam keadaan begini.


             "Sudah belum.?" Tanya Adrian.


 


           Alya hanya menyahut pelan. Adrian membalikkan tubuhnya dan menatap Alya. Alya yang merasa di perhatikan pun jadi salah tingkah.


 


              "Sekalian tuh, cuci muka kamu biar terlihat segar, atau mau aku yang membasuhnya.?" Ucap Adrian menatap datar ke arah Alya 


              Sontak saja Alya terperanjat, Alya merasa heran dengan tingkah Adrian yang begitu peduli pada dirinya.


 


                "Tidak tuan, saya bisa sendiri melakukannya." Jawab Alya.


 


          Perlahan berjalan mendekati wastafel yang tak jauh darinya , lalu membuka kran itu dan membasuhkan air yang yang mengalir itu ke wajahnya.


 


              "Sudah.?" Tanya Adrian kembali.


 


          Alya menganggukkan kepala. Adrian kembali membopong tubuh mungil Alya dan membaringkan  keranjang pasien.


               


 


            "Kamu tunggu disini , dan ingat jangan banyak tingkah." Ucap Adrian mendominasi.


 


             Alya hanya menganggukkan kepala, tidak berani menatap Adrian. Seperti anak kecil yang kena marah bapaknya saja Alya menuruti kata-kata Adrian. Kemudian Adrian berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Tak lama ia datang bersama dokter wanita, ia meminta bantuan pada dokter itu untuk memasang jarum infus yang tercabut tadi. Setelah diperiksa dan benar saja jahitan bekas operasi di perut Alya mengeluarkan darah walau tidak banyak.


 


             Sepanjang dokter memeriksa keadaan Alya , Adrian memperhatikan Alya kedua tangan Alya meremas sprei dan matanya memejam bibirnya mengatup rapat seperti menahan rasa sakit.


 


             Adrian berjalan mendekati Alya, ia membungkukkan badannya lalu memeluk Alya. Ada rasa iba dihati Adrian hingga dia tidak dapat mengabaikan wanita itu menahan rasa sakit sendirian.


 


            Seketika mata Alya membulat sempurna, dia tidak dapat berkata-kata. Alya sangat terkejut dengan tindakkan Adrian. Rasa sakit dan perih yang dirasakan kini hilang seketika, berubah menjadi tegang dan takut. Alya takut dengan kebaikan Adrian , kepura-puraan ini akan berubah menyakitinya. Alya sangat takut dengan Adrian kalau dia akan mengambil bayinya. 


 


 


             Setelah dokter selesai mengganti perban dan memeriksa Alya. Kini tinggal mereka berdua di ruangan itu. Suasana terasa mencekam. Tidak lama datang petugas pramusaji rumah sakit mengantarkan makanan untuk Alya.


   


 


            Aroma makanan itu menyeruak di dalam ruangan , hingga membuat perut Alya keroncongan minta di isi. 


 


             "Ayo , dimakan, apa perlu aku suapi.?" Tanya Adrian.


 


            Adrian memperhatikan Alya hanya diam sejak makanan itu datang.


 


     


              "Tidak tuan, saya bisa sendiri." 


 


            Alya meraih mangkok dan sendok di depannya berusaha memasukkan makanan  itu ke mulutnya, karena jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya ia tampak kesulitan dengan aktivitasnya itu.


 


            Adrian yang berdiri tak jauh dari situ pun mendekat dan meraih mangkok yang di depan Alya.


 


             "Kalau butuh bantuan itu bilang, sini aku suapi." 


 


            Alya hanya diam dan juga tidak menolak niat Adrian yang mau menyuapinya. Dia membuka mulutnya setiap kali Adrian menyuapkan makanan itu , Alya tidak begitu memperdulikan Adrian yang tengah memperhatikan dirinya, karena dia sangat lapar makanan itu hampir tidak dikunyahnya.


 


           Hati Adrian berdenyut nyeri menyaksikan Alya makan seperti orang kelaparan , ingin rasanya dia memeluk wanita di hadapannya itu .


 


             "Kamu mau tambah lagi.?" Tanya Adrian.


 


              "Tidak tuan ,terimakasih saya sudah kenyang " jawab Alya.

__ADS_1


 


             Alya tidak ingin disebut memanfaatkan kebaikan orang, terutama orang yang sekarang di depannya. Alya tampak gelisah , dengan kehadiran Adrian di ruangan itu. Adrian paham dengan sikap Alya , karena Alya tampak menjaga jarak dengannya.


 


              ****


 


              Disisi lain , kediaman Dharmawangsa.  Mama Vera tengah duduk santai bersama oma Jayanti. Sudah beberapa kali mama Vera mengganti channel saluran tv. Ia melirik ponsel nya telah berdering beberapa kali tapi mama Vera tak berniat untuk mengangkatnya.


 


               "Kenapa tidak diangkat.?" Tanya oma Jayanti.


 


              " males saja." 


 


               "Memangnya dari siapa.?" 


 


               "Biasa oma, dari jeng Susi tukang gosip." Jawab mama Vera kesal.


               "Memangnya kenapa dengan dia, angkat saja siapa tahu ada penting.!"


 


             Tangan mama Vera dengan sungkan meraih ponsel yang sejak tadi terletak di atas meja.


 


                "Hallo.., jeng Susi, ada apa.?" Tanya mama Vera berusaha ramah.


 


              Karena akhir-akhir ini mama Vera sangat sensitif , semenjak kejadian Adrian menghilang di hari pertunangannya menjadi perbincangan hangat, itu yang membuat mama Vera agak minder pada teman sosialitanya.


 


                 "Eh , jeng kok gak kabar-kabar kalau sudah punya cucu." Ujar jeng Susi diseberang telepon dengan nada mengejek.


                 "Apa ?" Maksud jeng Susi apa, kok ngomong gitu.?" Jawab mama Vera dengan dahi mengerut.


 


                  "Iya, gak usah pura-pura gak tahu deh jeng." Ucap jeng Susi lagi.


 


                  "Langsung saja deh jeng, saya benar -benar tidak tahu." Jawab mama Vera penasaran.


 


             Mama Vera benar- benar bingung dengan perkataan temannya itu tanpa basa-basi langsung tembak saja dengan omongannya itu. Andai saja temannya itu ada di depannya ingin sekali ia menyumpal mulut lemesnya dengan sepatu. Tapi mama Vera masih berusaha sabar karena ia ingin tahu apa maksud perkataan jeng Susi.


 


               "Katakan saja jeng , saya jadi penasaran.?" 


 


                "Begini lho jeng, saat saya nengokin keponakan saya lahiran , saya melihat anak jeng Vera menggendong bayi, dan ada perempuan tak jauh dari ruangan itu tengah terbaring di ranjang pasien." 


 


                 "Tidak…tidak mungkin anda salah orang , anak saya lagi keluar kota." Jawab mama Vera menyakinkan.


 


                 "Masa iya , salah lihat sih jeng kalau gak percaya saya kirimkan fotonya." 


 


         Panggilan pun terputus , dengan hati berdebar mama Vera menunggu ponselnya berbunyi. Tak lama ponsel mama Vera berbunyi notifikasi pesan masuk.


 


             Mata mama Vera terbelalak, benar saja apa yang dikatakan temannya itu. Adrian tengah menggendong seorang bayi, dan tak jauh dari tempat dia berdiri tengah terbaring seorang wanita.


 


              "Ada apa Vera. Kamu seperti melihat hantu saja."  Tanya oma Jayanti.


 


              "Oma , apakah ini benar Adrian.?" 


 


          Mama Vera menyodorkan ponsel ke arah oma Jayanti. Oma Jayanti sangat terkejutnya dengan gambar orang mirip Adrian. Beberapa kali di mengerjapkan matanya.


 


               "Bukankah Adrian keluar kota.?" 


 


                "Tidak usah percaya dengan gosip murahan Vera, bisa saja itu anak teman Adrian , istrinya sedang melahirkan." Jawab Oma Jayanti santai menanggapi itu.


 


                  "Oma tidak panik, bagaimana kalau foto itu menunjukkan benar Adrian." Ucap mama Vera dengan bibir mengerucut.


 


             Kini keduanya hanya diam , memikirkan foto yang dikirim jeng Susi. Belum juga reda pemberitaan tentang batalnya pertunangan Adrian kini hadir lagi permasalahan baru.


 


                  ******

__ADS_1


 


             


__ADS_2